Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 9


__ADS_3

Aira buru-buru menyelesaikan pekerjaannya lalu berpamitan pada beberapa staf yang masih membereskan barang-barang.


Devano meninggalkan kata-kata yang membekas di hatinya tanpa memberikan kesempatan bagi Aira untuk menjelaskan situasi yang disalah pahami oleh Devano.


Ini sudah pukul 9 malam dan Aira sudah lapar. Erigo mengajaknya untuk makan malam. Aira sungguh tak mau pergi karna ia lelah dan ingin segera pulang, mandi dan makan. Tapi bagaimana jika Erigo benar-benar menunggunya sampai datang?


Aira mau tidak mau melangkah menuju tempat parkir dan melihat Erigo keluar dari mobilnya melambai pada Aira.


Aira setengah berlari menghampirinya. "Apa yang kau lakukan?" Tanya Aira. "Bagaimana jika ada yang melihat? " Ucap Aira lagi.


Erigo dengan sikap praktisnya hanya tertawa. "Masuk saja dulu" Ucap Erigo.


Aira menurut. "Kita mau kemana?" Tanya Aira lagi.


"Makan malam. Aku lapar" Jawab Erigo dan menjalankan mobilnya keluar gedung.


"Apa kau bisa melakukannya? Semua orang mengenalimu" Ucap Aira. "Kau akan memicu scandal sebelum perilisan album" Aira mengingatkan.


Padahal Aira sudah dua kali sengaja menolak ajakan Devano dengan alasan yang sama, tapi di sinilah dia, pergi bersama Erigo. Aira benar-benar merasa tak enak hati ketika teringat ekspresi kecewa Devano saat bicara padanya sebelum pulang tadi. Ia merasa seperti pengkhianat.


Erigo mengulas senyuman di wajahnya. Ia sangat percaya diri. "kita ke cafe milik temanku. Aku sudah bicara padanya, dan kita hanya perlu melewati pintu belakang" Ucap Erigo.


Aira sejenak berfikir. Sepertinya tidak enak pergi bersama pria yang seharusnya tidak terlihat mondar mandir bersama seorang gadis di saat-saat penting seperti ini. Ini tidak bisa dibiarkan. Bagaimana jika seseorang melihat mereka hanya berdua dan salah paham. Itu akan menyebabkan kehebohan sebelum perilisan lagu.


Erigo menyipit menatap Aira. Aira tidak mau, dan itu terlihat jelas. "Apa ada sesuatu yang mengganggu mu?" Tanya Erigo memberengut.


Aira menggigit ujung jarinya. Ia menggeleng dan berkata "Tidak. Aku tidak bisa begini. Orang-orang akan salah paham" Ucap Aira masih ragu-ragu. "Kita beli makanan pinggir jalan saja, makan di mobil" Ucapnya lagi.


"Makanan pinggir jalan?" Erigo membeo. Sebelumnya tidak pernah ada wanita yang menolak makan bersamanya. Kebanyakan malah ingin terlihat terang-terangan daripada bersembunyi dari pandangan orang lain. Aira adalah pengecualian. Dan Erigo makin tertarik padanya.


"Iya.. Pinggir jalan.. Kau belum pernah mencobanya? Rasanya cukup enak kok. Tenang saja, aku yang turun. Kau diam dimobil dan bersembunyi" Ucap Aira serius.


Erigo tertawa. Tentu saja dia pernah membeli makanan pinggir jalan. Dia tidak terlahir kaya. Dia bekerja keras untuk segala yang dimilikinya sekarang. Satu-satunya hal yang menghalanginya makan makanan pinggir jalan adalah popularitas. "Baiklah.." Jawab Erigo menurut. "Dimana tempat yang menjual makanan paling enak?" Tanyanya.


"Disana!" Ucap Aira menunjuk warung kecil yang mengebulkan asap dari masakan yang di masak langsung dengan api besar. Erigo menghentikan mobilnya tepat disamping warung tenda tsb.


Aira turun dan membeli porsi yang cukup untuk mereka berdua.

__ADS_1


Erigo menatapnya lama, penuh rasa ingin tahu dan penuh penilaian. Aira cantik. Kulitnya putih dan bersih. Aira juga beraroma strawberry. Erigo suka strawberry. Kenyataan bahwa gadis itu tidak ingin terlihat jalan bersamanya menarik perhatian Erigo. Aira cukup unik baginya.


Setelah hampir lima belas menit menunggu, akhirnya Aira berjalan keluar dari warung tenda tersebut, menenteng kantong berisi makanan di tangannya yang satu dan air mineral di tangannya yang lain. Erigo menyunggingkan senyum ketika melihat Aira datang. Aira adalah wanita yang sederhana.


Mereka berkendara sebentar mencari lokasi yang cocok untuk makan. Akhirnya mereka makan di dalam mobil yang terparkir menghadap sungai. Pemandangan yang indah dimalam hari. Bayangan lampu jembatan berkilat-kilat di atas air. Banyak orang berjualan di sekitarnya. Ada banyak pilihan makanan dan minuman untuk memuaskan selera. Beberapa pasangan bergandengan menyusuri tepiannya. ada yang duduk-duduk sambil makan juga.


Mereka menyantap makanan di dalam mobil sambil mengobrol, hingga waktu menunjukkan hampir pukul sebelas malam.


Aira melirik jam tangannya lalu berkata "sudah malam, aku rasa kita harus pulang" Ucapnya.


"Benarkah? Sayang sekali.." Ucap Erigo masih ingin berlama-lama bersama Aira. "Kau tidak mau disini sampai pagi? Bersamaku?" Ucapnya nyengir.


