
Tepat pukul 8 pagi keesokannya ponsel Erigo kembali berbunyi. Ia mengerjap mengusir kantuknya dan menerima panggilan Aira. "Hai sayang, selamat pagi." Ucapnya dengan suara berat khas orang bangun tidur.
"Selamat pagi sayangku. Bagaimana keadaanmu? Sudah membaik?
Erigo mendengar nada khawatir di ujung telpon dan tersenyum. "Aku baik-baik saja tuan putri. Sakitnya sudah tidak ada. Kau sedang apa?" Tanyanya.
"Aku sudah di kantor. Ada beberapa hal yang harus di urus. Kau pasti baru bangun. Mandi dan bersiaplah, jangan lupa sarapan dan minum obatmu." Aira terdengar tegas. Erigo bahkan dapat membayangkan gadis itu dalam balutan setelan formal yang membosankan dengan rambut di gelung di belakang kepala, kacamata di atas hidungnya dan sepatu hak tinggi yang akan menimbulkan suara ketak-ketuk di lantai marmer kantor. Tapi tetap sexy, pikirnya. "Halo.. Erigo? Kau tidur lagi?" Tanya Aira membuyarkan lamunannya.
"Owh.. Aku mendengarmu sayang. Aku akan mandi, siap-siap dan makan obat." Cetus Erigo tersenyum karena pikirannya sendiri.
"Baiklah. Semoga harimu menyenangkan. Aku mencintaimu Erigo." Ucap Aira.
Erigo tersenyum. "Aku juga sayang." Ucapnya mengakhiri panggilan. Ia tidak bisa berlama-lama jauh dari Aira, atau dia akan segera jadi gila, pikirnya.
Erigo dan Yansen punya jadwal yang sangat padat di Singapura hingga pada hari ke 7 mereka bersiap-siap untuk kembali. Keduanya menyempatkan diri untuk berjalan-jalan dan membeli beberapa souvenir.
___________________________________
Waktu tempuh dari Singapura memakan waktu 6 jam lebih, namun tidak menyurutkan tekad Erigo untuk langsung bertemu Aira. Ia merasa sudah cukup banyak istirahat selama di pesawat. Karna itu ia tidak pulang kerumah melainkan menuju apartemen M.
Erigo tersenyum lebar melihat Aira membukakan pintu dengan wajah berseri-seri sehabis mandi sore. Aroma strawberry favoritnya memenuhi ruangan bercampur bau samar parfum beraroma vanilla, citrun dan floral khas Aira. Bahkan rambut Aira pun masih setengah basah.
Erigo memeluk kekasihnya dan menghirup aroma kesukaannya. "Aku sangat merindukanmu. Seminggu disana terasa membosankan." Ucapnya di atas puncak kepala Aira.
Aira tertawa pelan. "Kau pembohong. Aku melihat tayangannya di televisi dan sosial media. Kau tampak bersenang-senang bahkan mengedipkan mata pada kamera." Cetus Aira.
Erigo tertawa. "Kau melihatnya?"
"Tentu saja." Aira melonggarkan pelukannya dan menatap Erigo dengan tatapan pura-pura jengkel. Aira berjalan kearah sofa ruang tamunya.
Erigo mengikuti dari belakang. "Aku tampan atau tidak?" Tanya Erigo lalu duduk disamping Aira.
Aira tertawa lagi. "Kau tampan sekali. Aku juga melihat penggemarmu menggila. Itu pasti menyenangkan."
Erigo menarik Aira ke dalam pelukannya. "Mereka penggemar yang sangat loyal. Mereka sudah bersama kami bertahun-tahun lamanya dan entah sudah berapa banyak uang yang mereka keluarkan untuk mendukung Summer. Jadi aku sangat bersyukur."
Aira tersenyum. "Itu juga menjadi sebuah beban untuk melakukan yang terbaik bagi mereka bukan?"
__ADS_1
Erigo mengangguk setuju.
"Karna itu kau harus menjaga kesehatanmu." Ucap Aira lagi.
Erigo tersenyum. "Baiklah tuan putri. Aku mengerti."
Aira memegang leher belakang Erigo. "Bagaimana sekarang?"
Sentuhan Aira membangkitkan sesuatu dalam diri Erigo. Erigo mengangkat Aira ke pangkuannya. "Baik-baik saja jika dalam posisi ini." Ucapnya kemudian memajukan wajahnya untuk mencium Aira.
Erigo menarik Aira agar lebih dekat dengannya, satu tangan mengusap punggungnya sementara tangan lainnya menyusup di balik tengkuk Aira menahan kepalanya agar Erigo dapat dengan mudah menciumnya, menyesuaikan letak bibirnya, menyesapnya sebentar, melepaskannya sebentar lalu menemukannya lagi untuk menciumnya lebih dalam.
Aira menarik diri setelah beberapa menit yang panjang. Ia mengulum bibirnya sendiri merasakan kebas dan bengkak akibat ciuman-ciuman Erigo. Matanya yang gelap berkabut menatap pria di depannya yang seperti biasa, tegang dalam proses pengendalian diri dan pengaturan nafas yang dipaksakan.
Aira tersenyum samar. Hal ini berat baginya apalagi bagi Erigo. Aira bahkan dapat merasakan aura binatang buas yang tersembunyi di balik sikap sopan dan baik budi yang Erigo tunjukkan. Aira tidak berani mendorongnya lebih jauh karna Aira tidak tau binatang apa yang akan menerkamnya.
