Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 62


__ADS_3

Aira dan Erigo tiba di kantor dokter kandungan yang tenang di pinggir jalan. Mereka tiba beberapa menit lebih awal dari waktu yang di janjikan. Erigo keluar lebih dulu sebelum membukakan pintu mobil untuk Aira dan mengulurkan tangannya untuk membantu Aira keluar.


Aira berpegangan pada lengan Erigo untuk menjaga keseimbangannya saat berjalan. Usia kandungannya baru menginjak lima bulan, namun tonjolan di perutnya tidak bisa disembunyikan. Perutnya membulat karena didalamnya ada dua bayi yang sedang tertidur.


Seperti sudah menjadi kebiasaan, Aira memeriksa dengan ragu-ragu ke sekitarnya. Ia masih belum terbiasa dengan kehadiran fotografer yang secara tiba-tiba mengambil foto-foto mereka di berbagai tempat. Aira tidak suka hal-hal tentang kehamilannya di jadikan bahan berita. Meskipun tidak mungkin juga menyembunyikannya terutama ketika sekarang mereka sedang berada di depan klinik kandungan.


Ia tidak tau berapa lama sebelum pers mengetahui lokasi dokter kandungan tersebut, tapi perkiraannya tak akan lama, mengingat bagaimana Erigo dan para member selalu muncul di tabloid.


Erigo menggenggam tangan Aira, dan ia tersenyum lembut seolah tau apa yang ada dalam pikiran Aira. Ia menunduk ke arah Aira dan menyapukan sekilas bibirnya di bibir Aira. "Ayo." Katanya. "Kita lihat apa yang sedang di lakukan si kembar didalam sana. Lalu nanti kita bisa pergi berbelanja."


_______________________________


Mereka melangkahkan kaki memasuki ruang tunggu klinik tersebut. Ruang tunggu itu di penuhi wanita. Mereka duduk berdampingan di sofa, atau di kursi, ada juga yang masih berdiri di samping meja resepsionis. Dari yang Erigo amati, mereka semua punya satu kesamaan, masing-masing memiliki perut besar.


Erigo dapat merasakan cengkraman jemari Aira di lengannya mengencang karena gugup. Erigo menyadari ketidaknyamanan Aira berada di tengah-tengah kerumunan yang asing baginya. Erigo menunduk, mengecup puncak kepala Aira yang hanya mencapai bahunya. Wanita itu begitu kecil dan tampak rapuh.


"Aira?"


Aira mendongak menatap Erigo. Erigo memberikan sebuah senyuman padanya. "Semua akan baik-baik saja." Kata Erigo. Aira hanya mengangguk tanpa bicara sepatah katapun. Tapi dilihatnya, wanita itu tetap tersenyum setiap kali melakukan kontak mata pada beberapa wanita lainnya disana. Jelas sekali mereka tahu siapa Erigo dan Aira.


Ketika giliran mereka tiba, seorang teknisi berdiri di depan pintu. "Mrs.Galleni?"


Mereka berdua tersentak berdiri. Terakhir kali mereka kesini, Erigo hanya melihat bayangan gelap sebesar kacang di layar monitor. Kali ini Erigo gugup karena akan melihat seperti apa rupa bayi-bayi mereka. Dan sepertinya Aira juga merasakan hal yang sama.


"Kau tampak lebih sehat, nyonya Aira." Kata dokternya memulai percakapan. "Kau makan dengan baik?"


"Aku makan banyak dokter. Dan masih bisa merasa lapar." Ucap Aira tersenyum.

__ADS_1


"Benar. Kusimpulkan obat mualnya bekerja, bukan? Kulihat berat badanmu tidak naik banyak. Tapi kurasa bayi-bayi itu mengambil semua yang bisa mereka dapatkan dari ibunya. Kalian siap untuk melihat mereka lagi?"


Aira dan Erigo tersenyum mengangguk.


Erigo duduk di kursi di samping istrinya dan menggenggam tangan Aira. Rasa takjub dirasakan Erigo ketika melihat bayi-bayi itu mengapung di dalam rahim Aira melalui monitor. Melihat jari-jari tangan dan jari-jari kaki bayi-bayi mereka. Sesekali terlihat sentakan ketika bayinya menendang.