Aira cemberut "tidak, trimakasih. Aku ingin pulang, mandi dan tidur dengan nyaman daripada hanya terlipat di dalam kotak kecil dan di bangunkan penjaga pantai besok pagi" Aira ikut nyengir.


Erigo tertawa mendengar perkataan Aira." Baiklah... Aku akan mengantarmu" Ucap Erigo.


Sampai di apartemen, erigo langsung masuk ke area parkir.


"Kenapa tidak menurunkanku di depan?" Tanya Aira bingung. "Kau mau ke tempat Devano?" Tanyanya lagi ketika Erigo tidak menjawab.


Erigo tersenyum. "Tidak. Aku akan mengantarmu sampai ke depan pintu" Kata Erigo.


"Aku tidak akan menerobos masuk, aku janji" Erigo tersenyum.


"Bukan itu maksudku" Ucap Aira lagi. "Aku hanya ingin menghindari keributan, oke."


Erigo mengangkat alisnya "Dan dari mana tepatnya keributan itu datang?" Tanya nya tidak perduli.


Aira mendesah. "Bagaimana jika seseorang melihatmu bersamaku dan.. " Aira belum selesai bicara ketika Erigo menyela "ini sudah larut malam Aira, akan berbahaya jika aku membiarkanmu naik sendirian. Bagaimana jika terjadi sesuatu di lift. Entah itu berhantu, atau lift itu berhenti di tengah-tengah, atau keduanya. Hantu itu yang jadi penyebabnya. Bagaimana? Apa kau tidak takut?" Erigo memarkir lurus mobilnya.


Aira terkikik "Kau konyol Erigo."


"lagi pula siapa yang masih bagun jam segini manis?." Ucap Erigo lagi sebelum keluar dari mobilnya.


Mereka naik ke lantai 7. Erigo benar-benar mengantar Aira sampai ke depan pintu apartemennya.


Aira tersenyum "trimakasih sudah mengantarku pulang".

__ADS_1


Erigo berdiri menghadap Aira. "Sama-sama Aira" Ucapnya. "Apa aku boleh datang kesini lagi?" Tanya Erigo.


Aira tak mungkin menolaknya demi kesopanan. "Tentu saja boleh.. Kau bisa mengajak yang lain juga. Aku akan memasak untuk kalian" Jawab Aira.


Erigo memasukkan tangannya ke saku celana jinsnya dan berkata "Tidak. Maksudku, aku sendiri. Menemuimu" Jawab Erigo.


Aira terdiam mencerna kata-kata Erigo. Ini terlalu tiba-tiba.


"Kau tau maksudku Aira" Ucap Erigo melihat Aira hanya diam saja.


Aira menggeleng. "Aku tak mengerti maksudmu" Jawab Aira takut salah sangka.


Erigo memahami bahwa ini adalah hal yang baru bagi Aira. "Jangan menolakku dulu Aira" Ucap Erigo mendekati Aira. Ia mengeluarkan sebelah tangannya dan menggenggam jemari Aira "aku ingin menemuimu lagi. Diluar pekerjaan" Ucapnya.


Aira terdiam. Ia tidak pernah membayangkan hubungan apapun dengan Erigo. Sekarang tangan besar Erigo menggenggam tangannya membuat jantungnya berdegup kencang.


Erigo melangkah memperkecil jarak mereka lalu menunduk mencium pipi Aira sekilas.


Aira terkejut, jantungnya nyaris terlepas. Seketika wajahnya merona. "Apa yang kau lakukan?" Ucap Aira berbisik sambil mengamati sekitarnya takut ada yang melihat.


Erigo tersenyum melihat gelagat Aira. "Aku tak ingin pulang Aira. Tapi aku tak ingin memaksamu" Ucapnya. "Aku tau kau sangat menyukai Toddy, tapi bisakah kau memikirkanku sesekali?"


Toddy? Itu sangat acak dalam topik pembicaraan ini. Pikir Aira.


Erigo mundur lagi dan menatap mata Aira dengan kilatan jahil. "Sesekali saat bangun tidur, sesekali saat sarapan, sesekali saat makan siang, sesekali saat diperjalanan, sesekali saat mandi, dan sesekali saat akan tidur. Dengan begitu kau akan muntah tiap melihatku" Kata Erigo kekanak-kanakan. Hal itu memancing tawa Aira.


Erigo kembali memasang wajah serius "Aku tidak sedang bercanda Aira, tolong pikirkanlah, dan beri tahu aku jika kau sudah siap" Erigo melepaskan tangan Aira "aku pergi dulu" Ucapnya.


Aira hanya mengangguk tanpa bisa berkata apapun. Ia sangat bingung dan setengah tidak percaya.


Setelah itu Aira masuk, menutup pintu dan bersandar. "Aauugghhh jantungku" Ucap Aira meraba dada kirinya. Ia merasakan wajahnya memanas. Aira menggelengkan kepalanya berusaha membuang ingatannya. Ini semua terasa rumit sekali.


_______________________________________


Ditempat lain, Devano mondar mandir dengan gelisah. Sambil menghela nafas, Devano melirik jam di dinding. Mungkin seharusnya ia mengikuti kata hatinya dan mencegah Aira pergi bersama Erigo alih-alih tersenyum berbasa basi dan menyuruh Aira bersenang-senang.


Kau bodoh Devano. Ia memaki dirinya sendiri.

__ADS_1


Dia sempat berfikir untuk menunggu Aira di lorong, tapi bagaimana mungkin ia melakukannya tanpa alasan yang jelas?


Jadi, di sinilah dia sekarang. Cemberut seperti seorang ayah yang khawatir putrinya pulang terlambat setelah kencan.


__ADS_2