Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 39


__ADS_3

Erigo terjaga dari tidur nyamannya dan mendapati Aira juga sudah bersandar tidur dalam posisi duduk dengan sebelah tangan masih menggenggam novel. Ia tertidur selama 2 jam. Erigo beranjak pelan dan mengangkat tubuh mungil Aira dalam dekapannya. Aira melenguh pelan dalam tidurnya, membuka matanya sedikit lalu kembali tertidur.


Erigo membawa Aira ke kamarnya dan menurunkan tubuh Aira perlahan di atas kasur berukuran besar. Ia menarik selimut menutupi tubuh Aira,  mencium keningnya dan akan beranjak untuk pulang sebelum Aira tiba-tiba menangkap ujung jarinya. Erigo menoleh.


"Kau mau menginap?" Suara Aira pelan.


Erigo terdiam. Tawaran itu cukup menggiurkan. Sejenak ia mempertimbangkan apa yang akan terjadi jika ia memutuskan naik ke tempat tidur Aira. Ia takut tidak bisa mengendalikan dirinya. Erigo berkata pelan. "Kau tidak tau apa yang kau bicarakan tuan putri." Senyum samar menghiasi wajah Erigo.


"Aku merindukanmu." Ucap Aira lagi. Lebih pelan.


Erigo menunduk di dekat Aira. "Kau membuatku takut." Ucap Erigo dalam bisikan pelan di dekat telinga Aira. Aira dapat merasahan hembusan nafas Erigo di pipinya. Aira juga takut, tapi ia tidak ingin di tinggalkan.


Erigo melirik tempat kosong di samping Aira. Batinnya berperang menimbulkan gerakan samar pada rahangnya yang mengeras. Ia bisa mengatasinya. Ia yakin bisa mengatasinya untuk satu kesempatan lagi. Bukankah ia memikirkan hal ini juga selama beberapa malam yang menyiksa di Singapura?


Aira tidak juga melepaskan genggamannya, jadi Erigo memutuskan untuk naik ke tempat tidur dan menekan segala keinginannya sekuat tenaga. Ia akan mengatasinya.


Erigo menelusup ke balik selimut, melepaskan kemejanya membuangnya ke sembarang tempat. Ia menyelipkan lengannya di bawah kepala Aira dan menarik pinggangnya hingga punggung Aira menempel di dadanya.


Tanpa di duga Aira berputar dalam pelukannya. Aira membenamkan wajahnya di dada Erigo. Gadis itu bergelung dalam pelukannya. Satu tangannya di sampirkan di pinggang Erigo.


Erigo mengerang pelan. "Kau akan membunuhku Aira." Bisiknya. Erigo dapat merasakan Aira tersenyum di dadanya.


___________________________


Erigo terjaga selama dua jam penuh. Bagaimana bisa Aira tertidur pulas dengan Erigo di sampingnya yang setengah mati menahan gelojak yang berdenyut-denyut di pusat dirinya, dan gadis itu terlihat nyaman. Aira pasti gila karena mempercayainya.


Erigo lelah berperang dengan dirinya sendiri hingga ia tertidur untuk waktu yang lama. Ketika ia mengerjap bangun, ia mendapati dirinya di tinggal sendirian sementara Aira tidak ada dalam pelukannya.

__ADS_1


Erigo melirik jam dinding yang menunjukkan pukul setengah 8 pagi. Ia pasti lelah sekali hingga tidur seperti bayi. Erigo beranjak turun dan memakai lagi kemeja yang di buangnya tadi malam, membersihkan diri di kamar mandi lalu melangkah keluar dan mendapati kekasihnya sedang menyiapkan sarapan pagi di dapur.


Hatinya menghangat. Erigo berpikir, mungkin seperti ini lah kehidupan pernikahan yang di inginkannya. Pergi tidur dengan Aira di sampingnya, lalu bangun pagi dan menemukan sepiring sarapan, secangkir kopi dan istrinya__kata-kata itu membuatnya tersenyum__istrinya dengan senyuman hangat menatapnya dari balik pantry.


Oh, tunggu sebentar, Aira memang sedang tersenyum menatapnya sekarang.


Erigo mengerjap. "Selamat pagi sayang." Ucapnya.


Aira tampak menyelidik. "Apa yang kau pikirkan hingga kau senyum-senyum sendirian?" Tanya Aira.


