Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 6


__ADS_3

Aira membuka matanya. rasanya ia sudah tertidur lama sekali. Aira mengedarkan pandangannya dan menyadari ia berada di kamarnya sendiri. Kepalanya sudah tidak sakit lagi dan tubuhnya terasa lebih baik. Hanya saja ia merasa sangat basah dan lengket. Ia banyak berkeringat di dalam selimutnya.


Ia memutar kembali memorinya. 'Aku ke apotek, lalu pulang, aku pusing, tapi aku berusaha membuka pintu. Benar... Lalu apa?' Ucapnya dalam hati. 'Aaahh iya.. ' Aira mengingat bahwa dirinya merasa akan jatuh, ia menutup matanya mempersiapkan rasa sakit, tapi seketika Aira merasa ada yang menahan tubuhnya dan memanggil namanya. 'Suara siapa? Sepertinya aku mengenalnya'


Aira masih berfikir sembari berusaha duduk di tempat tidurnya dan bersandar. Dalam cahaya lampu yang minim, Aira menangkap bayangan seseorang duduk di sofa sudut kamarnya di ujung kaki tempat tidurnya. Aira berusaha meraba samping bantalnya tapi tidak menemukan kacamatanya. Ia kembali fokus melihat ke arah sofa. 'Ada siapa disana?' Pikir Aira. Jantungnya seperti akan meledak karena takut.


Aira membesarkan matanya untuk melihat lebih jelas. Aira mengenalinya. 'Erigo?' Batin Aira.


Bersamaan dengan itu, Erigo juga terbangun, mata mereka bertemu. Tapi mendadak Erigo berteriak padanya.


Teriakan Erigo mengagetkan Aira. "AaaAaaSsstaga Erigo!!" Teriak Aira hampir bersamaan. Aira terlonjak ditempatnya sama terkejutnya dengan Erigo. Ia mendengar Erigo marah dan mengumpat padanya.


"Ya Tuhan Erigo. Telingaku nyaris berdarah" Ucap Aira berusaha menenangkan dirinya.


Kemudian Aira mulai tertawa. Aira mengangkat telunjuknya ke mulut "Kecilkan suaramu.. Maafkan aku.. Aku tak bermaksud menatapmu". Ucap Aira disela tawanya.


Erigo berjalan gelisah nyaris meninju dinding. Tekanan darahnya naik. "Kau bukan menatapku Aira, kau melotot, kau membuatku takut" Ucap erigo dengan nada yang sudah di turunkan sedikit. Ia masih marah. Kepalanya berdenyut.


Aira menenangkan dirinya. "Aku tak bisa menemukan kacamata ku. Karna itu aku seperti melotot padamu.. Sorry... " Ucap Aira namun gagal menahan tawanya. "Kau baik baik saja? Kau harus melihat wajahmu sendiri" Ucap Aira tertawa sambil bertepuk tangan seperti anjing laut. Ia benar-benar terhibur melihat tingkah konyol Erigo.


Erigo menggeleng. "harusnya aku yang tanya, apa kau sudah baik baik saja? Dan tolong berhentilah tertawa. Ini tidak lucu Aira, aku hampir mati. " Kata Erigo mendekati tempat tidur Aira dan memegang dahi nya.


Aira berusaha menghentikan tawanya. "Baiklah.. Aku baik-baik saja" Ucap aira tersenyum. "Trimakasih sudah menjagaku" Ucapnya tulus.


"Mmm... Sepertinya memang sudah baik-baik saja" Ucap Erigo menatap Aira. "Kepalaku jadi sakit gara-gara kau" Kata Erigo.


Aira tersenyum jahil. "Jadi kau takut padaku?" Godanya.


"Jangan konyol Aira. Aku hanya terkejut" Erigo menekan telunjuknya di kepala Aira kemudian berdiri. "Kau harus makan" Ucapnya.


"Mmm... Sebenarnya, aku harus berganti pakaian" Ucap Aira menarik selimutnya. Bajunya basah dan lengket karna keringat yang keluar seiring suhu tubuhnya yang kembali normal.


"Bisakah kau keluar duluan? Nanti aku menyusul" Pinta Aira.


Erigo mengerti, Aira memang banyak berkeringat dari tadi dan itu pasti tidak nyaman. "Baiklah.. Lagipula aku harus menghangatkan buburnya" Ucap Erigo kemudian pergi menuju dapur.


