Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 37


__ADS_3

Aira, Winne dan Kei memiliki waktu berkumpul yang lebih sering, dan seringnya di karenakan jadwal pasangan masing-masing yang sangat padat dan menyita waktu hingga membuat mereka tidak sempat pergi berkencan selama beberapa minggu.


Cukup membosankan jika di jalani sendirian, namun jika melewatinya bersama-sama, terasa lebih menyenangkan. Mereka bisa berjalan-jalan, pergi berbelanja, peri makan-makan namun hari ini mereka hanya berkumpul di apartemen Aira, memesan beberapa makanan dan bersantai mengobrol sambil menonton televisi.


Winne meletakkan 3 gelas jus di atas meja. "Kalian sudah tau jadwal Erigo dan Devano bulan depan?" Tanya Winne lalu menghempaskan dirinya di sofa dan memeluk sekantong keripik kentang.


Aira meliriknya penuh minat. " Aku belum tau. Katakan padaku." Ucapnya sembari menyesap jus segar.


"Devano bilang dia akan mengisi acara radio sendirian selama seminggu karna Erigo tidak ada." Ucap Kei. Matanya tertuju pada tayangan televisi yang kebanyakan membosankan. Tangannya tak henti-hentinya mengganti saluran.


"Memangnya dia mau kemana?" Tanya Aira. Kei hanya mengangkat bahu.


"Dia akan tur seminggu ke Singapura. Dia belum bilang padamu?" Winne mengambil jusnya di atas meja.


Aira mendesah. "Belum." Cetusnya. Lalu membaringkan diri di sofa. "Seminggu? Sendirian?"


Winne tertawa. "Dia tidak sendiri, dia akan pergi bersama Yansen."


Aira dan Kei tertawa keras. "Oh malang sekali. Erigo pasti akan mengganggu Yansen terus menerus dan Yansen akan mengumpatinya terus menerus." Ucap Aira. "Toddy? Apa yang akan di lakukannya?"


"Dia adalah artis serba bisa yang punya jadwal sangat sibuk." Cetus Winne. "Kau akan sering melihatnya di televisi."


"Ahh itu dia." Kei menunjuk ke arah televisi yang menampilkan Toddy di acara bincang-bincang sebagai pembawa acara tetap.


Aira duduk dengan penuh minat. "Jangan di ganti Kei. Kita menonton ini saja. Oh dia tampak keren sekali." Ucap Aira senang.


Winne tertawa. "Erigo akan kesal sekali jika dia melihat caramu memandang Toddy dengan penuh minat." Ucapnya dan memancing tawa Aira dan Kei.


__________________________________


Sudah hampir sebulan sejak Aira dan Erigo melakukan perjalanan ke pantai. Jadwal Erigo yang padat membuat keduanya jarang bertemu dan hanya sesekali Erigo mampir itupun hanya sebentar. Tapi hari ini mereka punya waktu seharian untuk di habiskan berdua.

__ADS_1


"Sayang, winne bilang kau akan pergi tur ke Singapura bersama Yansen. Kenapa tidak bilang padaku?" Tanya Aira sembari bersandar pada Erigo.


"Aku mau memberi tahu, tapi aku takut kau minta ikut." Ucap Erigo.


Aira duduk tegak memandang galak pada Erigo yang tersenyum jahil.


Erigo menarik Aira ke dalam pelukannya. "Kau mau ikut? Aku akan sangat senang jika di temani." Ucapnya lagi. Memainkan rambut Aira tidak pernah membuat Erigo bosan.


Aira menggeleng. "Kau akan sibuk, dan aku pasti akan bosan."


"Tapi aku akan terlalu merindukanmu disana."


"Tidak akan. Kau punya banyak penggemar yang harus kau hibur. Fokuslah. Lalu cepatlah pulang." Ucap Aira lagi.


Erigo membasahi bibirnya dan sedikit menjauhkan Aira lalu menatap lekat mata kekasihnya. "Aira, setelah tur selesai dan aku pulang, aku ingin mengajakmu bepergian. Bagaimana menurutmu?" Tanyanya.


Erigo tampak sangat serius. "Kau mau membawaku kemana?" Tanyanya.


Aira mengerjap. "Keluargamu? Kau ingin aku menemui mereka? Apa kau yakin? Itu langkah yang sangat besar Erigo." Ucap Aira.


