Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 16


__ADS_3

Wajah Erigo berubah mendung ketika diberitahu oleh salah seorang tim kreatif suatu acara bahwa salah satu bintang tamu yang hadir hari ini adalah Moza. Ia sudah protes pada penyelenggara soal pemberitahuan yang sangat terlambat. Mereka berdalih bahwa bintang tamu mendadak di ganti hari itu juga.


Suasana di ruang tunggu juga mendadak muram. Semua orang terlihat ingin melarikan diri daripada berhadapan dengan kemarahan Erigo. Ini adalah rekaman untuk acara akhir pekan yang ceria. Namun Erigo sendiri bahkan sudah tidak bisa mengontrol wajahnya. Ia terlihat seperti akan meledak.


Winne berbisik pada Aira. "Kau bujuklah dia. Aku akan membawa tim ke bawah untuk membeli kopi dan cemilan" Ucap winne.


Aira mendesah. "Baiklah" Ucapnya mengangguk.


Setelah semua orang pergi, Aira mendekati Erigo. "Kau baik-baik saja?" Tanya Aira pelan.


Erigo diam saja dan sama sekali tidak memandangnya.


"Apa aku sedang bicara pada lantai?" Ucap Aira lagi.


Kali ini Erigo memandangnya. Ia memandang Aira lama tanpa bicara. "Aku tak ingin bertemu dengannya Aira, baik kebetulan ataupun di sengaja" Ucap Erigo.


Aira menggigit bibirnya. "Tapi kau harus melakukannya sekarang. Kita sudah disini." Ucap Aira lembut.


"Kau tidak tau betapa palsunya dia, Aira. Aku sudah sangat muak padanya. Aku benar-benar tak ingin berbasa-basi dengannya baik di depan kamera maupun di belakang panggung"


Aira menarik nafas panjang. "Aku benar-benar tidak ingin memaksamu Erigo, tapi nasib semua orang disini bergantung padamu. Maksudku, bukan orang-orang dari agensi, melainkan orang-orang yang bekerja untuk acara ini." Ucap Aira.


Itu sangat masuk akal. Tapi Erigo masih merasa enggan. "Aira, perasaanku tak enak."


Aira mencoba meyakinkan Erigo. "Ini tidak akan lama. Percayalah padaku. Ini hanya rekaman selama.. selama... berapa lama?"


"Enam jam."


"Benar. Enam jam. Itu.. itu lama." Ucap Aira bingung. "Tunggu, bukan itu yang ingin ku katakan."


Erigo terbahak-bahak melihat Aira. Suasana hatinya membaik. "Astaga Aira.. Kau konyol sekali. Aku tak akan pernah bosan padamu" Ucap Erigo terkekeh.


Ia menarik tubuh Aira ke dalam pelukannya dan mencuri satu ciuman singkat di bibirnya.


____________________________________


Proses perekaman acara di mulai dengan pertanyaan basa basi tentang kesibukan masing-masing bintang tamu yang dilanjutkan dengan rangkaian permainan.


Entah di sengaja atau tidak, ketika permainan sedang berlangsung, Moza tampak selalu mencari-cari kesempatan untuk berada dekat dengan Erigo dan bersinggungan dengannya. Ia juga sesekali melempar senyuman pada Erigo. Hal itu membuat Erigo tampak tidak nyaman.


Moza berusaha mengakrabkan dirinya dengan sang mantan pacar untuk memancing pertanyaan pembawa acara tentang hubungan mereka. Dan dia berhasil melakukannya. Sang pewara mulai mengomentari keakraban keduanya lalu bertanya pada Moza tentang status hubungannya dengan Erigo kini.


Moza dengan tersenyum bahagia mengumumkan pada khalayak bahwa hubungannya dengan Erigo telah kembali seperti semula. Bahwa mereka telah kembali bersama. Bahkan Moza membawa bukti-bukti kemesraan mereka baru-baru ini.


Mata Moza berbinar bahagia menatap di kejauhan dengan senyum terkembang. Di satu sudut studio tempat targetnya berada. Tepat di tempat Aira berdiri menatap tidak percaya, namun tak bisa melakukan apa-apa. Ia menyunggingkan senyum puas.


