Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 54


__ADS_3

Aira masih belum pulih dari reaksi sebelumnya ketika Erigo turun ke bawahnya dan mencium inti dirinya. Sekali lagi Aira terkesiap. Pinggulnya bergerak ingin menghindar, namun tangan Erigo mencengkram, menahannya agar tetap di tempatnya. Aira mengerang nikmat, kali ini tidak lagi berusaha menyembunyikannya. Tangannya mencengkram sprei di kedua sisi tubuhnya. Sentuhan ini terlalu nikmat, terlalu intens, hampir tak tertahankan.


"Erigo." Lirih Aira.


Namun suaminya masih tetap berada di bawah sana menikmati apapun itu yang tersaji di depan matanya. Aira sudah tak tahan lagi. Ia mencengkram tangan Erigo dan menariknya berhadapan. "Kau sungguh akan membuatku begini?" Tanya Aira dengan napas memburu.


Erigo tersenyum, matanya berkilat-kilat. "Aku menyukai reaksi tubuhmu Aira. Aku menyukai semua yang ku sentuh dan kucium. Biarkan aku mencumbumu lebih lama. Tahanlah sedikit lagi."


Tiba-tiba Aira tidak ingin menikmati setiap detik, Aira hanya ingin meraihnya. Aira menggeleng. "Cepatlah. Aku ingin sekarang, Erigo." Ucapnya menantang. Aira sudah tidak bisa menunggu lagi. Ia menginginkan Erigo untuknya, memuaskan rasa penasarannya akan seperti apa rasa suaminya. "Aku serius, cepatlah!"


Erigo tetap tidak ingin tergesa-gesa. Sebaliknya ia membelainya, menciumnya lagi lalu perlahan merangkak memposisikan diri di atas Aira seraya berbisik "Sekarang, bersiap-siaplah."


Aira bisa merasakan sesuatu yang keras menekan bagian paling sensitifnya dengan lembut pada waktu bersamaan. Mencoba menerobos inti tubuhnya dengan perlahan.


"Erigo__"


"Aku menginginkanmu." Mulut Erigo di leher Aira. Aira menengadah dan saraf-sarafnya waspada. "Aku sangat menginginkanmu... "


Erigo semakin mendesak. Aira memejamkan matanya ketika sengatan rasa perih akibat satu sentakan tajam menyerang bagian bawah tubuhnya. Rasa sakit mendorong udara keluar dari paru-parunya dalam bentuk pekikan tertahan.


Dibawah sana, sesuatu yang hangat mengalir, Erigo merobeknya. Sakit. Dan cairan bening yang lengket itu bahkan tidak berguna karena tidak bisa mengurangi rasa sakitnya. Namun rasa sakit itu tidak ada apa-apanya dibandingkan kenikmatan ini. Sakit yang ingin di ulanginya lagi dan lagi.


Aira merintih membisikkan nama Erigo. Erigo berhenti dan mendongak. Penglihatannya kabur saat ia berusaha memusatkan perhatian pada Aira. "Tatap aku." Katanya. "Kau tidak apa-apa?"


Aira membuka matanya. "A__aku baik-baik saja... Tidak apa-apa." Tapi Aira takut untuk menarik napas. Otot-ototnya tegang. Tangannya mencengkram Erigo.


Kepala Erigo menunduk ke bahu Aira dan untuk sesaat terdiam, napasnya terengah-engah. Hawa panas menguasai Erigo, meningkat seratus kali lipat. Ia berhenti sejenak menunggu tubuh Aira menerimanya.

__ADS_1


Erigo membelai Aira dengan tangan untuk menenangkan sarafnya yang tegang. Erigo merunduk, menciumnya dengan lembut. Aira merintih dan seluruh tubuhnya menggigil.


"Tenang sayang... " Ucapnya, menjaga tubuhnya tetap diam  selagi Aira meleleh. Kemudian Erigo mulai bergerak, awalnya perlahan, begitu lembut.


Gairahnya liar dan panas, mencengkram Aira sementara Erigo meningkatkan irama percintaan mereka. Erigo mengabaikan erangan Aira, ia berpesta disana tenggelam dalam kenikmatan.


"Ya Tuhan, Aira__" Tubuh Aira mencengkram Erigo, jemarinya mencengkram punggungnya dan mendengar napas tercekat di tenggorokan istrinya. Aroma tubuh Aira membuat Erigo mabuk kepayang.


Percintaan mereka berlangsung dengan gila. Gairah meletup mengawali munculnya ledakan lain. Erigo merasakan Aira berkontraksi, erangan mengikuti pelepasannya. Erigo segera menyusulnya. ******* menghantam seperti badai dan Erigo tidak menyadari apapun selain kenikmatan pelepasan.


