Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 48


__ADS_3

Erigo membelokkan arah mobilnya memasuki pekarangan luas dengan air mancur di tengahnya. Didepan mereka menjulang bagunan rumah besar bertingkat bercat putih dengan jendela-jendela besar. Di bawahnya terdapat teras luas dan teduh di bawah bayang-bayang matahari. Pemandangan semakin sejuk dengan pepohonan pinus yang berjejer.


"Rumah siapa ini?" Tanya Aira. Ia mengedarkan pandangannya menyapu seluruh area depan rumah yang luas.


"Rumah kita." Ucap Erigo tersenyum. Erigo menunggu respon dari Aira.


"Kau bilang 'kita'? Apa maksudnya itu?" Aira menatap Erigo dengan sorot bingung.


"Aku membelinya baru-baru ini. Pemiliknya menjualnya karena mereka pindah ke luar negeri, tapi kau bisa lihat rumahnya bagus dan terawat. Tamannya indah, suasananya asri dan jaraknya tidak terlalu jauh dari pusat kota. Aira masih diam memperhatikan sekelilingnya hingga Erigo bicara lagi. "Aku ingin kita tinggal disini setelah kita menikah nanti." Ucap Erigo. "Bagaimana menurutmu?"


Aira menatap Erigo. "Tempat ini memang tidak terlalu jauh dari pusat kota, tapi jelas terlalu besar untuk di isi oleh dua orang." Ucapnya. "Kalau kita tinggal disini, lalu kau pergi bekerja, apa yang harus aku lakukan sendirian?"


Erigo terkekeh. "Kita tidak akan hanya berdua Aira, walaupun aku lebih suka begitu. Aku mempekerjakan sekitar 10 orang untuk merawat rumah, taman dan berjaga di pos depan. Aku tak ingin kau kelelahan membersihkan ruangan-ruangan itu sendirian." Erigo tertawa lagi melihat mata Aira yang membulat mendengar 10 orang yang akan berada disana.


"Apakah memang butuh sebanyak itu?" Tanya Aira.


Erigo mematikan mesin mobilnya. "Kau akan tau sendiri jika sudah melihat ke dalamnya, bahkan mungkin kau butuh tambahan tenaga kerja." Ucap Erigo.


Erigo membuka pintu dan keluar, ia memutari mobilnya untuk membukakan pintu bagi Aira. Mereka memasuki rumah malalui pintu ganda besar, di dalamnya terdapat ruangan besar yang bisa di isi puluhan bahkan lebih orang-orang, lalu tangga melingkar yang mengarah ke atas. Ada tiga kamar di atas dengan kamar mandi masing-masig di dalamnya. Sementara di lantai bawah, terdapat 2 kamar dengan kamar mandi, lalu ruang lain yang bisa dipakai sebagai ruang kerja, dan terakhir ada dapur luas dengan dekorasi modern yang membuat matanya nyaman. Oh, satu lagi kamar mandi di bawah tangga.


Erigo menuntun Aira ke pintu belakang dan langsung di suguhkan pemandangan taman penuh bunga-bunga di satu sisi, juga kolam renang luas di sisi lainnya. Pagarnya di tumbuhi tanaman merambat dengan bunga-bunga kecil berwarna kuning. Aira terpesona pada setiap hal yang di lihatnya.


Aira berbalik menatap Erigo. "Kau akan mengurungku di haremmu pangeran?" Ucapnya tersenyum.


Erigo tertawa, tangannya terulur meraih pinggang Aira. "Aku suka ide itu tuan putri." Ucapnya dengan suara serak. Erigo mencium sekilas bibir Aira. "Bagaimana menurutmu? Kau suka?"


Aira tersenyum mengangguk. "Aku suka. Tapi aku tetap merasa tempat ini terlalu besar. Aku akan kesepian jika kau pergi bekerja." Ucapnya.


"Kau tidak akan kesepian dengan 10 orang Aira. Dan jika ini bisa menenangkanmu, kau boleh mengundang teman-temanmu untuk datang dan menginap. Ada banyak kamar di rumah ini, dan dengan adanya banyak orang pasti akan terasa menyenangkan." Ucap Erigo.

__ADS_1


"Kita bisa sering-sering mengadakan pesta." Cetus Aira. Ia bahkan sudah membayangkannya.


Erigo membalikkan tubuh Aira menghadap taman. "Orang-orang bisa berenang lalu setelahnya bisa menyantap makanan di area terbuka, kita akan memanggang daging disana." Erigo menunjuk. "Akan sangat menyenangkan  percayalah padaku." Ucapnya lagi.


Aira tertawa. "Kau benar-benar sudah merencanakannya dengan matang, yakan?"


Erigo mencium puncak kepala Aira. "Aku akan mengurungmu di haremku selamanya tuan putri." Ucapnya terkekeh.


Aira tertawa. "Asal kau tau saja, aku tidak mau memakai berlapis-lapis kain sepanjang hari hanya untuk menyenangkan matamu." Cetus Aira membayangkan dirinya benar-benar seperti wanita harem.


Erigo memeluk Aira lagi dan berbisik di telinganya. "Percayalah, dari pada kain-kain berlapis, aku lebih suka sedikit renda dan pita. Makin sedikit, makin bagus." Ucapnya.


