Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 14


__ADS_3

Jumat malam, sesuai janjinya bersama Erigo, Aira menuju area parkir Mousent, tempat Erigo akan menjemputnya sekitar jam tujuh. Aira berdoa semoga Erigo tidak bertindak ceroboh dengan melambai-lambai konyol kepadanya. Aira tidak tau siapa saja yang ada di area parkir tsb. Dan ia tak ingin mengambil resiko.


Ia berjalan keluar dari lift dan langsung melihat Erigo berdiri bersandar di samping mobilnya menunggu Aira. Erigo tersenyum cerah menatapnya.


Aira cepat-cepat menyuruhnya masuk ke mobil karna tak ingin seorang pun menangkap basah kebersamaan mereka.


Aira menutup pintu mobil dan membelalak ke arah Erigo. "Apa yang kau lakukan barusan itu amat sangat tidak bertanggung jawab Erigo"


Erigo sepertinya tidak perduli.


Aira gemas melihatnya "Kau tak akan mendengarkanku bukan?" Aira melipat tangannya dengan kesal.


Erigo berpaling menatap Aira. Gadis itu terlihat sangat cantik terutama jika sedang marah. "Kemarilah" Ucapnya merentangkan tangan.


Aira tidak bergerak dari duduknya.


Erigo memajukan tubuh merengkuh gadisnya. "Baiklah. Maafkan aku. Aku tak akan mengulanginya" Ucapnya meredakan amarah Aira. Erigo membubuhkan ciuman singkat di puncak kepala Aira.


Erigo sangat yakin tak akan ada seorang pun yang mengawasi mereka di area parkir. Namun yang tidak di ketahuinya adalah, ada sepasang mata yang mengawasi mereka dari jauh.


________________________________________


Setelah menyelesaikan makan malam. Di dalam mobil yang terparkir, tentu saja. Erigo memberitahu Aira bahwa Yansen dan Winne kembali bersama.


"Benarkah? Oh syukurlah" Ucap Aira lega. "Aku sangat khawatir karna sepertinya Winne sangat patah hati. Dari mana kau tau?" Tanyanya lagi.


Erigo menatapnya lekat "Yansen sendiri yang memberi tahu setelah Toddy menceramahinya panjang lebar dan mencaci sifat posesif Yansen yang malang"


Aira tak bisa menahan tawanya.


Erigo menggenggam jemari Aira. Ia suka suara tawa Aira. "Kau tau, Toddy sebenarnya sangat cerewet. Kau tidak akan tahan bersamanya walau sehari saja" Ucap Erigo lagi.

__ADS_1


Aira tersenyum. "Tapi dia leader yang baik bukan?"


Erigo setuju. Jika bukan karena Toddy, grup mereka tidak akan bertahan sejauh ini. "Kau masih menyukainya?" Tanya Erigo tiba-tiba.


Aira mengerutkan dahinya. "Apa maksudmu?" Tanyanya bingung.


Erigo mengangkat bahu. "Kau tau. Kau sepertinya sangat senang setiap kali bertemu dengannya" Ucapnya lagi.


Aira tertawa. "Jangan khawatir, aku hanya mengidolaknnya. Bagiku dia sangat keren."


"Aku juga keren" Ucap Erigo tak mau kalah.


Aira tersenyum mengerutkan hidungnya.


Erigo menyapu sejumput rambut dan menyelipkannya ke belakang telinga Aira. "Dia sangat cerewet Aira. Telingamu yang berharga akan berdarah jika mendengarnya terus-terusan bicara"


Aira kembali tertawa mendengar kata-kata konyol Erigo.


Satu tangannya yang lain berada di pinggang Aira, menahan tubuh gadis itu agar tak melarikan diri darinya. Ia menciumnya.


Aira sangat manis. Sangat cantik. Bibirnya lembut. Erigo tergila-gila padanya lebih dari yang ia kira.


