Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 61


__ADS_3

Hellena Galleni, ibunda Erigo, tidak bisa berhenti tersenyum selagi mengelilingi tamannya dengan gunting tanaman dan keranjang. Memilih serta menggunting tangkai-tangkai mawar dan geranium untuk mengisi vas-vas bunganya di dalam rumah. Ia merasa lebih bahagia untuk putranya daripada yang pernah dirasakannya untuk dirinya sendiri.


Erigo jatuh cinta pada wanita yang tepat dan menikah. Sebelumnya Hellena sering kali khawatir pada Erigo. Anak laki-lakinya memilih jalannya sendiri dengan memasuki dunia hiburan dengan banyak gosip dan pemberitaan. Hellena sempat mengira bahwa putranya akan sangat terlambat menikah atau bahkan tidak menikah sama sekali karena profesi.


Sekarang.. Akan ada bayi. Tidak satu, tapi dua bayi sekaligus. Senyum ibunda Erigo semakin lebar. Ia tidak menyangka akan segera mempunyai cucu. Sejak dokter mendiagnosis penyakitnya, kecemasannya semakin menjadi-jadi. Sekarang rasanya ia bisa tenang sambil berharap Tuhan memberinya umur yang panjang untuk menyaksikan kelahiran cucu-cucunya dan juga pernikahan Jun kelak.


Ia masih mengkhawatirkan Jun, tapi, satu persatu dulu.


Sementara itu di tempat lain, di kediaman Zuma, Emma, ibu Aira sedang sibuk membersihkan mangkuk Adonan, di meja di depannya berderet peralatan masak yang mengilat bersih. Ayah Aira, duduk di ujung meja makan dengan tangan yang sibuk mengutak-atik ponselnya. Kacamatanya tergantung agak miring di atas hidungnya. Dihadapannya terdapat secangkir kopi yang masih berasap.


Ibu Aira menyambut mereka berdua dengan tangan terentang dan memeluk keduanya sekaligus. Lalu Ayah Aira tersenyum ramah menyambut mereka sembari menggumamkan menu makan siang.


"Senang melihatmu, sayang. Ibumu menyiapkan banyak makanan ketika diberi tahu bahwa kalian akan datang." Ucap ayahnya. Aira dan Erigo tersenyum. "Kalian bilang akan menyampaikan sesuatu. Ada apa?" Ayahnya bertanya tanpa basa-basi.


Erigo menarik dua kursi, satunya untuk Aira, satu lagi untuk ibu mertuanya, dan membantu kedua wanita itu duduk. "Kami punya dua berita yang ingin disampaikan."


Ibu Aira kemudian duduk untuk mendengarkan. Erigo kemudian menarik kursi untuk dirinya sendiri di samping kiri ayah mertuanya. "Yang pertama, aku ingin menyampaikan bahwa istriku sedang hamil." Ucap Erigo.


Ayah Aira meletakkan ponselnya dan tertawa cerah. "Benarkah? Wah.. Selamat anakku. Aku senang sekali." Ucapnya dan menepuk-nepuk punggung Erigo.


Ibu Aira pun menghambur memeluk Aira. "Oh Aira, ibu senang sekali mendengarnya. Selamat untuk kalian berdua. Sudah memeriksakannya?" Aira mengangguk sebagai jawaban kemudian ibunya melanjutkan. "Sudah berapa minggu usianya?"


"Seharusnya sudah hampir sembilan minggu, ibu. Kami mengetahuinya seminggu sebelum pernikahan Airez." Ucap Aira.


Ayah Aira memandang Erigo, "kau ternyata suka menyimpan rahasia nak."

__ADS_1


Erigo mengangguk dan tersenyum. "Kami sengaja merahasiakannya karena semua orang harus berkonsentrasi pada Airez dan Zora. Jadi kami menunda pemberitahuannya."


"Sayang, kami gembira sekali." Ujar ibu Aira hangat, dan mereka dapat melihat wajah ibu Aira yang berseri-seri.


Sesaat kemudian ayah Aira berkata lagi, "kalian bilang ada dua berita. Apa satunya lagi?" Tanyanya.


Erigo mengeluarkan beberapa foto hasil scan dan meletakkannya di atas meja. "Bayi kami kembar." Ucapnya.


Sesaat ibu dan ayahnya mematung, detik berikutnya ibunya bersorak memeluk ayahnya. "Ya Tuhan. Ini berkah." Ucapnya bersyukur.


