Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 73


__ADS_3

Aira tersentak bangun ketika mendengar pintu kamarnya di buka, sementara Erigo berjalan pelan dan mengendap-endap agar tidak menimbulkan suara yang dapat mengganggu Aira tanpa menyadari bahwa istrinya sudah terjaga.


Aira memperhatikan suaminya pulang mengenakan pakaian formal serba hitam. Sekilas Aira melirik ke arah jam dinding kamarnya yang menunjukkan pukul 1 pagi. Sementara Erigo masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, Aira duduk dan menyalakan lampu nakas.


Ketika Erigo keluar dari ruang ganti, Aira tersenyum menyambut suaminya. "Kau pulang larut sekali." Katanya.


Erigo merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan mendesah. Aira memiringkan kepalanya dan bertanya, "Ada apa? Kenapa kau terlihat sangat lesu? Apa terjadi sesuatu?"


"Aku lapar. Bisa buatkan aku makanan?" Ucap Erigo tanpa menjawab pertanyaan Aira.


Mereka turun ke bawah. Sementara Aira merebus mie instant, Erigo tiba-tiba berkata ingin belajar memasak. Aira menatap wajah Erigo. "Kau mau belajar memasak? Kenapa?" Tanya Aira penasaran.


Wajah Erigo tampak kaku. "Maksudku, aku harus belajar memasak. Ibuku pandai memasak, aku harus belajar memasak darinya."


"Kenapa?" Tanya Aira bingung. "Apa ada masalah?."


"Jika nanti aku merindukan masakan ibuku, akan menyenangkan jika aku bisa membuatnya." Kata Erigo muram. "Aku akan membuatnya untukmu dan anak-anak. Bukankah itu bagus?"


"Kau ingin belajar dari ibumu?"


"Iya, benar. Aku ingin belajar masak menu-menu yang biasa ibuku buat."


Aira merenung sembari memperhatikan suaminya makan tanpa selera. "Kenapa tiba-tiba sekali? Apa ada masalah?" Tanya Aira lagi.


"Begini," Erigo mendesah. "Aku menghadiri pemakaman ibu temanku hari ini." Ucapnya lambat-lambat. "Dan aku mendengar sesuatu."


"Apa yang kau dengar?" Aira memusatkan perhatian pada apa yang di katakan Erigo.


"Yah.. Seperti, 'kenapa aku tidak berfoto dengan ibuku ketika dia masih hidup?' 'Mengapa aku tidak menghargai masakan yang di buat ibuku?'. Hal-hal seperti itu. Sepertinya dia merindukan masakan ibunya."


Aira mendengarkan dalam diam. 'Hal-hal itu pasti mempengaruhi Erigo.' Pikir Aira, terutama ketika dilihatnya sekarang suaminya hanya mengaduk-aduk makanan di hadapannya. Erigo pasti banyak memikirkan kondisi kesehatan ibunya.


Sambil menunduk Erigo melanjutkan, "Dia menasehatiku, agar lebih menghargai masakan ibuku."


__________________________________


Keesokan harinya, Erigo dan Aira datang berkunjung ke rumah orang tua Erigo pagi-pagi. Erigo mengacak-acak dapur ibunya hingga sang ibu bertanya. "Apa yang kau lakukan?"


Erigo hanya mengangkat bahu. "Hanya mencari sesuatu yang bisa ku makan." Jawabnya.


"Ada sereal di kulkas, dan susu. Makan saja karena waktu makan siang masih lama." Jawab ibunya tak acuh.


Erigo merengut. "Tapi aku mau makan yang lain. Apa ibu tidak memasak sesuatu?"


Ibunya memandangnya seolah-olah dia orang aneh. "Biasanya kau sarapan sereal, roti, makan burger, ayam goreng. Lalu kenapa tiba-tiba mencari makanan lain?" Tanya ibunya sembari memasuki area dapur.


Ibunya mendekati kompor, membuka beberapa panci yang tertutup dan mengumumkan. "Ibu punya sup tulang sapi, sup iga sapi, dan sup lobak."


"Wah.. Ibu memasak sebanyak ini?" Tanya Erigo dengan mata membelalak.


"Ibu selalu masak banyak. Ada semur juga." Jawab ibunya. "Ibu tidak membuat sup pedas karena kau tidak mau memakannya. Kau bilang itu amis dan pedas." Keluh ibunya. "Kau tidak makan daging tumis pedas, karena itu juga pedas." Ibunya mendelik kesal, "Tapi Aira cerita pada ibu bahwa kau makan seafood pedas bersama Aira saat pertama kali kerumahnya. Dasar anak nakal."


Erigo meringis mendengar omelan ibunya. "Baiklah, aku bersalah." Cetusnya cepat.


