Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 74


__ADS_3

Erigo dan Aira tinggal di rumah orang tuanya sampai waktu makan malam. Saat itu ayahnya dan Jun sudah kembali dari bekerja dan bisa menikmati makan malam yang Erigo siapkan bersama ibunya.


Setelah makan malam, mereka membawa bayi-bayi dan kembali ke rumah. Erigo langsung pergi ke studionya sementara Aira menyiapkan anak-anaknya untuk tidur.


Erigo menyalakan komputernya untuk menyunting video. Dia melihat ibunya di dalam video yang dia rekam. Sesekali Erigo tersenyum karena menurutnya itu lucu dan dia bangga. Erigo kembali merenung menatap layar. Semua yang dilakukannya adalah untuk mengenang ibunya di masa mendatang.


Aira masuk ke studio membawa jus buah dan beberapa biskuit. "Kau menyunting video?" Tanya Aira sembari meletakkan nampan di atas meja. Kemudian memeluk pundak suaminya dari belakang. "Ibu tampak cantik." Ucapnya lagi.


Erigo bersandar dan mengusap lengan Aira. "Aku menyuruhnya berdandan. Temanku di pemakaman mengatakan padaku bahwa kau akan merindukan masakan ibumu setelah dia tiada, kudengar itu yang paling di sesali."


"Karena itulah hari ini kau belajar memasak. Kau sudah membuat kenangan yang indah, sayang." Aira mencium pipi Erigo.


"Kau tau, saat aku menonton rekaman ini, aku bisa melihat kerutan di wajah ibuku, dan betapa kasar tangannya. Melihat itu benar-benar membuatku berfikir, saat ibu tidak berada disisiku lagi, dimana aku akan mendapatkan makanan rumahan seperti itu lagi. Siapa yang akan memasak makanan yang dibuat dengan cinta itu? Itulah yang kupikirkan."


Mendengar perkataan Erigo, Aira merasa sedih. Suaminya pasti mengkhawatirkan kesehatan ibunya.


"Aku bersyukur menjadi putra ibuku, dan aku berharap ibuku selalu sehat." Erigo bicara terpatah-patah karena tercekat oleh emosinya. "Kadang aku berpikir, bagaimana aku akan bertahan jika ibuku pergi meninggalkanku." Ucapnya dengan isakan tertahan.


Sementara itu Aira sudah tidak sanggup membendung air matanya yang mengalir seperti banjir. Ia membenamkan wajahnya di pundak Erigo dan menangis dalam diam.


_____________________________


Aira dan Erigo sedang berada di kamar bayi. Aelius dan Aeliana semakin besar dan lebih sering terjaga daripada tidur. Mereka sudah bisa di ajak bermain meskipun tidak lama. Bayi-bayi montok dengan pipi kemerahan itu tampak sangat menggemaskan.


"Jika nanti mereka sudah agak besar, aku akan mengajak mereka pergi menonton konser." Kata Erigo sembari menggoyang-goyangkan maianan di depan wajah Aeliana.


"Benar, seperti ayah-ayah lain di luar sana. Kau harus sering mengajak mereka jalan-jalan keluar akhir pekan. Jangan sibuk sendiri." Cetus Aira.


"Jangan bandingkan aku dengan ayah-ayah lainnya. Aku adalah ayah terbaik di negara ini." Protes Erigo.


Aira tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Kenapa kau tertawa?" Tanya Erigo. "Aelius, Aeliana, lihat Dadda, jika ayah-ayah lain memiliki rambut hitam, Dadda punya rambut warna warni. Keren kan?" Bayi-bayi montok itu tampak berkonsentrasi pada ayahnya.


"Dadda penari yang hebat. Dadda bisa main game." Cetus Erigo lagi. "Dadda tidak akan pernah menyuruh kalian membaca buku."


"Astaga." Cetus Aira. "Kau sangat kekanak-kanakan." Aira meringis.


"Dadda keren kan? Berapa nilai Dadda? 100? 200? 300?" Erigo masih menjadi pusat perhatian bayi-bayinya yang kini bersorak menanggapi perkataan ayahnya. Sedangkan Aira terkikik geli. "Dadda akan menjadi ayah yang keren." Katanya lagi kemudian berpaling pada Aira.


"Apa yang akan kau lakukan setelah anak-anak tidur?" Tanyanya.


"Tidak banyak. Aku membawa sedikit pekerjaan dari kantor kemarin sore, akan aku selesaikan sebelum jam tiga." Aira menimang Aelius di gendongannya karena tampaknya bayi itu sudah mengantuk. "Bagaimana denganmu? Ada rencana hari ini?"


