Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 78


__ADS_3

Hari sudah menunjukkan pukul 7 malam ketika seseorang datang ke kediaman Aira dan Erigo. Orang tersebut adalah Zora.


Zora dan Airez sudah kembali dari Amerika sejak kemarin, tapi mereka sama sekali belum bertemu. Mereka saling berpelukan dan bertukar kabar sementara Aira melihat Zora hanya datang sendiri.


"Kenapa kau datang sendirian? Dimana Airez?" Tanya Aira saat menyambut Zora.


"Kakakmu masih tidur. Dia kewalahan menangani jetlag nya." Ucap Zora sembari meringis.


"Lalu dia mengizinkanmu datang kemari sendiri malam-malam? Airez sudah gila." Gerutu Aira. "Aku akan mengomelinya besok." Cetus Aira lagi.


Zora hanya tertawa sembari menyerahkan sebagian barang bawaannya pada Erigo. "Dimana keponakanku? Apa mereka sudah tidur?" Tanyanya.


"Mereka di kamar atas bersama pengasuh. Kurasa mereka masih bermain. Ayolah." Ajak Aira. Mereka naik ke atas bersama-sama.


Aelius dan Aeliana sangat ceria dan merupakan bayi yang ramah. Keduanya cepat akrab dengan Zora. "Aku membeli baju untuk Aelius dan Aeliana. Lihat." Ucapnya riang seraya mengeluarkan baju dari dalam kantong yang dibawanya.


"Wuah... Aunty mereka memang yang terbaik." Cetus Aira sembari tertawa lalu memakaikan pakaian pada si kembar.


____________________________


Keesokan harinya, Aira, Zora dan ibunya, Emma, pergi berjalan-jalan di pusat kota sembari berbelanja. Mereka memasuki salah satu toko pakaian.


Baju-baju yang ada di etalase dan di gantungan menarik mata mereka. "Bukankah gaun ini bagus?" Tanya Aira sembari menunjukkan gaun putih berlipit dengan motif bunga-bunga merah.


"Wah.. Warnanya cerah dan sangat cantik." Ucap Zora. "Iya bukan? Cantik bukan? Ibu?" Tanya Zora lagi pada ibu mertuanya.


"Itu cocok untukmu Aira." Ucap ibunya. Emma kemudian mengambil salah satu pakaian yang tergantung di etalase. "Aku akan mencoba yang ini." Ucapnya.


Gaun yang di pilih sang ibu berwarna abu-abu muda dengan bunga-bunga berwarna merah cerah. Gaunnya berkancing depan dari atas sampai bawah, berlengan panjang dengan rok berlipit sampai ke betis.


Ketika sang ibu keluar dari ruang ganti, Aira dan Zora berseru kagum. "Wuaahhh.. " Ucap keduanya bersamaan.


"Bagaimana penampilanku?" Tanya Emma kepada kedua putrinya.


"Ibu cantik sekali." Ucap Zora kagum.


"Ibu langsing sekali. Seperti anak gadis." Seloroh Aira.


Ibunya tertawa. "Apa warnanya bagus? Sekarang musim dingin. Musim dingin membuatmu menginginkan warna-warna cerah." Ucap ibunya lagi.


"Cantik sekali. Ayo beli ini." Ucap Aira lagi.


Sementara itu Aira memilih gaun sifon hitam dengan bunga-bunga pink kecil-kecil.


Zora melihat gaun pilihan Aira dan memujinya. "Ini cantik sekali. Pasti akan cocok padamu."


Aira menimbang-nimbang sebentar. "Kurasa aku punya yang mirip di lemariku. Erigo membelikanku terlalu banyak baju hingga aku kadang tidak mengenali pakaianku sendiri."


"Dia dan Airez sama saja. Mereka menimbunmu dengan setumpuk pakaian." Ucap Zora. "Lalu jika aku bilang baju ini seleraku, dia akan bilang, 'kau sudah punya yang seperti itu satu di rumah.' Katanya seleraku sama saja." Zora tertawa.


Aira membesarkan bola matanya dan mengangguk setuju. "Benar sekali. Mereka kadang terdengar seperti pria tua." Aira dan Zora tertawa sembari menggosipkan suami-suami mereka.

__ADS_1


"Sangat menyenangkan berbelanja dengan kalian berdua." Ucap ibunda Aira yang sejak tadi memperhatikan keduanya mengobrol. Anak dan menantunya sangat akrab dan Emma merasa sangat bersyukur. "Kita harus lebih sering melakukannya."


