
Erigo berangkat lebih pagi. Aira tau tujuannya kemana. Erigo jelas-jelas bilang padanya akan pergi menghancurkan diet Toddy, dan dia tampak bersemangat melakukannya.
Di mobil, Erigo sempat menelpon beberapa reatoran untuk mengirimkan makanan pesanannya ke alamat Toddy. Setelah memesan banyak makanan, terakhir ia menelpon sang empunya rumah.
"Aku sedang dijalan." Kata Erigo santai.
"Benarkah? Kau kemana? Ada jadwal kegiatan hari ini?" Tanya Toddy polos di ujung telpon.
Erigo berbelok di ujung jalan menuju rumah Toddy. "Benar. Aku ada kegiatan hari ini, di dekat rumahmu." Katanya lagi.
"Ohh? Kau syuting di dekat sini? Dimana? Acara apa yang kau hadiri?" Tanya Toddy penasaran.
"Mukbang." Jawab Erigo sembari terkekeh.
Toddy diam sebentar, lalu memaki Erigo. "Kau sudah gila ya? Agensi menyuruh kita semua menurunkan berat badan." Katanya. Erigo hanya tertawa hingga Toddy memaki lagi. "Apa mereka tau acara ini? Agensi, maksudku."
"Tidak." Jawab Erigo santai.
"Kau sudah gila Erigo." Toddy ikut terkekeh. Lalu seseorang membunyikan bel rumahnya. "Ohh.. Kurasa ada yang datang." Katanya sembari melirik jam. "Pagi-pagi sekali. Siapa ini? Apa kau sudah di depan pintuku?" Tanyanya lagi.
"Ohh.. Belum. Aku masih di jalan. Buka saja pintunya." Jawab Erigo.
"Nanti ku telpon lagi." Kata Toddy lalu mematikan sambungan.
Erigo terkekeh sendiri membayangkan Toddy yang terkejut melihat kiriman makanan. Dan lagi, semuanya belum di bayar. Toddy pasti histeris, pikir Erigo.
Benar saja, tak lama setelahnya Toddy menelpon lagi.
"Erigo! Kau gila? Apa ini semua?" Katanya.
"Apa memangnya?" Tanya Erigo pura-pura bodoh.
"Seseorang mengantarkan makanan kerumahku. Pesanan ini atas namamu. Kau gila? Mereka juga minta aku membayarnya."
Erigo meledak dalam tawa, membuat Toddy tak tahan untuk memakinya lagi. "Kau tau jumlahnya? Astaga."
Lalu bel pintunya berbunyi lagi. Toddy membeku. "Kurasa ada yang datang lagi." Ucapnya ragu-ragu.
"Toddy, buka pintumu." Cetus Erigo.
Toddy mengira bahwa Erigo lah yang di depan pintunya. Tapi saat pintu di buka, petugas pengantar makanan berdiri disana menenteng dua kotak pizza. "Apa ini?" Tanya Toddy bodoh.
"Toddy, bayar saja." Erigo kembali terkekeh.
"Kau kurang ajar. Kenapa aku harus membayar makanan yang kau pesan?" Tanya Toddy. Sang pengantar makanan masih menunggu dengan bingung di depan pintunya. "Aku tidak mau membayarnya." Cetus Toddy.
__ADS_1
"Eii mana bisa begitu. Bayar saja dulu. Aku sudah dekat rumahmu. Lagi pula, kau juga akan ikut memakannya." Kata Erigo.
Toddy tertawa frustasi tapi tetap membayar pesanannya lalu membawa dua kotak pizza itu ke dapurnya. "Kau pasti bercanda. Aku tidak mau memakannya dasar kau gila." Ia menutup sambungan telponnya lagi. Astara, Erigo menyebalkan, ucapnya dalam hati.
Lalu tak lama Erigo sampai disana. Toddy memandang masam pada Erigo. "Apa yang kau rencanakan? Katanya.
Erigo terkekeh melihat semua makanan yang di pesannya sudah tertata rapi di atas meja. Toddy memang bilang tidak mau memakannya, tapi fakta bahwa dia menata semuanya di meja makan, berarti dia sudah tergoda. Erigo tertawa puas dalam hati.
"Toddy, duduklah. Ayo kita makan. Aku kelaparan. Aku bahkan tidak sarapan dari rumah. Aku belum makan apapun." Bujuk Erigo.
"Kita seharusnya menurunkan berat badan, kau tolol." Toddy menatap Erigo dengan tatapan tidak percaya.
Erigo tertawa lagi. "Kau yakin tidak mau makan? Kau bisa olah raga lagi nanti." Erigo mulai membuka wadah makanan satu persatu hingga aroma sedap langsung menyebar di ruangan.
Perut Toddy berbunyi keras membuat keduanya terbahak-bahak. "Kau masih berkeras tidak mau?" Tanya Erigo lagi.
"Aku akan gila." Ucap Toddy. Ia sekali lagi tertawa karena frustasi. "Aku akan makan satu suap masing-masing menu." Ucapnya.
Erigo terkekeh puas. Dengan bersemangat menyodorkan sendok, garpu dan sumpit. "Kau harus mencobanya. Ini dari restoran favoritku."
Toddy mulai mencoba satu suapan dan membelalak karena makanannya terasa enak.
Masalahnya adalah, sekali kau mencoba, maka satu suapan tak akan pernah cukup. Kau akan menginginkan lebih.
