Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 76


__ADS_3

Hari ini Aira turun ke bawah lebih pagi dari sebelum-sebelumnya. Ia meminta Polly menjadi asistennya  untuk memesak sejak sarapan. Ia membuatkan Erigo hidangan lengkap untuk sarapan dan makan siang. Untuk makan malam ia membuatkan makanan kesukaan suaminya dan menata meja di halaman belakang dekat tenda Erigo.


Aira dengan senang hati menuangkan minuman dan menyuapi suaminya dengan lebih giat, hingga Erigo bertanya-tanya apa yang terjadi pada sikap istrinya yang tiba-tiba menjadi sangat manis.


Erigo memandang Aira dan bertanya. "Kau bersikap sangat aneh. Ada apa?" Tanyanya sembari menahan senyum.


Aira menyelipkan rambutnya ke belakang telinga dan tersenyum manis menatap Erigo. "Begini, aku menginginkan sesuatu."


"Apa itu?" Erigo melihat Aira yang ragu-ragu, jadi ia mendesaknya "Katakan saja, ada apa?"


"Mmm.. Aku ingin menyambung rambutku." Ucap Aira, dan dengan cemas menantikan respon Erigo.


"Menyambung rambut? Kenapa tiba-tiba?"


Aira mendesah dengan sengaja. "Begini.. Saat aku berfoto dengan teman-teman, rambutku membuatku tidak tampak cantik di kamera." Katanya dengan wajah sedih.


Erigo bersandar di kursinya dan menatap tajam pada Aira. "Kau konyol sekali. Kau cantik bagiku. Apa lagi masalahnya?" Katanya.


"Itu bagimu, tapi tidak terlihat begitu di kamera." Aira memonyongkan bibirnya.


"Kau minta rambutmu di keritingkan, jadi aku mengizinkanmu mengeriting rambut. Lalu kau minta rambutmu di luruskan, kita sudah melakukannya." Erigo berhenti sebentar untuk menarik nafas. "Suatu hari kau minta rambutmu di warnai, kau juga mendapatkannya sayang. Lalu baru-baru ini kau ingin rambutmu di potong pendek."


Aira mendengarkan Erigo membeberkan semua ulahnya dengan cermat tanpa membantah dan menahan diri agar tidak meringis. Sementara itu Erigo masih melanjutkan omelannya.


"Lalu sekarang kau ingin menyambung rambutmu." Ucap Erigo kesal. Ia menopangkan sebelah kakinya di atas kaki yang lain. "Aku tak bisa menanganimu." Cetusnya lagi.


"Sudah berapa kali kau mengubah gaya rambutmu dalam tiga bulan terakhir? Kau akan segera bosan." Aira pikir omelan suaminya sudah selesai, ternyata belum. "Jangan lakukan itu." Erigo memarahinya.


Aira menolak untuk menyerah. "Dengarkan aku dulu." Ucap Aira. "Sebagai gantinya, aku akan menuruti semua keinginanmu. Aku akan memasak selama seminggu, aku akan menemanimu di studio, juga aku akan memakai pakaian seksi menggoda setiap malam. Tipis, dengan renda dan pita. Bagaimana?" Aira mengatupkan tangannya untuk memohon.


Erigo menarik nafas frustasi. Kesepakatannya sangat bagus, penawaran terakhir yang paling menggiurkan. Aira merayunya dan ia sudah tergoda. Satu tangannya di topangkan di dagu seraya menatap Aira dan menimbang-nimbang.


"Bisa kau pakai bahan tipis berpita dan berenda itu sekarang?" Tantangnya.


Aira menyeringai puas. "Nanti. Akan aku pakai nanti." Janjinya. "Jadi bolehkah? Kumohon." Tanyanya manis sembari tersenyum.


Erigo mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kau tidak bisa mengubah perkataanmu, oke? Kalau tidak, akan ku cabut rambutmu satu per satu." Ancamnya.