Aira meremas tangan Erigo dan menatapnya dengan sorot bahagia.


"Putra putri kalian sangat sehat dan bersemangat." Ucap sang dokter.


Itu hal paling luar biasa yang pernah Erigo dengar. Putra putri mereka. Itu berarti sepasang, laki-laki dan perempuan. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Aira dan menciumnya.


Sang dokter yang ramah itu juga merekomendasikan beberapa buku bacaan tentang kehamilan yang bisa Aira pelajari. Juga menyarankan agar Aira bisa meluangkan waktu untuk mengikuti kelas kehamilan untuk mempersiapkan proses melahirkan.


Beberapa hari berikutnya mudah ditebak seperti yang sudah di perkirakan. Beberapa artikel muncul, foto-foto mereka di depan praktik dokter kandungan tersebar.


"Kapan mereka mengambil foto-foto ini?" Tanya Aira. Ia tidak bisa menghentikan tubuhnya untuk bergidik ngeri. Pers bisa melakukan apa saja, ternyata.


Hormon kehamilan memang banyak mempengaruhi Aira. Ia tidak bisa lagi memaksa tubuhnya bangun lebih pagi hingga terkadang ia bangun dan mendapati suaminya sudah pergi bekerja, atau sudah berada di studio musiknya.


___________________________________


Aira melangkah menuruni tangga dengan kecepatan menyaingi kura-kura. "Selamat pagi." Katanya.


Erigo meletakkan cangkir kopinya di atas meja dan tersenyum menatap Aira, berpikir betapa Aira tampak hangat dan sangat cantik. "Selamat pagi, sayang." Erigo tersenyum geli. "Atau selamat siang, kurasa."


Aira meringis malu. "Kurasa aku kesiangan lagi."

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Kau mau makan sesuatu? Minum?" Erigo beranjak dari kursinya dan menarik kursi untuk Aira duduk, sementara pekerja dapurnya, Ellie, sibuk menyiapkan makanan untuk Aira.


"Dimana Polly?"


"Dia pergi berbelanja." Jawab Erigo cepat. Sudah sejak satu jam yang lalau Erigo meminta Polly berbelanja agar Aira tidak perlu terbebani.


Aira menatap Erigo, suaminya tampak rapi. "Kau mau pergi?"


"Aku membawakan acara bincang musik, kau lupa? Syutingnya mulai jam 2." Jawab Erigo sembari mendorong sepiring buah-buahan ke hadapan Aira.


Aira mengamati jam di dinding. Sekarang masih jam setengah sebelas. Erigo biasanya berangkat lebih cepat supaya masih sempat di rias sebelum pengambilan gambar videonya di mulai.


Erigo menyipitkan matanya melihat perubahan ekspresi di wajah Aira. "Kau mau bilang sesuatu?"


"Aku akan meriasmu, jadi kau bisa tinggal di rumah lebih lama. Apa boleh begitu?" Tanya Aira.


Erigo tersenyum. "Kau rindu bekerja? Sebaiknya kita telpon Winne dan katakan seperti itu. Jadi aku bisa berangkat agak lebih lambat." Erigo bisa menyetujui apapun selama itu akan membuat Aira bahagia.


Aira tersenyum dan mengangguk.


Akhir-akhir ini tidak banyak yang bisa Aira lakukan di kantor. Hanya menandatangani setumpuk dokumen, lalu dokumen lainnya. Ia merasa sangat bosan.


Sekarang Aira punya kesempatan melakukan pekerjaan yang disukainya. Ia membersihkan sisa-sisa sarapan dan berjalan kesana kemari dengan bersemangat membawa perut besar berisi dua bayi.


Mulutnya tidak bisa berhenti menyunggingkan senyum ketika tangannya dengan cekatan memoles makeup di wajah suaminya.


"Kau sangat menyukai kegiatan seperti ini kan?" Erigo tersenyum menatap Aira.

__ADS_1


"Sangat suka." Jawab Aira.


Erigo menarik Aira dan mendudukkannya di atas pangkuan. "Kalau kau berjanji akan terus memamerkan senyuman cantik itu untukku sepanjang hari, aku akan dengan senang hati bersiap dari rumah dan berangkat lebih lambat agar bisa bersamamu."


__ADS_2