Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 64


__ADS_3

Mendekati masa-masa kelahiran, Aira bangun lebih pagi dan berusaha menggerakkan tubuhnya dengan berjalan-jalan di taman belakang. Aira menyempatkan diri memetik ranting dan daun-daun berwarna cerah lalu menyusunnya dalam vas tinggi.


Tidak lama kemudian ponselnya berbunyi, dari Erigo yang mengatakan bahwa ia akan pulang lebih cepat karena pekerjaannya tidak memakan waktu lama dan ia mau Aira bersiap untuk pergi berbelanja.


"Lagi?" Tanya Aira heran. "Kita baru berbelanja minggu lalu dan aku bahkan belum sempat memakai pakaian-pakaian itu, sekarang kau mau kita berbelanja lagi?"


"Bukan untukmu, sayang. Ini untuk bayinya." Aira baru teringat akan rencana mereka untuk mendekor kamar bayinya. "Kita akan pergi. Tapi kau harus istirahat dulu supaya tidak terlalu lelah."


Setelah memutus panggilannya, Aira kembali ke dalam rumah dan naik ke kamar tidur. Hanya dalam hitungan detik Aira sudah tertidur lagi. Benar-benar ajaib melihat betapa mudahnya seseorang yang sedang hamil jatuh tertidur.


Ketika Aira bangun, ia merasa jauh lebih baik. Ia membasuh wajahnya dengan air dingin, menggosok gigi dan keluar mendapati Erigo sedang duduk di taman berbincang dengan Morti, tukang kebun mereka.


Erigo menoleh, melemparkan pandangan menyelidik, lalu mengangguk puas. "Kau terlihat jauh lebih segar. Siap untuk bepergian?"


Pipi Aira merona. "Aku sudah tak sabar untuk pergi."


Erigo memilih salah satu toko perlengkapan bayi terbesar di kota itu, dia terlihat begitu bersemangat seakan-akan ingin membeli seluruh toko itu sekaligus. Aira merasa harus menghentikan suaminya.


Mereka melihat berkeliling, Aira menempatkan sebelah tangannya di lengan Erigo. "Aku bingung sekali. Menurutmu apa saja yang kita butuhkan?"


"Bagaimana dengan boks bayi? Kereta dorong? Kursi bayi?" Katanya. "Kita butuh setidaknya masing-masing dua buah. Warna biru pastel dan pink."


Aira menggeleng-geleng. "Erigo, itu banyak sekali. Kamarnya akan terlalu sempit dan sesak oleh barang-barang."


Aira melihat seorang pelayan toko mendekati mereka. "Kita harus meminta bantuan." Ucap Aira tersenyum.


Aira membuarkan Erigo memilih dan menyetujui apapun yang Erigo pilihkan. Awalnya Aira tidak berniat berbelanja banyak, hanya beberapa barang yang mereka butuhkan, namun, benda-benda itu ternyata sangat menggoda.


Erigo mengangkat dua boneka berbentuk gajah, satu pink dan satu biru, dan mengibas-ngibaskannya. "Ini lucu sekali. Warnanya cocok terutama untuk kamar bayi."


Aira tertawa. "Baiklah, masukkan itu."


Mereka berdiri di samping tenda mainan berwarna pink, di sebelahnya satu tenda lagi berwarna biru. Aira tergoda untuk membelinya, tapi tentu saja bayi-bayi belum membutuhkannya. Mungkin nanti sekitar 3 atau 4 tahun lagi.

__ADS_1


"Kita bisa membelinya." Ucap Erigo seolah tau isi pikiran Aira.


Aira menggeleng. "Tidak.Tidak.. Belum perlu." Aira mencoba melangkah pergi, namun kakinya berkhianat.


Erigo berkeras. "Kita beli saja. Bisa dilipat dan disimpan sampai.. "


"Sampai 4 tahun mendatang?" Potong Aira. "Tidak Erigo, tinggalkan saja. Kita belum membutuhkannya." Aira berusaha menarik Erigo untuk pergi dari sana.


Lalu dirasakannya Erigo tiba-tiba berhenti. Ketika Aira menoleh, ia melihat Erigo sedang menatap tenda lainnya. Kali ini tenda yang lebih besar, muat untuk orang dewasa. Tendanya berwarna krem, dengan model kerucut khas indian.


"Kau mau membeli itu?" Tanya Aira.


Erigo mengangguk. Ia menoleh pada Aira dan tatapannya memohon. "Bolehkah?"


Aira hampir tertawa. "Boleh saja." Katanya sambil mengerutkan hidung. Entah tenda itu mau di letakkan dimana, tapi Aira cukup takjub melihat sisi kekanakan yang muncul dari dalam diri Erigo. Dan itu hal yang menyenangkan.


________________________________


"Tidurlah." Perintah Erigo begitu mereka sampai di rumah. Setelah acara berbelanja yang sibuk, mereka mampir di sebuah restoran untuk makan malam sebelum pulang kerumah.


"Tidurlah." Ulang Erigo tegas. "Kau butuh istirahat sayang." Tatapan Erigo beralih ke perut Aira. Ia mengulurkan tangan dan mengusapnya. Erigo menunduk untuk mencium perut Aira seraya bicara pada bayi-bayinya. "Biarkan mommy beristirahat ya sayang. Jangan menendang terlalu kencang."


