
Devano menutup pintu dan berjalan ke ruang tamu. Ia merebahkan dirinya di sofa. Mengangkat sebelah tangannya menutupi mata. Ia mengingat kembali tangan mungil Aira yang digenggamnya sepanjang jalan. Entah sejak kapan Devano mulai memikirkan Aira, dan mulai memperhatikannya diam-diam
Devano sudah mengetahui bahwa Aira tinggal berseberangan dengannya sejak beberapa minggu yang lalu. Namun awalnya Devano berniat diam saja dan pura-pura tidak tahu. Tapi dia sering merasa bersalah pada Aira jika pulang larut malam. Ia merasa Aira akan menunggu lama diluar, dan ia tak ingin menjadi penyebab seseorang sakit karna begadang atau masuk angin.
Devano pertama kali melihat gadis bertopi merah muda itu saat pulang, dan itu milik tetangganya yang tidak sopan. Kali kedua ia melihat seorang gadis dengan postur tubuh dan topi yang sama di lantai dasar apartemennya. Meskipun wajahnya tidak terlihat, namun devano mengingat topi tsb. Beberapa hari kemudian Devano melihat seseorang gadis duduk diluar minimarket dekat rumahnya menggunakan topi itu lagi. Lalu saat di studio XMC, topi itu lagi terlihat menyembul dari dalam tas milik salah satu staf yang tak sengaja tersenggol orang lain. Mengingatkan Devano pada tetangganya lagi.
Namun tak lama setelahnya Aira memungut tas tsb dan menyandangnya pulang. Devano hanya tersenyum melihat Aira ternyata punya topi yang sama.
Devano tak pernah mengira Aira dan tetangganya merupakan orang yang sama. Tapi di perjalanan pulang, ia melihat seseorang bertopi merah muda sedang duduk dibangku taman sambil menunduk makan eskrim. Ketika itu Devano sedang berhenti di persimpangan lampu merah, melihat ke arah gadis itu hingga tidak menyadari lampu lalulintas yang sudah berubah hijau. Lalu seseorang menekan klakson panjang di belakang mobil Devano membuat gadis itu menoleh ke arah mobil-mobil disana.
Ternyata itu Aira. Dengan topi pet merah muda. Kemeja oversize lengan panjang dengan lengan digulung, salah satu ujung kemejanya dimasukkan kedalam celana pendek jeans. Devano mengenalinya.
Devano kemudian melajukan mobilnya masuk ke parkiran. Ia segera berlari keluar gedung untuk menemui Aira di taman. Tapi ia tak menemukannya.
Devano bertanya-tanya, sedang apa Aira dilingkungan ini. Devano mulai curiga bahwa Aira adalah tetangganya.
Beberapa hari setelah nya ia melihat topi itu lagi. Kali ini di dalam pos sekuriti. Aira sedang mengobrol dan tertawa-tawa. 'Apa sebenarnya yang dilakukan Aira disekitar rumahnya?' pikir Devano. Ia curiga, Jangan-jangan benar bahwa Aira adalah tetangganya?.
Devano memutuskan naik ke rumahnya dan mengawasi tetangganya melalui lubang intip. Ia menunggu selama 10 menit sebelum akhirnya melihat tetangganya pulang, mengendap endap dan menunduk. Setelah menekan passcode, gadis itu menoleh ke arah pintu Devano. 'Itu dia.. Itu Aira' ucap devano dalam hati.
Devano memutuskan turun menuju pos sekuriti dan bertanya apa yang dilakukan gadis itu disini.
"Dia cukup sering mampir, biasanya membawa sedikit makanan kecil untuk kami lalu berbincang ringan. Katanya dia menunggu tetangganya pulang, setelahnya baru dia akan naik" Ucap salah satu sekuriti yang berjaga.
"Benar juga, Dia bilang tetangganya tidak boleh tau keberadaannya karna mereka satu tempat kerja dan akan merasa canggung. Sepertinya mereka tidak akur" Ucap petugas lainnya.
