Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 68


__ADS_3

Senang rasanya kembali ke rumah. Setelah kelahiran putra dan putri kembar Erigo dan Aira, rasa gembiranya masih sangat besar. Aelius tidur begitu pulas setiap kali selesai menyusu. Sedangkan Aeliana lebih kecil dan lebih jarang tidur, namun menuntut lebih banyak perhatian. Meskipun begitu, keduanya tetap menjadi kesayangan orang tuanya.


Ayah dan ibu Erigo datang untuk melihat cucu-cucunya lagi. Akhir-akhir ini meskipun ibunya tidak terlalu sehat, tetapi dia tetap bersemangat jika menyangkut cucu-cucunya. Mereka muncul di ambang pintu kamar bayi, dan ketika melihat Aira dan Erigo bersama, mereka tersenyum sumringah.


"Hai ibu, kemarilah, lihat bayi-bayi mungil ini sedang tidur." Ucap Aira sambil menggenggam tangan Erigo. Ayah dan ibu mertuanya bergegas masuk dengan antusias. "Ibu tidak lelah menaiki tangganya?" Tanyanya lagi ketika ibu mertuanya berada disampingnya.


"Oh, aku merasa sehat hanya dengan melihat mereka." Ucap ibu mertuanya. "Aira sayang, kau terlihat sehat sekali."


Keduanya terpaksa melepaskan genggaman tangan mereka untuk menyambut pelukan dan ciuman. Aelius dan Aelia tetap tertidur di tengah kebisingan ketika semua orang mengagumi mereka dengan berlebihan. Sepertinya mereka juga sudah terbiasa dengan semua suara-suara di sekitarnya. Semua orang tampak tersenyum lebar.


"Dimana Jun?" Erigo bertanya karena seharusnya kakak perempuannyalah yang mengantar kedua orang tuanya ke rumah mereka.


"Dia masih dibawah sedang menelpon, mungkin sebentar lagi kesini." Cetus ibunya.


Setelah semua kegembiraan itu mereda, ayah mertuanya berdiri di samping ranjang bayi dan menatap cucu-cucunya. "Aelius sepertinya semakin mirip dirimu Aira, dan Aeliana semakin mirip dengan Erigo."


Aira tersenyum. "Oh aku berharap mereka mewarisi tinggi badan Dadda-nya." Ucapnya sembari meringis. Tangan Aira meraih tangan Erigo lagi.


"Augh.. Tak apa-apa jika Aeliana tidak terlalu tinggi, gadis-gadis imut lebih disukai. Lihatlah suamimu." Cetus Ibu mertuanya. "Berapa banyak gadis tinggi semampai yang ditemuinya sejak dulu, lalu dia bertemu denganmu, dan jatuh cinta setengah mati."


Erigo lalu berdehem. "Sebenarnya, aku tidak tahu bahwa gadis mungil ini akan membuatku jatuh cinta setengah mati." Erigo memandang Aira. Istrinya tampak secerah matahari. "Dulu dia bahkan menyembunyikan identitasnya. Berpakaian dan mengikat rambutnya dengan tampilan paling membosankan, aku tidak tau bahwa gadis seperti itu bisa menarik perhatianku."


"Kurasa kau melihat saat-saat terlemahku dan kau kasihan padaku." Ucap Aira memandang suaminya.


Aira merasakan genggaman Erigo mengerat di tangannya. "Kurasa aku mulai memikirkanmu sejak saat itu." Erigo menarik tangan Aira dan mencium buku-buku jarinya.

__ADS_1


"Ah aku baru ingat, kau memasak bubur untukku, dan itu enak." Aira mengernyit memandang suaminya. "Tapi kau tidak bisa memasak. Bagaimana caramu membuat bubur?"


Erigo tertawa dan mengangkat bahunya. "Kurasa hanya itu yang bisa ku masak dengan benar tanpa mengacaukannya. Hanya nasi dengan banyak air dan bumbu ajaib keemasan."


Mereka semua tertawa.


Aelius bergerak gelisah, kedua tangannya mengepal dan meninju udara. "Sepertinya kita sudah mengganggu jagoan ini." Ibu mertuanya mengulurkan tangan dan menyentuh pipi lembut Aelius. "Oh aku berharap Jun segera menemukan pasangan yang cocok dan segera menikah."


Jun yang baru masuk ke kamar bayi, mendengar kata-kata yang di lontarkan ibunya yang membuatnya sangat malu. "Ibu, kenapa kau membicarakanku di belakangku? Jangan lakukan itu." Protesnya.


Mereka semua menatap Jun yang berjalan melintasi ruangan dan melongok ke dalam tempat tidur bayi. "Jangan bergosip di depan bayi-bayi ini." Katanya lagi masih dengan nada kesal.


