Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 36


__ADS_3

Sinar matahari pagi yang menyilaukan menembus jendela membuat Aira terbangun. Perlu beberapa saat baginya untuk membiasakan matanya menerima cahaya. Aira menghirup masuk udara kedalam paru-parunya dan tersenyum. Tidurnya sangat nyenyak


"Selamat pagi tuan putri."


Suara berat seorang pria mengagetkannya membuatnya terduduk. Seketika ia teringat sedang dimana dan bersama siapa. Dengan cepat ia memeriksa pakaiannya yang masih dalam keadaan lengkap tanpa cela.


"Waahh... Aku merasa sangat tersinggung sekarang." Ucap Erigo. Seulas senyum jahil menghiasi wajah tampannya. "Kau berpikir aku akan mengambil keuntungan dari seorang gadis yang tertidur?" Erigo menatap Aira lekat dengan sorot menuduh.


Ia tidak tau harus merespon dengan cara apa. "Maafkan aku. Refleks." Ucapnya pelan.


Aira gelagapan menyadari penyebab tidur nyenyaknya adalah rengkuhan tangan Erigo. Matanya bertatapan sekilas dengan milik Erigo dan detak jantungnya jadi semakin berantakan karna Erigo terlihat luar biasa tampan dan sexy saat bangun tidur.


"Refleks yang bagus." Ucap Erigo. "Kekasihku menjaga dirinya dengan baik." Ucapnya mengangguk.


Aira tidak berani menatap Erigo. "Maafkan aku. Aku belum pernah terbangun disamping seorang laki-laki, jadi aku terkejut mendengar suaramu." Ucapnya jujur. "Ini pertama kalinya." Aira mengakui dan wajahnya memerah. Ia merasa malu karna Erigo melihat wajah polosnya saat bangun tidur.


Erigo tersenyum dan membelai rambut Aira menyelipkan jari-jemarinya di antara helaian lembut rambut Aira. "Aku juga. Ini kali pertamaku bangun tidur dan mendapati seorang wanita di sampingku dengan rambut acak-acakan di atas bantal dan lenganku." Ucap Erigo.


Oh Aira merasa jantungnya akan meloncat keluar. Bukan karena dingin, tapi belaian Erigo membuat bulu-bulu di tubuhnya meremang. Aira berharap semoga Erigo tidak melihat semua pori-pori di kulitnya terbuka.


Erigo menatapnya tajam. "Kau harus melihat tampilan dirimu di depan cermin sayang. Dengan rambut tergerai kusut masai dan wajah polos. Kau sangat sexy hingga orang lain bisa mengira kau baru saja menghabiskan malam yang panas bersamaku." Ucap Erigo terang-terangan.


Aira membelalak dengan gugup merapikan rambutnya yang kusut dengan jarinya. Ia memaksakan diri untuk tertawa. "Aku pasti terlihat berantakan. Inilah akibatnya jika tidur dengan rambut basah." Ucapnya.


"Kau terlihat cantik dan sangat gugup." Ucap Erigo dengan suara rendah dan serak.


Erigo menaikkan sebelah bahunya. "Aku menyukainya. Kau tampak sangat menggoda. Aku hampir lepas kendali." Ucapnya lagi.


Kali ini Aira bergidik ngeri membuat Erigo tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi yang Aira tunjukkan. "Astaga Aira. Aku tak bisa berhenti menggodamu."

__ADS_1


"Hentikan itu. Kau tidak lucu." Ucapnya dan mencoba bangkit dari tempat tidur.


Erigo dengan cepat menariknya kembali ke atas kasur, menindihnya dan mencium bibirnya, menyesapnya kuat-kuat dan mengecupnya. "Setidaknya aku harus mendapatkan hadiah karna sudah berkelakuan baik sepanjang malam." Ucap Erigo lalu bangkit berdiri dan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya.


Sedangkan Aira menganga terkejut. Bibirnya terasa bengkak dan kebas padahal ini masih pagi.


____________________________


Aira dan Erigo duduk berhadapan menanti sarapan mereka di antarkan. Bibi pemilik penginapan ini sudah membuatkan bubur untuk santapan pagi mereka. Aromanya sangat gurih dan menggoda selera. Padahal mereka sudah makan kenyang tadi malam sebelum tidur, tetapi aroma nikmat membuat perut mereka kembali merasa lapar.


Wanita itu menghidangkan 2 mangkuk bubur yang masih mengepul dalam udara pagi yang dingin, di ikuti 2 cangkir kopi panas yang berasap dan wangi sekali. Paginya sangat sempurna, pikir Aira. Aira tersenyum puas.


"Oh, begini. Kalian tidak sedang bertengkar kan?" Tanya wanita tua pemilik penginapan memulai pembicaraan.


Erigo tampak sedikit terkejut oleh pertanyaan itu, namun ia tersenyum. "Tidak bibi. Kami baik-baik saja." Ucap Erigo.


"Oh. Kalau begitu, Kalian pasti tertidur pulas tadi malam." Ucap wanita itu mengangguk-angguk dan menyunggingkan senyum ramah.


