Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 52


__ADS_3

Pernikahan musim gugur.


Oktober. Matahari terbit dari balik pegunungan pada hari pernikahan Aira, memancarkan sinarnya. Hawa sejuk mulai masuk meninggalkan musim panas yang lembab namun masih cukup hangat. Daun-daun berwarna merah, kuning dan oranye menyebar di seluruh taman-taman kota menyegarkan mata semua orang yang menatapnya.


Tidak hanya daun-daun cantik saja yang mencuri perhatian. Beragam bunga dan tumbuhan juga bermekaran menandakan berhembusnya angin dingin ke pelosok negeri. Bunga berwarna warni di taman-taman kota menambah kesan romantis.


Aula pernikahan dipenuhi para tamu undangan yang semuanya mengunjungi Aira di ruang tunggu untuk berfoto bersama sebelum upacara pernikahan dimulai.


Aira terlihat mempesona dalam balutan gaun pengantin berwarna keperakan. Gaun pengantin yang di pilihnya sangat cantik, elegan dan romantis. Aira selalu ingin mengenakan gaun seperti itu untuk pernikahannya. Gaunnya dihiasi permata-permata yang berkilau setiap kali Aira bergerak.


Di kepalanya, rambut coklatnya yang bergelombang ditata rapi, di jepit, dijalin dan digelung pada beberapa bagian lalu sisanya dibiarkan tergerai di bahu dan punggungnya, atas permintaan calon suaminya yang lebih suka rambutnya tergerai. Untung saja Aira tidak jadi memotong pendek rambutnya.


Cadar yang terbuat dari tule dan renda bertabur permata berkilauan di sematkan di puncak gelungannya. Aksesoris jepit dengan mutiara-mutiara berjejer mempermanis tampilan cadarnya.


Di tangannya, Aira menggenggam sebuket bunga kosmos berwarna putih. Bunga kosmos selalu bermekaran pada musim gugur sebagai penanda berakhirnya musim panas.


Saat Aira berjalan memasuki aula pernikahan, ia tidak berjalan sendirian melainkan bergandengan dengan ayahnya.


Erigo terpukau oleh pengantinnya. Lekuk tubuh ramping Aira yang sempurna, dibalut gaun pengantin yang elegan. Senyuman terukir di wajahnya yang cantik dan dapat terlihat dari balik lapisan tule tipis.


Dirinya sendiri tampak gagah dalam balutan tuksedo hitam. Dada dan bahunya tampak maskulin serta kokoh. Rambutnya ditata rapi dengan beberapa helai berwarna pirang sewarna matahari menyembul diantara warna coklat gelap yang mendominasi.


Tatapan mereka beradu dan terkunci satu sama lain. Aira merasa kakinya hampir meleleh diperjalanan melihat pujaan hatinya yang luarbiasa tampan mempesona. Sedangkan Erigo dengan susah payah menahan diri agar tidak menggapai Aira kedalam rengkuhannya. Tangannya tergenggam di sisi tubuhnya.


Devano menyenggolnya dan berbisik untuk menggoda Erigo. "Liurmu hampir menetes kawan. Kendalikan wajahmu." Ucapnya membuat Erigo tersenyum menahan tawa. Yansen yang mendengar bisikan itupun nyaris tertawa dan hampir menyemburkan umpatan yang kurang pantas namun berhasil di tahannya.


Tidak banyak tamu yang di undang, hanya kerabat dan teman dekat kedua mempelai. Pernikahan berjalan hikmad dan janji pernikahan mereka di ucapkan dengan penuh cinta dan ketulusan.


Sesuai keinginan kedua mempelai, tidak ada wartawan, tidak ada liputan karena ini pernikahan privat.

__ADS_1


Setelah sekali lagi di umumkan bahwa mereka adalah sepasang suami istri, Erigo membuka cadar Aira lalu menyelipkan tangan di antara helaian rambutnya. "Kau luarbiasa cantik, dan aku mencintaimu." katanya pada istrinya.


Kemudian Erigo mencium Aira, ciuman yang penuh janji. Janji akan kehormatan, kewajiban dan tanggung jawab Erigo untuknya selamanya. Ciumannya dalam namun lembut, ketika Erigo akhirnya melepaskan Aira, ia mencuri satu kecupan lagi sebelum mereka berbalik dan mulai berjalan keluar.


Setelah menyelesaikan acara pesta di aula pernikahan bersama para tamu dan kerabat, mereka juga mengadakan pesta pribadi di rumah besar yang akan mereka tempati. Mereka hanya mengundang keluarga dan para member serta pasangannya.


Aira dan Erigo sudah berganti pakaian menggunakan sesuatu yang lebih santai. Aira mengenakan dress merah lengan panjang berbentuk balon dengan bagian bawah berrimpel, sedikit lebih panjang di bawah lutut. Erigo mengenakan kemeja merah tua dipadu jins panjang yang membalut kakinya.


Semua orang bersenang-senang, ibu Aira dan ibu Erigo menangis sesegukan saling berpelukan karena bahagia. Para ayah sibuk mengobrol dan tertawa-tawa sembari menikmati makanan dan minuman. Airez hanya sekali menghampiri mempelai dan memeluk Erigo serta Aira. Sekarang dia sedang berduaan dengan Zora di pojok yang tidak menarik perhatian.


