
Erigo membawa Aira melintasi halaman luas dan asri yang di tanami beberapa tanaman hias sementara di depan pintu sang nyonya rumah tersenyum bahagia menyambut anak lelakinya dengan tangan di rentangkan.
Perawakannya seperti ibu-ibu pada umumnya dengan rambut sebahu dan senyuman teduh. Erigo memeluk ibunya, lalu ayahnya dan saudari perempuannya. Lalu Erigo berpaling pada Aira. "Ibu, Ayah, Jun, kenalkan ini Aira."
Aira tersenyum mengucapkan salam sopan dan menyerahkan sebuah buket bunga untuk sang ibu. "Aku tidak tau bunga jenis apa yang ibu sukai, jadi aku mencampurnya." Ucapnya.
Sang ibu menerima bunga pemberian Aira dan tersenyum. "Ini cantik sekali sayang, aku menyukainya. Trimakasih." Ucapnya hangat.
Kakak Erigo tersenyum ramah padanya. "Aku Junny, kau boleh panggil aku Jun." Ucapnya ramah.
Ayah Erigo memandangnya dengan kasih sayang seorang ayah. "Kau sangat cantik Aira, Erigo sangat beruntung. Masuklah ke dalam, semua orang sudah menunggu." Ucapnya.
Erigo dan Aira bertukar pandang. "Ibu mengundang banyak orang?" Tanya Erigo. Ibunya hanya tersenyum.
Memasuki rumah yang luas dengan interior modern dengan tangga naik di sebelah kiri, Aira di arahkan ke arah taman belakang yang ternyata lebih luas. Meja-meja dan kursi-kursi di tata dengan rapi serta beberoa meja berisi bermacam makanan. Keseluruhan dekorasinya bernuansa putih di lengkapi hiasan putih hijau lalu lampu kelap kelip berwarna kuning temaram.
Beberapa tamu sudah hadir disana dan langsung menyambut Erigo. Erigo tertawa melihat para tamu yang rata-rata dikenalnya. Kemudian seorang gadis berambut panjang yang di cat pirang menyeruak dari tengah kerumunan. Dengan dress mini bermotif bunga-bunga besar berwarna hijau neon menyilaukan, gadis itu berlari ke arah Erigo membuat rambut pirangnya berkibar di belakangnya lalu tanpa di sangka-sangka ia meloncat ke pelukan Erigo.
Aira tersentak mundur. Ia memandang Erigo mencoba mencari penjelasan namun keterkejutan yang sama melintas di mata itu, membuat Aira mengerjap tak percaya pada apa yang di lihatnya hanya terjadi di dalam adegan drama. Erigo hanya harus berputar beberapa kali dan tertawa. Seperti itulah adegan yang pernah Aira lihat di televisi.
Erigo terhuyung menangkap gadis itu lalu dengan gerakan cepat menurunkannya. "Ow__hai__Kathy. Kau datang." Cetus Erigo datar. Matanya melirik cemas pada Aira.
Sang gadis pirang yang di sebut Kathy ini menarik ujung bibirnya selebar mungkin hingga nyaris merobeknya ke telinga dan dengan suara nyaring menjawab apa yang sebenarnya bukan pertanyaan Erigo. "Tentu saja aku datang untukmu, seperti yang setiap tahun kita lakukan." Ucapnya yang terasa provokatif bagi telinga Aira.
Aira tidak dapat mencegah matanya menyipit penuh penilaian namun dengan cepat ia mengalihkan pandangannya ke arah taman. "Dekorasinya sangat indah ibu." Ucapnya tersenyum.
"Oh trimakasih sayang. Ayo Erigo, bisa kita mulai acaranya? Semua orang sudah menunggu." Ibunya menarik Aira untuk duduk di sampingnya sementara Jun mengambil alih acara. Sedangkan si pirang Kathy, kembali ke kerumunan setelah seseorang memanggilnya untuk segera kembali agar acara bisa dimulai.
Ibunya berbisik. "Kathy itu sepupunya, jangan terlalu di ambil hati." Ucapnya lembut.
Aira hanya tersenyum menanggapi.
__ADS_1
Setelah acara tiup lilin, pemotongan kue dan ucapan selamat yang bertubi-tubi, Erigo tampak sibuk meladeni para tamu mengobrol. Semua orang tampak senang.
Aira duduk sambil menikmati minuman dan baru saja akan mencicipi sepotong tart strawberry ketika Kathy si gadis pirang menghampirinya. Gadis itu duduk di sampingnya menopangkan kepalanya pada satu tangan di atas meja dan memandang Aira.
"Jadi kau pacar Erigo?" Tanyanya. Aira merasakan sebersit nada mengejek dalam suara gadis itu.
Aira tersenyum. "Aku pacarnya." ucap Aira tegas. "Dan kau sepupunya." ucapnya lagi menegaskan. Wajah meremehkan Kathy berubah, tampak sedikit kesal.
"Kau yang ke berapa? Karna Erigo biasanya punya banyak kekasih dimana-mana." Ucapnya lagi. "Kau tau, kekasih Erigo biasanya sangat seksi. Tapi kau tampak biasa saja." Ucapnya dengan tatapan menilai dan meremehkan.
Aira mendengus pelan. "Erigo tidak suka wanita seksi. Dia tidak suka berbagi tubuh wanitanya untuk di tatap pria lain. Terlalu murahan." cetus Aira.
