
Aira duduk di samping Erigo di dalam ruang tunggu dengan tangan tercengkram kuat di lengan Erigo. Kebiasaan menggigiti ujung ibujarinya tidak bisa di hilangkan terutama dalam keadaan panik seperti sekarang.
Erigo memandangnya dengan tatapan iba. "Kau akan baik-baik saja sayang." Katanya. "Kau gadis pemberani dan sangat tangguh Aira. Aku bangga padamu." Ucap Erigo lagi.
Tadinya Aira sudah memutuskan untuk memerangi Jimmi, namun keberaniannya surut perlahan-lahan. Sebenatnya perut Aira sudah melilit, namun kata-kata Erigo yang bangga padanya menyebabkan secercah keberanian muncul lagi dalam diri Aira. Sebentar lagi ia akan masuk dengan kepala terangkat kedalam ruangan penuh pers.
Alis Erigo bertaut menatap Aira. "Sayang, apa kau baik-baik saja?" Tatapan cemas Erigo menusuknya.
Aira menggeleng. Tekadnya memamg sudah bulat, tapi mendengar hiruk pikuk samar di ruangan lain itu, Aira tidak yakin. Pasti ramai sekali. "Aku__tidak. Ini soal aku dan pers. Aku tidak suka dikerumuni." Aira menghembuskan nafas. Matanya berkedip-kedip seolah berusaha untuk tetap sadar.
Erigo tersenyum lembut. "Kita tidak akan di kerumuni sayang. Ada pembatas, dan beberapa pengawal. Orang-orang Airez. Kau bisa mempercayai mereka." Jemari Erigo naik turun di lengan Aira berusaha menenangkan. Sementata Aira mengangguk-angguk sembari menguatkan diri.
Erigo menggenggam tangan Aira. "Sekarang, ayo kita hadapi mereka." Ucapnya tenang. Jantung Aira berdetak cepat. Ia menegakkan punggungnya dan mengangkat dagu mengambil kembali kendali dirinya.
"Itu baru gadisku." Ucap Erigo.
________________________
Ditempat lain, Jimmi sedang menikmati membaca berita-berita yang mempermalukan Erigo dan segera merasa senang. Suasana hatinya sedang baik hingga dia tidak memperhatikan bahwa sekretarisnya tidak masuk kerja.
Hingga ketukan panik di pintu membuatnya menoleh. Ajudannya yang berwajah tirus tampak lebih pucat saat memasuki ruangan. "Mr.Jimmi, Erigo dan Aira sedang melakukan wawancara dan mengatakan sesuatu tentang__mmm__pe__pelecehan__" Ajudannya nampak takut-takut dan kata-katanya hanya dibiarkan menggantung.
Jimmi menyambar remot tv di ruangannya dan menyalakannya. Keningnya mengernyit begitu dalam ketika mendengar penuturan Aira dan Erigo. Dan yang paling memgejutkan adalah adanya rekaman suara dan juga video cctv ruangannya.
Kepanikan dan kemarahannya meningkat seketika menghapuskan sisa-sisa senyum licik yang tersungging sebelumnya. "Darimana mereka mendapatkannya?" Tanyanya pada sang ajudan yang tertunduk takut.
"Seseorang mengambil rekaman cctv di ruang keamanan kemarin malam__atas suruhan__anda." Jawabnya terbata-bata.
Jimmi berdiri dan meletakkan tangannya di pinggang. "Suruhanku? Untuk apa sialan?" Ucapnya mengumpat. "Untuk apa aku menyuruh orang mengambilnya? Siapa? Katakan padaku siapa yang mengambilnya?!" Ucapnya marah. Wajahnya memerah karena panik.
"Sekretaris anda mengambilnya. Dia bilang untuk di hancurkan atas perintah anda dan tidak hanya rekaman kemarin, tapi juga beberapa rekaman lain." Sang ajudan memberitahukan.
__ADS_1
Jimmi menyipit marah. "Sekretarisku? Belinda? Panggil Belinda, suruh dia kesini." Ketusnya.
