
New York, Januari, pukul 10 pagi.
Aira masih berjuang melawan dingin. Ia bergelung dalam selimutnya, merasa malas untuk beranjak. Ini hari kedua dirinya disini. Salju tebal di luar sana membuatnya bertambah malas.
Ia masih ingin melanjutkan tidurnya ketika Kei masuk ke kamarnya membawa nampan berisi sarapan. "Aaauuugghhh.... Aku masih mengantuk." Ucapnya. Namun aroma kopi yang nikmat membuat dirinya terjaga.
Kei tesenyum pada Aira. "Kau mengalami jetlag parah?" Ucap kei seraya meletakkan nampan di atas nakas di samping tempat tidur Aira.
"Seharusnya ini masih malam." Keluhnya. Aira mencoba duduk dan menjernihkan matanya dengan mengerjap.
"Makanlah sarapanmu, mandi lalu turun ke bawah. Hari ini tidak bisa kemana-mana karna salju tebal. Jadi kau bisa menenggelamkan dirimu di ruang baca agar kau bisa mengatasi jetlagmu dan terbiasa dengan perbedaan waktunya." Ucap Kei memberi tahu.
Aira menatap adik sepupunya yang sibuk membuka tirai jendela, memungut beberapa pakaian Aira dan melipatnya dengan rapi di atas kursi.
Kei terlihat masih sama kecuali rambut hitamnya yang di warnai menjadi pirang. Bukannya itu tak cocok untuknya, itu sangat cocok dengan kepribadiannya yang ceria. Namun keceriaannya seakan hilang dan tidak lagi terlihat oleh Aira selama beberapa hari ini.
Kei terasa lebih murung, lebih diam, lebih berhati-hati. Tidak seperti dirinya yang biasa. Kei jelas mengalami perubahan yang cukup ekstrim.
"Kenapa kau menatapku begitu?" Tanya Kei yang menyadari tatapan Aira.
Aira mengangkat bahu. "Aku merasa ada yang lain dari dirimu Kei." Ucap Aira.
Kei hanya tersenyum. "Aku masih sama, sister. Sekarang makan lalu mandi. Ibu dan ayah ada di bawah. Cepatlah." Ucapnya kemudian berlalu keluar kamar.
Aira mendesah. Aira merasakan keceriaan yang di paksakan. Ia memutuskan untuk makan dan mandi lalu turun ke bawah dan jika keadaannya memungkinkan, ia akan bicara pada Kei tentang Devano.
Entah keyakinan darimana, tapi Aira tau bahwa sesuatu masih mengganjal dalam diri Kei.
___________________________________
Aunty Zhu. Begitu mereka biasa menyapanya. Zhu dari Zuma sebenarnya. Karna aunty Zhu memang adik kandung ayahnya yang menikah dan menetap di sini.
Aira melihat berkeliling tapi tidak menemukan Kei. "Hai aunty. Kau tau dimana Kei?" Tanya Aira.
Bibinya tersenyum. "Dia pasti ada di kamarnya atau di ruang baca." Ucapnya.
__ADS_1
Aira menatap bibinya yang tampak masih ingin mengatakan sesuatu, jadi ia menunggunya dan duduk di kursi meja makan.
"Aira, kau tau apa yang terjadi pada Kei?" Ucap bibinya dengan nada khawatir. "Aku merasa ada yang tidak beres sejak anak itu pulang. Aku tidak pernah lagi melihatnya tertawa seriang dulu." Bibinya mengangkat bahu. "Kau tau yang ku maksud. Dia memang ceria, tapi berbeda. Dia seperti memaksakannya. Apa yang terjadi padanya Aira? Bisa kau beri tahu aku? Sesuatu di perusahaan atau apa?"
Bibinya tampak sangat cemas.
Aira menggenggam tangan bibinya yang gelisah. "Tidak ada yang terjadi dengan perusahaan aunty. Tapi, jika kau begitu khawatir, aku akan bicara pada Kei. Kita akan mengetahuinya nanti. Bersabarlah aunty." Ucap Aira.
"Oh Aira, dia tidak mau bicara padaku. Membuatku sangat mencemaskannya. Aku bersyukur kau datang sayang. Bicaralah padanya, tolong." Ucap bibinya lagi sembari mengusap pipi Aira. Aira mengangguk dan tersenyum.
Sang bibi bangkit berdiri lalu berbalik. "Kau suka pasta kan? Uncle mu sudah berbelanja banyak kemarin. Aku akan membuatkannya untuk makan malam." ucapnya lagi sebelum berlalu.
"Trimakasih aunty." Ucap Aira tersenyum. Ia beranjak menuju kamar Kei dan menemukan gadis itu sedang duduk menghadap jendela. Kedua kakinya terlipat di atas kursi dengan dua tangan memeluk lututnya. Tatapannya sendu dan tampak tidak bersemangat. "Kei.. " panggil Aira pelan.
Kei menoleh, ekspresi muram yang Aira lihat tadi dengan cepat menghilang dan berganti. Wajahnya berubah cerah. "Aira. Masuklah." Ucapnya dengan nada ceria yang dipaksakan.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Aira naik ke tempat tidur Kei. "Kemarilah, bicara denganku." Ucap aira terang-terangan.