Esok harinya, Erigo menemani Aira ke salon langganannya untuk menyambung rambut. Erigo mengamati petugas salon menata rambut istrinya. Rambutnya di kepang kecil-kecil.

__ADS_1


"Aah.. Seperti itu cara melakukannya?" Tanya Erigo mengangguk-angguk.


Penata rambut itu menjelaskan pada Erigo bahwa rambut Aira di kepang satu persatu. Kepangannya harus utuh dan jangan sampai rontok saat mencuci rambut.


Erigo tidak tahan untuk tidak memutar bola matanya karena hal itu terdengar sangat merepotkan.


"Lalu rambutnya di ikat dengan benang. Karena itulah aku mengepangnya satu persatu, jika tidak, anda harus kembali untuk mengepangnya lagi. Repotnya dua kali lipat."  Penata rambut itu membeberkan.


"Berapa lama waktu yang di butuhkan untuk menyelesaikan semuanya?" Tanya Erigo.


"Sekitar dua sampai dua setengah jam." Kata sang penata rambut. Membuat Erigo meringis ngeri.


"Itu lama sekali." Cetus Erigo.


Sang penata rambut yang diketahui bernama Valle itu hanya tersenyum. "Ada banyak rambut yang harus di tambah. Itu alasannya." Ucapnya lagi. "Dalam dua jam anda bahkan bisa menonton dan menghabiskan satu judul film." Cetus Valle lagi.


"Satu film apanya? Kita bahkan bisa pergi keluar kota." Rutuk Erigo. Aira dan sang penata rambut mau tidak mau tertawa karena perkataannya.


Setelah beberapa waktu, Erigo kembali ke tempat Aira dan berkata. "Sayang, selesaikan setengahnya saja. Kau bisa membuat tren baru dengan rambut separuh panjang, separuh pendek."


Aira tertawa. "Apa yang kau bicarakan. Jangan membuatku malu." Aira mengibaskan tangannya mengusir Erigo.


"Aku baru menyelesaikan seperlimanya." Jawab Valle dengan cengiran.


"Astaga." Cetus Erigo membelalak. Aira belum lama memotong rambutnya. Hanya agar terlihat cantik, dia memengalami semua cobaan itu.


Erigo menghela nafas lagi. "Wanita setidaknya mencoba 100 gaya rambut sepanjang hidupnya, sementara kami para pria hanya punya dua."


"Bagaimana bisa begitu?" Tanya Aira.


"Kami bertahan dengan satu gaya rambut, sampai kami botak secara alami."


Aira dan Valle tersedak dan tertawa terbahak-bahak. "Yang benar saja. Kau mencoba banyak gaya rambut sejak debut. Dan kau mewarnai rambutmu sepanjang tahun." Aira memandang Erigo dengan sengit. "Apa yang kau bicarakan?" Ucapnya sembari tertawa.


"Aku sering mengubah warna rambutku dari waktu ke waktu, tapi aku tidak pernah di kepang. Devano pernah, dan itu butuh lebih dari 3 jam yang menjengkelkan." Erigo tergelak mengingat pengalamannya.


Waktu terus berlalu, dari setengah rambut yang tampak aneh, menjadi penuh dan terlihat hampir selesai. Erigo dengan bersemangat berdiri dari sofa tempatnya menunggu dan berseru "Wah.. Akhirnya selesai. Apa sudah berakhir?" Tanyanya lagi memastikan.


Sang penata rambut tersenyum sembari berkata "Aku baru menyelesaikan setengahnya."

__ADS_1


Erigo berjongkok dengan kesal. "Boleh aku merengek disini?" Tanyanya pada Aira. Sedangkan Aira hanya tertawa-tawa. "Aku benci melakukan hal seperti ini." Protesnya lagi.


Valle menjelaskan bahwa butuh waktu lebih lama karena rambut Aira pendek dan agak tebal.


"Agar seorang wanita terlihat cantik, harus ada upaya yang di lakukan." Cetus Aira tidak tahu diri sembari tersenyum cerah.


