
Media heboh lagi. Seperti yang sudah di perkirakan tentang hubungan Toddy dan Jun, akhirnya mereka tertangkap kamera sedang berkencan berdua. Untungnya, Toddy dan Jun sudah memberi tahu pada Ayah dan ibu Erigo soal hubungan mereka, hingga ketika pemberitaannya keluar, orang tua mereka tidak terlalu terkejut. Hanya saja, rumah orang tua Erigo mendadak dipenuhi orang-orang yang ingin melipit dan mewawancarai.
"Cepatlah kemari. Disini sangat kacau. Ibu dan ayah bahkan tidak bisa membuka tirai jendela." Rengek Jun di ujung telpon.
"Aku sedang dalam perjalanan bersama Devano, tidak bisa kesana sekarang. Aku akan meminta manajer kami kesana." Ucap Erigo lalu memutuskan sambungan.
"Sepertinya kacau sekali." Ucap Devano sbari memperlihatkan tangkapan di layar ponselnya. "Kau sudah menelpon Toddy?" Tanyanya lagi.
Erigo mendesah beratdan menggeleng. Seharusnya ini adalah awal minggu yang tenang, tapi jadi berantakan gara-gara kabar kencan member tertua mereka. "Aku tidak menelponnya, Jun pasti sudah melakukannya."
"Kau sendiri baik-baik saja saat keluar rumah tadi pagi?" Tanya Devano lagi.
"Ahh.. Benar juga. Tenang sekali di rumahku." Ucap Erigo sembari tersenyum bangga. Para penjaga gerbang rumahnya pasti sudah mengusir siapapun awak media yang datang kesana karena Erigo dan Aira sangat ketat mengatur agar tidak ada pencari berita yang dekat-dekat dengan kediaman mereka, terutama anak-anak kembarnya Aelius dan Aeliana.
Erigo menoleh pada Devano. "Melihat rumah orang tuaku yang dikerubungi seperti itu, menurutmu bagaimana dengan suasana di rumah Toddy?"
Devano tergelak membayangkan situasinya. "Kurasa beberapa orang akan rela menginap atau bahkan mendirilan tenda di depan apartemennya." Ucapnya sembari tertawa.
Erigo menimbang-nimbang apa yang harus dilakukannya sekarang. "Haruskah aku menelpon Toddy dan bertanya?" Ucapnya.
"Coba saja." Ucap Devano. "Aku juga penasaran. Apa yang sedang dia lakukan sekarang?" Lanjutnya lagi.
Erigo menelpon manajernya dan meminta sang manajer mengurus para wartawan itu dulu. Setelahnya ia menekan tombol panggilan ke ponsel Toddy. Toddy lamgsung mengangkatnya pada deringan pertama. Sepertinya dia sangat panik.
"Erigo!!" Ucapnya dengan nada kencang hingga Erigo sedikit menjauhkan ponselnya dari telinga. Devano yang melihatnya sontak langsung tertawa.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Erigo dan langsung mengaktifkan speaker ponselnya.
"Aughh... Kacau sekali disini. Para wartawan itu benar-benar gila. Mereka mengerikan." Ucap Toddy setengah menjerit histeris.
Erigo dan Devano hanya bisa tertawa. Mereka sudah lebih dulu melewati fase yang sama. Ketahuan berkencan lalu menjadi buruan wartawan dan sasaran bulan-bulanan media selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan lamanya. Sungguh kehidupan yang mencengangkan.
"Mereka semua mengerikan." Toddy masih mengomel dengan panik.
__ADS_1
"Kau sudah menelpon Jun?" Tanya Devano, karena tampaknya Erigo sendiri masih agak sungkan untuk bertanya meskipun dia penasaran.
"Sudah." Jawab Toddy. "Aku sudah bicara pada Jun. Keadaan disana juga tidak jauh berbeda. Aku juga bicara pada Ayah dan ibu dan meminta maaf." Ucapnya melanjutkan.
"Aku meminta manajer kesana dan kuharap dia bisa mengendalika keadaan sampai kalian berdua bicara langsung." Ucap Erigo. "Aku bicara berdasarkan pengalamanku. Sebaiknya kau segera memberi pernyataan resmi sebelum mereka mulai berspekulasi dan akhirnya menyakiti salah satu dari kalian." Ucap Erigo lagi.
Devano menambahkan. "Mereka sangat kejam Toddy. Jika mereka tidak mendapatkan berita, maka mereka akan membuat-buat berita."
"Aku tau. Aku akan melihat apa yang bisa kulakukan dulu. Nanti ku telpon lagi." Ucap Toddy sebelum memutuskan sambungan telpon.
____________________________
Sementara itu di rumah, Aira sibuk menelpon perwakilan agensinya dan meminta agar mengirimkan seseorang ke rumah mertuanya untuk mengatasi kerumunan wartawan. Aira juga menelpon Airez dan meminta agar kakanya mengirimkan beberapa orang kepercayaannya untuk berjaga-jaga di sekitar rumah mertuanya.
"Kau tidak bisa kemana-mana Jun. Telpon saja tempat kerjamu dan katakan kau tidak bisa datang." Ucap Aira pada Jun di ujung sambungan telpon.