Kei tampak ragu-ragu. "Bicara soal apa?" Tanyanya enggan seperti sudah menebak arah pembicaraan Aira.
Kei berpaling. "Aku tidak mau membahasnya Aira." Ucapnya pelan. Ada nada sedih yang terdengar.
"Tidak. Aku tidak menerima itu." Aira tudak mau di bantah. "Kau harus bicara padaku, agar aku bisa membantumu. Membantu meringankan perasaanmu." Ucap Aira lagi. Namun Kei masih diam tidak menanggapi. "Bicaralah padaku Kei. Hanya aku kakakmu dan hanya padaku kau bisa mengeluh." Bujuk Aira.
Kei masih diam saja. Aira mencoba cara lain yang biasanya berhasil untuknya. "Kita bisa memakinya bersama-sama kalau kau mau. Aku tau banyak kata makian dari Yansen." Ucap Aira dan membuat Kei tergelak.
Aira tersenyum. "Seperti itu sayang, kemarilah, peluk aku." Ucap Aira lagi.
Kei berdiri, tersenyum lalu naik ke tempat tidur memeluk Aira. Tanpa diduga ia terisak. Menumpahkan segala rasa frustasi yang di pendamnya.
Aira berkaca-kaca memeluk adik sepupunya. Kei pasti sudah lama memendamnya. "Itu bagus Kei. Keluarkan saja. Menangislah sepuasmu." Ucap Aira mengusap rambut panjang Kei yang berwarna pirang.
_________________________________
Kei membersit hidungnya dengan tisyu. Perasaannya menjadi lebih ringan dengan adanya Aira. "Trimakasih. Aku sudah lega." Ucapnya. Ia memberi batasan dengan jelas bahwa ia tidak ingin melanjutkan pembicaraan.
__ADS_1
Aira menggeleng. "Itu hanya sementara sayang, sebelum badai berikutnya menghantam mu." Ucap Aira.
Kei menggeleng. "Jangan memulainya Aira, aku tak mau membahasnya." Ucap Kei lagi.
"Jangan begini Kei. Bukan hanya kau yang merasa tersiksa." Ucap Aira.
Kei memandang Aira. "Apa ibu mengatakan sesuatu? Aku tidak ingin dia khawatir." Tanya Kei cemas.
Aira tersenyum. "Aunty Zhu memang sangat khawatir. tapi bukan ibumu yang ku maksud. Devano." Ucap Aira lagi. "Devano tampak menyedihkan. Sama sepertimu."
Kei menggeleng mengalihkan pandangannya. "Aku tak mau mendengarnya." Ucap Kei keras kepala. Ia berysaha bangkit dan ingin melarikan diri.
Aira menggenggam tangan Kei. "Kau harus mendengarnya. Kau harus tau apa yang terjadi padanya. Kau pasti mau tau." Cetus Aira memancing rasa penasaran Kei.
Kei terdiam. Tampak menimbang-nimbang perkataan Aira. Sejenak ia tampak tidak perduli, tapi rasa penasaran mengalahkannya.
"Apa sesuatu terjadi padanya?" Tanyanya kemudian.
Aira menarik nafas lega. Akhirnya. Akhirnya kei mau mendengarkannya.
"Devano mencarimu kemana-mana Kei. Dia bertanya padaku, tapi aku tak bisa mengatakannya tanpa ijinmu. Devano mencoba menghubungimu. Dia mengirimkan banyak pesan untukmu yang aku yakin tidak pernah kau buka. Dia sangat kehilanganmu Kei." Ucap Aira.
Kei menggeleng lagi. "Dia hanya merasa bersalah Aira."
"Sudah seharusnya Kei. Dia memang salah. Tapi cobalah sekali saja, cobalah membaca isi pesannya. Mungkin kau akan dapat melihat seputus asa apa dia." Ucap Aira mencoba meyakinkan Kei. "Dan mungkin dengan begitu, kau bisa mengobati rasa kecewamu sendiri." ucapnya lagi.
"Aku tidak tau Aira. Jika aku membukanya apakah itu akan membantuku merasa lebih baik atau malah membuatku semakin terpuruk." Ucap Kei.
"Kita akan tau setelahnya. Dan kita akan mengatasinya." Ucap Aira meyakinkan Kei sekuat tenaga.
"Nanti saja." Ucap Kei lemah. "Akan aku pikirkan." Ucapnya lagi.
Aira tidak ingin mendesaknya. "Tidak apa-apa sayang. Kau punya banyak waktu." Ucap Aira. Ia sudah cukup senang karna Kei mau membuka diri padanya.
"Aku akan kebawah membantu aunty dan uncle. Mereka akan menyiapkan pasta untukku." Ucap Aira.
__ADS_1
Aira keluar dari kamar Kei meninggalkan gadis itu untuk berpikir sembari berharap Kei mau mengikuti sarannya. Hanya itu satu-satunya cara agar Kei dan Devano menemukan jalan tengah atas permasalahan mereka. Tidak dengan cara bersembunyi.