
Sejak pagi Aira sudah bergerak kesana kemari, berjalan-jalan di taman, memetik beberapa bunga dan meletakkannya di vas, lalu membersihkan ini-itu. Erigo terus mengawasinya.
"Sayang, cobalah beristirahat sebentar." Kata Erigo sembari tersenyum.
"Aku tidak lelah." Cetus Aira sembari mengambil kemoceng. "Aku hanya ingin mengibas-ngibaskan ini di udara." Kata Aira santai. "Untuk mengisi waktu."
Erigo mengangguk. "Rumah ini sudah tampak mengilap hingga aku bisa menjilatnya."
Aira tergelak, lalu mendadak terdiam. Erigo menyipitkan matanya menatap Aira yang memucat. "Itu satu lagi kan?" Tanyanya tajam.
"Satu lagi apa?"
"Kontraksi." Kata Erigo mengira-ngira.
Sebenarnya sudah sejak setengah jam terakhir, perut bagian bawah Aira terasa kram dan membuatnya sedikit cemas. Tapi tidak ada gunanya panik, menurut buku panduan persalinan, kram itu mengumpulkan momentum, dan tepat seperti itulah yang Aira rasakan. Ia hanya perlu menghitung rentang waktu antara satu kontraksi ke kontraksi berikutnya.
Aira memandang suaminya dan berusaha keras mengubah kernyitan menjadi senyuman.
Erigo berjalan cepat menghampiri Aira tepat ketika Aira menunduk untuk menyentuh perutnya erat.
"Augh.. Aduh!" Aira mengerang.
"Kontraksi lagi?" Tanya Erigo.
Aira mengangguk. Tangan Erigo begitu kuat dan menenangkan di punggungnya. Aira mendongak menatap suaminya. Ekspresi wajahnya berubah-ubah.
"Kau harus tetap tenang." Ucap Erigo. Satu tangannya membelai kepala Aira. "Kita sudah mempersiapkannya bukan? Ingat latihan pernapasanmu." Ucap Erigo lembut.
Dari sekedar sakit biasa, kram itu kini menjalar menjadi sesuatu yang menakutkan, seperti ancaman yang mendekat. Aira tercekat. Berjuang sekuat tenaga untuk mengingat apa saja yang dikatakan oleh buku-buku panduan karena sepertinya semuanya sudah menguap dan menghilang dari kepalanya.
"Kita akan ke rumah sakit sekarang. Kurasa bayi-bayinya akan keluar." Cetus Erigo dengan tatapan yang belum pernah Aira lihat sebelumnya.
__ADS_1
"Tasku." Ucap Aira tercekat. "Aku butuh tasku. Koperku." Ucapnya. Tepat saat itu Ellie berlari ke atas untuk mengambil keperluan Aira tanpa perlu diperintah.
Erigo tidak mempercayai dirinya sendiri untuk menyetir dalam keadaan seperti ini jadi dia meminta supir untuk mengantarkan mereka ke rumah sakit. Sepanjang jalan Erigo merelakan lengannya tergores ketika Aira mencengkramnya kuat-kuat saat menahan sakitnya kontraksi.
Erigo melihat bulir-bulir keringat membasahi dahi Aira. "Apa yang kau rasakan?" Tanya Erigo mencoba untuk terlihat tenang.
"Panas!" Katanya. "Aku takut, Erigo."
Jantung Erigo berdegup keras, dan ia mendapati dirinya berdoa. "Jangan takut sayang, aku bersamamu." Ucapnya. Sejujurnya Erigo juga takut, tapi dia tidak akan membiarkan Aira melihat ketakutannya.
Mereka tiba di rumah sakit dan Aira langsung di dorong ke dalam ruang persalinan, Erigo berada bersamanya.
Aira mencengkram Erigo lagi ketika kontraksi lain menerjang. Kali ini lebih perlahan, lebih panas dan kejam. Cairan hangat mengalir di antara kakinya dan merembes ke kain sprei.
"Ini dia." Kata seorang bidan. "Air ketubanmu sudah pecah, semua akan dimulai sekarang."
Dokter dan bidannya menyuruhnya untuk mendorong., Aira mengikutinya. Aira tidak perduli ketika kontraksi lain menerjangnya. Ketika sakitnya lenyap, Aira merasakan tangan Erigo merapikan helaian rambutnya yang lembab dan mencium pipinya. "Kau hebat sayang. Kau pasti bisa."
_______________________________
Melalui proses kelahiran yang dramatis, seorang bayi laki-laki dan seorang bayi perempuan terlahir ke dunia.