'Apa dia bilang bubur?' Pikir Aira sambil membersihkan tubuhnya di kamarmandi dan berganti pakaian. Ia memakai kaos oversize berwarna lilac dan celana pendek ungu pekat. Menggulung asal rambutnya, lalu mengenakan lagi kacamatanya.


Aira menyempatkan diri menarik sprei dan selimutnya yang juga basah. Ia akan menggantinya nanti.


"Apa kau bilang bubur?" Tanya Aira pada Erigo yang sedang meletakkan 2 mangkuk bubur di meja ruang tamu.


Erigo menatap Aira yang tampak lebih segar "benar.." Ucapnya singkat. Aira terlihat cantik dengan rambut digelung.


"Kau yang memasak?" Tanya Aira sambil duduk.


"Mmm.." Jawab Erigo menyilangkan tangannya di dada.


Aira menatapnya. "Kenapa 'mmm'..?? Kau masih marah padaku?" Tanya Aira


Erigo duduk disamping Aira "tidak.. Ayo makan.. Aku lapar" Ucap Erigo.


Aira mulai menyendok buburnya. "Wahh... Ini enak.. Kau pasti jago memasak" Puji Aira tersenyum memberikan jempolnya.

__ADS_1


Erigo menggeleng "Aku bisa.. Tapi tidak ahli.. Hanya memakai bahan-bahan yang ada, dan lagi, apa susahnya membuat bubur?


Kau punya banyak bahan makanan. Kau suka memasak?" Tanya Erigo sambil makan.


"Tidak suka.. Hanya harus.. Jika tidak memasak, aku mau makan apa?" Ucap Aira mengangkat bahunya.


Erigo hanya tersenyum mendengarnya.


Erigo menatap Aira. "Apa yang kau lakukan sampai kau sakit dan pingsan?" Tanya Erigo. "Bukankah kau libur selama 2 minggu?" Tanya nya lagi.


Aira mengangguk. "Mmm... Aku libur.. Tapi bukan liburan" Ucap Aira tertawa "aku pergi ke luar kota untuk mencari beberapa referensi dan membeli beberapa pakaian dan aksesoris yang kupikir akan sesuai konsep album" Ucap Aira.


"Kau tidak beristirahat?" Tanya Erigo.


"Tidak sempat" Ucap Aira. Melihat Erigo akan membuka mulutnya, Aira langsung menyela "Aku tau aku salah.. Jangan menghakimiku. Aku tak akan mengulanginya" Ucap Aira mencegah Erigo menceramahinya.


"Lalu apa yang kau lakukan di depan rumahku?" Tanya Aira.


"Kau mengalihkan pembicaraan, Aira" Ucap erigo namun tetap menjawab "aku baru saja keluar dari rumah Devano" Jawab erigo.


"Lalu sejak kapan kalian bertetangga?" Erigo balik bertanya.


Aira menghembuskan nafas panjang dan bersandar "sejak hari pertama aku bekerja" Katanya cemberut.


"Apa karna itu dia judes padamu?" Tanya Erigo.


Aira mengangkat sebelah bahunya. "Tidak juga.. Aku dengar dia memang begitu pada semua orang baru" Jawab Aira. "Dan dia tidak tau sampai aku ketahuan.. Begitu kira-kira" Jawab Aira.


Erigo mengingat kejadian dua minggu lalu, "aahh...jadi karna itu Devano menyeretmu saat selesai makan malam kemarin? " Tanya Erigo.


Erigo memiringkan kepalanya berfikir "mmm... Kurasa itu sebelumnya..Kulihat dia menjadi lebih ramah padamu akhir-akhir ini" Kata Erigo.


Aira menggeleng "Aku tak begitu memikirkannya. Dia sepertinya suka mencari masalah denganku" Ucap Aira lalu mereka tertawa.


Aira bangkit membereskan bekas makan mereka "kau istirahatlah.. Aku akan membereskan semuanya"


Erigo tersenyum "aku memang mengantuk" Ucap Erigo sambil membaringkan tubuhnya di sofa.


Sudah pukul 6 pagi. Aira sudah membereskan bekas makan mereka dan juga membuat sarapan. Erigo tampak tertidur nyenyak di sofa ruang tamu.