Ciumannya bertahan lebih lama kali ini. Aira dapat merasakan bibir Erigo di bibirnya, aroma Erigo dalam indra penciumannya. Memabukkan. Tangannya terangkat berpegangan di dada Erigo. Erigo menuntut lebih banyak dan Aira memberikan sebanyak yang ia bisa. Matanya tertutup. Telinganya seakan tersumbat. Aira terbuai.


Erigo menyadari betapa cepat semuanya berlangsung. Ia menginginkan lebih dan lebih. Ciuman Aira berbahaya baginya. Alaramnya menyala. Ia akan membuat kesalahan jika tidak berhenti sekarang.


Erigo menarik dirinya pelan-pelan. Menjaga Aira tetap utuh. Perlahan menurunkan tempo ciuman mereka, menyesap lembut bibir atas Aira dan berhenti. Dahinya masih menempel di dahi Aira. Erigo menarik nafas panjang menghirup udara masuk mengisi kekosongan paru-parunya. Rahangnya tegang karna berusaha mengendalikan diri. Ia tidak pernah sekalipun kehilangan kendali seperti ini.


Aira sendiri perlahan membuka matanya yang gelap dan berkabut. Terkejut pada semua rasa yang di timbulkan oleh Erigo. Dadanya berdebar. Ia merasa berputar-putar. Bibirnya kebas. "Erigo" Ucapnya pelan mencari kesadarannya. Aira mundur di tempatnya dan spontan menyentuh bibirnya dengan punggung tangan.


"Ini tak akan pernah cukup Aira " Sahut Erigo lembut. "Kau berbahaya untukku" Ucapnya dengan suara berat.

__ADS_1


Erigo tersenyum membelai Aira. "Kita harus menghentikannya di sini sayang, sebelum aku memakanmu hidup-hidup" Ucap Erigo dengan sorot mata jahil.


Aira membelalak ketika menyadari perkataan Erigo.


Erigo sendiri terbahak-bahak melihat ekspresi Aira. Ia bergerak menjauh. "Aku harus segera mengantarmu pulang." Ucapnya.


____________________________________


Devano keluar dari rumahnya tepat ketika Aira dan Erigo hampir sampai ke pintu. Devano terpaku melihat keduanya pulang bersama. Matanya menatap lekat Aira dengan pancaran seribu pertanyaan yang tak akan bisa Aira jawab. Aira sendiri mengarahkan pandangannya kebawah mencoba menembus perut bumi mencari sumber daya minyak.


Devano menarik nafas mengalihkan pandangan pada Erigo dan menyapanya seperti biasa. "Dari mana?" Tanyanya.


Erigo yang tidak menyadari perubahan atmosfer disekitarnya melayangkan tatapan yang bisa menghangatkan secangkir kopi pada Aira. "Aku mengajak Aira makan malam" jawabnya seceria biasanya. "Kau mau keluar?" Tanya Erigo ringan.


"Mmm.. " Hanya itu jawaban yang dapat Devano berikan.


"Baiklah.. Tunggu aku. Kita keluar sama-sama" Ucap Erigo sambil menjangkau sebelah tangan Aira. "Aku pergi dulu. Nanti ku telpon" Ucapnya sembari melepaskan genggamannya.


Aira benar-benar berharap tanah terbelah di kakinya.


____________________________________________


Aira bolak balik di atas kasurnya. Pikirannya kusut. Ia tak pernah mengira keadaan akan jadi serumit ini baginya.


Aku harus minta maaf, itu benar. Tapi sebenarnya, apa kesalahanku? Pikir Aira.


Ia tidak punya pengalaman apapun yang bersinggungan dengan pria dalam hidupnya. Ia hilang arah dan kebingungan pada sinyal-sinyal samar Devano.


Sementara dengan Erigo, Pria itu sangat berterus terang. Ia tidak pernah ragu-ragu terhadap Aira.


Tapi kenapa rasanya Aira seperti sudah melakukan pengkhianatan besar?

__ADS_1


__ADS_2