Wanita tua itu tertawa malu seraya mengibaskan tangan di depan wajahnya. "Bukan apa-apa. Hanya saja, sering kali beberapa pasangan yang menginap disini, mereka__kau tau__mereka membuat suara-suara pada malam hari." Ucapnya dengan nada di tarik-tarik.


Aira memiringkan kepalanya dan mengernyit sedikit. Bingung karna tidak menangkap maksud sang bibi. "Suara-suara apa?" Tanya Aira penasaran. Ia sudah membayangkan hantu dan hal-hal seram lainnya.


Wanita itu tertawa malu. "Eiii__itu__kau tau__suara-suara saat malam hari. Membuatku tidak bisa tidur karna kamarku di belakang. Dan dinding rumah ini tidak kedap sama sekali." Ucapnya lagi.


Erigo yang lebih dulu memahami langsung menanggapi. "Ohhh__suara-suara itu. Aku mengerti." Ucapnya dan tertawa. "Tidak bibi, kami tidak melakukannya. Kami hanya beristirahat." Ucapnya lagi menganggukkan kepala dengan sopan.


Aira menganga lebar hingga harus menggunakan kedua tangannya untuk menutup mulut. Ia memahaminya terlambat.


Wanita itu tertawa lagi. "Oh aku benar-benar tidur pulas tadi malam dan tidak terbangun hingga pagi. Karna itu aku bertanya. Ku pikir kalian mungkin bertengkar hingga tidak melakukan apapun. Ku rasa kalian memang hanya ingin beristirahat." Ucapnya lagi lebih seperti meyakinkan dirinya sendiri. "Aku minta maaf. Silahkan di makan sebelum buburnya dingin." Ucapnya lalu menghilang ke dapur.

__ADS_1


Erigo menatap Aira dengan perasaan geli. Ia menahan tawanya dengan tersenyum hingga wajahnya yang putih bersih terlihat memerah.


Aira sendiri mengepalkan tangannya dengan gemas. Matanya membesar dan alisnya terangkat tinggi. "Aahh.. Itu.. Ow. Oh my God!!" Ucapnya pelan dan tertahan. Ia menangkupkan kedua tangannya menutupi wajahnya yang merona dan tertawa dibaliknya. "Astaga. Kenapa aku sangat malu" Ucapnya menatap Erigo yang terkekeh geli.


Erigo mencondongkan tubuhnya kedepan, matanya berkilat-kilat jahil. "Ku rasa seharusnya kita melakukannya saja tadi malam agar tidak di curigai sebagai pasangan yang bertengkar." Ucap Erigo dengan berbisik. Kemudian ia mentertawakan ucapannya sendiri.


Aira membelalak. "Kau sangat konyol." Bisik Aira lalu terkikik pelan.


Mereka berdua setengah mati berjuang agar tidak tersedak saat makan karena tidak bisa berhenti tertawa. Mereka menertawakan kepolosan sang bibi pemilik penginapan, juga menertawakan betapa menyedihkannya keadaan mereka bagi sebagian orang yang mengambil pilihan yang berbeda.


Sekali lagi Aira dan Erigo menorehkan sejarah paling konyol dalam hubungan yang mereka jalani setelah tragedi bersembunyi di dalam lemari.


Mereka masih terus tertawa saat di perjalanan pulang. "Aku tak akan pernah datang kesana lagi." Ucap Aira. "Aku tak percaya dia sanggup menanyakannya." Aira menggeleng-gelengkan kepalanya.


Erigo terkekeh di sampingnya. "Pemiliknya sangat usil." Ucap Erigo.


Aira tertawa lagi. "Aughh... Pipiku sakit sekali." Ucapnya. "Terlalu banyak tertawa membuatku lelah. Tapi aku mengasihaninya, bibi itu pasti merasa terganggu sepanjang malam."


Erigo membelai kepala Aira. "Dia harus memasang pengumuman bahwa pengunjung yang menginap dilarang bercinta karna ruangan yang tidak kedap suara." Erigo terbahak-bahak, begitu pula Aira.


Aira menguap sekali lagi.


"Tidurlah. Akan ku bangunkan saat kita sudah sampai." Ucap Erigo lagi dan Aira mengangguk.


Selang sepuluh menit, Erigo melirik Aira yang tertidur di bangku penumpang. Ia tersenyum samar. Ia teringat bagaimana tadi malam tubuh mungil Aira melekat padanya seperti puzzle. Sangat cocok, sangat pas dan membuatnya nyaman.


Erigo berjuang agar tetap waras karna hanya dengan mengingatnya mampu menaikkan gairahnya. Ia sudah melewati malam yang berat karna menahan hasrat. Sementara Aira dalam pelukannya tertidur pulas seperti bayi. Bisa-bisanya, pikir Erigo.


Aira sangat tepat berada dalam dekapannya, dan jika sekali saja ia mendapatkan Aira di tempat tidurnya, bercinta dengannya, ia tau dengan pasti bahwa ia tidak akan bisa melepaskan Aira lagi.

__ADS_1


Hanya ada satu cara untuk mendapatkan keinginannya terhadap Aira. Pernikahan. Erigo sudah mulai memikirkannya. Perlahan tapi pasti, ia ingin membawa hubungan ini ke tingkatan yang lebih tinggi. Dengan begitu ia akan memiliki Aira seutuhnya, hanya untuknya.


__ADS_2