Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 45


__ADS_3

Dua minggu sudah berlalu sejak kabar pertunangan Aira dan Erigo di umumkan. Tetapi tampaknya Jimmi Young tidak terlalu perduli karena pria itu terus saja mengirimi Aira banyak hadiah dan bunga-bunga.


Winne dan Kei yang baru masuk kerumah Aira menatap bingung. Bunga-bunga berjejer mulai dari pintu masuk hingga ke dalam. Kotak-kotak hadiah berisi parfum-parfum mahal dan pernak pernik di biarkan di lantai tanpa di buka. Aira hanya mencabut kartu ucapan, membacanya sekilas lalu membuangnya ke tempat sampah.


"Siapa yang mengirimimu bunga sebanyak ini?" Tanya Winne. "Bahkan parfum semahal ini." Ucapnya terbelalak setelah mengangkat sebuah kotak.


"Jimmi Young." Ucap Aira.


Mata Kei membulat. "Jimmi Young? Yang super kaya itu?" Ucapnya membelalak pada Aira.


Aira tersenyum masam. "Super kaya dan cassanova." Cetus Aira tertawa. Ternyata Jimmi Young cukup terkenal. Berbagai artikel yang Aira baca mengatakan bahwa pria itu termasuk pria nakal yang senang berfoya-foya dan bergonta ganti mobil, juga wanita. Dia menggandeng wanita yang berbeda untuk menemaninya pada setiap pesta. Sikapnya sombong, tidak tau aturan dan tidak memperdulikan kehormatan. Terlalu banyak nilai minus.


Aira menggeleng frustasi. "Rumahku sudah tampak seperti hutan belantara." Ucapnya.


"Apa Erigo tau?" Winne menghirup aroma bunga-bunga pada buket paling depan.


Aira mengangguk.


Ia sudah memberi tahu Erigo soal Jimmi yang mengirimi banyak hadiah ke apartemennya. Aira juga bilang ia ingin mengembalikannya tetapi Erigo melarangnya. Menurutnya, jika Aira mengembalikan kirimannya, maka akan membuka kesempatan bagi Jimmi untuk bertemu Aira dan mendekatinya. Erigo tidak mau itu terjadi. Jadi, Aira hanya membiarkannya saja.


Tetapi semakin hari, hadiah-hadiah itu semakin banyak dan bertumpuk membuat rumahnya penuh sesak. Aira tidak tau apa yang harus di lakukannya. Bunga-bunganya akan di buang jika sudah layu. Tapi parfum-parfum itu? Sangat membebani karena Aira juga tau betapa banyaknya uang yang Jimmi keluarkan untuk hadiah-hadiah itu. Aira merasa berhutang padahal ia saja tidak membukanya.


Aira mengganti pakaiannya untuk pergi makan malam bersama Winne dan Kei. Mereka sudah memesan tempat di sebuah restoran. Rutinitas membuat mereka bosan dan sesekali ingin memanjakan diri dengan makanan enak dan perawatan tubuh yang layak. Kali ini mereka makan malam, dan kali lain mereka akan pergi ke salon dan spa. Girl's Night, semacam itulah.


Mereka menikmati makanan dan minuman sambil mengobrol dan bercanda. Lalu Aira berdiri. "Aku mau ke toilet sebentar." Aira mengambil tas tangannya dan berjalan di sepanjang lorong.


Aira selesai membubuhkan bedak di hidungnya dan memoles kembali lipstik di bibirnya dan menyimpan peralatan makeupnya kedalam tas tangan. Ia merapikan rambutnya dengan jari lalu sekali lagi memperhatikan pantulan dirinya di cermin.


Ketika Aira keluar toilet, ia melihat seseorang berdiri di ujung lorong. Seorang pria tinggi bersandar di dinding. Mungkin menunggu seseorang, pikir Aira. Ia hampir melewatinya ketika pria tersebut mendadak bergeser menghalangi jalannya. "Miss Aira." Ucapnya tiba-tiba.


Aira terkejut dan langsung menghentikan langkahnya, namun kakinya terpeleset hingga membuatnya nyaris jatuh. Beruntung pria tersebut dengan sigap menarik lengannya dan menariknya sebelum jatuh terduduk.