Dan itulah yang terjadi pada duo tolol ini. Mereka tersenyum setiap kali satu suapan masuk ke mulut. Diet itu hanya wacana. Sudah lupa.
Toddy menatap piring-piring kosong di depannya dan membelalak. "Erigo, kita pasti sudah gila. Aku sudah gila. Kau gila." Katanya. "Kita menghabiskan makanan sebanyak ini hanya berdua? Augh.. Matilah kita." Toddy menjambak sendiri rambutnya ke belakang.
Erigo tetawa terbahak-bahak. "Kau tau? Dietku rusak gara-gara Airez." Ucapnya.
"Apa katamu?" Toddy membelalak.
"Aku makan banyak gara-gara Airez. Aku tidak mau gagal diet sendirian. Jadi aku membawa makanan ini kerumahmu." Ucap Erigo menyeringai. "Aku pintar kan?" Tanyanya tak tau diri.
"Waahh.. Aku merasa di tipu. Kau gagal gara-gara Airez, lalu kenapa malah melibatkanku?" Cetus Toddy. "Apa yang akan kita lakukan sekarang?" Tanyanya lagi. Bingung menatap semua kekacauan di meja makan.
"Mencuci piring, kurasa." Erigo mengarahkan pandangannya ke meja makan yang penuh piring kotor.
"Kau yang harus mencucinya." Toddy menggedikkan dagu pada Erigo. "Aku mengantuk."
Erigo membelalak protes. "Aku? Kenapa aku? Ini kan rumahmu. Aku ini tamu."
Toddy duduk tegak bersiap memulai pertengkaran bodoh. "Tamu juga kan harus bersikap sopan. Cuci piringnya."
"Tidak mau." Erigo menggeleng. "Aku sudah bersikap sopan sejak tadi. Aku tak pernah kurang ajar padamu." Elak Erigo.
__ADS_1
Toddy tertawa mengejek. "Bersikap sopan kau bilang? Padahal aku yang susah gara-gara kau. Dietku gagal, lalu banyak piring kotor ini. Lalu apa lagi? Ahh.. Aku juga terpaksa membayar makanan yang kau pesan atas namamu." Toddy menghitung dengan jarinya. "Bagaimana itu?"
"Hei.. Uangmu sangat banyak, kenapa kau memperhitungkan pembayaran makanan? Kau kan kaya." Cetus Erigo.
"Kau juga kaya. Kenapa tidak bayar sendiri? Ini kan idemu." Balas Toddy.
"Aku kaya, tapi tidak pelit seperti kau." Cetus Erigo lagi.
"Aku pelit karena uangnya harus ku tabung. Memangnya kau tidak menabung?" Balas Toddy lagi.
"Kau juga pasti akan pelit pada orang yang kau sayangi." Erigo menyerangnya.
"Kata siapa? Aku sangat royal padanya." Ucap Toddy.
"Pada siapa?" Cetus Erigo.
"Junny." Jawab Toddy tanpa berpikir, lalu langsung terdiam.
Erigo diam memandang Toddy sementara Toddy tampak bingung. "Jadi kau tak akan pelit pada kakakku." Ucap Erigo mengangguk-angguk seraya merenung.
Itu pernyataan, bukan pertanyaan, jadi Toddy tidak tau bagaimana harus merespon.
Mulut Toddy menganga. Dia sama sekali tak menduganya. "Hei.. Kau tiba-tiba__"
"Baiklah, kalau begitu aku yang cuci piringnya." Potong Erigo. Ia tiba-tiba berdiri dan membereskan meja.
Toddy tidak bisa berkata-kata. Ia kebingungan harus memulai obrolan dari mana. Sementara itu Erigo sudah menuju bak cuci piring dan bekerja.
Toddy kemudian berdiri di samping Erigo dan mengambil posisi untuk membilas sementara Erigo menyabuni alat makan mereka.
"Maafkan aku." Cetus Toddy. "Seharusnya aku sudah bicara padamu sejak lama." Ucapnya lagi.
"Benar. Seharusnya begitu." Erigo menghela nafasnya. Ia agak kesal, namun lega.
"Kau tak suka padaku?" Tanya Toddy.
"Apa pengaruhnya jika aku tak suka? Toh Jun tetap membelamu." Jawab Erigo.
"Benar juga. Aku suka itu." Toddy tanpa sadar tersenyum senang mendengar Jun membelanya di depan Erigo. Jatuh cinta membuatmu jadi aneh.
"Kau harus kerumah dan menemui ibu jika kau memang serius pada kakakku. Kau tau, media akan menggila jika mereka tau, dan aku tak ingin orang tuaku terkejut."
"Jun masih menolak." Ucap Toddy. "Aku tak tau alasannya, tapi dia bilang agar aku menunggu sedikit lagi."
"Erigo terkejut dan memandang Toddy dengan heran. " Apa kau bilang? Jun? Augh.. Wanita gila itu. Aku akan bicara padanya." Erigo kemudian membasuh tangannya sampai bersih dan meninggalkan piring-piring itu begitu saja. "Aku pergi dulu." Cetusnya sembari mengambil kunci mobil di atas meja.
__ADS_1
"Hei, bagaimana dengan piringnya? Kau bilang mau mencucinya!!" Teriak Toddy kesal karena Erigo pergi begitu saja. "Waahh.. Adik beradik ini membuatku gila." Toddy hanya bisa mengomel sendiri.