Aira tersenyum mendengar pesan yang disampaikan Erigo pada bayi-bayi dalam perutnya. Ia ingin membantah karena merasa belum mengantuk, namun sekali pandang ke arah Erigo, Aira tau bahwa akan buang-buang tenaga jika ia membantah. Jadi ia pergi menaiki tangga ke kamarnya, tempat ranjangnya yang empuk dan hangat. Anehnya Aira segera diserang kantuk dan jatuh tertidur. Semudah itu.


Ia tertidur sepanjang malam, bahkan tidak tau kapan suaminya naik ke tempat tidur ataupun saat bangun. Sepertinya tubuhnya menjadi sangat lelah dan ia terbangun dalam keheningan. Sejenak Aira mengira rumah itu kosong. Tapi setelah mandi dan berpakaian, Aira mendapati suaminya sedang sibuk mendirikan tenda di bawah bayang-bayang atap teras belakang. Morti sang tukang kebun sedang berjongkok membantu Erigo.


Aira berjalan mendekat dan tersenyum ketika Erigo melayangkan ciuman singkat di pipinya. "Jadi disini kau meletakkannya?"


"Benar. Aku akan memasang lampu kelap kelip dan menggantungnya bersama beberapa foto. Bagus sekali bukan?" Ucap Erigo bangga akan idenya sendiri. Lelaki itu menunduk ke arah perut Aira dan menggumamkan ucapan selamat pagi pada bayi-bayi didalam perut sebelum mengecupnya sekilas.


"Kalau begitu, kurasa aku bisa meminta Ellie menyiapkan meja untuk makan malam di depan tenda ini nanti. Dengan lampu-lampu itu." Ujar Aira.


"Oke." Erigo mengangguk puas.

__ADS_1


Aira meninggalkan keduanya untuk menyelesaikan pekerjaan dan beranjak ke dapur. Meminta sereal dan yogurt untuk sarapan. Selesai sarapan Aira kemudian menyeduh sepoci teh, meletakkan beberapa muffin jagung yang baru dipanggang dan mengantarkannya langsung untuk Erigo dan Morti yang sudah bekerja keras.


Erigo terlihat puas saat mengamati tendanya. Ia tersenyum ke arah Aira dan mengucapkan terimakasih atas teh dan cemilannya. Sebelum Aira masuk kembali ke dalam rumah, Erigo mengingatkannya untuk menyiapkan keperluan melahirkan dan memasukkannya ke dalam koper.


Aira selesai mengepak barang-barang yang dibutuhkannya untuk melahirkan, dibantu oleh seorang asisten rumah tangga. Sang asisten meletakkan tas koper Aira di sudut kamar, bersama dua boneka gajah yang baru mereka beli kemarin.


Aira menatap puas pada kopernya dan mengucapkan terimakasih pada asisten rumah tangganya. Ketika gadis itu berbalik dan menutup pintu kamar, entakan tajam terasa  di perut Aira. "Oh.. Oh.. Aduh!"


Aira berpegangan ke dinding kamarnya. Merasa aneh. 'Apakah bayinya? Rasanya bukan.' Pikir Aira.


Sekarang rasa nyerinya sudah hilang. Perlukah memanggil dokter sekarang?


Aira belum akan melahirkan sekarang, dokternya bilang masih beberapa minggu lagi. Jadi mungkin ini alarm palsu?


Setidaknya Aira tidak mau menjadi wanita yang mudah panik dan memanggil dokter hingga puluhan kali, padahal semuanya bukan tanda-tandan kelahiran yang benar. Aira mencoba tenang sambil mengingat-ingat apa yang dipelajarinya dari kelas-kelas kehamilan dan buku-buku panduan.


Aira gelisah sepanjang hari, ia menjelajah rumah dan mencari-cari sesuatu untuk di kerjakan. Ia membersihkan wastafel di lantai bawah meskipun wastafel itu sudah tampak mengkilat tak bernoda. Ia merapikan rak bumbu di dapur, memeriksa kulkas, mengambil kemoceng dan menggoyang-goyangkannya kesana kemari.


Erigo menangkap pergelangan tangannya. "Kau tampak lelah, pergilah tidur. Biarkan pengurus rumah yang mengerjakannya." Ucap Erigo.


"Aku tidak lelah." Ucap Aira, kemudian sensasi menyengat kembali menghujam perutnya, seakan ada tali yang di ikatkan disekeliling perut Aira dan di tarik semakin kencang. "Aduh!"


Aira menjatuhkan kemocengnya dan mencengkram bahu Erigo untuk berpegangan. Sebelah tangannya meraba bagian perut bawahnya. Lalu rasa sakitnya hilang lagi.


"Ada apa?" Tanya Erigo cemas. "Apakah bayinya?" Suaminya terlihat terkejut dan panik.


Aira menegakkan tubuhnya. "Aku sudah tidak apa-apa. Hanya entakan kecil. Kurasa sebaiknya aku istirahat." Ucapnya tersenyum.


"Kau yakin?" Erigo menatapnya dengan menyelidik.


"Aku yakin. Pergilah bekerja. Kerjakan sesuatu atau apa saja. Jangan cemas." Ucap Aira lagi.


"Aku tidak cemas." Ucap Erigo berbohong. Padahal ia sangat cemas. Aira tampak lebih lelah di masa-masa akhir kehamilannya, tapi istrinya tetap bersikap keras kepala.

__ADS_1


Setelah memastikan Aira beristitahat di kamarnya, Erigo melangkah ke studio dan menelpon seseorang.


__ADS_2