Ia membiarkannya karena memang tidak ada jadwal apapun pagi ini dan Erigo pasti kelelahan setelah semalaman merawatnya.


Aira bersiap pergi ke studio Mousent karna ingat harus membereskan barang-barang yang ditinggalkannya kemarin.


Ia berangkat pukul setengah 8, berjinjit keluar ruangan agar tak membangunkan Erigo. Ia menuliskan catatan dan meletakkannya di meja.


'TIMAKASIH TELAH MERAWATKU. MAKANLAH SEBELUM KELUAR'


Aira menyiapkan telur rebus, roti bakar, selai beragam rasa dan segelas kopi di meja makan.


_________________________________________________


Setelah Aira keluar, barulah Erigo membuka matanya. Ia sebenarnya sudah terbangun sekitar 15 menit yang lalu karna aroma kopi dan aroma lain yang menarik penciumannya.

__ADS_1


Sepertinya parfum Aira. Aromanya segar, manis, ringan dan tipis. Bercampur aroma sabun strawberry dan shampoo beraroma sama. 'I love strawberry' pikirnya.


Ia sengaja tidak membuka mata untuk menghindari kecanggungan. Atau karna ia tak ingin pergi? Erigo tak bisa memutuskannya. Ia hanya tak ingin bangun.


Erigo duduk melamun selama 15 menit lagi karna kebiasaan, lalu tersenyum melihat catatan di atas meja. Ia menuju meja makan dan menyantap sarapannya.


Ia menatap sekelilingnya, didominasi warna pastel biru, pink, kuning dan tosca, ada lilac juga. 'Apa dia anak kecil?' Pikir Erigo. Lalu ia teringat pakaian Aira yang juga berwarna lilac tadi malam.


Erigo tersenyum 'cocok untuknya' pikirnya lagi. Ia menyelesaikan sarapannya, mencuci bekas makannya dan mengambil jaketnya. Ia melangkah ke pintu depan.


Anehnya, kakinya terhenti tepat di depan pintu.


Bagaimana jika Devano mendadak keluar dari rumahnya, dan bertemu di depan pintu.


Haruskah dia menyapanya atau mengatakan pada Devano untuk langsung saja pergi ke neraka.


Menyedihkan memang. Situasi ini membuatnya berpikir kekanak-kanakan. 'Kenapa aku begini? Apa aku membuat kesalahan? Kenapa aku takut keluar? Sialll... Ini konyol sekali' pikirnya sambil tertawa sendiri.


Ia menelfon Devano.


"Halo, kau dimana?“ tanya Erigo


"Dirumah.. Kenapa kau menelfonku?" Tanya Devano dengan suara berat khas orang bangun tidur.


"Tidak ada.. Kupikir kau sudah mau berangkat." Ucap Erigo asal.


"Kau gila!? Aku mengantuk!! Sudah ya! Jangan menelponku, kau konyol" Lalu Devano menutup telponnya.


Erigo tertawa sambil melangkah keluar. Ia memang merasa konyol.


__________________________________________________________


Erigo datang ke studio sebelum pukul 1 siang, sedangkan staf masih bersiap-siap. Matanya mencari keberadaan Aira.


Aira terlihat duduk memainkan ponselnya di ruang makeup.


Erigo mendekatinya dan duduk disamping Aira. "apa yang kau lakukan?" Tanyanya sangat pelan.


Aira tersentak karna tak melihat kedatangan Erigo. "Kau mengagetkanku" Jawabnya membelalak pada Erigo.


Erigo tersenyum "sudah makan siang?" Tanyanya.


Aira balas tersenyum. "Sudah.. " Jawab Aira singkat.


"Sudah makan obatmu?" Tanya Erigo lagi pelan.


"Sudah" Jawab Aira berbisik dan mengangguk-angguk.


"Apa yang kalian bicarakan? Kenapa berbisik?" Winne tiba-tiba menyela dan mereka berdua terkejut.


"Bukan apa-apa" Jawab Erigo tersenyum.


Winne memandang Aira dan menyipitkan matanya karna penasaran. Namun Aira hanya mengangkat bahunya dan kembali memainkan ponselnya.

__ADS_1


"Kalian mencurigakan" Ucap winne sambil tersenyum.


__ADS_2