
Beberapa minggu setelahnya, pada suatu pagi Erigo membangunkan Aira. Aira bangun dengan enggan, menarik bantal dari siapapun yang berusaha mengambil bantalnya.
"Sayang, bangunlah." Kata Erigo. Sesuatu dalam nada suaranya berhasil menembus kabut tidur yang menyelimuti Aira.
Aira duduk dengan rambut kusut masai dan mengantuk. "Apa yang kau lakukan?" Tanyanya cemberut. Ia masih ingin tidur.
Erigo duduk disamping Aira, menunduk untuk memberi ciuman di puncak perut Aira yang membuncit seraya mengucapkan selamat pagi pada putra putrinya di dalam perut. "Ada kejutan." Kata Erigo mengumumkan.
Aira memaksa tubuhnya bagun dan menatap jengkel pada Erigo. Dan tanpa setitikpun simpati pada kejengkelan Aira, Erigo membungkuk untuk mengangkat Aira dan menggiringnya ke kamar mandi. "Ku beri waktu lima belas menit dan kau sudah harus rapi."
Tepat lima belas menit kemudian Aira keluar dari kamar mandi dengan celana pendek hamil dan blus kuning pucat. "Awas kalau ini bukan kejutan bagus." Cetusnya ketika melihat Erigo bersantai mengutak atik ponsel di tempat tidur dan menunggunya.
Tadi malam Erigo bercinta dengannya pelan-pelan. Dan sekarang Aira lelah, benaknya lamban dan matanya masih mengantuk. Tetapi tidak cukup mengantuk untuk mengagumi betapa seksinya Erigo dalam celana pendek jins abu tua dan kaus merah longgar yang mengesankan.
Erigo berguling turun dari tempat tidur dan mencium pipi Aira sekilas sebelum menyambar tangannya dan menuntunnya keluar dari kamar dan menuruni tangga.
"Kau bahkan tidak mengucapkan selamat pagi padaku." Keluh Aira. "Dan aku perlu minum teh.".
"Selamat pagi, sayang." Ucap Erigo sambil lalu. "Dan kau bisa minum tehmu nanti." Erigo membawa Aira ke salah satu ruangan yang sebelumnya jarang di pakai. Mereka meletakkan beberapa barang yang jarang di gunakan disana. Pada dasarnya ruangan itu seperti gudang peralatan, meskipun ruangannya sebenarnya cukup besar untuk menjadi sebuah kamar.
Kemudian Erigo mendorong Aira masuk lalu menekan sakelar disamping pintu masuk. Cahaya terang benderang menyinari ruangan.
Saat itulah Aira mengedip dan terjaga sepenuhnya sampai ia kaget sendiri.
"Ya Tuhan." Seru Aira takjub.
Ruangan yang tadinya difungsikan sebagai gudang penyimpanan sekarang telah berubah menjadi ruang rias bernuansa putih. Dua cermin besar diletakkan berhadapan, dilengkapi lampu, dua kursi, satu sofa dengan meja kecil. Semua alat makeup Aira sudah tersusun rapi disana. Lalu disudut lain ada gantungan pakaian yang selalu Erigo gunakan untuk bekerja dan show dilengkapi partisi yang difungsikan sebagai ruang ganti kecil.
"Bagaimana kau membuatnya? Kapan ini semua dikerjakan?" Tanya Aira. "Ya Tuhan." Ulangnya ketika membuka laci-laci berisi aksesoris. Tempat ini benar-benar paket lengkap seperti studionya di Mousent. Aira terlambat menyadari ruangan ini begitu sejuk dan tidak pengap. "Kau juga memasang pendingin udara?"
Erigo tertawa melihat Aira bersenang-senang. Ia meminta sarapan di antarkan ke ruangan itu. Erigo duduk bersandar di sofa selagi mengamati Aira menyesuaikan posisi beberapa barang dan menggeser ini-itu. Aira tidak lagi memperdulikan Erigo. Dan Erigo tidak merasa keberatan.
__ADS_1
Ia melihat Aira yang ceria, begitu menawan, cantik dan riang seperti anak-anak. Airanya yang cerdas dan bersemangat yang membuat Erigo jatuh cinta. Karena ia sepertinya sudah tidak diperdulikan, Erigo memutuskan untuk menghabiskan sisa harinya dengan bekerja di studio.
Aira menghabiskan hari itu dengan memindahkan lebih banyak barang dan membuat pengurus rumahnya kerepotan. Lalu ia menelpon teman-temannya dan meminta mereka berkunjung untuk bersenang-senang di ruang riasnya yang baru. Aira bahkan sudah menyusun rencana belanja untuk menambah pakaian dan perlengkapan Erigo.
Menjelang malam, Aira barulah teringat pada keberadaan Erigo, dan mulai merasa bersalah karena sudah mengabaikannya sepanjang hari. Aira bahkan belum sempat mengucapkan terimakasih atas kejutan Erigo yang sangat bagus.
