
Airez masuk ke ruangan Zora dan melihat gadis itu sudah berdiri menunggunya, mengucapkan salam formal dan mempersilahkan dirinya duduk di meja kerjanya. Zora menyerahkan satu buah file terbuka dan meletakkannya di depan Airez.
"Ini draft yang anda minta untuk di rilis hari ini" Ucap Zora singkat.
Nada bicara macam apa itu? Formalitas? Atau Dingin? Pikir Airez.
Wajah Zora terlihat tegang, matanya berkilat marah__sekilas, namun terasa.
Airez memeriksa semuanya dan menganggukkan kepala. Zora sangat teliti dalam pekerjaannya sehingga tidak ada poin yang terlewatkan. Airez mengakui kemampuannya.
Tindakan Airez kemarin memang keterlaluan.
sebenarnya wajar saja jika Zora tidak mengenali Aira. Aira tidak pernah memperkenalkan dirinya secara resmi di Agensi, hanya sekali di kantor pusat. Jadi mereka belum pernah bertemu. Lagi pula, Aira memang terdaftar sebagai pekerja tanpa menggunakan nama belakang keluarganya. Dan ponsel Aira memang tidak bisa di hubungi karna sengaja di matikan.
Itu adalah hal yang wajar mengingat situasinya. Lalu mengapa dia begitu marah? Ia ingin menyalahkan Aira, Erigo, bahkan Moza. Atau menyalahakan jetlag, apapun itu. Ia ingin punya alasan pada Zora atas sikapnya yang keterlaluan.
Sekarang Zora terlihat sangat tidak nyaman berada di dekatnya.
Airez menatap Zora yang berdiri terpaku. Gadis itu sangat menawan. Kulitnya seputih susu dan rambutnya yang panjang bergelombang berwarna kecoklatan, di jepit di satu sisi menimbulkan kesan manis. Ia menyusuri wajahnya. Wajah itu persis seperti yang di bayangkannya semalaman. Cantik, jelas saja.
Mendadak tangan gadis itu sibuk membereskan berkas seolah-olah menyadari tatapan Airez padanya. Senyum samar tersungging di bibir Airez melihat gadis itu salah tingkah, namun tiba-tiba Zora memandang ke arah Airez tepat di matanya. Pancaran api garang menyiratkan dengan jelas bahwa ia tidak suka pada Airez.
Hal itu entah kenapa menimbulkan percikan dalam diri Airez. Ia terbiasa menghadapi banyak wanita yang memandangnya dengan tatapan minat secara terang-terangan. Wanita-wanita itu rela melakukan apa saja untuk dekat dengannya. Namun berbeda dengan Zora, gadis itu sepertinya menolak keberadaan Airez dan pesonanya. Zora kelihatan sangat ingin melarikan diri darinya.
Airez sudah memikirkan kata-katanya untuk meminta maaf, namun bukan lagi maaf Zora yang di inginkannya. Airez malah menginginkan gadis itu untuknya.
Airez sudah menetapkan targetnya.
__________________________________
Zora sudah di beritahu bahwa Airez sudah tiba, Ia menarik nafas frustasi.
Awalnya Zora sama seperti karyawan wanita lainnya yang tertarik pada Airez. Pria itu tampak mempesona dengan tubuh tinggi atletis, dengan rahang keras, tatapan tegas dan sikap sempurna yang menguarkan pesona seorang pengusaha tangguh.
Namun kini Zora tidak menyukai Airez. Pimpinannya itu adalah orang yang angkuh, sombong, pemarah dan egois. Melihat bagaimana kemarin Airez membentaknya tanpa bertanya, sudah cukup membuatnya membenci Airez. Ia tidak ingin berurusan dengan Airez.
Tetapi disinilah dia sekarang, merasakan tatapan intens Airez yang penuh penilaian padanya. Hal itu membuat Zora tersinggung. Rasa panas menjalar di wajahnya. Ia tidak suka.
Sejenak Zora ingin berpaling dan meninggalkan ruangan, namun pikirannya tersentak. Ia tidak melakukan kesalahan apapun yang membuat ia tampak tidak kompeten. Jadi, Zora memberanikan dirinya menatap langsung pada Airez. Mengerahkan tatapan yang menyiratkan ketidaksukaannya pada Airez.
__ADS_1
Zora terhenyak ketika mata mereka bertemu. Tatapan Airez menusuknya menimbulkan getaran aneh dalam perutnya.
Sedangkan Airez malah membalas tatapan Zora dengan senyuman semanis madu. "Baiklah, kita bisa merilisnya." Ucap Airez santai. Zora merasa ingin mengumpat. Terlebih saat ia hampir meleleh melihat senyuman Airez yang menawan.
_____________________________________
Pernyataan resmi telah di rilis dan di posting pada situs resmi perusahaan dan juga sosial media. Keterangannya sangat terperinci.
Di awali permintaan maaf agensi karena telah menyebabkan ke hebohan publik, dan atas keterlambatan agensi untuk mengklarifikasi pemberitaan yang menyangkut artis Mouse Entertainment yaitu Erigo dan Moza dikarenakan harus mengkonfirmasi terlebih dahulu pada pihak-pihak terkait. Lalu agensi menyampaikan beberapa poin penting.
Diantaranya, poin pertama menyebutkan bahwa berita yang beredar tentang Erigo dan moza yang kembali berkencan adalah tidak benar. Dan semua pernyataan Moza di media adalah kebohongan yang sengaja di buat demi keuntungan pribadinya.
Poin kedua menyatakan bahwa Erigo tidak berselingkuh dengan siapapun. Namun, adalah benar bahwa Erigo menjalin hubungan serius dengan nona A yang berprofesi sebagai stylist, dan hubungan tersebut sudah berjalan beberapa bulan lamanya.
