Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 58


__ADS_3

Erigo menutup telpon, ia membuka pintu menuju balkon di kamar mereka, membiarkan udara pagi yang sejuk masuk ke dalam kamar.


"Erigo?" Aira bergabung dengannya di balkon. Aira terlihat lebih segar setelah mandi dan berdandan. Wangi parfum berpadu aroma sabun strawberry yang selalu di sukai Erigo merebak. Erigo menarik Aira kedalam pelukannya dan mereka berdiri di dekat susuran balkon menikmati kicauan burung dan aroma rerumputan.


"Kau sudah siap?" Tanyanya. "Yodde mendaftarkan janji temu dokter kandungan sekitar jam sepuluh." Ujarnya. "Jadi kita masih punya waktu satu setengah jam untuk sarapan."


Erigo tampak bersemangat dengan rencana pemeriksaan kandungan ini, dengan asumsi bahwa Aira memang mengandung. Kilasan anak-anak mendadak muncul dalam lamunan Aira. Anak-anak balita yang cantik, montok, berambut coklat atau coklat kemerahan seperti miliknya, bermata coklat seperti Erigo. Aira mengerjap. Ia harus sadar.


"Erigo." Aira memandang suaminya dengan cemas. "Aku tak ingin kita terlalu berharap. Kita tidak tau apa yang akan di katakan dokternya nanti. Jika aku sebenarnya tidak hamil__"


Erigo membungkam kata-kata Aira dengan ciuman. "Kita masih bisa mencobanya Aira. Jangan mengatakan hal seperti itu."


Aira mengangguk. "Baiklah. Ayo kita ke bawah. Aku butuh sesuatu untuk mengganjal perut."


"Aku sudah meminta Polly membuatkan bubur nasi dan sayuran pelengkap untukmu. Ayo." Erigo menarik tangannya untuk turun ke lantai bawah dan sarapan. Aira menikmati sarapannya dengan baik.


Mereka melakukan pemeriksaan. Setelah beberapa menit yang seakan tanpa akhir, sang dokter menatap Aira. "Maafkan saya nyonya Aira, tuan Erigo." Ucapnya.


"Tidak apa-apa." Sahut Aira. Mencoba untuk tersenyum tetapi gagal total. Erigo di sampingnya mempererat genggaman tangan mereka.


Dokter wanita itu memegang pundaknya. "Anda masih muda. Masih banyak waktu untuk membangun keluarga. Tapi saya harus mengingatkan anda. Karena haid anda biasanya tidak teratur, mungkin anda butuh waktu lebih lama daripada pasangan pada umumnya. Bersabarlah." Ucapnya. Kemudian ia melanjutkan, "Anda berdua harus memperhatikan pola makan dan cobalah mengurangi stres. Lakukan kegiatan yang menyenangkan bersama pasangan."


"Saya mengerti." Ucap Aira.


Sang dokter menatap Erigo. "Anda pasti kecewa."


Dokter itu tersenyum. "Jika beruntung, anda akan kembali lagi dalam beberapa bulan dan saya akan punya berita yang lebih bagus untuk disampaikan."


Mereka meninggalkan tempat praktek dokter itu dalam diam dan berjalan melewati tempat parkir. Aira masuk ke mobil sambil berusaha menahan tangis. Ia masih berusaha mencerna segala informasi yang baru saja di terimanya. Ia menyentuh perutnya dan merasakan kekosongan yang menohok hatinya.


"Jangan lakukan itu." Ujar Erigo tiba-tiba.


Aira hanya menggeleng. Setitik air matanya jatuh. "Aku tidak kehilangan seorang bayi. Sejak awal memang tidak ada. Tapi rasanya seperti kehilangan." Ucapnya terisak. "Maafkan aku."


Erigo menariknya dan memeluknya. "Jangan minta maaf Aira. Tadinya aku juga berharap. Tapi kita bisa mencoba lagi. Kau dengar apa kata dokternya tadi, kau masih muda sayang, masih banyak kesempatan."


Erigo juga merasa sedih dan berduka atas kehilangan anak yang sudah di bayang-bayangkannya. Ia ingin punya bayi dan sudah menantikannya. Tapi pada kenyataannya, mereka belum seberuntung itu.