"Bayi laki-laki" Seru si bidan. Dengan tubuh gemetar Aira menyaksikan saat bayinya mengalami detik pertama kehidupan. Tangan mungil itu membuka dan menutup lalu meregang meninju udara. Kemudian tangisan lirih terdengar, perlahan semakin kuat.
Hanya beberapa menit berselang, rasa mulas lain muncul mengiringi kelahiran bayi perempuannya. Kali ini prosesnya dilakukan dengan ketenangan luar biasa. Bayi Aira keluar melewati detik-detik yang berharga. Belum terdengar suara apapun. Hanya gerakan bayi itu bertambah, kemudian dengan dramatis pula, tangisan kehidupan pertama yang lemah kembali terdengar.
Erigo merosot di samping Aira. Ia putus asa ingin menolong Aira tapi tidak ada yang bisa dilakukannya. Sepanjang proses itu ia tak berhenti berdoa. Ia memohon pada yang kuasa agar tidak mengambil Aira darinya.
Sekarang Erigo meletakkan dahinya di dahi Aira. "Putra putri kita." Katanya. "Kau wanita yang hebat Aira. Aku mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu." Suaranya parau seolah-olah tenggorokannya tersumbat debu. "Trimakasih sudah berjuang."
Dan tiba-tiba saja, Erigo menangis tanpa malu.
__ADS_1
_______________________________
Aira berbaring di ranjang, dengan dua bayi di tempat tidur bayi di sampingnya. Setelah melahirkan, ia mandi dengan sangat nyaman lalu tertidur dengan Erigo duduk disamping seperti pengawal tampan.
"Baiklah." Erigo duduk di ranjang dan menatapnya. "Bagaimana perasaanmu?"
Aira tersenyum. "Luar biasa." Katanya sembari menoleh pada dua bayi yang sedang tertidur lelap. "Mereka tenang sekali."
"Dan juga sangat menawan." Erigo tersenyum pelan. Ia mencondongkan tubuh untuk mencium bibir Aira. "Kau sudah berjuang melahirkan mereka." Ucapnya dan mengusap wajah Aira. "Sebenarnya aku lebih suka memiliki mereka secara terpisah." Ia mendaratkan ciuman lembut di kepala Aira. "Aku mencemaskanmu selama masa kehamilan. Kau sepertinya terlalu mungil untuk mengandung satu bayi, apalagi dua."
Aira tersenyum dan menatap Erigo dengan penuh cinta. "Kita melewati masa-masa itu dengan baik bukan? Sekarang hanya harus bersyukur karena mereka sangat sehat." Aira memandangi kedua bayinya lagi.
"Bukannya aku tidak bersyukur. Aku hanya khawatir karena kau terlihat sangat kelelahan selama minggu-minggu terakhir. Tapi untungnya tidak ada komplikasi selama proses kelahiran."
Wajah Aira berseri-seri. "Aku tidak tau kau sekhawatir itu. Trimakasih, sayang." Ucapnya.
"Apa menurutmu mereka tumbuh besar?" Tanya Erigo.
Aira tersenyum lebar. "Bayi-bayi itu bahkan belum berumur 24 jam."
Aira terlambat menyadari ada lusinan bunga mengelilingi kamarnya. "Apa ada yang datang saat aku tidur?" Tanyanya.
Erigo terkekeh. "Semua orang datang, sayang. Mereka berkata bahwa tidak hanya ada dua bayi yang sedang tidur, melainkan tiga."
Aira menatap Erigo, tercengang. Wajahnya memerah. "Ya ampun, aku senyenyak itu?"
"Benar sekali. Aku sempat mengira kau pingsan dan memanggil perawat." Erigo terkekeh. "Lalu mereka tertawa dan bilang bahwa kau hanya sedang tertidur, dan aku tidak perlu khawatir." Erigo menunduk dan tertawa. "Augh memalukan sekali."
Aira ikut tertawa. "Kemarilah" Ucapnya seraya mengulurkan tangan. Erigo membungkukkan badan dan memeluk Aira. "Kau pasti khawatir sekali. Trimakasih." Ucapnya. "Aku janji akan pulih dengan cepat."
Seorang perawat datang dan tersenyum melihat mereka berpelukan. "Kalian manis sekali." Katanya. Perawat itu juga memberitahukan pada Aira bahwa dia harus mencoba menyusui bayinya dengan rajin agar bayinya tidak kuning, lalu membantu Aira agar dapat menyusui dengan posisi dan postur yang tepat.
__ADS_1
Dengan sangat lembut sang perawat menempatkan bayi itu di lengan Aira, dan secara naluriah, bayi itu mencari-cari payudara ibunya. Aira merasakan tarikan cinta yang kuat saat memandang bayinya yang mungil.