"Jadi kau mau makan apa?"


"Mmm.. Nasi dan sup tulang sapi. Aku mau rumput laut kering." Ucap Erigo.

__ADS_1


"Kemarin-kemarin kau tidak mau rumput laut, beraninya kau minta rumput laut pada ibu sekarang, renungkan dulu sikapmu." Omel ibunya lagi tapi tetap menyajikannya pada Erigo. "Rumput lautnya sudah mau habis, ibu harus memanggangnya lagi."


Erigo menyantap makanannya. Sambil memandang ibunya yang tersenyum puas. "Ini harus di panggang dulu?"


"Tentu saja. Ibu memanggangnya setiap hari. Hanya dengan begitu ayahmu mau makan rumput laut, karena dia pilih-pilih makanan."


"Bagaimana cara memanggangnya?" Tanya Erigo.


"Ibu memanggangnya dengan mengoleskan sedikit minyak."


"Apa ibu akan memanggang rumput laut lagi hari ini? Jika ibu akan memanggangnya, aku akan membantu ibu."


"Membantu ibu dengan apa?" Ibunya tertawa. "Itu mudah di buat. Ibu bisa sendiri." Ucapnya lagi.


"Aku ingin melihat dan belajar."


"Belajar apa? Memanggang rumput laut?" Ibunya terkekeh geli.


"Tentu saja. Ibu bilang itu mudah. Jadi aku akan belajar yang termudah."


"Kenapa kau sangat penasaran? Makan saja." Cetus ibunya. Meski begitu, Hellena meninggalkan meja makan dan mempersiapkan bahan-bahan untuk memanggang rumput laut.


Setelah Erigo selesai makan, ibunya mengajaknya ke dapur. Hellena mengeluarkan tiga bahan. Setelah meletakkan wajan datar, ia menyalakan kompor dan menyesuaikan apinya.


"Begini caramu membuatnya." Ucap ibunya sembari memberi contoh. "Di sisi yang kasar ini, ibu mengoleskan minyak perila."


Erigo memperhatikan tangan ibunya yang mengoleskan minyak dengan gesit. "Lalu ibu hanya menaburkan garam. Lihat? Seperti ini." Lanjut ibunya lagi.


"Aku belum pernah melihat ini sebelumnya." Ucap Erigo lalu merogoh saku celananya dan mengambil ponsel. "Aku ingin merekam video."


"Kenapa kau merekam video? Lihat saja prosesnya."


Erigo memperhatikan ketika ibunya memanggang rumput laut yang sudah di bumbui tadi di atas wajan panas dan membolak baliknya. Warna rumput lautnya menjadi sangat cantik dan berkilat karena minyak. "Aku ingin mencobanya." Cetus Erigo.


"Itu harus di potong." Ibunya lalu memberikan yang sudah dipotong pada Erigo. "Cobalah. Rasanya berbeda."


Erigo mencobanya dan mengangguk-angguk. "Rasanya berbeda ketika baru di panggang. Ini renyah dan enak."


Sang ibu tersenyum melihat anaknya. "Aku akan coba memanggangnya."


Sang ibu menyerahkan tugas memanggang pada Erigo. Baru saja ia memanggang, Erigo sudah membuat rumput lautnya gosong di satu sisi. "Hei.. Bukan begitu cara memanggangnya. Posisinya harus datar, tidak boleh berkerut." Omel ibunya lagi.


Erigo cemberut sembari membolak balik rumput laut di atas wajan yang berasap. "Bukan salahku. Ini memang berkerut sejak awal." protesnya.


"Apa maksudmu? Rumput lautnya berkerut sejak awal?" Sang ibu tertawa.


Mereka menyelesaikan memanggang rumput laut selama tiga puluh menit dan membuat satu dus penuh. "Ini bisa habis dalam dua hari." Ucap ibunya.


Erigo membelalak terkejut. "Sebanyak itu hanya untuk dua hari?" Tanyanya tidak percaya. "Setelah semua pekerjaan ini?"


Ibunya memandangnya. "Bahkan setelah ibu memasak banyak makanan, kau masih saja mengeluh."


Erigo meringis lagi. "Apa yang akan ibu masak untuk makan siang?" Tanya Erigo sembari membersihkan meja dapur.


"Ada sesuatu yang kau ingin untuk ibu buatkan?" Tanya sang ibu.


"Aku ingin taoge." Ucap Erigo. "Waktu aku masih sekolah, ibu sering membuatkan aku taoge. Teman-temanku akan menukar lauk dengan taoge buatan ibu karena rasanya sangat enak."

__ADS_1


"Oh benarkah? Apa itu enak?" Ibunda Erigo tersenyum lagi.


