
Moza berjalan mondar mandir di rumahnya. Menghentakkan kakinya, rambutnya kusut, ekspresinya panik. Ia tidak menduga bahwa Erigo akan membeberkan hal seperti itu.
Moza menjadi sasaran media sejak pernyataan Erigo di siarkan. Ia menjadi bulan-bulanan media dan sasaran hujatan para pembenci. Ia melampiaskan kekesalannya pada manajernya, Ruli, yang ia nilai tidak becus mengurusi hubungannya dan Erigo. Ia berjalan gelisah di rumah menggigiti kuku jarinya. Menatap marah pada televisi.
"Tidak, Ruli. Aku tak bisa menerima hal seperti ini. Beritahu pada para wartawan itu bahwa Erigo dan gadis itu berselingkuh. Buat aku menjadi korban. Gunakan apa saja. Foto, video, apa saja yang kau bisa. Kau harus membuatku tetap bersinar, aku tidak akan jatuh lagi karna hal ini." Ucap Moza berapi-api.
"Bagaimana jika hal itu tidak berhasil? Karirmu akan berakhir Moza." Ucap Ruli.
Moza meradang. "Karirku akan baik-baik saja. Erigo dan gadis itu akan di anggap pasangan selingkuh dan membuatku di kasihani banyak orang. Dengan begitu akan ada banyak stasiun tv yang mengundangku menjadi bintang tamu. Kau tau, aku harus tampil di tv Ruli. Aku tak mau hanya bernyanyi di panggung offair." Moza menghentakkan kakinya.
Moza mencoba menangis di depan Ruli. "Kumohon.. Sekali ini saja. Kau membuntuti Erigo sejak awal, kau pasti punya sesuatu kan? Rekaman atau foto, apapun itu."
Melihat Ruli yang diam saja, pertunjukan air mata itu berubah menjadi jeritan histeris di sertai caci maki. Moza kehilangan kendali dan berusaha memukul Ruli.
Cukup sudah. Ruli muak. Ia menangkap pergelangan tangan Moza dan membantingnya ke sofa. "Ini adalah bantuan terakhirku Moza. Aku tidak akan bertanggung jawab untuk apapun yang terjadi setelah ini. Dan aku mengundurkan diri, aku berhenti menjadi manajermu mulai hari ini. Ini file nya dan kau urus saja dirimu sendiri. Semoga kau mendapatkan kebahagiaanmu." Ucap Ruli lalu pergi dari rumah Moza. Meninggalkan Moza yang menangis memohon-mohon agar Ruli tetap tinggal.
Moza berubah menjadi orang yang mengerikan karna obsesinya untuk terkenal. Ia mengundang para wartawan, mengadakan jumpa pers di sebuah cafe, mengarang cerita dan memberikan file yang di tinggalkan Ruli.
______________________________________
Aira duduk melipat lututnya di sofa, menatap kosong ke arah televisi. Winne yang melihatnya seketika merebut remot tv yang di pegang Aira dan menekan tombol off.
Beritanya sungguh tidak terduga. Menampilkan foto Erigo yang sedang menggenggam tangan Aira. Foto lainnya memperlihatkan Aira yang sedang menyentuh wajah Erigo. Bahkan ada salah satu foto yang di blur, namun dengan jelas menunjukkan bahwa Erigo sedang mencium Aira. Dan narasi yang di tampilkan membuat Aira menganga.
'PERSELINGKUHAN' 'SELINGKUH' 'ORANG KETIGA'
'ERIGO DAN STYLIST' 'CINDERELLA MODERN'
'STYLIST VS SELEBRITIS'
Keseluruhan beritanya sebenarnya menyudutkan Aira yang di anggap merebut Erigo dari Moza. Ditambah rekaman video saat Erigo dengan posesif merangkul pundak Aira dan melotot marah pada seorang wartawan.
"Ini tidak masuk akal" Ucap Aira tidak percaya.
"Jangan menontonnya lagi. Itu semua sampah" Caci Winne.
"Kau sudah bicara dengan Erigo?" Tanyanya.
__ADS_1
Aira menggeleng. "Nanti saja. Aku lebih suka bicara langsung." Ucap Aira.
"Benar juga. Erigo di jadwalkan untuk mengisi acara bincang-bincang minggu depan. Tapi kabarnya, syuting di tunda atas permintaan Erigo. Yansen bilang, dia tidak ingin hadir dalam acara apapun saat ini. Itu membuat perusahaan harus membayar penalti. Gara-gara nenek sihir itu." Ucap Winne lagi.
Aira menghembuskan nafas kasar. "Aku tidak mengerti. Jika Moza sangat menyukai Erigo, mengapa dia tega melakukan hal seperti ini. Terutama saat jadwal perilisan album sudah dekat. Itu jahat sekali". Aira berguling di sofa. "Auugghhh... Aku membencinya" Ucap Aira kesal.
Winne tertawa. "Kau boleh memakinya. Atau kau ingin melakukannya bersama? Yansen sering melakukannya." Ucap Winne. "Kau tau, kata-kata makian itu cukup banyak, mau ku beritahu?".
Kali ini Aira tertawa. " Kurasa Yansen membawa pengaruh yang buruk padamu Anantha. Aku harus memperingatkannya"
___________________________________
Waktu menunjukkan sudah lewat pukul sebelas malam ketika tiba-tiba ponsel Winne bergetar. Winne mengambil ponselnya dan membawanya keluar kamar agar tidak mengganggu Aira yang tertidur. Nama Airez tertera di layar ponselnya.
