
Aira baru saja akan tidur ketika ponselnya bergetar menampilkan nama Erigo di layarnya. Aira melangkah pelan turun dari tempat tidurnya karna takut membangunkan Winne yang baru saja terlelap.
Aira membawa ponselnya ke ruang tamu. "Halo".
"Aira, ini aku" Ucap Erigo.
Aira tersenyum samar "Aku tau" Ucapnya singkat.
"Kau sedang apa? Apa telponku mengganggu mu?" Tanya Erigo.
"Tidak masalah. Winne menginap di sini, dan dia sudah tertidur di kamar" Ucap Aira pelan.
"Apa dia baik-baik saja?" Tanyanya.
Aira melihat sekilas ke pintu kamar "Dia baik-baik saja. Kurasa"
"Kau rasa?" Erigo diam sebentar. "Apa dia bilang sesuatu? Tentang Yansen?"
Aira mendesah. "Dia tidak bilang apa-apa padaku. Sepertinya dia belum mau membicarakannya. Jadi aku tidak memaksa" Ucap Aira lemah.
"Kau mengkhawatirkannya bukan?" Tebak Erigo.
Aira menunduk menatap lantai. Lantainya butuh di pel, pikirnya. "Tentu saja" ucapnya tanpa tenaga. "Winne yang ku kenal bukanlah gadis yang lemah. Tapi hari ini aku melihatnya seperti akan menangis" Ucap Aira sedih.
"Kau teman yang baik Aira" Ucap Erigo memuji. "Jadi jangan bersedih."
"Aku tau, trimakasih" Jawab Aira.
"Kau tidak perlu terlalu khawatir. Yansen bukan orang jahat. Dia hanya.. Aku tak tau.. Dia hanya memiliki emosi yang kering. Dia juga uring-uringan sejak tadi. Kurasa itu juga berpengaruh padanya" Ucap Erigo berhati-hati. Ia tak ingin terdengar terlalu memihak.
Aira cemberut "Benarkah? Yansen cerita sesuatu padamu?" Tanya Aira penasaran.
"Dia tidak seterbuka itu. Tapi berhentilah khawatir. Mereka adalah dua orang yang sudah dewasa. Mereka pasti akan menyelesaikan masalahnya sendiri" Ucap Erigo mencoba menenangkan
"Baiklah" Jawab Aira.
Ada keheningan di ujung sana.
"Aku merindukanmu." Suara Erigo pelan.
Aira terdiam. Perkataan Erigo terlalu tiba-tiba.
"Aku sedang berada di dekat rumahmu. Maukah kau keluar sebentar dan menemuiku?" Pinta Erigo.
Aira menggigit bibirnya "Memangnya kau dimana?" tanyanya menimbang-nimbang.
__ADS_1
"Aku di taman dekat rumahmu"
"Baiklah. Aku sampai dalam lima menit" Ucap Aira mematikan sambungan telpon dan mengambil jaketnya lalu keluar.
Aira berjalan ke arah taman. Matanya tertuju pada seorang pria tinggi, memakai jaket hitam bertudung, topi dan masker untuk menutupi wajahnya. Dia berdiri bersandar pada sebatang pohon. Melipat tangan di dada serta menyilangkan kakinya. Bahkan siluetnya pun terlihat tampan dibawah cahaya lampu, Pikir Aira.
Aira berlari ke arah Erigo. "Sedang apa kau di luar sini?" Tanya Aira. "Dimana mobilmu" Tanyanya lagi karna tidak melihat kendaraan Erigo di manapun.
Erigo tersenyum melalui matanya. Mendekati Aira lalu pelan-pelan meraih tubuh mungil Aira ke dalam pelukannya. Erigo harus sangat berhati-hati. Karna jika tidak, Aira akan lari ketakutan dan ia akan kehilangan gadis itu. "Aku naik taksi" Ucapnya tak acuh.
Erigo melonggarkan pelukannya tanpa melepaskan Aira. Hanya mengurung gadis mungil itu di dalam lengannya. "Kau sudah makan malam?" Tanyanya.
Aira memasukkan kedua tangannya dalam kantong jaketnya. Sambil menunduk ia menjawab "sudah". Aira kemudian mendongak menatap Erigo. "Bagaimana denganmu?"
"Aku juga sudah" Ucapnya.
Erigo kembali memeluk Aira dengan lembut, sekilas mengayun-ayunkannya. Ia berbisik di telinga Aira "Aku sangat ingin menciummu, tapi aku tak bisa melepas masker ku di tempat umum".
Aira bergidik. "Kau orang yang mengerikan" Ucapnya mencoba melepaskan diri.
Erigo terkekeh "Tidak. Aku manusia normal" Ucapnya lagi. "Kau ada acara jumat malam?" Tanya Erigo melepaskan pelukannya.
Aira mendongak. Itu satu minggu lagi. "Kenapa memangnya?"
Aira tersenyum geli "Baiklah" Jawabnya.
Lama Erigo menatap Aira. Menelusuri pipi halusnya. Gadis ini berlari ke arahnya tepat lima menit seperti katanya. Tidak butuh waktu lebih lama untuk merias dirinya seperti wanita-wanita lain yang pernah dikenalnya. Aira hanya tampil apa adanya.