"Benar. Itu sangat enak dan sepertinya sangat mudah dibuat, meskipun pasti ada tekniknya." Kata Erigo lagi. "Kurasa aku akan bisa belajar cara membuatnya jika ada instruksi dari ibu. Karena itu aku akan merekamnya." Ucap Erigo.


Lagi pula, video yang di rekamnya akan menjadi kenangan untuk semua orang termasuk dirinya dan ibunya. Karena itulah Erigo melakukannya.


Erigo mulai memasang kamera dan merekam ibunya yang sedang mencuci taoge. "Ibu, setelah mencuci taogenya, ibu berdandanlah sedikit."


"Kenapa? Apa ibu tidak cantik?" Tanya Helena sembari tertawa. "Apa ibu terlihat seperti penyihir sekarang?" Tanyanya lagi dan menertawakan dirinya sendiri.


"Aku akan merekam acara masak memasak bersama Hellena Galleni." Jawab Erigo terkekeh dan mendorong ibunya masuk ke kamar untuk berdandan.


"Kenapa ibu harus berdandan untuk membuat hidangan taoge?" Tanya ibunya geli.


"Dandan saja, tidak perlu berat-berat. Kita akan membuatnya menyenangkan." Cetus Erigo. Ia ingin ibunya terlihat cantik.


Setelah ibunya memoles sedikit riasan, mereka kembali memasak. Ibunya memasukkan minyak ke dalam wajan, Erigo mendelik dan mempertanyakannya. "Minyak?"


Sang ibu tidak menjawabnya alih-alih langsung memasukkan setumpuk taoge yang banyak kedalam wajan. "Apa itu tidak berlebihan?" Tanya Erigo lagi.


"Ini akan menyusut." Jawab sang ibu singkat lalu menutupnya dengan tutup panci.


Setelah taogenya menyusut, sang ibu melanjutkan memasukkan beberapa bumbu, kecap asin, bubuk cabai, pasta cabai, daun bawang iris dan bawang putih.


"Berapa takarannya? Kenapa ibu tidak bilang?"


Sang ibu terkekeh. "Ibu tidak tau. Berikan saja yang cukup." Jawabnya asal. "Lagi pula, para ibu biasanya tidak menakar bumbu masakannya." Ibunya tertawa melihat kebingungan Erigo. "Bukankah kau merekamnya?"


"Aku merekamnya dengan takaran setengah sendok sesuatu, atau dua sendok banyak dan semacamnya." Erigo meledak dalam tawa.


"Perhatikan ini." Ucap ibunya sembari terkekeh. "Jika semua bumbu sudah masuk, ini akan menjadi kering, jadi kau perlu mengaduknya agar tidak gosong." Ucap ibunya lagi.


Erigo kembali berkonsentrasi. Melihat warna merahnya yang menarik, Erigo mengambil sedikit untuk di cicipi. "Wah.. Ini dia ibu. Persis seperti yang ku makan waktu masih sekolah."


"Benarkah? Apa sudah enak?" Ibunya ikut mencicipi dan mengangguk puas. "Ini enak." Putusnya. "Tentu saja, karena orang yang memasak masih sama. Ibumu belum berubah." Ucapnya lagi.


Erigo mengangguk dan tertawa.


"Baiklah, ibu sudah selesai." Seru ibunya sembari menaburkan biji wijen dan mematikan api kompor. Erigo merekam hasil masakannya dan tersenyum puas.


"Ibu." Seru Erigo bersemangat. "Ayo kita buat satu hidangan lagi."


"Tidak mau. Ibu kepanasan." Ucap ibunya sembari melepaskan celemek masak.


"Tidak apa-apa. Ibu bisa melakukan apapun hari ini, aku akan membantu ibu."


"Tidak mau. Apa yang kau lakukan? Sana pergi." Usir ibunya sembari tertawa.


"Aku tidak bisa kemana-mana. Istri dan anak-anakku sedang tidur di kamar atas." Ucapnya polos membuat ibunya tertawa lagi.


"Benar juga." Ucap ibunya singkat.


"Ada bahan apa lagi di kulkas?" Tanya Erigo. "Apa kita juga harus masak makanan kesukaan ayah?"


"Ada kepiting biru beku." Ucap ibunya mengangguk. "Kita bisa membuat kepiting pedas untuk ayahmu. Dia sangat pilih-pilih makanan."


"Tidak apa-apa. Aku akan membantu ibu."

__ADS_1


Setelahnya, mereka kembali ke dapur. Erigo membantu sang ibu memakai celemek masak lagi sambil terus merekam. Ibu dan anak ini menikmati kegiatan masak mereka bersama dan sang ibu menjadi lebih sering tertawa. Mereka membuat kenangan yang indah hari ini.


__ADS_2