Selagi badai itu menghantam, Aira berpegangan pada Erigo seolah takut akan jatuh dan hancur berkeping-keping. Aira terbakar, panas mengalir di pembuluh darahnya, meledak di dalam dirinya. Aira bisa merasakan pelepasanya, lebih kuat dari apa yang dia alami sebelumnya. Aira melayang, hancur lebur menjadi serpihan kecil-kecil yang tak mungkin dapat disatukan kembali. Dari kejauhan, Aira mendengar suara belahan jiwanya. "Aira."


Erigo mengecup puncak kepala Aira. "Kau sangat cantik. Dan itu tadi, luarbiasa." Ucapnya lembut.


"Trimakasih." Ucap Aira lemah tanpa tenaga.


Menyadari bahwa istrinya terdiam, Erigo menoleh untuk melihat Aira. Dia tertidur, rambutnya kusut masai namun senyuman tersungging di mulutnya yang indah.


_______________________________


Keesokan harinya, Erigo terbangun sangat pagi. Cahaya fajar menyelinap masuk melalui jendela kamar membalut istrinya dalam cahaya yang lembut dan indah.


Istrinya.


Aira adalah miliknya.


Cahaya pagi hari semakin kuat bersinar, mengingatkan bahwa waktu terus berjalan. Meskipun enggan, Erigo harus bangun mengingat bahwa pengurus rumahnya akan tiba pukul tujuh untuk menyiapkan sarapan.

__ADS_1


Kalau bisa Erigo ingin melewatkannya saja karena Aira tampaknya kelelahan. Tapi istrinya juga pasti kelaparan dan butuh tenaga. Erigo tak tahan untuk tidak menyentuh kulit putih Aira yang halus dan berkilau.


Sementara Erigo membelainya, Aira terbagun. Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah suaminya yang tampan dan sedang tersenyum.


"Selamat pagi." Ucapnya serak. "Kau bangun cepat sekali."


"Selamat pagi istriku yang cantik." Erigo menyapa Aira dengan senyuman. Kemudian ia menunduk untuk mencium Aira. Wanita itu mengalungkan tangannya di leher erigi dan menariknya. Erigo memberikan segalanya yang Aira minta.


Setelah berciuman lama, Erigo mengangkat kepalanya. "Maaf harus membangunkanmu, tapi Polly akan datang."


Sejenak Aira bingung, berusaha memahami perkataan Erigo. Ia duduk tegak di atas tempat tidur dan selimutnya merosot sampai ke pinggang, Aira menariknya lagi ke atas, menahannya di bawah lengan. "Polly siapa?"


Erigo tidak tau harus tertawa atau mengerang melihat ekspresi bingung Aira.


"Pengurus rumah, ingat?" Melihat Aira yang terus menatapnya dengan pandangan kosong, ia menambahkan "Sarapan. Polly akan menyediakan sarapan, sayang. Lagipula kau dan aku sudah sangat lapar dan butuh tenaga."


"Oh Tuhan!" Pipi Aira bersemu merah. "Hanya dengan satu ciuman dan aku sudah tidak bisa berpikir lagi." Aira mengakui.


Erigo tersenyum, meraih ujung selimut yang menutupi Aira, mempelajari lekukan lembut wanita itu yang mulus sempurna. "Tubuhmu menakjubkan."


"Apa yang kau lakukan?"


Erigo mendorong tubuh Aira hingga telentang, menunduk, memerangkap bibir wanita itu dengan bibirnya, menutupi erangan terkejut Aira. Bibir Aira terbuka dan ia mengecap manisnya. Kemudian gairah menghantamnya, ledakan kebutuhan itu menjangkitinya seperti demam. Erigo lupa diri dihantam getaran fisik yang murni. Dengan jemari yang tak sabar, ia mencumbu istrinya sekali lagi.


Aira butuh beberapa saat untuk bangun karena menggerakkan tubuhnya meski sedikit tetap terasa nyeri. Tubuh Aira terasa sakit dengan cara yang asing baginya. Terasa sangat 'luar biasa', pikirnya.


Aira mengayunkan kedua kaki ke pinggir tempat tidur. Pinggul Aira beringsut maju agar ia dapat meluncurkan tubuhnya yang kaku dari tempat tidur itu, namun nyeri terus menyiksanya. Aira berhasil turun dan tertatih menuju kamar mandi meninggalkan Erigo yang kembali tertidur. Aira sengaja membiarkan Erigo tidur lebih lama karena pria itu membutuhkannya.

__ADS_1


Aira bergegas mandi membersihkan diri dari sisa-sisa percintaannya semalam dan pagi ini. Guyuran air menyegarkan tubuhnya. Tak lama setelahnya, pintu kamar mandinya yang tak dikunci, terbuka. Erigo bergabung mandi bersama dan membantu Aira.


__ADS_2