Mata Aira terbuka lebar dan jantungnya berdegup karena terkejut dan hampir jatuh. Ia menelaah wajah pria di depannya. "Mr. Jimmi?" Aira heran kenapa pria itu disini. "Aku tidak mengira akan bertemu denganmu disini." Ucap Aira sembari berusaha melepaskan cengkraman Jimmi di lengannya.


Pria itu tersenyum. "Selamat malam miss Aira." Ucapnya. Sulit mengetahui apa niat pria ini di balik senyumannya.

__ADS_1


"Kau__." Aira terhuyung. "Kau sangat mahir mengagetkan orang mr. Jimmi." Ucap Aira sambil berusaha menyeimbangkan diri. Sepatunya juga tidak banyak membantu.


Jimmi tersenyum. Masih memegangi Aira, "Dan kau mudah terkejut miss Aira." Ucapnya kemudian melepaskan Aira setelah yakin bahwa Aira cukup stabil untuk berdiri sendiri. "Maafkan aku, aku tidak bermaksud mengagetkanmu. Tapi kau mahir mengabaikan orang lain." Ucapnya dengan nada geli.


Aira tersenyum hambar. "Aku tidak pernah mengabaikan siapapun. Aku hanya tidak tau itu kau, karna aku tidak berharap bertemu siapapun di sini." Ucapnya merujuk pada pertemuannya hari ini dengan Jimmi di lorong toilet.


"Benarkah? Kau tidak mengabaikan siapapun?" Ucap Jimmi. Salah satu alisnya terangkat. "Bagaimana dengan hadiah-hadiahku? Kau mengabaikanku dengan tidak memberi kabar."


Ahh..benar juga, dia membicarakan hadiahnya. Mumpung orang ini menyinggung tentang itu, sekalian saja Aira katakan. "Hadiahmu." Ucap Aira mengulang. "Aku berniat mengembalikannya." Ucap Aira sopan.


Ekspresi lelaki itu berubah muram. "Kenapa? Kau tidak suka aromanya? Bukan parfum favoritmu?" Tanya Jimmi.


Aira menimbang-nimbang. "Begini mr. Jimmi, kau mengirimiku banyak bunga dan mereka menjadi layu setelah beberapa hari. Jadi itu tidak bisa ku apa-apakan. Sedangkan hadiahmu, aku tidak membukanya. Mengingat betapa mahalnya semua hadiah-hadiah itu, ku rasa aku tidak pantas menerimanya dan aku memang bermaksud mengembalikannya."


Jimmi menatap Aira, membuat Aira jengah dan tidak nyaman. "Jangan menghinaku dengan mengembalikan apa yang sudah aku berikan miss Aira." Ucapnya dengan nada sedikit menggeram.


Kalaupun Aira takut, tapi dia tidak menunjukkannya. Dengan dagu terangkat Aira membalas perkataan Jimmi. "Kau juga jangan menghinaku seolah-olah aku tak mampu membelinya." Ucap Aira menantang membuat ketegangan di antara mereka terasa lebih pekat.


Jimmi terdiam di tempatnya. Sebentuk senyuman tersungging di wajahnya yang sebenarnya tampan jika saja sikapnya tidak seenak perut. "Kau keras kepala miss Aira." Ucapnya melunak.


Tanpa di duga, Jimmi tertawa. Meskipun Aira tidak tau apa yang lucu, ia hanya ikut tersenyum agar tidak terlalu canggung. Jimmi memasukkan tangannya di saku celana. "Aku berharap ada celah yang bisa ku masuki antara kau dan Erigo. Karena entah kenapa aku merasa tertarik pada dirimu. Tapi sepertinya kau menutup diri. Aku mendapat kesan tidak bersahabat sejak awal. Apa Erigo mengatakan sesuatu padamu sebelum acara amal?" Tanyanya dengan sorot penasaran.


"Jujur, ya." Jawab Aira. "Erigo memastikan aku tak dekat-dekat denganmu mr. Jimmi." Aira tersenyum. "Dan ketika aku bilang ingin mengembalikan hadiahmu, dia mencegahku." Ucapnya lagi.


"Ada alasannya?" Tanya Jimmi santai.