'Luar biasa, dia bahkan bisa bergosip disini' pikir Devano. "Lalu darimana dia tau tetangganya sudah dirumah? “ tanya Devano lagi.
"Dia melihat lampu menyala di atas sana" Ucap salah satu petugas sambil menunjuk ke atas "tapi kami tak tau lampu yang mana" Ucapnya lagi sambil mengangkat bahu.
"Konyol sekali. Bagaimana jika lampu itu tidak menyala sampai pukul 3 pagi? " Kata Devano asal.
"Dia akan masuk setelah lewat jam 12 malam. Katanya, tetangganya mungkin tak akan dirumah malam ini, jadi dia naik keatas. Dia gadis yang baik dan ramah, kami menyukainya" Jawab petugas tsb tersenyum.
Devano mulai merasa kasihan pada Aira. Sejak itu, Devano selalu berusaha pulang lebih cepat dan sengaja mengawasi kepulangan Aira melalui lubang intip di pintunya. Beberapa kali bahkan Devano merasa kesal karna pekerjaannya selesai lebih lama dan ia tak tenang memikirkan Aira harus menunggu di luar apartemen. Sementara ia tidak punya alasan untuk membicarakannya pada Aira. Pikiran-pikiran khawatir membuatnya marah dan terkadang menumpahkannya pada Aira.
Juga malam ini.
Devano sebenarnya tak suka ide makan malam ini. Hanya akan membuat mereka pulang terlambat dan dia merasa kasihan jika Aira masih harus berkeliaran diluar. Aira bertubuh mungil, berambut gelap dan sangat feminin. Ia merasa Aira adalah tipe gadis yang harus dilindungi. Karena itu ia hanya menarik tangan Aira didepan semua orang.
__ADS_1
Devano tiba2 terkesiap, terduduk tegak menyadari tindakannya. "Aaahh benar juga.. Apa yang harus ku katakan pada orang2 usil itu?" Katanya membayangkan Toddy, Yansen dan Erigo yang pastinya tak akan melupakan kejadian malam ini.
______________________________________________________________
Aira terdiam memandangi pintu rumah Devano yang tertutup. 'Dia tidak membenciku katanya.. Padahal sikapnya selalu sangat tidak bersahabat' pikir Aira. Ia masuk kerumah, mandi dan bersiap tidur. Aira memandangi tangannya, masih merasakan genggaman tangan Devano. Jantungnya berdegup kencang membuat Aira merasa sesak sendiri. Aira bangkit menuju dapur dan mengambil segelas air. 'Tidak.. Jangan memikirkannya Aira.. Dia hanyalah orang aneh' pikir Aira.
Ia memeriksa jadwal yang ditempel di pintu lemari es. Mulai besok sampai dua minggu kedepan ia bisa bersantai karna hanya ada jadwal latihan gabungan para member.
"Mmm.. Tak perlu makeup, tak perlu wardrobe dan aksesoris.. Bagus sekali.." Aira bicara sendiri sambil melangkah ke kamarnya untuk beristirahat.
Aira baru saja berbaring saat ponselnya berbunyi menampilkan nama Winne di layarnya. Ohh tidakk... Malam ini sepertinya ia akan begadang untuk penjelasan panjang lebar pada Winne.
_______________________________________________________________
Senin pagi. Aira bersiap untuk pergi. Ia memakai dress vintage lengan pendek selutut, motif bunga2 kecil, dipadukan belt mini di pinggang. Aira membiarkan rambutnya tergerai, memakai makeup tipis. Alih2 memakai contact lense, Aira memilih menggunakan kacamata bulat lalu menyemprotkan parfum. Ia akan ke tempat penyewaan buku untuk mengembalikan beberapa novel dan meminjam novel yang baru, mengunjungi orangtuanya dan kembali setelah makan malam.
Aira baru saja keluar dari rumahnya ketika pintu depan Devano terbuka. Lelaki itu memakai pakaian santai, kaos, celana pendek, topi dan sepatu kets. Tampaknya jadwal latihan pagi.