Aira menyipit menatap Erigo. Wajahnya memerah. Rahangnya mengeras karna mencoba mengendalikan diri. Aira melihat Moza mendekati Erigo dan dengan sok malu-malu mencium sekilas pipi Erigo yang mencoba mengelak dengan halus.


Bahkan ia mengatakan bahwa Erigo sangat malu mengakui hubungan mereka yang masih baru. Ia menjelaskan hal itu dengan sukarela tanpa di minta.


Ia kembali menyinggung soal bukti-bukti yang hampir terlupakan. Memancing rasa penasaran orang-orang di studio yang kemudian meminta Moza untuk menunjukkannya.

__ADS_1


Moza dengan tidak tau malu menunjukkan sebuah foto dimana ia memeluk Erigo dengan girang. Membuat satu studio geger karna heboh.


Erigo menatap lekat pada foto yang terpampang di layar. Foto itu di ambil saat mereka bertemu secara tidak sengaja di apartemen Aira dan Devano. Salah satu foto bahkan menunjukkan tangan Erigo yang sedang terangkat memegang lengan Moza yang terkalung di lehernya. Padahal foto itu di ambil saat Erigo berusaha melepaskan rangkulan tangan Moza padanya, namun entah mengapa tampak seperti ia sedang memeluknya.


Erigo merasa jijik sampai ke tulangnya. Ia ingin sekali meludahi wajah Moza, namun di tahannya sekuat tenaga demi reputasinya.


Ia mencari-cari Aira dengan matanya. Menatap lekat pada wajah Aira yang terlihat pucat pasi.


Aira mengenali tempat itu. Itu tepat di depan pintu rumahnya. Foto itu di potong dengan sangat rapi hingga menghilangkan Aira yang sebenarnya berada tepat di samping Erigo.


Aira mengerjapkan matanya. Ia terkejut mengetahui fakta bahwa ada jenis wanita yang sangat tidak tau malu seperti Moza hidup di dunia. Ia merasa ngeri. Wanita itu benar-benar licik dan tidak tau malu.


______________________________________


Winne memeluk tubuh Aira yang bergetar di sampingnya. Kemudian membawa sahabatnya kembali ke ruang tunggu.


"Kau baik-baik saja Aira?" Tanyanya khawatir.


"Anantha.. Aku ingin muntah" Ucap Aira yang langsung berlari ke toilet dan memuntahkan isi perutnya sampai habis.


Winne menelpon asistennya dan mengatakan bahwa ia dan Aira mempunyai urusan mendadak yang harus segera di selesaikan. Dan ia berpesan agar mereka mengurus Erigo dengan baik sampai proses syuting berakhir.


Winne lalu mengantar Aira pulang ke apartemennya.


Sampai di rumah, Aira duduk memeluk lututnya di sofa. Ia terguncang. Sementara Winne mengambilkan obat dan segelas air. Ia merasa kasihan pada sahabatnya.


Aira tidak pernah berpacaran sekalipun dalam hidupnya. Sekalinya dia melakukannya, malah di hadapkan langsung pada konflik yang rumit. Winne dapat memahami keterkejutan Aira yang membuatnya mual.


Ia kembali ke ruang tamu lalu mengambil ponselnya dan menelpon Yansen.


Ia menceritakan kejadian hari ini dan melaporkan keadaan Aira.


Yansen mengumpat di ujung telpon dengan kata-kata yang bahkan Winne tidak pernah mendengarnya dan tidak tau artinya. Winne membiarkannya saja. Jika dipikir-pikir, ia juga ingin mengumpati penyihir seperti Moza, namun di urungkannya karna Yansen sudah mewakilinya.


Yansen menceritakan kepadanya secara gamblang tentang Erigo dan Moza di masa lalu. Tentang bagaimana mereka berdua selalu mesra di depan media hingga Moza yang berselingkuh, lalu Yansen juga menyebut nama Airez dalam pembicaraan mereka.


