
Jimmi memandang kepergian Aira dan menarik nafas panjang. Tidak ada celah sama sekali, Benarkah? Pikirnya skeptis.
Awalnya ia hanya ingin mengganggu hubungan Aira dan Erigo karna iseng, tetapi setelah bertemu gadis itu beberapa kali, Jimmi memahami kenapa Erigo berusaha menjauhkan Aira darinya. Ia secara tidak sengaja, mendapati dirinya memang tertarik pada Aira sejak awal.
Erigo mungkin sangat beruntung mendapatkan gadis berwatak seperti Aira. Dia tegas dan tidak mudah terpengaruh. Dan jelas sekali tidak tertarik pada harta orang lain. Mr. Zuma membesarkan putrinya dengan baik, pikir Jimmi.
Jimmi mengambil ponsel dari saku celananya dan menghubungi seseorang. "Ikuti gadis itu kemanapun dia pergi dan laporkan padaku. Aku mau tau sampai setiap detailnya. Jangan ada yang terlewat." Katanya dan menutup panggilan.
Ia menyipit mengamati Aira. "Tidak mungkin tidak ada celah miss Aira. Kalaupun tidak ada, maka aku akan membuat celahnya." Ucapnya bicara sendiri.
Gelembung kesenangan tiba-tiba menguasai Jimmi dan tergelincir menjadi gelak tawanya sendiri.
Aira kembali ke tempat duduknya menemui Winne dan Kei. Mendapati keduanya menatapnya dengan sorot penasaran, pastilah mereka sudah melihat sejak tadi Aira berbicara dengan siapa. Jimmi Young memang dapat menyedot perhatian semua orang.
Aira tersenyum. "Tanyakan. Jangan di tahan." Ucapnya geli.
Kei memberondongnya dengan banyak pertanyaan. Apa, kenapa, bagaimana. Aira tertawa melihatnya begitu penasaran. Dan tertawa lagi melihat mata keduanya terbelalak ketika Aira mengatakan bahwa ia akan memberikan parfumya .
"Kau sudah gila. Harganya mahal sekali." Cetus Winne dan tertawa.
Aira mengangkat bahu. "Memangnya apa lagi yang harus ku lakukan? Dia bilang dia akan berhenti jika aku tidak mengembalikannya, dan aku punya parfumku sendiri." Ucap Aira.
"Waahh. Apa aku sudah bilang, aku selalu iri padamu." Ucap Winne membuat Aira tertawa.
Mereka menyudahi makan malamnya dan beranjak pulang.
________________________________
Aira baru saja selesai mandi ketika mendengar ponselnya berbunyi, Airez menelponnya.
"Hai Airez. Ada apa kau menelpon?" Tanya Aira. Sudah pukul 9 malam di tempatnya. Dengan perbedaan waktu 13 jam, di tempat Airez pastilah masih pagi.
"Aira maafkan aku menelponmu selarut ini. Aku butuh sedikit bantuanmu."
__ADS_1
Airez memintanya pergi mengurus beberapa masalah terkait penggalangan dana yang berlangsung minggu lalu. Aira harus menemui seseorang di gedung percetakan terbesar yaitu Young Print House untuk mengurus beberapa hal terkait penggalangan dana pada acara amal. Dan pemiliknya adalah Jimmi Young.
Wah__kebetulan yang menggelisahkan, pikir Aira. Airez bilang tidak pernah terjadi kekeliruan apapun sebelumnya, tapi kali ini terjadi kesalahan kecil. Bagaimana mungkin?
Aira tidak bisa mengusir kecurigaannya. Mungkin saja Jimmi memang sengaja melakukan sedikit kekeliruan.
Aira harus bertengkar dengan Erigo gara-gara ia berkeras harus mengurus sendiri masalah yang terjadi karna Airez yang memintanya. Lagi pula, pada siapa lagi tugas ini akan di limpahkan?
Dengan berat hati Aira mendatangi kantor Jimmi untuk menyelesaikan masalah yang terjadi. Sesampainya Aira disana, ia di sambut oleh seorang wanita cantik yang merupakan sekretaris Jimmi. "Aku Aira dari ME foundation. Aku harus bertemu mr. Jimmi." Ucapnya ramah. "Apa dia sedang berada di tempat?" Tanya Aira lagi.