Wajah Kathy menegang, gadis itu mulai mencecarnya lagi. "Kau tidak cocok untuknya." Ucapnya tersenyum menghina.
"Benarkah? Bagaimana ya? Erigo tampaknya tidak menemukan kecocokan pada orang lain selain diriku." ucap Aira menaikkan alisnya dan tersenyum penuh kemenangan.
Aira memasukkan satu suapan tart strawberry ke dalam mulutnya dan berlama-lama mengulumnya. Ia tidak ingin terlibat percakapan jenis apapun dengan gadis pirang ini. Kata-katanya sangat menghina dan menyakitkan. Aira tidak mau repot-repot berbasa basi dan membuang-buang waktu.
Aira merona. "Trimakasih. Kau juga sangat menawan." Ucap Aira lagi.
Tiba-tiba Kathy menyela. "Erigo, ayo berfoto disana." Ucapnya jelas sekali mengabaikan kehadiran Aira. Aira dapat merasakan ketidaksukaan gadis itu padanya dan tidak memahami alasannya.
Erigo diam sebentar sambil melirik pada Aira. Dengan pertimbangan bahwa gadis ini adalah sepupunya maka Aira berusaha bersikap bijak. "Pergilah. Semua orang pasti ingin berfoto denganmu." Ucap Aira tersenyum.
"Baiklah." Ucap Erigo dan menambahkan. "Jika kau bosan, katakan padaku, kita bisa pergi ke tempat lain, oke." Ucapnya dengan bisikan di telinga Aira. Aira mengangguk.
Erigo pergi meninggalkannya. Untungnya ibu Erigo datang untuk menemaninya. Sang ibu memperkenalkannya pada para tamu yang merupakan paman, bibi dan para sepupu. Jadi benar ini adalah pesta keluarga, pikir Aira.
Setelah beberapa lama, sebagian sanak saudaranya berpamitan untuk pulang, namun Aira belum melihat Erigo lagi sejak tadi. Aira berjalan di sisi taman sebelah kiri menuju gazebo kecil yang ditutupi tanaman merambat. Aira terus melangkah dan menangkap sosok Erigo di dalam gazebo.
Erigo tidak sendiri, dia bersama seseorang. Aira melangkah maju dan melihat tangan seseorang berada di sekeliling leher Erigo. Langkahnya terhenti tepat ketika Erigo bergerak menurunkan kepalanya ke arah seorang gadis berambut pirang.
__ADS_1
Aira terhenyak di tempatnya. Dadanya sesak, jantungnya bergemuruh. Matanya mengerjap tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Aira mundur mengikuti nalurinya dan menginjak sepotong dahan kering hingga menimbulkan suara patahan di dalam keheningan yang terasa memekakkan.
Erigo tampak mendorong gadis itu dan menoleh pada sumber suara dan menatap Aira. Sesuatu yang tampak seperti keterkejutan melintas di mata Erigo. Aira menggeleng pelan, berbalik dengan cepat dan berlari ke arah rumah.
Aira menyambar tas tangannya di atas meja dan melangkah cepat meninggalkan taman belakang. Air matanya merebak membuat pandangannya kabur dan tanpa sengaja ia bertabrakan dengan Jun.
Aira terkesiap dan meminta maaf tanpa mengangkat kepalanya. Ia hendak berlari namun sebuah tangan kokoh menariknya, menghentikan langkahnya. Cengkraman kuat menyakiti sikunya.
Kemarahannya memuncak. Kekecewaan membuatnya hilang akal. Ia menatap Erigo dengan sengatan kebencian pengkhianatan. Meskipun air matanya turun mengaburkan pandangan, suaranya tetap keluar dan bergetar. "Lepaskan tanganku." Cetusnya.
Erigo bergerak gelisah. "Tidak akan ku lepaskan sebelum kau mendengarkan penjelasanku." Tukas Erigo. Tegas, tidak bisa di tawar.
Aira menyemburkan kemarahan lainnya. "Aku tidak membutuhkan penjelasan apapun. Aku tidak buta dan aku melihatnya dengan jelas."
Sesuatu yang terlihat seperti kemarahan berkilat-kilat di mata Erigo. "Kau tidak benar-benar mengerti situasinya Aira. Percayalah padaku, kita akan menyesali pertengkaran ini." Rahang Erigo mengeras.
Siku Aira semakin terasa sakit karna cengkraman Erigo melawan pemberontakannya.
"Hentikan." Jun memegang siku Aira dengan lembut dan menatap marah pada Erigo. "Lepaskan Erigo, kau menyakitinya." Cetus Jun.
"Oh tentu saja dia akan mengambil kesempatan pertama untuk kabur jika aku melepaskannya." Jawab Erigo.
Tentu saja, pikir Aira. Ia sudah tak tahan berada disini, dikhianati, dipermalukan.
"Dia tidak akan kemana-mana. Tidak ada taksi dan ini sudah malam. Aira akan bersamaku. Di kamarku." Ucap Jun tegas. "Jadi gunakan akal sehatmu dan lepaskan cengkramanmu pada gadis ini Erigo." Pinta Jun.
Erigo menurut. Ia melepaskan Aira.
Tepat ketika Jun menarik Aira menuju tangga, Kathy muncul dengan wajah merah padam, ia sesegukan. Kathy berhenti sebentar untuk melemparkan tatapan kebencian pada Aira sebelum berlalu pergi.
Erigo mengumpat pelan dan menatap Aira. "Urusan kita belum selesai." Ucapnya.
__ADS_1