Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 47


__ADS_3

Erigo berhenti di tempatnya dan terbelalak karena terkejut, lalu detik berikutnya ia menyambut Aira yang berlari masuk ke pelukannya. Aira mendorongnya menjauh dari Jimmi.


Dengan geram Erigo memaki Jimmi, memperingatkan Jimmi agar tidak menyentuh Aira. Aira menyambar tas tangannya di atas meja lalu mereka pergi begitu saja meninggalkan kantor pria itu. Meninggalkan Jimmi yang menyumpah dengan hidung berdarah dan sekretarisnya, Belinda, yang syok dan gemetar.


Erigo menelpon Airez dan mengatakan segalanya pada kakak laki-laki Aira. Erigo memakinya karna menyuruh Aira datang ke kantor laki-laki sialan itu.


Tidak berlama-lama Airez segera menelpon Jimmi, memakinya dan menyuruhnya mati bersama uangnya. Tidak lupa menyelipkan ancaman jika Jimmi mengganggu Aira, maka ia akan mengulitinya hidup-hidup seperti biasa.


Airez menjatuhkan bom terakhir sebelum menutup panggilan. "Kami akan menuntut atas kerusakan yang kau timbulkan mr. Jimmi."


Aira duduk gemetar di dalam mobil yang di kemudikan Erigo sementara pria itu diam dengan wajah tegang karna menahan amarah yang meluap-luap. Habislah aku, pikir Aira. Jantungnya terasa bagai di remas-remas.


Mereka melewati jalan panjang berliku-liku dengan tebing-tebing tinggi di sisi kirinya sementara pepohonan hijau di sebelah kanan tumbuh menutupi indahnya pemandangan laut. Meski begitu, Aira tidak bisa menikmati keindahan pemandangannya. Kepalanya sibuk berfikir bagaimana caranya ia harus meminta maaf pada Erigo.


Laki-laki itu sudah melarangnya, tapi Aira tidak mendengarkan. Bukan tanpa alasan, Aira tidak bisa tidak memikirkan nasib anak-anak dan para lansia yang dapat terbantu dengan dana yang dapat diberikan Jimmi Young pada yayasannya. Tapi dengan liciknya Jimmi memanfaatkan situasi untuk bembeli Aira. Pria itu bahkan berani melecehkannya di depan Erigo.


Sekarang Aira menyesal. Aira memejamkan matanya mengingat betapa menjijikkannya setiap kata-kata Jimmi dan perlakuannya pada Aira. Aira mengepalkan tangannya ketika teringat bagaimana Jimmi dengan lancang meletakkan tangannya di tubuh Aira, melecehkannya, mengendusnya seperti binatang lalu mengerang dan menegang. Gadis itu merasa muak dan mual.


Aira tidak pernah mabuk perjalanan, tapi sepertinya sekarang ia ingin muntah. Perutnya terasa di aduk-aduk. Aira berharap segera sampai ke tujuan kemanapun Erigo membawanya sekarang karena mual sudah mencapai dadanya.


Mata Erigo tetap tertuju ke jalan. "Apa sebenarnya yang kau lakukan? Aku sudah melarangmu pergi kesana." Ucapnya dengan nada marah.


Aira berjuang sekuat tenaga untuk menjawab. Kepalanya pening dan kemarahan Erigo membuatnya merasa lebih bersalah. Tapi apalah daya Aira, nasi sudah menjadi bubur. Aira sudah merasa jijik pada dirinya sendiri, sesak dan ingin menangis.


Karena Aira tidak juga menjawab, Erigo menjadi semakin kesal. "Sekarang mulutmu terkunci? Tidak mau bicara padaku lagi?" Cetus Erigo tanpa menyadari keadaan Aira.


Erigo menyetir dalam keadaan diam dan marah. Ketika Ia melirik sekilas pada Aira di sampingnya dan melihat mata Aira terpejam serta wajah gadis itu yang pucat pasi. Erigo terkejut dan cemas. Pria itu menyumpah pelan melihat bulir keringat membasahi alis Aira. Erigo menyadari tunangannya tidak baik-baik saja.


Erigo bergegas menepi, menatap tangan Aira yang tergenggam kuat di roknya yang berlipit-lipit menjadikannya kusut. "Aira? Sayang, ada apa denganmu?" Tanya Erigo. Dengan lembut ia membuka genggaman Aira perlahan-lahan.

__ADS_1


Aira tidak menjawab. Gadis itu tergesa-gesa membuka sabuk pengaman dan pintu mobil lalu termuntah-muntah di rerumputan. Erigo menepuk-nepuk pelan punggung Aira dan menyerahkan sebotol air yang tersedia di mobilnya. Dalam hati Erigo terbersit rasa bersalah karena memarahi Aira. Padahal Aira juga pasti syok dan terkejut menerima perlakuan Jimmi tadi padanya.


Aira membersihkan mulutnya lalu membasuh wajahnya agar lebih segar. Ia menyandarkan kepalanya yang berdenyut ke belakang. Erigo membantu mengeringkan wajah Aira dengan tisyu.


