
Erigo tiba di rumah dengan wajah masam. Aira memperhatikan suaminya yang tampak kesal karena sesuatu dan melihat gelagat Erigo yang tidak biasa membuat Aira bingung.
Pagi ini Erigo mengatakan akan kerumah Toddy. Mungkinkah mereka bertengkar? Pikir Aira. Jika sikap Erigo disebabkan keduanya bertengkar, maka ini pertanda buruk. Aira cepat-cepat menyusul Erigo masuk ke studionya.
"Sayang, ada yang mengganggumu? Kau tampak sangat kesal." Tanya Aira menghampiri suaminya.
Wajah Erigo berubah lembut. "Maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud memperlihatkannya."
"Tapi itu terlihat." Ucap Aira memutar telunjuknya melingkari wajah Erigo. "Saaaangat terlihat, dan terasa."
Aira kemudian melangkah dan masuk ke dalam pelukan Erigo.
"Maafkan aku." Erigo mengecup puncak kepala Aira dan tanpa sadar ia menghembuskan nafas berat.
Aira menengadah. "Kau bertengkar dengan Toddy?" Tanya Aira. Erigo menggeleng.
"Lalu apa yang sudah terjadi? Ceritakan padaku."
__ADS_1
"Aku marah pada Jun. Aku bertengkar dengannya di telpon dalam perjalanan pulang." Ucap Erigo.
Aira melonggarkan pelukannya dan berdiri menatap Erigo dengan tangan di silangkan di depan dada. "Kenapa kau bertengkar dengan Jun? Kau mengungkit soal hubungannya dengan Toddy lagi?" Tanya Aira.
Erigo bersandar di meja sudut ruangan dan berdiri menyilangkan kaki. "Aku bicara dengan Toddy tadi, dia memberi tahu padaku bahwa sebenarnya dia ingin bicara pada ibu dan ayah tapi belum jadi. Dan kau tau kenapa? Karena Jun melarangnya. Wanita gila itu yang menundanya padahal dia tau bahwa ibu sangat mengkhawatirkannya." Ucap Erigo berapi-api.
Aira cukup terkejut dan tidak tau harus mengatakan apa hingga ia hanya menatap Erigo dan mendengarkan keluhannya.
"Ibuku, walaupun terlihat baik, tapi kau tau bahwa sebenarnya dia sangat sakit, sayang. Dan kenyataan bahwa Jun belum memperkenalkan siapapun cukup membebani pikiran ibuku. Tapi dia bertindak sesukanya. Apa dia tidak memikirkan ibu?" Erigo memandang ke langit-langit studio. "Astaga aku kesal sekali."
"Dan kau marah-marah begitu pada Jun?" Tanya Aira.
"Apa kau tidak bertanya padanya kenapa dia menundanya? Kupikir dia mungkin ragu-ragu karena sesuatu." Ucap Aira. "Jun pasti ingin yang terbaik bagi dirinya dan juga ibu. Jika dia yakin pada pasangannya, dia akan bertindak. Tapi jika belum, kau harus menanyakan perasaannya dulu sebelum memarahinya. Pasti ada alasan."
Aira bersimpati pada Jun dan mencoba memahami kakak iparnya. Ia merasa Erigo sangat Egois hingga Aira ikut marah. "Kau harus menemui Jun dan minta maaf, Erigo. Dan biarkan mereka mengurus hubungannya. Jangan ikut campur. Aughh... Aku kesal sekali melihatmu." Cetus Aira. Ia mendengus dan segera berbalik meninggalkan Erigo.
Sore harinya Erigo menemui Aira di kamar bayi dan memeluknya. "Kau masih marah padaku? Aku minta maaf." Ucapnya pelan.
__ADS_1
"Renungkan sikapmu." Cetus Aira.
"Aku sudah merenung. Aku juga sudah menelpon Jun dan minta maaf padanya. Aku bilang bahwa kau sudah memarahiku." Ucap Erigo.
"Apa Jun memaafkanmu?" Tanya Aira.
"Tentu saja. Dia sayang padaku." Jawab Erigo. "Lalu bagaimana denganmu? Apa kau memaafkanku?"
Aira berbalik menatap Erigo. "Aku memaafkanmu karena aku juga sayang padamu. Tapi berjanjilah jangan mencampuri urusan Jun meskipun kau merasa khawatir. Mereka itu adalah dua orang dewasa. Mereka akan menyelesaikannya dengan baik."
"Aku janji." Jawab Erigo.
"Jangan mengatakannya semudah itu seolah-olah kau hanya mengatakan omong kosong." Cetus Aira. "Kau harus benar-benar berjanji padaku, karena aku merasa sikapmu benar-benar konyol."
"Aki janji sayang. Aku tidak akan berkomentar apapun soal Toddy dan Jun. Aku tidak akan mengutarakan pendapatku meskipun lidahku gatal." Ucap Erigo lagi. "Jadi bisakah kau berhenti mengomeliku dan membiarkanku ikut bermain?" Tanya Erigo sembari meraih jemari mungil Aeliana. Bocah perempuan itu terkekeh melihat wajah ayahnya. "Dda ddaa.." Ucapnya dengan mulut berliur.
Aira tersenyum dan mengulurkan tangan membelai punggung putrinya yang manis. Kini Aeliana sudah bersandar nyaman di dalam pelukan Daddanya tersayang sementara Aelius masih sibuk menggoyang-goyangkan mainan di tangannya. Keduanya tampak sehat dan ceria.
__ADS_1
_______________________
Minggu berikutnya Erigo kembali kerumah bersama para member yang berkunjung. Mereka makan bersama di tepi kolam renang.