Aira mengangkat bahu. "Dia bilang, kau hanya ingin akses terbuka langsung ke arahku." Aira mengangkat bahu. "Dan aku tidak bisa tidak curiga pada niatmu mr. Jimmi." Cetus Aira.


Jimmi tertawa lagi. "Dia benar-benar membaca langkahku ya?." Jawabnya. "Jujur saja aku selalu iri padanya. Awalnya hanya persaingan teman biasa, namun aku tidak tau sejak kapan hal ini menjadi serius dan akhirnya jadi begini." Jimmi melanjutkan. "Seperti yang kulihat, dia posesif padamu."


Aira tersenyum sekilas. "Ku rasa begitu."


Aira bergeser dari tempatnya. Ia merasa tidak nyaman berbicara berdua saja dengan Jimmi terlebih di lorong remang-remang yang mengarah ke toilet. "Maafkan aku mr. Jimmi, tapi aku harus pergi. Teman-temanku menunggu." Ucapnya sopan. Aira harus menciptakan batasan yang jelas pada pria ini. Karena yang Aira dengar, Jimmi Young adalah orang yang gemar mencari masalah.


Aira melangkah ke arah meja-meja restoran dan Jimmi mengikutinya dari belakang. Aira berhenti dan berputar. "Ku pikir kau sedang menunggu seseorang." Cetusnya. Kalau tidak, untuk apa pria itu berdiri sendiri di lorong, bukan?

__ADS_1


"Tidak. Aku memang menunggumu."


Jawaban itu lagi-lagi membuat Aira curiga. "Dari mana kau tau aku disini?"


Aira tau orang seperti Jimmi yang memiliki banyak uang akan sanggup membayar seseorang untuk membuntutinya. Pikiran itu membuat Aira merasa ngeri dan dalam hati ia berdoa agar hal seperti itu tidak terjadi.


Jimmi menunjuk ke salah satu meja dengan 3 orang yang sedang mengobrol "Aku sedang disana ketika melihatmu." Jimmi memiringkan kepalanya. "Kau tidak berpikir bahwa aku menguntitmu bukan?" Jimmi menyipitkan matanya.


Aira tidak tau kebenarannya, tapi ia tidak bisa asal tuduh.


Jadi meskipun curiga, Aira tetap tertawa. "Aku sungguh berpikir kau mengikutiku mr. Jimmi, dan semua hadiah-hadiah itu menerorku." Ucapnya bersungguh-sungguh.


Jimmi tertawa lagi. "Kau jujur sekali dan memang menarik. Pantas saja Erigo merasa posesif." Ucap Jimmi.


"Tidak ada salahnya bersikap jujur." Jawab Aira.


Pria itu tersenyum. "Baiklah. Kurasa teman-temanmu sudah lama menunggu, aku yakin mereka khawatir jika aku menahanmu lebih lama."


Aira bersyukur dalam hati. "Baiklah kalau begitu. Aku permisi dulu. Dan mr. Jimmi, tolong berhenti mengirimiku hadiah." Pintanya.


"Oh, aku sakit hati." Ucap Jimmi memegang dada kirinya tapi tetap tertawa. "Tidak ada celah?" Tanyanya.


Aira tersenyum samar. "Tidak sama sekali." Jawab Aira. Singkat saja agar tidak bertele-tele.


"Baiklah. Tapi aku tidak ingin hadiah-hadiahku di kembalikan. Jika kita sepakat, aku akan berhenti." Ucap Jimmi.


Aira menarik nafas dan menimbang sebentar. Aira tidak tau apa yang akan dilakukannya dengan hadiah-hadiah itu. Namun jika berusaha mengembalikannya akan menimbulkan masalah, maka sebaiknya tidak usah di kembalikan. Aira bisa memberikannya pada teman-temannya saja. "Baiklah, sepakat." Ucapnya mengangguk.


Jimmi tertawa lagi. "Kau sangat tegas miss Aira. Biar ku tebak, kau akan memberikannya pada orang lain, benar?"


Aira tersenyum. "Kau sangat cerdas mr. Jimmi. Senang bertemu denganmu." Jawab Aira mengakhiri pembicaraan.


Ia kembali pada Winne dan Kei.


_______________________________

__ADS_1


__ADS_2