"Maafkan aku." Kata-kata Aira bergetar dan air matanya mengalir. "Aku seharusnya mendengarkanmu." Ucapnya lagi.


Tatapan Erigo melembut karena iba. Erigo menggenggam tangannya. "Tidak apa-apa sayang. Aku memang marah padamu, tapi aku tak mau kalau kau sampai begini." Ucap Erigo.


Aira masih terisak mengingat betapa bodohnya ia sudah mengabaikan Erigo. Ponselnya berbunyi, ada panggilang dari Airez. Erigo mengangkatnya dan menyalakan pengeras suara. "Ada apa Airez?" Tanya Erigo.


"Aira bersamamu? Bagaimana keadaannya?" Tanya Airez cemas.


"Buruk. Bajingan itu__" Erigo tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Ia menunduk, tangannya terkepal seraya menghela nafas frustasi mengingat kejadian tadi.


"Aku bisa bicara pada Aira?" Tanya Airez.


"Kau akan baik-baik saja sayang. Tetaplah bersama Erigo untuk sekarang. Aku minta maaf menempatkanmu dalam situasi seperti ini." Ucap Airez.


"Tidak apa-apa." Ucap Aira pelan. Sementara Erigo memaki pelan di sampingnya.


"Aku menelpon hanya ingin memastikan, apa kau melakukan seperti yang ku suruh?" Tanya Airez.


Aira membersit hidungnya dengan tisyu. "Aku melakukannya. Ku rasa ada di ponselku." Jawab Aira.


Erigo menatap mata Aira yang basah, merah dan sembab karena menangis. "Kau melakukan apa?" Tanyanya bingung.


"Erigo, bisakah kau mencari file perekam di ponsel Aira? Kita membutuhkannya untuk mengajukan tuntutan hukum." Ucap Airez tanpa menunggu Aira menjawab.


Mata Erigo membesar. "Kau merekamnya?" Tanyanya tidak percaya.

__ADS_1


Aira memberengut. "Aku memang bodoh pergi kesana sendirian, tapi tidak terlalu bodoh untuk menghadapinya tanpa persiapan." Ucap Aira sendu. "Aku minta maaf." Ucapnya.


"Tidak apa-apa sayang." Ucapnya cepat lalu berpaling ke ponsel. "Aku akan mengirimkan filenya padamu Airez." Ucap Erigo akhirnya.


"Baiklah." Cetus Airez. "Dan jangan memarahi adikku lagi." Ucapnya lagi dengan nada geram.


"Kalau kau begitu menyayanginya, kenapa kau mengirimnya kesana? Dasar kau bodoh sialan." Cetus Erigo kesal.


"Aku sudah minta maaf, sialan kau." Balas Airez.


"Kalian sungguh akan begini?" Tanya Aira. Gadis itu mengangkat sebelah tangannya untuk memijat kepalanya. Aira sedang tidak berminat mendengarkan pertengkaran kekanak-kanakan Erigo dan Airez.


Erigo tidak bisa menahan diri untuk tersenyum. "Aku akan menutup telponnya Airez." Ucapnya Erigo dan memutuskan sambungan.


Erigo menatap Aira. "Kenapa tidak bilang dari awal? Aku sudah terlanjur memarahimu." Ucap Erigo. "Apa isi rekamannya?" Tanya Erigo, jemarinya sibuk mengutak atik ponsel Aira.


"Seharusnya hanya merekam percakapan. Jadi tidak ada video sebenarnya. Aku belum bilang padamu karena aku sangat terguncang. Aku tidak menyangka laki-laki itu akan melakukan hal yang menjijikkan." Ucap Aira lagi.


Erigo memeluknya. "Aku tau. Kau harus melupakannya Aira. Jangan biarkan hal itu membuatmu sakit." Ucap Erigo. "Tidak apa-apa walau hanya rekaman percakapan. Bajingan itu pasti sudah bilang yang tidak-tidak." Ucap Erigo yakin.


Aira mengangguk. "Dia bilang macam-macam soal ingin membeli waktuku untuk kompensasi dana yang dia keluarkan." Ucapnya.


"Baiklah. Aku sudah mengirimnya pada Airez." ucap Erigo. Ia memandang lekat mata Aira. "Aira, Kau bisa melupakannya. Harus." Tatapan Erigo menyuntikkan energi pada Aira hingga ia mengangkat dagunya.


Erigo kemudian tersenyum dan mengecup lembut kening Aira. "Bertahanlah sebentar lagi. Kita akan segera sampai." Ucap Erigo melepaskan pelukannya, lalu kembali melajukan mobilnya.


"Kita mau kemana?" Tanya Aira.


Erigo tersenyum lagi. "Kita akan pergi mencari hiburan. Kau akan tau nanti." Jawab Erigo dan kembali berkonsentrasi ke jalanan.

__ADS_1


__ADS_2