"Dia tidak ada. Dia tidak masuk."
Jimmi memiringkan kepalanya. Ia memang tidak terlalu memperhatikan tadi karena sibuk menertawakan berita. Ia baru teringat amplop coklat di atas file-file bertumpuk yang disiapkan sekretarisnya dan belum di sentuhnya sejak pagi. Amplop itu terlupakan dan tertutup beberapa koran dan majalah. Jimmi memgambil langkah panjang dan menyambarnya. Isinya surat pengunduran diri Bellinda. Itu menjelaskan mengapa telpon di meja sekretarisnya berbunyi sejak tadi dan dibiarkan tanpa ada yang menerimanya.
Jimmi murka. Ia memaki, meremukkan kertas itu dengan tangannya lalu melemparnya ke lantai. "Kau bilang, gadis sialan itu mengambil beberapa rekaman? Dia memberikannya pada mereka?" Jimmi tertawa frustasi. "Temukan dia dan bawa dia padaku. Aku akan memberi ****** itu pelajaran." Ucap Jimmi berapi-api.
Ajudannya mengangguk sekilas dan berlalu ke luar ruangan. Tak lama pria tirus itu kembali dan melapor. "Maaf mr. Jimmi, sepertinya orang-orang kita tidak bisa menemukannya. Rumahnya sudah kosong pagi ini." ucapnya menunduk.
Jimmi meradang dan menendang tulang kering ajudannya yang langsung meringis kesakitan. "Apa saja yang kau lakukan hah!? Apa aku menggajimu sia-sia? Kau sangat tidak becus! Hanya segitu kemampuanmu?" caci nya. Jimmi menarik kerah sang ajudan. "Sebaiknya kau cari cara untuk membereskan hal ini, atau aku akan membereskanmu lebih dulu." Geramnya lalu mendorong dan mengibaskan tangan menyuruh ajudannya pergi.
Jimmi melangkah ke meja kerjanya dan mencabut kabel telpon karena benda itu sudah tidak berhenti mengeluarkan bunyi nyaring sejak beberapa saat yang lalu.
Seseorang mengetuk pintu kantornya lagi, kali ini bawahannya tergesa-gesa mendekatinya, menyampaikan kekacauan lain di perusahaannya.
Jimmi menarik napas gusar di depan komputernya melihat angka-angka sahamnya bergerak turun. Pria itu mengamuk dan melempar barang. "Sialan!!"
___________________________
Segalanya menjadi kekacauan di hadapan Jimmi. Senyum kesombongan telah hilang sepenuhnya dari wajahnya. Sahamnya jatuh di depan matanya, Kondisi perusahaannya memburuk. Meski begitu, kesadaran tetap tidak ada dalam kepalanya. Jimmi dipenuhi kemarahan dan kekesalan pada Erigo, Aira dan Airez.
Pemberitaan negatif tentang dirinya tidak terelakkan. Sudah menjadi buah bibir masyarakat dan banyak orang memakinya.
Lalu ada tuntutan hukum dari perusahaan Airez dan tuntutan berkaitan pelecehan dari Aira dan Erigo, lalu tuntutan lain datang dari para wanita yang bahkan sudah di lupakannya.
Jimmi tertawa frustasi di dalam ruangannya yang kacau. Sekretarusnya menghilang membawa bukti-bukti pelecehan yang tak terbantahkan. Pria itu mengusap rahangnya yang kasar karena sudah lama tidak bercukur. Ia terlihat kacau saat polisi datang membawa surat perintah penahanannya.
'Young Print House jatuh begitu saja bersama pemiliknya' begitulah bunyi pemberitaan yang menyertai foto-foto jimmi yang kacau saat di giring polisi. Sungguh tragis, betapa uang tidak bisa membeli moral seseorang.
Aira bersedekap disamping Kei. "Oh, aku lega Kei. Kejadian ini sangat mengerikan." ucapnya.
__ADS_1
Kei memeluknya. "Kau wanita yang kuat Aira. Aku salut padamu." ucap Kei lagi. "Bagaimana kesan-kesanmu selama berurusan dengan media?" tanya Kei sambil tertawa.
