
Aira pergi ke dapur, ia baru selesai mengambil bahan-bahan di lemari es dan memutuskan apa yang akan ia masak untuk makan malam. Polly dan pengurus rumahnya yang lain sudah pulang karena Aira ingin memasak makan malam sendiri. Ellie dan beberapa gadis pengurus rumah tentu saja senang karena bisa pulang lebih cepat dan punya waktu untuk mengurusi kehidupan pribadi mereka. Polly sendiri tampak setengah khawatir, namun Aira meyakinkannya bahwa ia adalah koki yang lumayan dan wanita itu tidak perlu khawatir. Polly akhirnya pulang setelah membuat Aira berjanji akan meminta bantuannya jika mengalami kesulitan. Ia menemukan peralatan memasak yang di butuhkan dan menjelajah dapur sampai menemukan tempat penyimpanan piring dan gelas.
Erigo sudah keluar dari studionya dan sedang menikmati kegiatan berenang di kolam renang yang ada di taman belakang. Aira mengawasinya melalui pintu kaca dan melambai sekilas pada Erigo yang tersenyum ke arahnya sebelum kembali berkonsentrasi pada masakannya.
Aira sedang meniriskan mie ketika ia mendengar suara pintu kaca yang di geser. Jantung Aira melonjak berhadapan dengan sesosok tubuh pria yang mempesona, dengan Air yang menetes dari tubuhnya dan memancarkan energi liar yang menimbulkan getaran ke seluruh tubuh Aira.
Erigo menikmati keterkejutan kecil di wajah Aira saat ia berhenti dan menatap Erigo. Erigo tersenyum lebar penuh kemenangan saat menutup pintu di belakangnya dan berjalan lurus ke arah Aira.
Aira menegang karena antisipasi. Kilatan jahil di mata suaminya membuat jantungnya berdegup kencang.
"Jangan lakukan itu." Ucapnya memperingatkan. Namun Erigo tetap melangkah ke arahnya. "Erigo, aku sudah mandi." Ucapnya tegas.
Erigo sama sekali tidak memberinya waktu untuk menyelesaikan apapun. Erigo memeluknya basah-basah membuat kulitnya yang hangat karena api kompor menjadi dingin. "Apa yang kau lakukan?" Pekiknya.
Erigo tertawa lalu menciumi wajahnya dengan air. "Aku sedang masak makan malam." Ucap Aira sambil memukul pelan Erigo.
"Ayo main air denganku." Ucapnya sembari mematikan api kompor. "Tinggalkan saja itu." Erigo mengulurkan tangannya dan berusaha membuka kancing-kancing baju Aira. Pria itu mendesaknya ke pinggir wastafel. "Nanti saja memasaknya. Temani aku berenang."
Aira menghentikan tangan Erigo dan melotot. "Makan malamnya hampir siap. Kau sebaiknya menyudahi acara berenangmu dan mulai membersihkan tubuh. Berpakaian dengan layak untuk makan malam bersamaku."
"Kita bisa makan malam nanti, setelah berenang dan bercinta." Ucap Erigo mulai membelai tubuh Aira dan menciumi lehernya.
Aira mendorong tubuh Erigo dan melihat pakaiannya sendiri. "Aku jadi basah gara-gara kau." Aira memukul Erigo lagi karena kesal. "Hargailah usahaku."
"Tentu saja. Makanan itu tak akan terbuang sia-sia. Kita akan membangun selera untuk memakannya. Berenang, bercinta, makanan... " Erigo semakin mendesaknya. "Lepaskan bajumu agar aku bisa menyentuhmu."
Kepala Aira terlalu pusing untuk membantah Erigo karena sejujurnya Aira sedang meleleh karena serbuan belaian dan ciuman suaminya. Aira akhirnya menurut dengan menanggalkan pakaiannya, berenang dan mereka bercinta. Dua kali. Sekali di kolam renang, sekali lagi di kamar tidur hingga mereka sudah melupakan agenda makan malam pedas berkuah yang mereka rencanakan.
Pagi berikutnya, Aira masih terbaring diam, sepenuhnya sadar akan tubuh Erigo yang memeluk tubuhnya, juga lengan jantan dan kuat yang menahannya. Aira berguling pelan lalu turun dari tempat tidurnya. Mengenakan pakaian dan menyelinap keluar menuju dapur untuk membereskan kekacauan yang di tinggalkannya tadi malam agar pengurus rumahnya tidak terlalu terkejut menemukan onggokan pakaian yang berceceran di dapur dan pakaian dalam yang mengambang di sisi kolam renang. Akan sangat memalukan.
Aira juga menyempatkan diri membuat kopi serta sarapan untuk Erigo dan membawanya ke tempat tidur setelah meninggalkan catatan untuk Polly di meja dapur. Aira meminta agar mereka tidak di ganggu sampai waktunya makan siang.
__ADS_1
Setelah sarapan singkat, Aira di tarik lagi ke tempat tidur dan mereka tinggal di dunia pribadi mereka sendiri.
_______________________________________
Beberapa minggu berlalu, tekanan pekerjaan membuat Aira lelah dan sakit kepala. Ia pulang dan merebahkan diri di sofa ruang tamu. Ellie datang membawakan secangkir teh hangat untuknya.
"Trimakasih Ellie, aku sangat membutuhkannya." Ucap Aira seraya berusaha menegakkan posisi duduknya. Ia menyeruput tehnya.