Erigo tidak mengerti kenapa Aira mau duduk disana selama dua setengah jam, sementara waktu berjalan sangat lambat. Erigo hampir mati karena bosan. Salon tersebut menyediakan kopi gratis dan Erigo sudah mengisi gelasnya sebanyak lima kali. Lalu sekarang dia nyaris tertidur selagi menunggu.


Setelah beberapa jam yang seakan selamanya, Erigo memejamkan matanya karena kantuk. Tiba-tiba Aira memanggilnya. "Sayang, lihat, aku sudah selesai." Ucapnya.


Erigo membuka matanya dengan malas dan mendapati Aira sedang tersenyum manis. Rambutnya panjang dan sudah di tata rapi. Namun Erigo merasa canggung.


"Ayo kita lepaskan." Cetusnya.


"Apa maksudmu? Aku cantik. Ya kan?" Aira menggerak-gerakkan kepalanya agar rambutnya yang tidak alami itu bergoyang. Erigo mendesah karena menurutnya rambut itu tampak kaku baginya. Namun dia tidak bisa mengatakannya.


Erigo dan Aira mengucapkan terimakasih pada Valle. Sebelum membayar, sang penata rambut mengingatkan banyak hal yang tidak boleh Aira lakukan. Ia tidak boleh menggesek rambutnya di bantal saat tidur, jadi Aira harus berhati-hati dan meletakkan rambutnya di bantal.


Lalu saat mencuci rambut, air harus di biarkan mengalir turun dan Aira tidak boleh membalik rambutnya karena itu akan kusut. Erigo memandang Aira dengan tatapan lelah dan menghakimi.


"Jadi berapa totalnya?" Tanya Erigo setelah mendengar penjelasan Valle.


"Oh, begini, karena ada banyak rambut yang di sambung, total biayanya sekitar segini." Penata rambutnya memberi tahu jumlah angka yang membuat Erigo membelalak. Ia memandang istrinya lagi. Sedangkan Aira hanya tersenyum.


"Bisakah aku mencicilnya selama dua belas bulan?" Tanya Erigo yang di sambut tawa oleh Valle dan petugas kasir. Erigo sungguh berfikir harganya tidak masuk akal.


Saat berkendara di dalam mobil, Aira duduk tegak dengan tulang punggung lurus untuk mencegah rambutnya menempel di sandaran kursi.


Erigo memandang Aira lagi. "Bukankah itu tidak nyaman?" Tanyanya.


"Tidak sama sekali. Aku baik-baik saja." Jawab Aira riang. "Postur ini bagus untukku."


Erigo menyerah menghadapi istrinya. "Iya. Iya. Ku rasa juga begitu." Balasnya malas. Erigo tidak yakin berapa lama Aira akan tahan dengan rambut barunya yang merepotkan ini. Erigo berasumsi tidak akan sampai tiga hari karena adanya bayi-bayi yang harus di urus. Sementara rambut itu tidak bisa di ikat, tidak praktis.


Erigo juga merasa kesal karena kegiatan malam harinya terganggu. Ia biasa melakukannya dengan menyisipkan jemarinya di rambut Aira, tapi sekarang rambutnya terasa berbeda. Erigo ingin sekali menariknya lepas.


Aira bertahan selama kurang dari seminggu. Ia sudah kesal karena rambut itu terus mengganggunya. Jatuhnya tidak alami dan terasa menggumpal. Karena tidak bisa menggelung rambutnya, Aira terus merasa risih saat menyusui bayi-bayinya. Terutama dengan Erigo yang terus mengeluh.


Akhirnya mereka kembali ke salon dan melepaskan sambungannya.

__ADS_1


Malam harinya Erigo menggila. Dengan bahagia menyusupkan jarinya di sela-sela rambut Aira dan memuji betapa halus rambutnya. Mereka melakukannya berkali-kali hingga Aira terbangun dalam keadaan kusut masai dan tampak sekacau malam pertamanya.


__ADS_2