"Apa yang harus ku katakan sebagai alasan?" Kata Jun muram.
"Jangan konyol. Kau tidak lihat mukamu memenuhi layar televisi dan sosial media sejak tadi malam? Semua orang di tempat kerjamu pasti sudah tau. Kecuali jika mereka semua masih murni dan tinggal di gua." Cetus Aira.
Aira tidak tahan untuk memutar bola matanya. "Mmm.. Iya.. Astaga." Ulang Aira dengan nada mengejek. "Berikan telponnya pada ibu." Ucap Aira.
"Halo Aira." Seru suara ibu mertuanya.
"Halo ibu. Ibu baik-baik saja? Mereka semua pasti mengganggu ibu ya?" Tanya Aira penuh perhatian.
"Benar sekali. Dan mereka juga sangat berisik." Ibu mertua aira tergelak. "Apa seperti ini juga saat kau dan Erigo masuk berita dulu?" Tanyanya lagi.
"Benar sekali. Mereka masih sama mengganggunya. Tapi tidak apa-apa ibu. Nanti jika mereka mendapatkan hal lain untuk di kerjakan dan di beritakan, mereka akan berhenti." Jawab Aira lembut. "Ibu cobalah untuk beristirahat dikamar. Kesehatan ibu lebih penting." Ucap Aira lagi.
"Ibu tidak apa-apa. Terlalu banyak tidur juga membuatku merasa makin tidak enak badan." Ibu mertua Aira mendesah berat. "Ibu hanya sedikit mengkhawatirkan Jun." Ucapnya lagi.
"Tidak apa-apa ibu. Jun harus melalui ini setidaknya sekali seumur hidupnya agar terbiasa. Begitulah Erigo dan Toddy menjalankan hari-hari mereka." Ucap Aira.
__ADS_1
"Kau sangat penuh perhatian Aira. Trimakasih." Ucap sang ibu mertua. "Ahh.. Bagaimana cucu-cucuku? Mereka sedang apa sekarang?" Tanya mertuanya lagi.
Aira tersenyum. "Mereka sehat ibu. Sedang bermain cat warna. Erigo membelikan kertas dinding putih polos, dan anak-anak sangat senang menempelkan tangan mungil yang penuh cat warna warni itu di dinding."
"Benarkah? Titipkan salam rinduku pada keduanya ya."
"Baik ibu. Nanti saat semuanya mereda, ibu bisa datang berkunjung dan bermain bersama mereka juga." Ucap Aira. Mereka mengobrol beberapa menit lagi sebelum akhirnya menutup panggilan. Aira berharap keadaan di rumah mertuanya segera kembali normal.
_________________________________
Malam harinya, pernyataan resmi di rilis melalui agensi untuk mengklarifikasi berita yang telah tersebar. Tentu saja setelah sebelumnya agensi menghubungi kedua belah pihak. Toddy dan Jun mengakui hubungan mereka.
Reaksi publik sungguh di luar dugaan. Jika Aira sempat di bulli habis-habisan, ternyata itu tidak berlaku untuk Jun. Para penggemar mendukung hubungan mereka, dan banyak ucapan selamat dan dukungan positif mengalir membanjiri keduanya melalui komentar-komentar di sosial media.
"Jun benar-benar beruntung. Dia tidak di maki-maki seperti aku." cetus Aira saat membuka laman sosial media Summer bersama Erigo. Ia hanya mengucapkannya sambil lalu.
"Oh Aira, aku sangat merasa bersalah. Pasti berat bagimu." ucap Erigo.
Aira tergelak. "Tidak perlu. Aku hanya bicara sendiri, kenapa kau sangat sensitif?" tanya Aira.
"Karena aku tidak menduga reaksi seperti ini. Orang-orang bertindak kejam pada kita saat itu dan aku sungguh khawatir padamu. Lalu hari ini aku sudah bersiap untuk menjadi tameng bagi Jun dan keluargaku, tapi mendadak tidak perlu." Erigo tergelak sedikit. "Kurasa aku belum bisa memutuskan harus lega atau tidak. Konyol sekali kan?"
"Kau harusnya lega. Mereka akan baik-baik saja."
Erigo kembali menatap layar ponselnya. "Menurutmu, kenapa para penggemar bereaksi seperti itu?"
Aira hanya mengangkat bahu. "Aku tidak tau."
"Ahh... aku tau." ucap Erigo bersemangat. "Mungkin para penggemar sudah cemas karena Toddy semakin tua dan tidak punya pasangan. Jadi, meskipun bukan Jun, mereka pasti mendukung kan?"
"Toddy tidak setua itu." jawab Aira datar.
"Tetap saja. Dulu dia leader, kesepian, tidak punya pasangan, bahkan ada yang bilang dia sudah menikah dengan pekerjaannya." ucap Erigo. "Aku dan Devano pernah bermain gunting batu kertas untuk menentukan siapa yang akan merawat Toddy setelah sepuh."
__ADS_1
Aira tertawa terbahak-bahak. "Kalian berdua, berhentilah bersikap konyol." cecar Aira.