"Halo Airez" Ucap Winne. Di tempat Airez pasti masih pagi, pikir Winne.
"Hai Winne" Jawab Airez datar.
"Ada apa kau menelponku?" Tanya Winne lagi sambil menguap.
"Mmm... Benar" Jawab Winne malas-malasan.
"Lalu kenapa hari ini wajah adikku terpampang di televisi bersama laki-laki itu? Katakan padaku Anantha, apa sebenarnya hubungan mereka berdua?" Tanya Airez tajam. Winne tersadarkan seribu persen. Ia bahkan dapat merasakan kemarahan Airez di telinganya dalam keadaan hening.
"Anantha..!" Bentak Airez ketika winne tidak juga berbicara.
"Airez, tenangkan dirimu. Aku akan menceritakannya" Ucap Winne.
Winne menjelaskan panjang lebar tanpa ada sesuatu apapun yang di sembunyikan, di tambah maupun di kurangi. Airez mendengarkannya dengan kesabaran yang di paksakan. Ia tidak menyukai Moza, tentu saja. Tapi ia lebih tidak suka kenyataan bahwa Aira memiliki hubungan semacam itu dengan Erigo, orang yang di bencinya.
"Aku akan pulang dalam dua atau tiga hari. Jangan coba-coba mengatakan apapun pada Aira. Apa kau paham Anantha?" Cetus Airez.
"Aku tak akan mengatakan apapun. Hanya saja, kau harus tau bahwa Aira sangat menyukainya Airez. Jangan membuatnya sedih" Ucap Winne.
Airez menekan suaranya. "Aku benar-benar tidak bisa menerimanya. Sampai ketemu Anantha" Ucap Airez dan langsung menutup panggilannya.
Winne menarik nafas bersandar menenangkan dirinya. Rasa kantuknya sudah hilang.
__ADS_1
Memang tidak mungkin menyembunyikan hal ini dari Airez. Dia juga akan tahu sendiri cepat atau lambat karna semua yang terjadi Mouse Entertainment tetap akan di pantau oleh kantor pusat di Amerika. Jadi akan sia-sia saja jika ia berbohong.
Tapi masalahnya, Aira lah yang akan menanggung kemarahan kakaknya padahal Aira sendiri tak tau apa-apa.
__________________________________
Aira dan Winne sedang menikmati sarapan pagi ketika bunyi 'bip' terdengar. Seseorang menekan passcode Aira lagi.
Secara mengejutkan Ibu Aira masuk di ikuti Ayahnya. Mereka berdua sontak berdiri.
"Hai ibu, ayah.." Winne menghampiri kedua orang tua Aira dan memeluk mereka sekilas.
"Hai Winne sayang, kabarmu baik?" Tanya ibu Aira tersenyum.
"Aku baik ibu" Jawab Winne. "Ayah, ibu duduklah dulu" Ucapnya lagi.
Ayah Aira tersenyum sekilas pada Winne sebelum menatap Aira yang sedari tadi hanya berdiri mematung.
Wajah Ayah Aira berubah serius.
"Kemasi barang-barangmu Aira, dan ikut Ayah pulang"
Lugas. Tegas dan tidak terbantahkan.
Aira sudah memperkirakan bahwa ibu dan ayahnya akan menyuruhnya pulang ke rumah, namun ia tidak menyangka bahwa ayahnya datang sendiri menjemputnya ke apartemen.
Winne cepat-cepat menarik tangan Aira ke kamar. "Kami akan siap-siap dulu ayah" Ucapnya buru-buru.
Winne mendorong Aira masuk ke dalam kamar dan mengguncang bahu Aira. "Sadarlah Aira, tidak ada gunanya membantah. Kemasi pakaianmu, bawa ponselmu juga dan pastikan selalu aktif. Kau harus selalu bisa di hubungi." Ucapnya cepat.
Frans Maxim Zuma adalah orang yang penyayang, namun juga di kenal keras dan tegas terutama menyangkut anak-anaknya dan perusahaannya. Ia juga adalah sosok yang posesif terhadap anak perempuannya, Aira.
Winne sudah bisa memperkirakan bahwa ayah Aira sekarang sedang sangat marah. Bagaimana tidak, ia sudah mengizinkan Aira keluar dari rumah dan tinggal sendiri. Ia juga sudah membiarkan Aira bekerja di Mousent sebagai karyawan biasa, seorang stylist. Bahkan ia membiarkan Aira bekerja tanpa seorangpun tau bahwa ia adalah anak dari seorang Frans Maxim Zuma.
Dengan adanya pemberitaan tentang Erigo dan Aira, juga media yang menyebut-nyebut soal seorang 'stylist biasa' yang menjadi 'selingkuhan' seorang selebriti, pastilah ayahnya merasa sangat konyol dan terhina. Ia pasti tidak akan melepaskan orang-orang di balik rumor ini dengan mudah. Membayangkannya saja membuat Winne bergidik.
Aira sendiri sangat memahami sifat ayahnya yang keras. Lebih baik tidak membantah dan menurut dengan patuh untuk saat ini, dan bicarakan baik-baik saat ayahnya sudah lebih tenang.
__ADS_1