Aira tergelak pelan. "Aku tak akan pernah terbiasa Kei. Aku bahkan bukan selebriti atau semacamnya." Aira memikirkan kejadian beberapa hari ini, jika bukan karena dikuatkan orang-orang sekitarnya, Aira pasti sudah bersemedi di suatu tempat dan tak bisa keluar lagi.
Aira memainkan ujung rambutnya. "Rambutku sudah terlalu panjang Kei, dan tidak terawat."
Kei mengambil segenggam di tangannya dan mengamatinya. "Kau butuh perawatan maksimal Aira. Rambutmu sudah menangis. Kita harus melakukan sesuatu yang menyenangkan pada helaian-helaiannya." Kei mengangguk-angguk lalu melanjutkan. "Kita butuh tenaga professional yang bisa datang dan memanjakannya seharian." ucapnya lagi.
"Telpon mereka, suruh datang. Aku akan memotong rambutku." ucap Aira. Ia ingin penampilan yang lebih ringan dan berbeda.
Kei melotot dan menggeleng. "Tidak boleh. Kau akan menikah dan kau membutuhkan rambut itu untuk malam pertamamu yang panas." ucap Kei.
Aira memekik dan tertawa hingga kepalanya tersentak ke belakang. "Keiiii.... Kau sangat mesum." ucapnya.
Kei tertawa genit lalu memajukan bahunya dengan gaya sensual. "Oh Aira yang polos. Para pria menyukainya sayang. Percayalah padaku." ucapnya dan melayangkan kecupan angin ke arah Aira kemudian terkikik menertawakan kata-kata dan tingkahnya sendiri.
Aira menganga lalu memukul sepupunya. "Hei. Katakan padaku, apa saja yang kau lakukan dengan Devano di apartemennya? Kalian sudah melakukannya?" tanyanya terkikik geli.
Kei terbahak-bahak. "Tidak mungkin aku menceritakannya pada orang suci macam kau Aira." Kei membulatkan matanya. "Jangan mengadu pada ibuku. Dia akan menggunduliku jika dia tau." ucapnya lagi.
Aira memukulinya lagi. "Gadis nakal!" ucapnya sambil tertawa. "Aku bahkan tidak bisa menghakimi pilihanmu." Aira menggeleng frustasi. "Gejolak macam itu sangat sulit di kendalikan. Aku merasa bersalah pada Erigo." ucapnya lalu tertawa terbahak-bahak. "Ya Tuhan Kei, aku tak percaya aku membicarakan hal seperti ini denganmu."
"Kenapa memangnya? Aku tidak keberatan." ucap Kei. "Jadi kapan pernikahannya akan dilaksanakan? Ku dengar kalian tidak ingin mengundang banyak orang." Kei beranjak ke dapur untuk mengambil sekantong keripik dan kacang.
"Aku ingin mengadakan pernikahan pada musim semi, itu masih tahun depan." ucap Aira.
"Oh aku suka sakura." cetus Kei.
Aira mengangguk setuju. "Tapi Erigo sepertinya tidak mau menunggu." ia terkekeh. "Kami mempertimbangkan pernikahan pada musim gugur." ucapnya lagi.
Kei tampak tertarik. "Oh aku juga suka daun maple kemerahan yang berguguran. Menikahlah, aku akan menyanyi di hari pernikahanmu." ucapnya tersenyum. "Tapi sebelum itu, mari kita lakukan sesuatu untuk rambutmu." ucapnya selagi menekan ponselnya.
__ADS_1
Aira mengambil ponselnya sendiri sambil berkata. "Kita harus mengajak Winne dan Zora. Makin banyak orang, makin menyenangkan." katanya. Aira bersyukur ada banyak orang yang menyayanginya hingga semua perubahan yang terjadi dalam hidupnya menjadi tidak terlalu berat di jalani. Siapa yang menyangka Aira akan terlibat dengan media dan menjadi berita utama yang mempengaruhi harga saham?