"Kita harus melakukan sesuatu untuk menghapus kesedihan." Ucap Erigo pada akhirnya. Ia tidak ingin Aira sedih berlarut-larut.


Aira mendongak dan memandangnya. "Kau selalu punya ide di saat-saat seperti ini kan?"


Erigo tersenyum. "Aku sudah bersumpah untuk membahagiakanmu sayang. Itu tugasku." Ucapnya bersungguh-sungguh. "Pasang sabukmu, kita akan pergi ke suatu tempat."


"Kita mau kemana?" Tanya Aira. Ia bersyukur Erigo ada disampingnya untuk mendukungnya sekarang. Aira tidak tau bagaimana jadinya jika ia pergi sendiri. Ia mungkin sedang menangis sesegukan sambil meringkuk di sudut.

__ADS_1


Senyuman tersungging di sudut mulut Erigo. "Kita akan mengganggu seorang bibi dengan malam panjang yang berisik dalam upaya membuat bayi-bayi yang montok." Ucapnya.


Aira sontak menyemburkan tawa. "Astaga. Jangan lakukan itu. Kumohon, aku tak ingin kembali kesana." Ucap Aira sembari tertawa.


Alih-alih membawa istrinya ke pantai, Erigo malah parkir di basement apartemen lama Aira.


"Mau apa kita kesini?"


"Hubungi teman-temanmu, suruh mereka mampir. Kita akan memesan makanan dan minuman, lalu bermain."


"Trimakasih." Aira memeluk Erigo. "Aku mencintaimu."


Erigo balas memeluknya. "Aku juga mencintaimu."


_____________________________________


Enam minggu kemudian, Aira sudah bagun dan berpakaian rapi. Sebelum turun dengan terburu-buru menuju dapur, ia bisa mendengar bunyi air mengalir di kamar mandi dan tau bahwa Erigo sedang di dalam, membersihkan diri.


"Selamat pagi," Ia menyapa Polly dan pekerjanya yang sedang berada di dapur. Aira bahkan tidak menunggu Ellie menyeduhkan kopi, ia mengambil teko kopi dan menuang secangkir untuk dirinya sendiri.


Polly menatapnya dengan curiga. "Anda sangat terburu-buru. Apa ada sesuatu yang akan anda kerjakan atau anda mau pergi ke suatu tempat nyonya?"


"Mmm__" Jawab Aira mengangguk. Ia menelan seteguk kopinya. "Ibuku menelpon tadi malam dan meminta kami untuk datang pagi ini. Erigo juga sedang bersiap." Lanjutnya lalu melongok ke arah kompor.


"Berapa lama lagi sarapannya?"


"Trimakasih." Aira kemudian duduk di kursi meja makan. "Kurasa kami tidak akan berada di rumah untuk makan siang dan makan malam, jadi kalian tidak perlu menyiapkannya." Ucapnya tersenyum ke arah Ellie. "Kau boleh pulang lebih cepat, beristirahat ataupun melakukan hal lain."


"Trimakasih nyonya." Ucap Ellie. Aira memperhatikan pengurus rumahnya yang masih berusia delapan belas tahun itu melonjak senang.


Aira duduk di dalam mobil di depan rumah kediaman Zuma dan menunggu Erigo membukakan pintu untuknya. Ibunya akhirnya muncul, kemudian tersenyum melihat putrinya. Ibunya datang menyambut mereka. "Aira! Senang sekali melihatmu." Ia merangkul Aira dan memeluknya erat.


Aira tersenyum dan balas memeluk ibunya. "Hai ibu. Apakah Ayah dirumah?"


Ibunya melepaskan pelukan untuk merangkul Erigo. "Kau kelihatan semakin tampan." Ucapnya tersenyum. "Ayahmu ada di ruang kerja, dan Airez masih berada di kamarnya."


"Oh bagus sekali. Kapan Airez datang?" Aira berjalan ke arah ruang duduk. Sedangkan Erigo berjalan ke arah dapur untuk meletakkan parcel buah, setelahnya baru bergabung bersama Aira dan ibunya.


"Dia kembali kemarin malam, mengusulkan acara makan malam bersama. Tapi aku ingin kalian disini seharian, jadi aku meminta kalian datang lebih pagi." Ibunya tersenyum.