Sekretarisnya tersenyum ramah. "Apa anda sudah membuat janji sebelumnya miss Aira?" Tanyanya sopan.
Aira tersenyum. "Aku yakin dia memang sudah menungguku." Cetus Aira.
Sang sekretaris pergi ke ruangan yang tertutup dan tidak lama mempersilahkannya masuk. Benar saja, laki-laki itu memang sudah menunggunya.
Jimmi Young duduk di belakang meja kerjanya, tersenyum menyambut Aira. "Senang bertemu denganmu lagi miss Aira." Ucapnya dengan keramahan yang nyaris memuakkan.
Aira memandangnya dengan kesal. "Aku tidak begitu senang mr. Jimmi. Seperti yang kau lihat, aku kesal sekali harus repot-repot menemuimu disini. Jadi, bisa kau beri tau aku, apa yang terjadi dengan dana yang kau janjikan? Tenggat waktu pengumpulan dananya tinggal sedikit lagi."
Aira menghenyakkan tubuhnya, meletakkan tas tangannya di meja dan duduk tegak dengan sikap menantang. Aira tidak suka pekerjaan yang bertele-tele dan pria di depannya secara sengaja membuat pekerjaannya melambat.
"Jadi langsung saja mr. Jimmi, apa yang sebenarnya terjadi?"
Jimmi merupakan donatur tetap dan dana yang di berikannya cukup banyak hingga dapat digunakan untuk membantu lebih banyak orang. Seharusnya dana itu sudah di terima oleh ME foundation, namun kali ini, ketika tenggat waktu sudah akan berakhir, perusahaan Jimmi belum mentransfer dana sesuai perjanjian. Dan anehnya, ia berkilah bahwa mereka membutuhkan seseorang yang berpengaruh untuk bisa meyakinkan bahwa dana itu akan di berikan sesuai sasaran.
Sungguh alasan yang konyol setelah bertahun-tahun bermitra. Tapi apalah daya, alih-alih Airez yang datang, kakaknya malah menyuruh dirinya yang menemui Jimmi hanya untuk memberikan penjelasan singkat yang sebenarnya tidak di butuhkan.
Sekretaris Jimmi yang Aira ketahui bernama Belinda, masuk dengan sebuah nampan berisi sepoci teh dan dua buah cangkir. Mereka diam sebentar hingga Belinda selesai menghidangkan dan Jimmi berterimakasih dengan sopan.
"Aku akan menuangkan teh untukmu." Ucap Jimmi.
"Itu tidak perlu, trimakasih." Cetus Aira.
__ADS_1
Jimmi tersenyum masam. "Aku memaksa miss Aira." Ucapnya. "Silahkan di minum." Ucapnya lagi sambil menyodorkan secangkir teh ke hadapan Aira.
Aira menarik nafas, dan menerima cangkirnya lalu meletakkannya di meja tanpa meminumnya. "Kami harus tau apa yang terjadi mr. Jimmi. Dari yang ku dengar, alasanmu sangat konyol." Ucap Aira.
"Ku ingatkan padamu miss Aira, kau kesini untuk menjelaskan kemana saja uangku akan di salurkan." Jimmi tersenyum menyeruput tehnya. Matanya menatap Aira lekat dari balik cangkir menyusuri tubuh Aira dari atas kepalanya, hingga dadanya yang tertutup blouse dan blazer, turun ke paha Aira yang tertutup rok lipit selutut, lalu ke kakinya. Aira harus berjuang keras untuk tidak lari dari tempatnya.
Aira mengeluarkan beberapa berkas dari dalam tasnya dan meletakkannya di depan Jimmi. "Ini berkas-berkasnya, kau boleh memeriksanya. Sebenarnya, hal itu juga sudah di sampaikan saat acara mr. Jimmi. Andai saja kau sedikit memberi perhatian." Cetus Aira. Gadis itu sudah merasa kesal karna harus bertengkar dengan Erigo dan sekarang harus menghadapi Jimmi yang bertele-tele dan memindainya dengan matanya yang mesum.
Laki-laki di depannya masih terlihat sangat santai seolah-olah tidak ada pekerjaan yang menunggunya. "Aku tidak memerlukan berkas-berkas itu miss Aira. Kalau kau mau, aku bisa mentransfernya sekarang juga, tidak ada masalah bagiku." Ucapnya.