Ellie masih berdiri disana berjaga-jaga jika majikannya membutuhkan hal lain. Aira tersenyum ke arah gadis itu dan bertanya. "Dimana suamiku?"
"Tuan Erigo ada di studio bersama teman-temannya, nyonya. Sudah disana sejak selesai makan siang." Ucapnya. "Perlu saya panggilkan?" Tawar Ellie.
Aira melambaikan tangannya. "Tidak usah, tidak apa-apa. Biarkan saja dulu." Aira mengangguk pada gadis itu. "Aku akan beristirahat di kamar sampai waktu makan malam. Kau boleh kembali ke dapur. Trimakasih." Ucapnya tersenyum.
Aira menyeruput tehnya lagi sebelum melangkahkan kaki menuju tangga. Ia butuh mandi dan tidur sejenak.
Aira tertidur sebentar setelah mandi cepat tadi. Namun merasa kepalanya masih pusing. Ia melirik jam di nakas samping tempat tidurnya. Sudah hampir waktunya makan malam. Ia harus menemui suaminya.
Sejenak Erigo memandangnya lalu pria itu mendekat ke arah Aira. Erigo menangkup wajah Aira, membuatnya mendongak. "Apa kau baik-baik saja?" Tanyanya khawatir. "Wajahmu sedikit pucat. Ellie bilang kau tampak kurang sehat." Ucapnya menyelidik.
"Aku baik-baik saja, hanya sedikit pusing." Ucap Aira lemah. Ia tak ingin membuat suaminya khawatir.
Erigo menggeleng. "Kau tidak baik-baik saja Aira. Kau perlu makan. Aku akan meminta Ellie membawa makan malam ke atas." Erigo kemudian menghilang lagi keluar.
Aira memejamkan matanya dan duduk di tepi tempat tidur. 'Ada apa dengan tubuhku?' Keluhnya dalam hati.
Aira berusaha menyantap makan malamnya meskipun tanpa selera. Ia bisa merasakan tatapan Erigo mengawasinya hingga ia dengan gagah berani menusuk sepotong daging dengan garpu dan memasukkannya ke dalam mulut. Mencoba mengunyahnya dengan susah payah, lalu mencoba menelannya dengan lebih susah payah lagi.
Aira menyerah pada makanannya lalu menyingkirkannya ke samping. Bahkan menelan seteguk air putih pun Aira harus berjuang. "Maafkan aku." Gumamnya pelan.
Erigo hanya menghela napas. "Tidak apa-apa. Setidaknya kau makan sesuatu."
__ADS_1
"Aku tidak enak badan."
Segera setelah mengatakannya, Aira berdiri dan berlari. Wanita itu masuk ke kamar mandi dan sesaat kemudian Erigo mendengarnya muntah-muntah.
Erigo menyusul Aira. "Tenang sayang." Erigo membantu memegangi rambut Aira agar tidak menutupi wajah.
Setelah selesai, Aira meringis merasakan sakit di ulu hatinya. Ia bersandar lemah pada Erigo. Sia-sia sudah perjuangannya untuk makan barusan. Erigo memberikan sikat gigi yang telah di olesi pasta gigi untuk Aira.
Erigo membaringkan Aira di tempat tidur, menyingkirkan beberapa helai rambut dari wajah Aira yang sembab. "Kita harus menemui dokter." Hanya ada satu pertanyaan yang masuk akal untuk Erigo ajukan. "Apa kau hamil?"
Aira menegakkan tubuh dan tercengang. "Tidak. Itu tidak mungkin secepat ini. Aku mungkin hanya kelelahan karena bekerja."
"Itu mungkin saja sayang. Kita sudah menikah hampir 3 bulan."
Aira menggigit bibir bawahnya. Ia tau pasti bahwa ia belum mendapat haid sejak mereka menikah. Namun, itu bukan berarti ia hamil. Haidnya memang selalu tidak teratur.
"Kita harus menemui dokter untuk memastikan hal seperti itu." Aira tidak ingin melambungkan harapan yang belum pasti.
Erigo membelai wajahnya. "Baiklah. Kita akan menemui dokter besok pagi, untuk memeriksanya. Aku akan menelpon untuk membuat janji temu, dan sekarang kau harus beristirahat." Ucapnya tegas.
Segera setelah menelpon, Erigo bergabung dengan Aira di tempat tidur. Sesaat kemudian, Aira sudah berada dalam pelukan suaminya.
"Pejamkan matamu sayang, aku akan memastikan kau tidur." Lalu Erigo tidak mengatakan apa-apa lagi, hanya memeluk Aira lebih erat.
Aira hampir tertidur ketika dirasakannya Erigo mengelus perutnya. Ia menghela napas. "Mungkin aku tidak hamil." Ucapnya gemetar.
Erigo merapatkan tubuhnya. "Tapi, kalau kau hamil, anak kita, bayi kita sedang tidur disini." Katanya.
Aira memejamkan mata. Ia memegang tangan Erigo, menautkan jemarinya. "Kalau aku hamil, kau ingin anak perempuan atau laki-laki?" Tanya Aira.
"Laki-laki atau perempuan, aku akan tetap mencintainya. Atau kembar?" Tanya Erigo. "Ibuku punya garis keturunan kembar." Ucapnya lagi.
__ADS_1
Aira mau tidak mau tersenyum membayangkan anak-anak, anak-anak mereka berlarian di taman, di ruang tamu, di dapur, di rumah ini. Mengisi ruang-ruang kosong di rumah besar mereka. Kemudian Aira tertidur. Sedikit harapan itu mengisi hatinya.