Erigo menyapu sejumput rambut dari wajah Aira dengan jemarinya. Pandangannya jatuh pada bibir Aira yang merah alami.
Matanya berkilat-kilat. "Sumpah Aira, aku bisa mati jika tidak melakukan ini" Ucapnya sambil menarik turun topinya, menundukkan kepalanya ke arah Aira.
Tepat sebelum bibir mereka bertemu, Erigo menarik turun maskernya. Erigo menciumnya. Lagi.
_____________________________________
Aira masih bisa merasakan Erigo di bibirnya. Masih bisa mengendus samar aroma maskulin Erigo saat menghirup udara ke paru-parunya. Aira tidak pernah mabuk dan tidak tahu bagaimana rasanya mabuk, tapi mungkin itulah yang sedang ia rasakan sekarang. Mabuk kepayang.
"Kau senang?" Ucap Winne tajam.
Aira terlonjak di tempatnya. Ia benar-benar lupa ada Winne di rumahnya. "Sialan kau Anantha" Desis Aira menyebut nama belakang sahabatnya. "Kau seharusnya bisa menyalakan lampunya" ucap Aira membelalak.
Winne tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Aira. "Maafkan aku Aira... Astaga wajahmu.. " Ucapnya mentertawakan Aira.
Winne belum lama terbangun karna haus. Ia keluar dari kamar Aira menuju dapur untuk mengambil segelas air. Winne tidak menemukan Aira di kamarnya maupun di seluruh bagian rumah, jadi ia menduga Aira sedang keluar. Mungkin ke mini market.
__ADS_1
Lalu Aira pulang kerumah dengan wajah merona, dan tingkah yang mencurigakan.
"Ceritakan padaku Maretha. Pria mana yang kau temui malam-malam begini?" Cetus Winne sembari menjatuhkan dirinya di sofa.
Aira meringis "Kau sendiri? Apa yang terjadi antara dirimu dan Yansen?" Tanya Aira mengalihkan pembicaraan dan duduk di samping Winne.
Winne mengangkat bahunya "Ceritanya panjang" Ucap winne mengelak.
Aira mengangkat dagu. "Dan aku punya banyak waktu sampai besok pagi, jadi aku akan mendengarkan cerita yang panjang itu" Tegas Aira tak mau kalah.
Winne menggigit bibirnya "Kami putus" Jawabnya. Singkat, padat, jelas.
Aira mengerjapkan matanya. Aira tidak tahu menahu soal Winne yang menjalin hubungan dengan Yansen. Tapi ia tidak akan bertanya soal itu sekarang. Ia hanya akan menjadi pendengar yang baik. "Apa penyebabnya?" Tanyanya.
Winne mendesah. "Kau tau Aira, Yansen sangat pencemburu dan posesif. Dia selalu mengeluh jika aku dekat dengan seseorang di perusahaan. Sementara dia sendiri selalu dekat dengan junior-junior wanitanya dan aku tidak pernah mengeluhkannya."
Tidak. Aira sama sekali tidak tahu itu, tentu saja. Yansen selalu tampak serius, berwibawa dan sulit di dekati. Aira tak menyangka ia punya sisi itu dalam dirinya.
Aira memperhatikan Winne. Gadis itu sangat sedih tadi siang. "Lalu apa yang terjadi?" Tanya Aira lagi.
Winne mengangkat bahunya. "Kami bertengkar hebat dan putus."
Aira diam.
"Aku yang meninggalkannya." Tambahnya cepat.
"Tentu saja" Aira mengangguk.
"Aku sudah tidak tahan lagi. Jadi aku.. Aku meninggalkannya." Suara Winne bergetar. "Lalu.. Dia.. Dia mulai menangis dan memohon." ucap Winne terisak.
Oh, Winne yang malang. Aira memeluk sahabatnya dengan sayang. "Tidak apa-apa. Kau boleh menangis. Menangislah sampai kau puas" Ucapnya lembut sembari mengusap-usap punggung Winne.
Disela isak tangisnya, Winne berkata. "Aku mencintainya Aira. Dan aku menyakitinya dengan meninggalkannya begitu saja" Winne menyambar tisyu dan membersit hidungnya.
'Cinta'. Itu sangat baru bagi Aira.
Aira tidak mampu berkata-kata. Hanya berusaha menenangkan sahabatnya. Aira sangat mengenal Winne. Gadis itu tidak mudah memberikan hatinya kepada pria manapun. Namun jika itu terjadi, Aira bisa memastikan bahwa itu bukan hubungan main-main.
Aira menatap Winne lekat-lekat. "Dengarkan aku Anantha. Aku sangat mengenalmu. Jika kau bilang kau mencintainya, kenapa tidak kembali saja padanya? Perbaiki hubunganmu dengannya. Kasihani pria malang itu. Maafkanlah dia." Bujuk Aira.
Winne menggeleng kuat-kuat. "Aku tak mau" Ucapnya kembali terisak.
Dia bilang 'tidak mau'. Tetapi Aira merasa bahwa kata-kata Winne bertentangan dengan hatinya sendiri.
"Tidak pernahkan terlintas sedikitpun olehmu bahwa.. Bahwa mungkin kau sedang membohongi dirimu sendiri?" Ucap Aira lembut.
__ADS_1