Ini pertama kalinya mereka bertemu saat keluar rumah. Biasanya Aira selalu berangkat lebih pagi hanya untuk menghindari bertemu Devano. Tapi mulai sekarang, ia akan pulang dan pergi seperti biasa.
Aira menganggukkan kepalanya sedikit "pagi.. " Sapanya pada Devano.
'Kacamatanya aneh, tapi malah membuat Aira terlihat lebih cantik' pikir Devano.
"Tidak.. Hanya jalan jalan " Jawab Aira.
Lift bergerak turun.
Devano menatapnya. "Kau mau pergi kencan? “ Devano bertanya. Ia ingin menggigit lidahnya sendiri. 'Memangnya apa urusanku?' Batin Devano.
"Jangan konyol. Masih hari senin dan kau tanya soal kencan?" Aira balik bertanya.
Devano mengangkat bahu. "Kau terlihat berbeda"
Aira tersenyum "Apa itu pujian?" ucapnya.
Devano tersenyum balik. "Jadi kau mau kecan?" Tanyanya lagi meledek.
Senyum Aira hilang. Ia mendelik kesal ke arah Devano. "Kurasa itu bukan urusanmu. Aku berkencan dengan diriku sendiri" Ucap Aira meletakkan sebelah tangan di dadanya dan menyunggingkan senyum bangga.
__ADS_1
Saat lift terbuka, ia melangkah keluar dan berjalan menjauh dari Devano.
Oke. Devano akan mencobanya. Devano menangkap pergelangan tangan Aira. "Kau naik apa? Ke arah mana?" Tanyanya kemudian segera melepaskan tangan Aira.
Aira menunjuk "kesana.. Aku mau mengembalikan beberapa buku. Hanya berjalan kaki, itu tidak jauh." Ucap Aira lagi.
"Aku akan mengantarmu" Ucap Devano.
Aira menimbang sebentar "tidak usah, trimakasih.. Aku jalan kaki saja".
Devano menatapnya "kau yakin?" Tanyanya.
Aira mengangguk "mmm... Aku anggap ini olahraga" Ucap aira.
Devano tidak mengatakan apapun, membuat Aira tak enak hati. "aku mau ke tempat penyewaan buku di persimpangan sana, lalu akan ke cafe di seberangnya.."
Devano masih diam menatap Aira. "Laluuu.. Aku mau ke rumah orangtuaku" Ucap aira lagi.
Ia menyelipkan rambut di balik telinganya dengan gugup dan menggaruknya sekilas "kenapa juga aku bicarakan itu denganmu?" Ucapnya bingung.
Devano tertawa melihat tingkah Aira "Ahahaha... Mana ku tau.. Menurutmu?"
"Mungkin aku sedikit merasa bersalah menolak tawaranmu" Jawab Aira tersenyum. Ia baru sadar bahwa Devano terlihat menawan saat tertawa.
"Kalau begitu, biar ku antarkan" Devano mencoba lagi.
Aira menggeleng "tidak usah, aku baik-baik saja. Kau sendiri akan terlambat jika tidak segera berangkat" Ucap Aira.
Devano sekilas melirik jam ditangannya "kau benar" ucapnya lagi. "Tidak apa-apa jika aku pergi duluan?"
Aira hanya mengangguk
"Baiklah kalau begitu. Berhati-hatilah saat menyebrang" Ucap devano mengingatkan.
"Oke..!!" Ucap Aira tersenyum.
Langkah Devano bisa saja berbahaya untuk situasinya sekarang menjelang perilisan album Summer. Jika seseorang menangkap basah dirinya berduaan dengan seorang gadis, bahkan jika itu tetangganya, akan berpotensi merusak reputasinya dengan rumor yang sudah pasti akan dibesar-besarkan.
Tidak hanya Devano, tapi semua member akan kena imbasnya. Devano menyadarinya, namun tak bisa menahannya. Ia benar-benar tertarik pada Aira. Ia akan mencoba segala cara.
__ADS_1