Ayah Aira sangat terharu, ia membuka kacamatanya dan menghapus setitik air mata di sudut matanya dengan jemari tangan.


Aira menangis melihat kegembiraan orang tuanya yang dengan tangan gemetar membelai foto scan di atas meja. Aira bisa melihat kedua ornag tuanya sangat bahagia.


____________________________


Saatnya memberi kabar pada teman-teman. Aira dan Erigo sudah sibuk berbelanja sejak pagi. Membeli bahan-bahan yang diperlukan untuk pesta kecil nanti malam. Mereka mengundang teman-teman untuk memberi kabar gembira sekalian pesta barbekyu di taman belakang.


Aira menggela napas singkat ketika benaknya sibuk memperkirakan sebanyak apa bahan yang diperlukan untuk semua orang. Semua member di undang termasuk pasangannya. Devano dan Kei, Yansen dan Winne, Toddy dihitung sepaket dengan Jun, dan empat orang pengurus rumah di hitung meskipun mereka akan makan di tempat terpisah dari tamu lainnya. Totalnya ada sekitar dua belas orang yang harus di jamu termasuk mereka berdua.


Erigo mendorong troli di sampingnya dan tersenyum memperhatikan istrinya yang sedang berkonsentrasi memilih bahan-bahan. Acara belanja mereka berlangsung tenang tanpa halangan berarti kecuali beberapa lampu kilat yang berasal dari ponsel beberapa orang yang tidak ingin ketinggalan momen belanja selebriti dan istrinya. Beberapa lagi menyapa, dan hanya sebatas itu, tidak mengganggu. Aira dan Erigo hanya perlu melayangkan senyum terbaik mereka. Tidak diragukan lagi, akan ada beberapa artikel besok pagi.


____________________________________


Polly dan Ellie sangat sigap dan cekatan menyiapkan segalanya hingga hanya meninggalkan tugas termudah untuk Aira.

__ADS_1


Erigo mengumumkan berita kehamilan Aira sebelim mereka makan dan semua orang bergembira. Ucapan selamat, pelukan erat dan ciuman di terima keduanya. Semua orang mendoakan dan menantikan bayi kembar mereka. Aira bersyukur bahwa akan ada banyak cinta mengiringi bayi-bayi mungil ini.


Hormon atau bukan, Aira merasa hidup dalam mimpi. Erigo menatapnya. Mereka bertemu dan jatuh cinta seperti yang di lakukan orang-orang dalam novel, mereka menikah karena tidak bisa hidup tanpa satu sama lain, merencanakan kehidupan baru dan merayakannya bersama orang-orang terkasih.


Ini adalah wilayah yang baru bagi Aira dan Erigo. Pengalaman kehamilannya yang pertama, berbagi momen bersama. Bersama suaminya. Jantung Aira seakan melompat ke tenggorokan dan ia merasa ingin menangis. Lagi-lagi hormon, salahkan saja hormon dan estrogen yang meluap bagai sungai dalam tubuhnya ini.


Erigo berbisik padanya. "Sayang, kau mau apa? Lobster? Salad?" Erigo berpaling pada Aira dengan wajah cemas melihat air mata meremang di pelupuk mata Aira. "Kau baik-baik saja? Apa baunya mengganggu?"


Aira mengibaskan tangannya. "Aku tidak apa-apa. Hormon." Katanya berbisik.


Erigo tersenyum. "Hormon ya?" Erigo menggenggam jemari Aira. "Kau harus makan, kalian bertiga." Ucapnya.


Aira sebenarnya tidak terlalu berselera. Ia merasa kenyang hanya dengan menatap banyaknya makanan. Ia menggeleng. "Aku tidak membutuhkannya sekarang, mungkin nanti."


"Jangan takut gemuk sayang. Kau akan lebih cantik kalau gemuk"


"Aku akan terlihat seperti paus terdampar. Jangan mengatakan hal konyol."


Erigo terkekeh. "Aku tidak mengatakan hal konyol. Apa lagi yang bisa lebih cantik selain istriku yang sedang mengandung anak kita?"


Aira memandangnya dan merasa terhibur. "Tiba-tiba aku ingin makan tart strawberry."


Wah.. Erigo benar-benar menganga. Ia tidak mempersiapkannya. Ia akan memohon Polly bekerja lembur dan menahan omelan wanita tersebut. Salahkan hormon, lagi__.


________________________________

__ADS_1


__ADS_2