Erigo menggenggam jemari Aira. "Tentu saja aku yakin. Hubungan kita sudah cukup lama sayang. Dan mereka juga sudah mengetahuinya karna pemberitaan di media. Mereka juga ingin menemuimu secara langsung."


Wajah Aira merona. "Benarkah? Menurutmu mereka akan menerimaku dengan baik?" Tanyanya lagi.


Erigo mencium kening Aira. "Tentu saja mereka akan menerimamu. Kau gadis yang sangat baik dan sopan. Kau sangat mudah di sukai Aira. Jadi bagaimana? Kau mau?"


Aira tersenyum dan mengangguk. "Baiklah, aku mau." Jawabnya dan menerima pelukan erat dari Erigo.


______________________________


Erigo sedang berada di kamar hotelnya di Singapura. Ia berbaring meluruskan tulang punggungnya. Ini baru hari ketiga, tapi tengkuknya sudah terasa sakit. Ia sudah minum obat secara teratur dan mencoba mengikuti terapi, Namun seluruh kegiatan dan sesi latihannya akhir-akhir ini mungkin cukup membebani. Erigo menghembuskan nafas berat.

__ADS_1


Untungnya dalam 3 hari kedepan hanya akan berisi acara bincang-bincang dan temu penggemar yang tidak mengharuskannya melakukan gerakan menari yang bisa membuat cederanya lebih parah.


Ponselnya berbunyi, Erigo tau pasti siapa yang menelpon bahkan tanpa melihat layarnya. Ia tersenyum dan mencoba duduk bersandar. "Hai sayang." Erigo melambai ke arah kamera karna Aira menggunakan panggilan video.


Aira tersenyum manis di layar. "Hai. Bagaimana harimu? Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Aira. Aira sangat cantik bahkan ketika hanya mengenakan kaos sederhana dengan rambut panjang tergerai indah di bahunya.


"Aku baru akan beristirahat. Hari ini kami hanya menyanyi dan menyanyi, tapi besok akan ada beberapa wawancara dengan media setempat." Erigo berusaha tersenyum sembari menahan rasa sakit. "Kau belum tidur? Jam berapa disana?"


"Mmm... Hampir jam 11 malam. Aku sengaja menunggu." Aira tampak mengibaskan rambutnya ke belakang. "Kau lelah? Tengkukmu pasti terasa sakit." Cetus Aira tepat sasaran.


Erigo tergelak. "Apa kau seorang peramal? Bagaimana kau tau bahwa tengkukku sedang sakit?" Ucapnya. "Agak berdenyut di sini." Erigo menunjuk lokasi sakitnya.


Aira cemberut. "Kau sudah makan obatmu? Sudah di kompres?"


Erigo mengangguk. "Aku sudah makan obat tapi tidak ku kompres. Aku terlalu malas untuk melakukannya." Ucapnya jujur.


Aira menggeleng. "Tidak ada yang bisa ku lakukan kalau begitu. Aku terlalu jauh untuk merawatmu."


Erigo terkekeh. "Aku sudah memintamu untuk ikut, tapi kau sendiri yang tidak mau."


Aira tersenyum. "Sudahlah. Tidak ada gunanya menyesal. Sekarang tidurlah, semoga sakitnya segera berkurang."


"Baiklah. Kau juga tidurlah. Aku mencintaimu Aira." Ucap Erigo.


"Aku juga." Ucap Aira mengakhiri panggilan.


Erigo kembali berbaring sembari tersenyum mengingat bagaimana Aira mengibaskan rambutnya ke belakang. Ia akan dengan senang hati menyusupkan jari-jemarinya di antara helai-helai halus rambut Aira dan menghirup aromanya yang harum.


Aira terlihat sangat cantik, pikirnya. Ia memejamkan mata dan mencoba untuk tidur. Tapi yang ada di pikirannya adalah bagaimana rasa tubuh Aira yang yang melekat erat di tubuhnya saat mereka tidur di penginapan tepi pantai.


Erigo menginginkan Aira. Kerinduan yang membuncah membuatnya gila. Erigo berbaring miring dan melipat tangannya di dada berusaha mengenyahkan bayang-bayang Aira. Ia harus segera tidur.

__ADS_1


__ADS_2