Yansen mengatakan bahwa Erigo dan... dan apa lagi? Winne terdiam sesaat. Otaknya kosong mendengar nama Airez disebut-sebut.


Ia lalu menghentikan Yansen bicara.


"Sebentar. Tadi siapa kau bilang? Airez?" Tanya Winne. "Siapa nama belakangnya?" Tanya Winne penasaran.


Ia membelalak. "Airez Zuma? Apa kau yakin?" Tanya nya memastikan.


Yansen mengutuk "Sudah ku bilang Airez Zuma. Memangnya kenapa?"


"Airez Zuma.. Jika dia orang yang sama yang kau bicarakan sekarang, Airez Zuma adalah kakak kandung Aira. Mereka adalah sepasang kakak beradik" Ucap Winne pelan. Ia menutup mulutnya dengan tangan saking tidak percayanya.


Yansen terdiam di ujung sana lalu kembali mengumpat. Kali ini lebih pelan.


Winne mengakhiri panggilan telpon dan terdiam. Ia tidak bisa berpikir jernih.

__ADS_1


Hubungan Aira dan Erigo tampaknya memang rumit. Di perparah dengan adanya Airez.


Jika benar Erigo dan Airez memiliki hubungan yang kurang baik, maka hubungan Aira dan Erigo pun akan menjadi sulit mengingat betapa posesifnya Airez terhadap Aira.


Tidak. Winne tidak bisa diam saja. Ia tidak bisa hanya mendengarkan satu sisi cerita dan membiarkan sahabatnya merana. Ia harus mengkonfirmasi apa yang sebenarnya terjadi pada semua orang yang terlibat dalam konflik ini.


Winne kembali mengambil ponselnya dan menimbang-nimbang.


Apakah ia harus menekan salah satu nama yang tersimpan di kontaknya atau tidak.


Airez Zuma.


Lama Winne menatap layar ponselnya sebelum menekan panggilan. Ia menunggu sebentar sebelum Airez menjawab.


"Halo" ucap Airez di ujung sana.


"Halo Airez" ucap Winne.


"Kejutan yang menyenangkan Anantha. Bagaimana kabarmu?"


Winne tersenyum. "Keadaanku sangat baik Airez. Kau sedang apa? Apa aku mengganggu?" tanya Winne mempertimbangkan perbedaan waktu.


"Tidak. Tidak sama sekali. Aku sedang santai" katanya lagi.


Winne mengangguk. "Baguslah. Ada yang ingin ku tanyakan padamu"


"Mmm... soal apa?"


"Aku hanya ingin tau, apakah kau mengenal seseorang di agensi. Di sini, maksudku. " ucap Winne hati-hati.


"Seorang penyanyi bernama Moza. Ku dengar, kau pernah dekat dengannya" ucap Winne lagi.


"Moza? Moza Yumeida? Dia masih di agensi?" tanya Airez. Airez tertawa. "Konyol sekali, padahal aku sudah menyuruh seseorang untuk memutuskan kontrak dengan wanita itu" ucap Airez.


Winne mengernyit "Kau minta seseorang memutuskan kontrak? Kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Winne.


"Mmm... Bagaimana menjelaskannya ya" ucap Airez. "Dia sangat licik Anantha. Dia selalu mendekati seseorang yang sedang bersinar, lalu membuat masalah dan perusahaan lah yang akhirnya kerepotan untuk menyelesaikannya." ucap Airez lagi.


"Apa yang terjadi kali ini?" tanya Airez.


Winne berhati-hati memilih kata-katanya. "Ku rasa dia belum berubah" ucap Winne.


"Benarkah? Siapa yang di incarnya kali ini?" tanya Airez.


"Erigo" ucap Winne. Dan Aira, ucapnya dalam hati.


Winne diam menunggu respon Airez.


Ada keheningan sebentar di sana.


"Erigo, playboy itu?" ucap Airez.

__ADS_1


Winne menarik nafasnya. "Apa yang terjadi tiga tahun lalu Airez? Katakan padaku" ucap Winne.


__ADS_2