Bersama Ellie, ia memutuskan untuk memperbaiki kealpaannya. Aira menyuruh Ellie menyiapkan meja di dekat kolam renang untuk makan malam sementara Erigo menenggelamkan diri di studionya. Aira menata makan malam di luar dalam cahaya lilin yang romantis.
Aira mandi dan berdandan sedikit, lalu memilih pakaian yang paling cantik di tubuhnya meskipun perut buncitnya tidak bisa disembunyikan. Aira tidak lupa menyemprotkan parfum favoritnya.
Mata Erigo berubah gelap berkilat saat melihat Aira. Rambut Aira berkilau dan beraroma strawberry. I love strawberry, pikir Erigo lagi. Senyum Aira tampak menawan dengan bibir mengkilap menggoda. Aira menyuapi Erigo makanan favoritnya.
Erigo mencondongkan tubuhnya ke arah Aira. "Kau cantik sekali. Ide siapa ini?"
Aira tersenyum. "Ideku. Untuk berterimakasih pada suamiku yang tampan dan baik hati." Ucapnya.
"Jadi sekarang aku diperdulikan?" Tanya Erigo dengan sorot geli di matanya.
Aira meringis. "Maafkan aku. Aku terlalu senang hingga melupakanmu. Jadi makan malam ini, sebagai permintaan maafku dan sekaligus ucapan terimakasih karena kau memberikan kejutan yang sangat bagus."
Aira mundur dan meletakkan gelasnya di atas meja. "Kau ingin aku melakukan apa?"
Erigo tiba-tiba menunjukkan minat pada apa yang akan dikatakannya. "Melakukan sesuatu yang melibatkan tempat tidur."
Bagus sekali. Kali ini Aira merona dari ujung kepala hingga kaki.
Mereka terbangun di pagi hari dengan langit biru dan matahari bersinar keemasan. Aira kehilangan seluruh tenaganya dalam pelukan suaminya. Erigo adalah kekasih yang luar biasa, romantis, suka memberi dan menuntut. Entah sudah berapa ratus kali Aira mengatakan betapa ia mencintai Erigo.
_____________________________
Minggu demi minggu berlalu dengan perut Aira yang semakin membesar. Erigo sering mengajaknya ke pantai, memunguti kerang yang terdampar di pantai dan menjejalkannya ke dalam saku dan membawakannya untuk Aira. Segala hal yang dilakukannya bersama Erigo membuatnya bahagia.
__ADS_1
Mereka berjalan-jalan di pusat kota. Erigo membelikan banyak pakaian longgar untuk Aira, juga celana berpinggang tali yang lembut. Erigo membelikannya sandal buatan tangan hanya karena Aira mengaguminya. Ia juga membelikan gelang dan anting karena Aira menyebutkan satu kata 'wow'. Aira mulai berhati-hati agar tidak menunjukkan ketertarikannya pada sesuatu agar Erigo berhenti membelikannya banyak barang tetapi tetap saja sia-sia. Erigo menghujaninya dengan kantong-kantong belanja dan kotak-kotak bertumpuk yang membuat mobil mereka penuh sesak.
Mereka membeli sandwich untuk makan siang dan menikmati piknik kecil tanpa gangguan berarti. Lalu berkendara lagi ke tepi pantai menikmati matahari terbenam.
Mereka kembali ke rumah dan melakukan aktifitas suami istri hingga lelah menggerogoti.
Suatu malam Erigo terbangun dan mendapati Aira sedang duduk di tepi tempat tidur. "Ada apa?"
Aira menguap dan mata mereka bertemu. "Tidak. Bukan apa-apa." Aira kembali mengubah posisi duduknya.
"Ada sesuatu." bantah Erigo tegas dan sorot matanya bertanya-tanya. Erigo bangun dan duduk. "Ayolah sayang, ada apa? Aku bisa melihat kau tak nyaman." ucapnya membujuk.
Aira memejamkan matanya. "Punggungku sakit." ucapnya lirih. "Selalu begitu kalau malam-malam."
"oh, benarkah?" Erigo menatap Aira lagi. "Apakah itu tidak biasa?" tanya Erigo mengernyit.
"Tidak, itu sangat normal. Mereka bilang itu memang akan terjadi."
"Mereka itu siapa?" tanya Erigo.
"Orang-orang di kursus melahirkan yang ku ikuti dan juga tertulis di buku-buku tentang kehamilan."
Erigo mengangguk mengerti. "Aku harus membacanya juga kapan-kapan." ujarnya. "Apa yang harus kita lakukan untuk mengobatinya?"
Aira tersenyum. "Kau bisa memijitnya. Tidak mengobati, hanya mengurangi rasa tidak nyamannya."
"Berbaliklah. Biarkan aku memijitnya." ucap Erigo tenang.
Erigo memijit Aira pelan-pelan. "Merasa lebih baik?" tanyanya.
"Mmm. Lebih baik. Trimakasih." ucap Aira.
__ADS_1
"Cobalah untuk tidur." gumam Erigo.
"Mmm.. Dan Erigo, ingatkan aku untuk memasukkan perlengkapan yang dibutuhkan ketika melahirkan kedalam koper." ucapnya sebelum jatuh tertidur.