
Zora menunduk di kemudi. Ia mengerang kesal dan frustasi. Ia tidak tau mereka berada dimana.
"Aku tak percaya aku melakukan kesalahan." Erangnya. Aira yang mendengarnya hanya tertawa.
"Itu bisa terjadi sister. Ini pertama kalinya kau mengemudi, tidak apa-apa." Jawab Aira mencoba menenangkan.
"Aku mengemudi untuk pertama kali dan aku membawa mertuaku dan adik iparku. Lalu aku tersasar entah kemana. Tidakkah kau berpikir ini yang terburuk?" Rengek Zora. "Airez akan membunuhku." Zora bergidik ngeri. Ia bahkan sudah menolak puluhan panggilan dari Airez di ponselnya. Entah apa yang dilakukan Airez sekarang.
"Dia tidak akan membunuhmu." Ucap Aira santai. "Dia sangat memujamu Zora, apapun yang kau lakukan. Ku tebak dia sedang mondar mandir dikamarnya sekarang karena sangat mencemaskanmu."
"Aira, apa sebaiknya ku telpon saja?" Zora mengangkat kepalanya dan menoleh pada Aira. "Kita tidak tau bagaimana cara pulang dari sini. Bagaimana kalau kau telpon Airez dan suruh dia kesini menjemput kita."
"Bagus sekali ide mu. Kenapa tidak kau telpon sendiri?" Aira tertawa melihat ekspresi kakak iparnya. "Aku tidak mau mendengar dia mengomeliku. Telingaku bisa berdarah." Cetus Aira.
Ibu mereka kembali ke mobil. "Bagaimana sekarang?" Tanya sang ibu.
"Zora akan menelpon Airez dan minta di jemput." Jawab Aira. Ia menyeringai ke arah Zora setelah melemparkan bom.
Mulut Zora menganga, namun dengan cepat ia menutupnya lagi. Dengan tangan bergetar Zora mencoba menelpon suaminya. Airez bahkan mengangkatnya pada dering pertama.
"Kau dimana?" Tanya Airez lembut. Namun kekhawatiran terdengar daru suaranya.
"Aku tidak tau Airez." Jawab Zora dengan suara bergetar. Ibu mertuanya tersenyum, sedangkan Aira hampir mati menahan tawa.
"Apa maksudmu kau tidak tau?" Tanya Airez lagi. Sekarang dengan nada cemas yang sebenarnya.
"Aku mencoba pamer dan menyetir dengan membawa mobil Aira. Jadi kami pergi berjalan-jalan. Tapi aku terus-terusan salah jalur dan akhirnya kami tersasar." Ucap Zora lagi. Tawa Aira meledak.
"Astaga, Zora." Airez mengerang, dan Zora semakin merasa bersalah.
"Aku terlalu takut untuk menyetir. Bisakah kau datang kesini?" Pinta Zora lagi.
"Tidak apa-apa. Katakan saja kalian ada dimana, aku akan kesana."
"Kami di area peristirahatan menuju daerah I. Bisakah kau kesini secepatnya?" Tanya Zora lagi.
__ADS_1
"Kenapa sampai sejauh itu?" Airez heran. "Aku akan kesana. Berikan teleponnya pada Aira, aku mau bicara." Katanya pada akhirnya.
"Jangan memarahinya, ini semua salahku." Ucap Zora lagi.
"Aku bukannya mau memarahi. Berikan saja dulu."
"Oke."
Aira menerima teleponnya dan menyapa Airez. "Ini aku Airez." Ucapnya.
"Apa istriku baik-baik saja? Bagaimana ibu?"
"Dia baik-baik saja. Hanya panik." Aira memandang Zora yang menggigit bibir. "Ibu sedang menghiburnya. Aku tau kau khawatir, tapi jangan memarahinya, paham? Atau aku akan marah padamu." Ancam Aira.
"Kau tidak sedang dalam posisi menyerang Aira, sudah seharusnya aku memarahi kalian." Cetus Airez membuat Aira menggerutu.
"kami akan turun dan mencari minuman hangat sementara menunggumu." Ucap Aira lagi. "Maafkan aku Airez, aku terlalu santai di belakang hingga tidak memperhatikan kami berputar-putar kemana. Kau boleh menyalahkan sistem navigasi yang aneh itu." Aira kembali terkikik.
"Baiklah. Aku akan kesana. Mungkin butuh lebih dari satu jam."
Akhirnya mereka keluar dan mulai menjelajah kuliner di area peristirahatan. Kecemasan sudah menguap dari wajah Zora saat melihat beragam jajanan.
Namun, satu jam tiga puluh menit tidak mudah di lalui terutama saat tubuhmu sudah lelah dan mengantuk. Ketiga wanita Zuma itu duduk menunduk mengelilingi meja kecil.