"Setelah ini kita mau kemana lagi ibu?" Tanya Aira. Hari ini mereka berencana menghabiskan hari bertiga dengan makan, belanja dan jalan-jalan.


"Kita harus makan makanan enak baru bisa berdiskusi." Jawab ibunya.


Ketiganya pergi ke sebuah restoran dan menikmati sajian lezat. Zora berbicara saat mereka sedang menunggu minuman mereka di antar.


"Ibu, sebenarnya aku.. " Ucapnya ragu-ragu.


Aira segera meletakkan ponselnya dan menatap Zora, menantikan apa yang akan di bicarakannya selanjutnya. "Aku baru mendapatkan SIM ku bulan lalu." Ucap Zora akhirnya.


"Oh benarkah?" Ibunda Aira tampak bersemangat.


"Iya. Bulan lalu saat pulang untuk melihat nenekku, aku ikut ujian mengemudi dan aku lulus." Ucap Zora sembari tersenyum senang lalu mengeluarkan SIM nya dari dalam dompet. "Kini aku bisa mengemudi."


Aira dan ibunya sangat tertarik. "Sungguh?" Ucap ibunya lagi. "Kau pasti sangat senang. Ibu sudah lama tidak menyetir hingga ibu takut pada jalanan."


Aira mengangguk-angguk. "Ibu sudah terlalu lama di manjakan ayah hingga tidak pernah lagi menyetir sendiri." Ucapnya terkekeh.


"Kau harus sering mengendarai mobil jika sudah mendapatkan SIM. Kalau tidak, itu hanya akan berakhir sebagai cenderamata saja." Ucap sang ibu lagi. "Jadi kendarai mobil sesering kau bisa."


"Benar, akan percuma jika tidak dipakai. Menggunakan itu sesering mungkin sangat penting." Ucap Aira juga. Zora mengangguk-angguk antusias.


"Sebenarnya, ibu ingin ke suatu tempat. Kalian tau, daerah S. Ibu ingin kesana untuk menemui teman ibu. Apa kita kesana saja? Zora yang menyetir." Ucap Emma lagi.


"Itu agak jauh. Tapi kita hanya harus berhati-hati kan? Masalahnya, aku tidak punya mobil sendiri, jadi kita harus pulang dulu untuk meminjam mobil Airez." Cetus Zora.


"Bolehkah? Kalau begitu aku akan menjadi supir kalian selama sisa hari ini." Zora bersemangat. "Instrukturku bilang bahwa aku cukup bagus untuk langsung mengemudi. Jadi aku percaya diri."


Setelah kenyang, mereka melanjutkan perjalanan sesuai rencana. Zora kini duduk di belakang kemudi, ibunya di samping Zora karena bersemangat melihat menantunya menyetir. Sedangkan Aira berada di bangku belakang.


Zora menyesuaikan tempat duduknya karena Aira berukuran mini di banding kakak iparnya. Lalu ia juga mengatur sistem navigasi. Dia terlihat sangat siap.


"Mengemudilah dengan aman." Ucap Aira dari belakang.


Zora mencengkram kemudi dengan kedua tangannya. "Oh aku sangat gugup karena bersemangat." Ucapnya.


"Tidak apa-apa. Mengemudilah dengan tenang." Ucap sang mertua.


Mereka mengobrol sepanjang perjalanan. Meskipun Zora sesekali terdiam karena berkonsentrasi mendengarkan arahan sistem navigasi. Namun mereka mengobrol dengan cukup heboh. Bahkan menyalakan musik.


Sistem navigasinya mengingatkan persimpangan, namun sepertinya Zora buruk dengan arah. Ia merasa sedikit bingung. "Oh aku tidak tau apa yang dikatakannya." Ucap Zora sembari tertawa. "Dia bilang simpang sesuatu atau apa."


Ibu mertuanya ikut tertawa. "Aku juga tidak mengerti satupun." Ucapnya.


Aira sendiri tidak memperhatikan karena sibuk bermain dengan ponselnya.


"Dia bilang persimpangan 300 meter kedepan?" Zora memiringkan kepalanya. "Aku tidak tau apa maksudnya." Ucapnya lagi dan kembali tertawa.


"Kurasa harus lurus saja bukan?" Cetus ibu mertuanya. Mereka sama-sama tertawa.

__ADS_1


"Kalau begitu aku akan berjalan lurus seperti katanya." Zora mengangguk yakin.


Tak lama setelahnya, cuaca cerah berubah menjadi mendung dan tetes-tetes air mulai membasahi kaca depan mobil.