Bagus. Aira mengangguk, ia tidak ingin berlama-lama disini. "Kalau begitu, kurasa kami akan menunggu saja mr. Jimmi. Aku akan pamit." Aira hendak berdiri namun kata-kata pria itu menahannya.
"30 menit." Ucapnya. "Berikan waktumu selama 30 menit untukku, lalu dana itu akan meluncur." Jimmi tersenyum culas hingga Aira merasa ingin meninju wajahnya yang menyebalkan."Aku bisa memuaskanmu dalam 30 menit, cantik. Tinggal mengangkat sedikit rok itu." ucapnya.
Dasar brengsek, pikir Aira. Pria itu ingin melecehkannya. Emosinya bergolak. Betapa konyolnya laki-laki ini. Jangankan 30 menit, bahkan semenitpun Aira tidak sudi memberikan waktunya pada manusia menjijikkan macam Jimmi.
Aira sudah akan meledak karna tersinggung tetapi pintu kantor Jimmi yang mendadak terbuka dengan kasar mengalihkan perhatian Aira. Erigo berdiri menjulang dengan tatapan marah dan nafas yang memburu. Di belakangnya Belinda membelalak dengan tubuh gemetar.
Aira berdiri hendak menghampiri Erigo, namun sebuah cengkraman kuat menahan tangannya. Aira menoleh seketika mendapati Jimmi menyentaknya hingga terduduk di pangkuannya dan menahan pinggangnya. Tangan kurang ajar pria itu melekat di tubuhnya membuat Aira menegang waspada. Tatapannya terpaku pada Erigo yang menyipit dengan tangan terkepal.
"Kau pikir apa yang sedang kau lakukan?" Sembur Erigo ke arah Jimmi dengan tatapan berapi-api. Ketika matanya turun ke pinggang Aira, gadis itu dapat mendengar gemuruh menggelegar di telinganya.
Jimmi mendengus. Aira bisa merasakan nafasnya menghembus di telinga Aira. "Aku selalu menginginkan apa yang kau milikimiliki dan aku menginginkan tunanganmu." Ucapnya lalu terkekeh di bahu Aira. Aira bisa merasakan bajingan itu mengendusnya seperti binatang menggonggong.
Mata Erigo berapi-api. "Lepaskan dia!!" Ucapnya marah melihat apa yang dilakukan Jimmi pada tunangannya.
Aira berjuang untuk menemukan suaranya. Meskipun bergetar, Aira bersyukur dapat menyemburkan kata-kata makian pada Jimmi. "Singkirkan tanganmu dari tubuhku!!" Geramnya tegas. Tubuhnya menegang jijik ketika merasakan sesuatu yang di dudukinya mengeras diiringi suara erangan yang berlebihan dari mulut Jimmi.
Jimmi sedang memancing Erigo melewati batasannya. Aira takut Erigo akan melakukan hal gila dan bodoh yang akan merusak karir yang telah di bagunnya dengan susah payah. Ia tidak mau sampai Erigo melakukan sesuatu yang akan di sesalinya. Jadi Aira harus segera menyelesaikan konflik ini sendiri dan mencegah Erigo meletakkan tangannya pada Jimmi karna akan memperkeruh masalah.
Tangan Jimmi mengetat di pinggangnya sementara tatapannya terarah pada Erigo dengan cengiran yang memuakkan. Aira ingin memberontak, namun dengan tubuhnya yang mungil, hal itu akan sia-sia dan Erigo yang melihatnya akan segera lepas kendali. Jadi Aira menekan perasaannya agar tetap tenang dan terkendali.
"Kau sangat menjijikkan Jimmi Young. Aku tidak akan memberikan satu detikpun dari hidupku untukmu. Jika itu satu-satunya syarat yang kau ajukan untuk mengeluarkan uangmu bagi orang-orang malang itu, aku sarankan kau simpan saja dan biarkan membusuk di neraka." Cetus Aira. Wajahnya sudah memerah karena marah.
__ADS_1
Tepat ketika Erigo maju dengan tinju terangkat, Aira melayangkan sikunya sekuat tenaga tepat ke hidung Jimmi. Mengubah cengirannya menjadi perih dan tubuh Aira segera terbebas dari cengkramannya.