"Kenapa kau marah setiap kali ibu membicarakannya. Ibu hanya ingin kau menikah dan memiliki seseorang yang menjagamu." Ibunya terdengar kesal karena sikap Jun. Sementara Aira dan Erigo hanya bisa bertukar pandang.


Jun sepertinya tidak mau kalah karena dia kembali membalas kata-kata ibunya. "Ibu selalu begitu. Aku tidak akan menikah!" Setelah menjawab ibunya, Jun melangkah keluar ruangan. "Aku mau jalan-jalan di taman belakang." Ucapnya sebelum menghilang di balik pintu.


Ayah Erigo menggelengkan kepala. "Kau terlalu sering membicarakannya. Anak itu merasa tidak nyaman, itu saja." Aira melihat sebelah tangan ayah mertuanya bergerak mengusp punggung ibu mertuanya untuk menenangkan. "Jangan terlalu menekannya." Ucapnya lagi.


"Augh, kau selalu saja membelanya." Cetus ibunya.


Melihat ibunya merasa tidak puas, Erigo berkata, "Aku akan bicara pada Jun. Ibu dan Ayah tinggallah disini bersama bayi-bayi, Aira akan menemani." Erigo mencium sekilas pipi Aira sebelum pergi menyusul Jun.


Erigo menemukan kakaknya sedang duduk di bawah bayang-bayang pohon sembari merendam kaki di kolam renang. Jun terlihat kesal. Erigo ikut duduk di sampingnya.


"Jun, kau tau ibu hanya mengkhawatirkanmu. Jangan bereaksi seperti itu karena itu melukainya."

__ADS_1


"Kau tidak tau seperti apa rasanya."


"Aku tidak tau, karena itu aku minta maaf. Mungkin juga ibu menjadi seperti itu karena aku sudah menikah lebih dulu. Dan untuk itu aku juga minta maaf." Erigo memandang Jun. "Tapi Jun, kurasa ibu mengkhawatirkanmu karena kondisinya. Bisakah kau memakluminya?" Tanya Erigo lembut.


Jun mendesah berat. "Ibu tak perlu mengkhawatirkanku. Aku bisa menjaga diriku sendiri, dan aku akan menemukan seseorang. Hanya saja aku tidak suka dia menekanku."


"Kau mau aku bicara padanya?" Erigo menawarkan diri untuk menengahi. Karena sebagian dirinya merasa ikut bertanggung jawab atas situasi yang di alami kakaknya.


Jun menatap adiknya. "Bicaralah pada ibu, dia tidak harus begitu, karena itu juga akan menyakiti perasaanku. Aku merasa dia membanding-bandingkan aku dan dirimu, itu melukai harga diriku sebagai kakakmu." Erigo mengangguk-angguk. "Aku akan menikah, tapi tidak secepat itu."


Kini Erigo menatap jun dengan tatapan penuh selidik. "Kau dekat dengan seseorang?" Tanyanya.


Jun menatapnya lama. "Jangan memancingku. Aku mau kedalam." Jun berdiri sembari menyipratkan air di kakinya dengan sengaja ke arah Erigo.


"Hei!!" Sergah Erigo, dan Jun hanya tertawa sambil berlalu. Erigo ikut berdiri dan mengejar Jun. "Hei, Jun. Katakan padaku. Apa ada seseorang? Apa aku mengenalnya?"


Jun tidak memperdulikannya. "Enyahlah kau." Jawabnya sembari tertawa lalu menunjuk ke arah tenda yang di bangun Erigo. "Bikinkan aku pesta barbekyu di dekat tenda itu. Nanti ku beri tahu." Jawab Jun menyeringai.


Negosiasi macam apa? Pikir Erigo. "Oke. Akan aku buatkan nanti. Jadi, apa aku mengenalnya?" Erigo memandang Jun, Jun memandang Erigo. Perang urat saraf dimulai. Siapa berkedip, dia pecundang.


Aira menemukan keduanya di serambi belakang rumah, saling menatap dengan aneh. Erigo tampak seperti akan menyumpahi Jun. Sedangkan dari tatapan Jun, sepertinya sebentar lagi dia akan meludahi suaminya. Mereka berdua tampak konyol.


Aira tergoda untuk membiarkan mereka seperti itu, tapi langkah kaki ayah dan ibu mertuanya yang semakin mendekat, membuat Aira memutuskan untuk bersuara.


"Kalian akan saling meludahi atau tidak? Jika tidak, sebaiknya kembali ke dalam. Polly menyiapkan teh sore dan biskuit jagung. Aku juga dengar ada muffin coklat." cetus Aira.

__ADS_1


Erigo berpaling lebih dulu. Sembari merengut dia menarik tangan Aira. "Ayo, aku mau muffinnya."


Aira dan Jun saling berpandangan sambil tertawa sementara Aira di tarik paksa.


__ADS_2