Aira bergidik merasakan hembusan nafas Erigo di telinganya. Seperti itukah fantasi Erigo? Membayangkannya saja membuat sesuatu bergejolak di dalam perut Aira. Ia cepat-cepat menepis bayangan dirinya memakai pakaian minim berenda serta pita-pita kecil itu dengan mengatakan hal lain.


"Rumahnya sangat bersih dan tamannya terawat, apa ada seseorang yang membersihkan sebelum kita datang?" Tanyanya seraya melepaskan diri dari pelukan Erigo.


Erigo melepaskan Aira sembari berusaha mengabaikan sensasi sensual yang di akibatkan kata-katanya sendiri.


"Dimana mereka sekarang?" Tanya Aira lagi.


Erigo tersenyum. "Selain penjaga depan, mereka datang saat pagi, lalu pulang setelah pekerjaannya selesai. Jika nanti kita sudah pindah kesini, pengurus rumah akan datang saat pagi lalu akan pulang setelah makan malam. Lalu satu orang akan berada di sini, pengurus utama. Tinggal di rumah samping yang bisa kau lihat dari sini, jadi kita bisa memanggilnya jika membutuhkan bantuan." Ucap Erigo menunjuk sebuah rumah kecil tersembunyi di samping yang hanya bisa terlihat dari tepi kolam. Masih di dalam lingkungan rumah utama.


Mata Aira membulat. "Lalu 5 orang lagi itu, mengurus apa?" Tanyanya. Aira mengira 5 orang sudah lebih dari cukup.


"2 orang membantu memasak, 2 orang membersihkan seluruh rumah, mencuci dan lainnya, lalu 1 orang mengurus kolam." Ucap Erigo tertawa. "Apa kau harus seterkejut itu? Berbahagialah karena aku memanjakanmu." Ucap Erigo lagi.


Di kediaman Zuma juga terdapat banyak pengurus rumah yang baru kini Aira sadari. "Kurasa aku sudah lupa berapa banyak pengurus rumah yang dimiliki orangtuaku karena aku sudah lama tinggal sendirian." Ucap Aira.


"Kau sudah sangat mandiri sayang." Ucap Erigo.

__ADS_1


"Trimakasih." Aira tersenyum.


Mereka mengitari bagian samping rumah dan bertemu dengan Polly sang pengurus rumah. Polly sangat ramah dan sepertinya dapat di andalkan. Aira bersyukur dalam hati.


Dalam perjalanan pulang, Aira tidak berhenti menatap Erigo di sampingnya. Pria itu semakin gagah dan semakin matang. Erigo balas menatapnya dan tersenyum.


"Kenapa kau memandangiku seperti itu?" Tanya Erigo.


Aira tersenyum. "Aku sangat bersyukur Erigo. Aku merasa sangat dimanjakan olehmu. Kau pasti sudah bekerja sangat keras dan mengeluarkan banyak uang untuk rumah itu, padahal kita bisa saja tinggal di apartemenku, atau apartemenmu." Ucap Aira.


Erigo menggenggam tangan Aira. "Aku suka suasana rumah itu sayang, dan aku suka memanjakanmu. Aku tidak mau jika kau merasa terasing disana__"


"Tidak. Tidak." Bantah Aira memotong kata-kata Erigo. "Bukan itu maksudku. Aku juga sangat senang, percayalah. Aku suka rumah itu, aku suka suasananya, lingkungannya." Ucap Aira lagi.


"Benarkah? Kalau begitu, bisakah kau berhenti mengkhawatirkan biaya dan berapa pekerja yang aku bayar?" Erigo tersenyum lebar. "Sumber uangku bukan hanya dari menyanyi. Bisnisku cukup lancar dan bisa di andalkan. Royalti dan lainnya, kita tidak akan jatuh miskin semudah itu sayang."


Aira hanya tertawa dan Erigo melanjutkan. "Bagaimana jika kita mengadakan pesta pernikahan di rumah itu? Kau mau?"


Aira membayangkan dalam benaknya. "Itu pasti akan menyenangkan." Ucap Aira.


Cengiran muncul di wajah Erigo. "Tentu saja. Setelahnya tamu-tamu bisa pulang dan kau hanya akan berdua denganku." Ucapnya. Kilatan jahil menari-nari di matanya.


Aira terperangah. "Kau mesum sekali Erigo." Ucapnya menyipitkan mata.


Erigo tertawa. "Apanya yang mesum Aira? Kau sudah menjadi istriku saat itu." Ucap Erigo terkekeh.


Aira memonyongkan bibirnya. "Ah.. Benar juga." Ucapnya dan mereka tertawa bersama.


Erigo berbelok ke area parkir sebuah restoran. "Kita harus makan, sayang. Aku sudah lapar sekali."

__ADS_1


Aira setuju. Mereka sudah melewatkan makan siang karena bertengkar dan tidak mungkin untuk melewatkan makan malam.


Sembari menanti pesanan mereka di antarkan, Erigo menggenggam erat jemari Aira. "Jadi, berapa banyak tamu yang harus kita undang?" Tanyanya.


__ADS_2