Erigo melirik Aira dan berkata "Kakakmu pernah bilang bahwa dia akan mengulitiku hidup-hidup jika aku berani menyentuhmu. Tapi lihat dia sekarang." Ucapnya menggedikkan dagu ke arah Airez dan Zora yang sedang berdansa dengan tubuh rapat satu sama lain mengikuti musik pelan yang mengalun. Airez menundukkan kepala ke Arah Zora, mungkin membisikkan sesuatu karena kemudian kepala Zora tersentak ke belakang dan ia tertawa lepas.


Suasana di halaman belakang semakin romantis dengan iringan musik, lampu-lampu temaram dan lampu kelap-kelip yang cahayanya memantul di air kolam renang. Meja-meja tersusun rapi dengan makanan dan minuman yang seakan tidak habis-habis.


Aira tertawa. "Kau tidak bisa menyalahkan orang yang sedang jatuh cinta sayang." Ucap Aira mengecup pelan bibir Erigo yang menekuk. Erigo malah menarik tengkuknya meminta lebih.


Ia berdiri mengambil piring berisi buah-buah potong. "Kau harus menikmatinya sayang. Orang-orang sedang bersenang-senang." Ucap Aira.


Erigo mencondongkan tubuhnya dan mendekat pada Aira. Aroma segar yang familiar menyerang penciuman Aira. "Aku memikirkan bersenang-senang denganmu dengan cara lain." Bisiknya di telinga Aira. Erigo menggodanya dengan menelusurkan jemarinya disepanjang tulang punggung Aira.


Aira meremang, ia menunduk dan menutup wajahnya. Ia tertawa dalam telapak tangannya. "Oh Tuhan. Aku bisa gila." Ucapnya.


Para member duduk di tepi kolam renang dan terlihat sedang menertawakan lelucon Toddy. Yansen berpasangan dengan Winne. Devano dengan Kei. Toddy yang malang tidak punya pasangan. "Untung ada Jun." Ucap Erigo dan terkekeh.


"Jun tidak punya pacar?" Tanya Aira.


Erigo memandangnya dengan aneh.


"Jangan coba-coba menjodohkan dia dengan Toddy." Erigo memperingatkan. "Aku lebih memilih merawat Toddy yang jompo dan kesepian daripada melihat mereka berdua bekerjasama menjahiliku sepanjang hidup." Erigo terkekeh.  "Mereka bisa menjadi sangat menyebalkan jika bersatu."

__ADS_1


Aira tersenyum. "Bukankah itu tandanya mereka cocok satu sama lain?" Tanya Aira sembari memasukkan sepotong buah ke mulutnya.


Erigo mengangguk. "Mereka sangat cocok. Luarbiasa cocok." Ucapnya menyesap minuman di tangannya. "Mereka hanya belum menyadarinya satu sama lain."


Para orangtua mendatangi mereka dan mengatakan bahwa mereka akan berpamitan dan meninggalkan anak muda untuk melanjutkan pesta.


Beberapa jam setelahnya, satu persatu pasangan-pasangan itu berpamitan pulang. Airez dan Zora pamit paling terakhir. Pesta telah usai, dan malam menjadi sepi.


Airez memeluk Aira. "Berbahagialah adikku sayang." Ucapnya pelan dan mencium puncak kepala Aira.


Bongkahan kesedihan tiba-tiba menghantam Aira. Ia tak sanggup menahan air matanya yang tiba-tiba mengalir menjadi isak tangis. 


Airez memeluk Aira kuat-kuat. "Hei.. jangan menangis sister. Kau punya Erigo sekarang. Sana! Kembalilah pada suamimu." ucapnya lagi.


Aira melepaskan pelukannya dengan enggan. Fakta bahwa Airez menemukan seseorang selain dirinya yang harus dilindungi dan kakaknya menyerahkannya pada Erigo membuatnya sedikit merasa sedih.


Zora tersenyum pada Aira dan memeluknya. "Aku bahagia untukmu Aira." Katanya sembari mengusap punggung Aira yang terisak.


"Seringlah main kesini. Kalian boleh menginap. Ada banyak kamar." Ucap Aira terbata-bata. Airez dan Zora mengangguk, tersenyum dan mengucapkan selamat tinggal.


Erigo memeluk istrinya. Aira menyembunyikan wajahnya yang memerah di dada Erigo untuk meredam sisa isak tangisnya. "Kenapa kau menangis? Kau menyesal jadi istriku?" Goda Erigo. Aira hanya menggeleng pelan. "Kau sedih karena Airez pergi? Kau mau ikut dengan mereka?" Godanya lagi. Akhirnya Aira terkekeh sembari memukul pelan dada Erigo.


Aira mengangkat kepalanya. Tangisannya mereda dan ia sudah lega. "Aku mendadak sedih karna Airez seperti meninggalkanku di tengah hutan bersama seekor beruang." Ucapnya asal. Senyuman jahil tersungging di bibirnya.


Erigo tertawa. "Percayalah, aku ini Teddy bear. Aku sangat jinak, enak di peluk, empuk, dan nyaman sebagai teman tidur." Ucap Erigo pelan-pelan.


Aira pun pelan-pelan menjauh dari Erigo. "Oh aku takut sekali pada Teddy bear sebesar kau." Ucapnya mundur selangkah demi selangkah.


Erigo maju mengikuti Aira selangkah demi selangkah. Matanya menyipit dan berkilat-kilat. "Larilah." katanya. "Larilah gadis nakal. Jangan sampai aku menangkapmu. Jika kau tertangkap, aku akan__" Kata-kata Erigo tidak selesai karena Aira sudah berlari kencang dan memekik tertawa-tawa. Erigo membiarkannya selama dua detik sebelum berlari memburu Aira.

__ADS_1


__ADS_2