Erigo duduk di kursi meja makan menatap makanan yang tertata rapi dan beraroma wangi menggugah selera. "Tidak ada. Bukan apa-apa. Kau menyiapkan banyak makanan." Ucapnya mengalihkan topik pembicaraan.


Aira membalik telur goreng di penggorengan dan mengangkat bahu. "Ada banyak bahan makanan di kulkas." Ucapnya santai.


Rambut Aira di ikat sembarangan ke belakang, wajahnya memerah akibat panas kompor namun tetap terlihat menawan. Erigo menahan dirinya agar tidak melangkah kesana dan menarik lepas gelungan rambut Aira dan menyusupkan jemarinya disana lalu menciumnya.


"Hentikan lamunanmu tuan muda. Kau tidak mendengarku sejak tadi." Aira sudah berdiri di depannya dan menjentikkan jari dengan tidak sabar.


Erigo terkekeh. "Maafkan aku, kau tadi bilang apa?" Tanyanya.


"Aku tanya, kau mau secangkir kopi atau segelas jus?" Tanya Aira.


"Kopi saja untukku. Trimakasih." Ucap Erigo lagi. "Kau punya kegiatan hari ini?" Erigo mengambil telur goreng, dua sosis, daging panggang dan meletakkannya di atas piring berisi nasi goreng.


"Aku akan pergi bersama Kei. Dia minta di temani membeli beberapa kosmetik. Kau sendiri?" Tanya Aira yang sudah duduk di depannya meneguk segelas jus.


Erigo mengangkat bahu. "Harus latihan seperti biasa." Jawabnya enteng dan mulai menyantap sarapannya. Nasi gorengnya enak, ditambah telur, daging panggang dan sosis. Kopinya nikmat.

__ADS_1


Aira menyipit menatapnya. "Berhati-hatilah dengan tengkukmu." Ucapnya.


Erigo mengangguk menikmati sarapan paginya.


___________________________________


Aira terjaga dari tidurnya dalam pelukan Erigo. Tubuhnya rileks dan luar biasa nyaman dalam rengkuhan pria itu. Aira bisa merasakan hembusan nafas dan dengkuran halus Erigo di puncak kepalanya.


Aira beringsut pelan dan dengan hati-hati memindahkan tangan berat erigo dari perutnya. Aira berguling ke tepi tempat tidur lalu perlahan-lahan bangkit. Aira berjalan berjinjit menuju pintu keluar agar tidak menimbulkan suara yang dapat mengganggu Erigo yang masih nyenyak.


Setelah membersihkan diri, Aira segera menuju dapur, melihat apa yang bisa di masaknya untuk sarapan. Banyak bahan makanan di dalam kulkasnya memudahkan Aira menyusun menu sarapan sederhana. Ia berkutat di dapur selama hampir setengah jam dan melihat Erigo berdiri menatapnya. Pria itu tersenyum.


Erigo sudah membasuh wajahnya dan sedikit merapikan rambutnya. Tampilannya saat bangun tidur tampak sangat mempesona. Erigo apa adanya tanpa riasan, tanpa aksesoris, hanya Erigo.


Aira tidak tau apa yang ada dalam pikiran pria itu sekarang saat menatapnya tanpa berkedip. Aira menjentikkan jarinya untuk menyadarkan Erigo yang tampaknya sedang melamun.


Mereka berbincang ringan sebelum akhirnya menyudahi sarapan dan membersihkan peralatan makan bersama. Tanpa diduga Aira pemikiran tentang kehidupan pernikahan menyusup kedalam benaknya. Tepat seperti inilah yang di inginkannya.


Aira menoleh pada Erigo yang sedang meletakkan piring bersih di rak dengan hati-hati. Ia tak bisa menahan senyuman yang keluar dari rasa senang di hatinya ketika Erigo tiba-tiba menoleh menatapnya.


"Kenapa tersenyum? Apa yang kau lihat?" Tanya Erigo bersandar di bak cuci piring dengan satu kaki di tekuk.


Aira menyelipkan helaian rambutnya yang jatuh karena di ikat sembarangan. "Melihatmu disini, sejak aku bangun pagi, entah kenapa aku merasa senang." Ucapnya jujur.


Tangan Erigo terulur dan membawa Aira kedalam pelukannya. "Bukan hanya kau, aku juga senang Aira, rasanya aku tak ingin pulang."


Erigo menangkup wajah Aira lalu menunduk untuk menciumnya.

__ADS_1


__ADS_2