"Oh, kurasa hujan turun." Ucap sang ibu.


Mereka dalam masalah. Sulit untuk mengemudi bahkan saat cerah. Sedangkan Zora adalah pengemudi pemula. Dia tampak mulai gugup.


Mobil melaju memasuki jembatan dan jalanan mulai padat. Hujan memperparah drama di jalanan. Ketika mereka seharusnya berada di jalur kiri, Zora malah terjebak di jalur sebelah kanan dan mengalami kesulitan saat ingin berganti jalur. Ia tidak bisa memotong jalur karena jalanan sangat padat dan kendaraan rapat-rapat.


"Tanganku mulai berkeringat." Kata Zora. Ibu mertuanya memandang dengan cemas. "Astaga, bagaimana ini? Aku harus berganti jalur." Ucapnya lagi.


Aira yang sejak tadi tidak memperhatikan, mulai merasakan ada masalah. Ia menyimpan ponselnya di dalam tas dan melihat ke sekitar, namun Aira sendiri tidak tau mereka ada dimana. Zora dan ibunya sedang merutuki adanya banyak mobil disekitar mereka dan jaraknya sangat dekat. Keduanya tampak cemas.


"Ahh aku seharusnya memotong." Ucap Zora lagi. "Tapi aku tidak bisa." Rutuknya.


Pada akhirnya jalanan itu terbelah. Sementara lajur tengah dan kiri tetap lurus, kendaraan mereka di lajur kanan dengan terpaksa berbelok ke arah yang berlawanan dari tujuan.


"Apa kita tersasar?" Tanya Aira dan mulai cekikikan. "Kau seharusnya membaca rambu penandanya Zora." Ucap Aira masih terkekeh.


Zora dan ibunya ikut tertawa. "Aku tidak terlalu memperhatikan rambunya. Navigasinya berkata hal yang sebaliknya." Ucap Zora lagi.


Aira tertawa. "Tidak apa-apa Zora. Kita hanya harus berputar. Masih banyak waktu sampai sore." Ucap Aira santai.


"Kita dalam masalah. Ibu harus ke toilet." Cetus mertuanya.


Rencana tinggal rencana. Zora tampak semakin cemas karena matahari mulai tenggelam sementara mereka sepertinya hanya bolak balik di jembatan. Lalu mereka terjebak kemacetan dalam kondisi gerimis. Zora mulai mengerang frustasi.


"Aku tidak bisa melihat jalurnya."


Dengan penuh perjuangan, mereka akhirnya bisa kembali ke jalur yang benar. "Ibu harus ke toilet." Ucap ibunya lagi. Aira meledak dalam tawa sedangkan Zora merasa makin tertekan.


Seharusnya mereka berbelok untuk ke daerah S. Namun Zora melaju lurus ke depan tanpa memperhatikan penunjuk jalan, hingga Aira menepuk pundaknya. "Zora, kau seharusnya ke kanan." Ucap Aira. Zora dengan bingung menoleh ke kanan namun dia sudah terlanjur keluar jalur.


"Zora... Itu ke kanan." Ucap ibunya lagi. "Astaga, kita masuk jalan yang salah lagi."


Mereka tampak semakin frustasi.


"Maafkan aku." Sesal Zora. "Navigasinya terus mengatakan ke kiri. Entah mana yang harus ku dengarkan." Ucapnya.


Zora mulai jengkel karena terus-terusan salah jalur. Ia menjadi semakin jengkel ketika navigasinya mengatakan bahwa ia salah jalur.


"Kemana kita sebenarnya?" Tanya sang ibu.


"Ini menuju daerah I." Jawab Aira. "Navigasinya terus mengatakan kita salah jalur." Ucapnya lagi sembari terkikik. "Sistem navigasi itu terus membuat Zora ragu-ragu."


Sebenarnya Airez sudah menelpon Zora sejak tadi, tapi ia menolak panggilannya karena harus melihat navigasi ponselnya. Airez juga menelpon ibunya namun sang ibu terlalu takut di omeli hingga tidak ingin mengangkatnya. Sedangkan ponsel Aira, jika memang Airez menelponnya, sepertinya Aira memang tidak mendengarnya.


Ibu mereka mulai mengomel. "Suamimu sudah menelponku sejak tadi. Mau berapa kali lagi dia menelpon." Ucapnya.


Akhirnya mereka melihat area peristirahatan. Zora berbelok dan mencari tempat parkir sementara ibunya bergegas mencari toilet.

__ADS_1


__ADS_2