"Ibu berharap Airez segera sampai." Ucap sang ibu sembari menguap. Zora hanya menunduk dengan menyedihkan. Aira sedikit merasa kasihan, tapi dia sendiri merasa nyaris kehilangan akal. Ia meninggalkan anak-anaknya dirumah sejak siang tadi dan sekarang sudah hampir waktu anak kembarnya tidur.
Setelah menunggu lama, akhirnya Airez muncul. Di susul Erigo di belakang Airez. Keduanya datang bak pahlawan penyelamat. Baik Aira maupun Zora berseru lega meskipun Zora tampak seperti akan menangis di pelukan Airez.
Zora merasa sangat sedih dan adegan ini seperti pertemuan kembali keluarga yang terpisah.
Mereka pulang dengan mobil yang berbeda. Erigo yang menyetir pulang di mobil Aira. Sedangkan ibunya dan Zora berada di mobil Airez.
"Jangan menyetir untuk sementara waktu. Jika kau ingin pergi ke suatu tempat, katakan saja padaku atau pada supir." Ucap AAirez mulai mengomeli istrinya.
Zora hanya mengangguk lemah. "Baiklah." Ucapnya pelan.
__ADS_1
"Kau membuat semua orang kesulitan. Ibu kelelahan. Dan Aira meninggalkan bayinya terlalu lama sekarang." Omel Airez.
"Maafkan aku." Ucap Zora lemah.
Ibunya di belakang segera menghentikan omelan Airez. "Sudahlah. Tidak ada orang yang mahir sejak awal, semuanya memulai sebagai pemula." Ucap sang ibu bijaksana.
Sementara itu di mobil Aira, Erigo mengomelinya karena tidak memperhatikan jalan. "Padahal kau tau Zora mengemudi untuk pertama kali. Bagaimana bisa kau tidak mengawasinya?" Cecar Erigo.
"Kupikir dia lebih tau jalanan disini karena dia tinggal di negara ini seumur hidupnya, sedangkan aku baru kembali dari Amerika beberapa tahun yang lalu." Ucap Aira merajuk. "Lagipula, pergi bertiga rasanya menyenangkan."
Erigo tersenyum pada Aira. "Kau senang?"
Aira balas tersenyum dan mengangguk. "Meskipun Zora terlihat seperti mau menangis?" Ucap Erigo lagi.
"Selalu ada kali pertama untuk segalanya bukan? Zora akan terbiasa dan akan segera membaik. Dia bisa menyetir dengan lebih hati-hati karena sudah punya pengalaman. Tidakkah kau pikir begitu?" Tanya Aira.
Erigo mengusap kepala Aira dan tersenyum. "Kau sangat positif Aira. Karena itulah aku mencintaimu lebih dari apapun." Ucap Erigo.
________________________________
Lebih tiga minggu setelahnya, dua wanita terlihat berdandan dan dengan bergaya masuk ke dalam mobil Airez. Dialah Zora dan ibu mertuanya.
Sejak terakhir kali Airez mengomelinya, ayah mertuanya membela Zora. Frans Zuma berkata bahwa dia tidak perduli jika mobil itu rusak, selama tidak ada yang terluka. Jadi sang ibu mertua memperbolehkan Zora menyetir jika dia tidak keberatan.
Ibu mertuanya berkata bahwa Zora akan lebih mahir mengemudi jika sering berlatih. Jadi Zora akan mengemudi setiap hari saat dia pulang. Ia dan ibu mertuanya sangat cocok. Hari ini mereka berencana akan pergi ke rumah Aira untuk melihat si kembar.
Zora dengan gagah berani menekan gas dan berbelok keluar garasi. Tapi tiba-tiba mereka mendengar suara berderak dari samping sebelah kiri. Ternyata Zora menabrak pembatas taman.
"Astaga. Pintu mobilnya." Seru ZoraZora dengan mata membulat.
Sang mertua hanya tertawa mengira hanya lecet sedikit. "Tidak apa-apa. Apa itu buruk?" Tanyanya lagi.
"Ibu, itu cekung ke dalam." Ucap Zora.
"Apa katamu? Benarkah?" Ibu mertuanya tampak agak cemas namun segera melupakannya. "Tidak apa-apa. Itu bisa terjadi. Kau pengemudi pemula. Biarkan saja. Ayo jalan." Ucapnya tak acuh.
__ADS_1
Zora mundur sedikit lalu kembali maju setelah menghindari pembatas. Ibu mertuanya tampak santai karena toh ini bukan mobilnya. Tapi ini mobil Airez. Zora berusaha terlihat baik-baik saja sementara kepalanya sibuk membayangkan omelan Airez. Sekarang dia bahkan bisa mendengarnya berdengung di telinga. 'Owh , menakutkan.' Pikir Zora.