Poin ketiga menjelaskan identitas asli dari nona A yang disebut pada poin kedua. Bahwa nona A adalah pemilik 7% saham Mouse Entertainment, anak kadung dari Frans Maxim Zuma, dan adik kandung dari CEO Airez Zuma yang bernama Aira Maretha Zuma.
Poin keempat menjelaskan bahwa jabatan Aira di agensi adalah sebagai direktur pusat yang berbasis di Amerika. Dan pekerjaannya sebagai stylist hanya bersifat sementara karna keinginan pribadi.
Poin kelima menyatakan permintaan maaf agensi kepada Aira dan Erigo atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan karena keterlambatan agensi dalam merespon rumor yang menyebar.
Adapun tindakan tegas yang di ambil oleh agensi terhadap penyebar rumor yang di anggap telah merugikan banyak pihak dan perusahaan adalah:
Mouse Entertainment tidak akan menjalin kerjasama dalam bentuk apapun dengan Moza Yumeida mulai pernyataan ini di rilis sampai seterusnya.
Jika saudara Moza Yumeida keberatan atau tidak menerima keputusan ini, Di persilahkan untuk mengambil tindakan hukum dengan memberikan bukti terkait.
____________________________________
Banyak pihak yang terkejut atas keluarnya pernyataan tersebut. Publik kembali di hebohkan oleh kenyataan bahwa selama ini Moza yang dikenal polos dan tampak tersakiti, ternyata telah melakukan kebohongan.
Para penggemar yang awalnya mendukung Moza dan membenci Aira, kini berbalik menyerang Moza dengan hujatan-hujatan yang bahkan kasar.
Sedangkan dukungan untuk Aira dan Erigo semakin banyak. Mereka bahkan sudah melupakan kata-kata makian yang pernah di tulisnya untuk Aira. Sosial media memang merupakan tempat segala kepalsuan berada.
Lalu Moza, mulutnya menganga lebar, matanya membelelak tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Gadis mungil yang di remehkannya ternyata bukan orang sembarangan yang bisa di injaknya.
__ADS_1
Moza panik. Kontraknya di putus, pekerjaannya hilang, proyek duetnya di batalkan padahal ia berharap itu adalah batu pijakan baginya untuk kembali terkenal. Ia merasa kesal dan dengan kasar melempar barang-barang ke segala arah.
Moza melolong sendirian di kediamannya karna karir yang di bangunnya sudah benar-benar hancur.
Penggemar yang dulu mendukungnya kini berbalik menyerangnya. Ruli yang dulu selalu ada di sampingnya kini juga meninggalkannya. Dia tidak punya siapapun dan tak tau akan melakukan apa.
Ia sudah mengacaukan hidupnya sendiri karna mengganggu orang yang salah.
____________________________________
Pernyataan Resmi Agensi sudah di rilis beberapa jam yang lalu. Zora duduk di belakang meja kerjanya masih berkutat dengan dokumen ketika pintu ruangannya terbuka. Airez berdiri di sana dengan satu tangan di dalam saku celana. Aira berdiri menunjukkan sikap sopan mempersilahkan Airez.
"Ada yang bisa saya bantu lagi pak?" tanyanya sopan.
Airez menatapnya sebentar, kilatan enggan terpancar di mata Zora. "Aku mau makan siang" ucapnya.
Apa hubungannya denganku? pikir Zora. "Baik pak, bisa saya pesankan, anda mau makan apa? Ada menu restoran yang bapak inginkan?" tanya Zora lagi.
"Restoran H. Aku mau makan disana." ucap Airez.
"Baik pak, akan saya hubungi untuk reservasi." ucap Zora dan beranjak untuk menelpon.
"Katakan untuk dua orang." ucap Airez.
Zora menelpon membelakangi Airez dan menyumpah tanpa suara. Ia tidak suka nada bicara Airez yang seenaknya memerintahnya.
Setelah menutup panggilan telepon, Zora berbalik dan menyunggingkan senyum. "Sudah selesai pak." ucapnya. 'Sekarang keluarlah dan pergi ke neraka' kutuk Zora dalam hati.
Airez tersenyum. "Bawa barangmu dan ikut aku."
Zora terpaku. Senyuman itu mampu mencairkan otaknya. "Maafkan saya pak, saya tidak mengerti maksud anda. Saya harus ikut kemana?" tanya Zora bingung.
"Makan siang denganku. Reservasi untuk dua orang, ingat? Aku akan mentraktirmu."
Zora mengerjap. Hanya karna Airez adalah pimpinan, bukan berarti Zora harus ikut dengannya bukan? Sudah cukup ia menuruti perintah-perintah remeh Airez. Jika sekarang ia ikut, mungkin lain kali ia tidak bisa menolak lagi. "Tidak, terimakasih. Saya rasa itu tidak perlu." ucapnya berusaha sesopan yang ia bisa.
"Aku merasa itu perlu, kita perlu biacara dan kau akan ikut makan siang denganku." Airez terlihat tegas. Zora sangat mengenali ekspresi itu, biasanya itu artinya dia tidak akan mundur.
Zora tidak ingin bicara, atau apapun. Tapi ekspresi itu. Ia mengalah. Zora mengambil dompet dan ponselnya, memasukkannya dengan kasar ke dalam tas lalu dengan cepat mengendalikan ekspresinya. Ia menegakkan tubuh dan mengangkat dagu lalu tersenyum, mengarahkan Airez menuju pintu keluar dengan gerakan tangannya.
__ADS_1
Ia sangat membenci Airez dan kesombongannya, tapi pesona Airez tidak mungkin di tolaknya.