"Erigo, ada sesuatu yang kau inginkan untuk makan malam? Ibu akan membuatkannya untukmu."


Erigo tertawa. "Aku akan makan apapun yang ibu masak untukku. Aku yakin rasanya akan enak."


"Baiklah." Ibunya beranjak. "Temuilah ayahmu, lalu bangunkan Airez. Ibu akan memberikan beberapa instruksi kepada Anna untuk memutuskan menu makan siang." Ucap ibunya lagi sebelum menghilang ke dapur.

__ADS_1


____________________________________


Airez terlihat tegang di meja makan dan sepertinya tidak bisa menikmati makan malamnya. Aira mau tidak mau ikut menegang waspada. Airez tidak banyak bicara ketika tadi mereka menemuinya di kamar. Aira berpikir untuk menyalahkan jetlag.


Makanan penutup di sajikan di atas meja. Aira melihat Airez duduk dengan gelisah kemudian berdeham untuk memancing perhatian semua orang.


"Aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian semua." Ucapnya. "Mungkin sedikit mendadak." Lanjutnya lagi.


Aira memperhatikan kakaknya lekat-lekat sambil menebak-nebak apa yang sebenarnya ingin Airez sampaikan.


Semua orang terdiam ketika Airez akhirnya bicara.


"Aku akan menikahi Zora, dan aku butuh restu semua orang."


Ibunya menarik napas dalam-dalam. "Apa kau menghamilinya?"


Aira bisa merasakan ayahnya menatap Airez tajam.


Airez mengerang. "Tentu saja tidak."


"Kalau begitu kenapa sikapmu begitu tegang dan takut-takut?" Ibunya berkerut cemas dan prihatinnya semakin dalam.


"Aku hanya cemas bahwa aku tidak menyampaikannya dengan benar, dan kurasa aku baru saja menyebabkan kesalahpahaman." Ujar Airez.


Aira belum bisa mengatupkan rahangnya sementara sang ibu mulai menangis gembira. Ayahnya tertawa terbahak-bahak karena mendengar berita bahagia, dan Erigo menepuk-nepuk punggung Airez.


"Kau mengagetkan semua orang, Airez." Ucap Aira. "Aku benar-benar mengira kau sudah berbuat salah."


Erigo tertawa. "Kau tidak tau betapa tidak nyamannya aku duduk disebelahmu yang terus-terusan gelisah. Kau membuatku sulit menelan." Mereka semua tertawa.


"Maafkan aku. Aku hanya sedikit panik." Airez mengakuinya sembari tertawa.


Ibunya bangkit dan memeluk putranya. "Ibu senang kau menemukan seseorang. Ibu sudah lama menginginkan kau berumahtangga. Ini berita bagus." Ucapnya seraya mencium pipi Airez.


Ibunya kembali ke tempat duduk. "Ibu selalu menyukai Zora. Ibu sudah yakin sejak pertama kali bertemu dengan gadis itu. Ibu selalu menganggap kalian berdua akan menjadi pasangan yang serasi." Katanya.


"Itu keputusan yang tepat, Airez." Sahut Ayah mereka. "Zora adalah wanita yang cerdas."


"Kau harus menikah secepatnya." Ujar ibunya bersemangat.


Aira tertawa, menggenggam tangan ibunya. "Ibu, tenanglah. Aku tau ibu sangat bersemangat, tetapi kita butuh banyak persiapan untuk itu."


"Tidak apa-apa. Kita bisa mempersiapkannya. Bagaimanapun juga itu akan menjadi pernikahan yang indah." Ibunya bersemangat lagi.


Aira tersenyum. "Ibu, kita harus tanyakan pada Zora, pernikahan seperti apa yang di inginkannya, oke. Jangan mengambil keputusan sendiri. Kita harus berdiskusi."

__ADS_1


Ibunya mengangguk. "Oh benar juga. Aku bahkan sudah menganggapnya sebagai putriku hingga aku merasa ingin mengatur segalanya."


Tidak ada satu orangpun yang keberatan dengan ide pernikahan ini. Aira menatap kakak laki-lakinya yang tampak bahagia.


__ADS_2