Aira beranjak dari pangkuan Erigo dan duduk kembali di sofa. Bergelung di bawah rangkulan tangan Erigo di sampingnya. "Kau baik-baik saja?" Tanyanya pelan merasakan rubuh Erigo yang kembali santai.
Erigo terkekeh di sampingnya. "Aku berusaha sekuat tenaga sayang. Kau adalah godaan terbesar dalam hidupku." Ucapnya mengakui.
"Aku sudah bicara dengan Yodde sebelum kembali ke sini, dia membuatkan janji temu pada hari jumat." Erigo membelai rambut Aira, satu tangannya menyapu bibir Aira yang lembut dan bengkak karena ulahnya.
Aira mengangguk. "Itu bagus. Tapi sayangnya aku tidak bisa ikut." Ucapnya dengan nada menyesal.
Erigo duduk tegak menatap Aira. "Kenapa? Kau mau kemana memangnya?"
Aira memiringkan kepalanya. "Persiapan acara Amal bulan depan. Kau lupa? Seluruh artis agensi juga di undang untuk mengisi Acara."
"Aahh... Itu..ME foundation. Aku ingat. Benar juga. Baiklah kalau begitu. Sepertinya aku harus pergi sendirian." Ucap Erigo lagi. Ia kembali bersandar dan merangkul Aira.
"Seharusnya Airez yang mengawasi semua persiapannya, tapi karna aku disini, dia menyuruhku menggantikannya dan dia akan pulang tepat 3 hari sebelum acaranya di laksanakan." Ucap Aira lagi.
"Aku ingat sekarang. Aku memang tidak pernah melihatmu di acara amal tahunan itu. Hanya ada Airez dan Ayahmu." Ucap Erigo lalu ia teringat sesuatu.
"Aira, sebelum aku lupa, tentang rencanaku kemarin, aku ingin membawamu bertemu keluargaku, kau belum berubah pikiran kan?" Kata Erigo mengganti topik pembicaraan.
Aira mengangguk dan tersenyum. "Aku tidak berubah pikiran sayang. Kau tau aku mencintaimu dan aku akan melakukannya. Kita akan menemui keluargamu. Kapanpun kau mau." Tegas Aira.
__ADS_1
Erigo mencium puncak kepala Aira. "Dua minggu lagi ulang tahunku. Ibuku biasanya menyiapkan sesuatu seperti acara makan malam kecil-kecilan bersama beberapa teman dekat dan sepupu. Aku sudah bilang akan mengajakmu dan dia sangat senang. Apa kau punya waktu?"
Aira tertawa. "Sebenarnya aku sudah mengosongkan jadwalku di hari ulang tahunmu agar kita bisa merayakannya. Jadi, ya, aku punya waktu." Ucap Aira setuju. Aira menyentuh rambut Erigo yang di tata rapi. "Jadi, ceritakan padaku, seperti apa keluargamu."
Erigo memandang Aira. "Aku harus mulai dari mana ya?" Ia tersenyum.
"Kau bisa mulai dari masa kecilmu." ucap Aira.
Erigo mengenang masa kecilnya. "Aku terlahir dari keluarga yang sederhana Aira. Ayahku hanya menjalankan bisnis kecil-kecilan dan ibuku seorang ibu rumah tangga biasa. Namun mereka mendukungku dalam setiap aspek."
"Seperti apa kakakmu?" Aira memiringkan kepalanya.
"Dia orang yang sangat baik dan dia sangat menyayangiku. Dia selalu mengkhawatirkanku bahkan hingga aku dewasa seperti sekarang." ucap Erigo.
"Ceritakan padaku tentang ibumu. Orang seperti apa dia?" tanya Aira.
Erigo terkekeh. "Kau takut bertemu dengannya?" tanya Erigo.
Aira tersenyum. "Tergantung ceritamu." ucap Aira jujur.
"Ibuku sangat baik Aira, sangat penyayang. Dia selalu mendukungku. Dan dia pasti akan menyukaimu. Jadi jangan khawatir."
Aira merasa lega. "Dimana orang tuamu tinggal?"
Erigo membaringkan kepalanya di pangkuan Aira.
"Aku membelikan rumah di daerah perbukitan yang asri dengan halaman yang luas. Aku sangat bersyukur karna keluargaku mendukungku. Jadi ketika aku punya cukup uang, aku membelikan rumah dan terkadang mengajak mereka berwisata."
Aira mengelus rambut Erigo yang halus. "Kau anak yang berbakti. Orang tuamu pasti senang."
Erigo berubah muram. "Ibuku sakit. Dokter bilang waktunya tidak lama." ucap Erigo sedih. "Aku merasa bersalah padanya karna dia mendukungku dengan segala cara tapi aku jarang sekali berada di sisinya. Saat aku membeli rumah itu, harapanku hanya satu, ku harap dia bisa menikmati harinya dengan lebih baik."
"Apa kau sering pulang ke rumah ibumu?" tanya Aira.
"Aku berusaha." Erigo melipat tangannya di dada. "Aku mengantuk di dekatmu. Boleh aku tidur?" Erigo tersenyum.
Aira tersenyum. "Boleh saja. Tidurlah." ucap Aira. Tangannya terulur mengambil sebuah novel dan mulai membaca.
__ADS_1