"Aku ada rapat tentang penampilan kami bulan depan. Aku harus segera pergi sebelum terlambat." Erigo mengangkat Aeliana dan meletakkannya di tempat tidur bayi. Setelah mengecup kedua belah pipi bulat anaknya, Erigo mencuri sebuah ciuman dari Aira. "Aku akan pulang sekitar jam empat, jadi kau punya waktu satu jam untuk bersiap bersama si kembar sebelum kita ke rumah ibu." Aira mengangguk. "Aku akan panggilkan Dorry." Ucapnya lagi sebelum berlalu.


Grup Summer akan tampil di acara musik di Hongkong dalam waktu dekat, hingga para member menjadi lebih sibuk berlatih dan mempersiapkan penampilan mereka. Dan nanti malam mereka sudah merencanakan akan ke rumah orang tua Erigo untuk memberitahukan jadwalnya.


Aira dan Erigo tiba di kediaman Galleni tepat sebelum makan malam. Semua makanan di tata di meja makan dan tampak menggugah selera.


"Jadi kalian akan mengadakan konser?" Tanya ibunya saat diberitahu bahwa Erigo akan tampil di hongkong bersama para member Summer.


"Pasti sangat melelahkan." ucap sang ibu simpati.


"Ayah dan ibumu sudah lama tidak melihat penampilanmu." Kata Will Galleni yang di sambut anggukan oleh Hellena Galleni. "Terakhir kali waktu itu, kau menari dan bermain drum."


"Ayah, jika pekerjaanmu mengizinkan, kita bisa pergi melihat pemandangan dan mencari makanan enak bersama." Ucap Erigo lagi.


Ibunya mengangguk semangat. "Ibu ingin pergi ke Hongkong. Ayo kita pergi bersama-sama." Ajaknya.


Aira melebarkan matanya. "Aku suka ide itu. Aku ingin pergi ke Hongkong. Ayo kita pergi." Ucapnya.


Will Galleni melayangkan pandangannya pada sang cucu yang di dudukkan di kursi bayi. "Aelius dan Aeliana, apa kalian juga mau ikut?" Tanya sang kakek.

__ADS_1


Kedua bayi menjawab dengan teriakan kencang sembari menggerakkan kaki dan tangan mungil mereka. Adik kakak itu mengoceh tanpa arah membuat liur mereka tersembur.


Keluarga Erigo dan Aira belum sempat pergi keluar negeri. Itu kesempatan yang bagus untuk menonton penampilannya dan bepergian bersama. Jadi mereka memutuskan untuk pergi ke Hongkong.


Ketika akhirnya Aira membantu Erigo mengemas barang karena Erigo akan berangkat sehari lebih awal, mereka merasa bersemangat untuk bepergian.


"Ini akan menyenangkan bukan?" Tanya Erigo. "Akhirnya kita bisa bepergian."


"Benar, ini akan menyenangkan." Aira mengangguk setuju. "Kau kesana untuk bekerja, jadi aku dan anak-anak akan menyemangatimu. Aku tidak sabar untuk melihat panggungmu."


Erigo memandang sekilas pada Aira, "Kau sering ikut mengurusi penampilanku dulu. Semuanya di panggung."


"Mmm.. Tapi aku di belakang panggung." Aira tertawa, dan Erigo meringis.


"Kau akan kesulitan dengan si kembar selama di pesawat." Ucap Erigo. Tangannya terulur untuk merapikan helaian rambut Aira.


"Aku tidak keberatan." Jawab Aira. "Kurasa mereka tidak akan menangis, mereka akan menikmati naik pesawat. Lagi pula ada Dorry."


"Kau tidak akan pernah tau. Mereka mungkin saja menangis." Ucap Erigo khawatir.


Sementara itu di kediaman Galleni, sang ibu dengan bersemangat menyiapkan barang-barang dan menyusunnya ke dalam koper sembari terus mengomeli ayah Erigo yang ingin membawa pakaian-pakaian lamanya.


Ibunya mengemas pakaian dan perlengkapannya dengan rapi.


Esoknya mereka sudah berada di bandara. Aira mengeluarkan passport barunya dan passport si kembar. sang nenek dan kakeknya tak henti memuji betapa lucunya Aelius dan Aeliana di foto passport itu.


Bayi-bayi berusia delapan bulan itu sangat berkelakuan baik selama di pesawat. Mereka tidak menangis dan tidak rewel sedikitpun, hanya tertidur dengan pulas.


Di dalam pesawat, Aira mengatakan bahwa ia sangat bersemangat ingin melihat Erigo di atas panggung, karena selama ini Aira hanya membantu persiapan Erigo sebelum tampil dan selalu berada di belakang panggung bersama para kru.


Mereka tiba di Hongkong dengan selamat, sementara Erigo di tempat lain sedang di rias. Ketika akhirnya Aira bicara pada Erigo melalui ponselnya, Aira tercengang atas apa yang di dengarnya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya mertuanya.


"Erigo mengatakan bahwa Aelius dan Aeliana terlalu kecil dan tidak bisa dibawa ke dalam aula konser." ucap Aira. "Habislah kita." cetusnya sembari tertawa.


__ADS_2