
Erigo terjaga pukul 3 pagi dan mendapati tempat tidurnya kosong. Dengan panik ia bangun dan tergesa-gesa mengenakan kemejanya. Kekosongan terasa menohok jantungnya dengan kesadaran yang belum sempurna. Bayangan Aira pergi di tengah malam yang sunyi membuatnya takut.
Tepat ketika ia akan melangkah ke pintu keluar, Aira muncul dari dalam kamar mandi dan memandangnya dengan heran. "Kau mau kemana?" Tanya Aira bingung.
Lutut Erigo lemas, darahnya seakan terkuras habis. Melihat Aira berdiri di sana menimbulkan kelegaan luar biasa. Ia menarik Aira kedalam pelukannya dan menciumnya.
"Ku pikir kau pergi." Ucapnya dengan nada cemas. Kepalanya berdenyut, jantungnya berdegup kencang karna takut yang tiba-tiba mendera. "Aku tak ingin kehilanganmu Aira. Memikirkannya saja membuatku takut setengah mati. Aku mencintaimu." Ucapnya dalam keadaan panik.
"Aku hanya ke kamar mandi." Ucap Aira pelan merasakan kepanikan Erigo.
Erigo mengelus Aira, menyentuh Aira seakan mencari pembuktian bahwa Aira masih berada di depannya. Tangannya gemetar dan dingin. "Aku tak bisa begini Aira. Aku__menikahlah denganku." Kata-kata itu terlontar begitu saja tanpa bisa di cegahnya.
Erigo sudah menyiapkan dirinya untuk melamar Aira dengan gagah di depan kedua orang tuanya. Ia sudah membayangkan apa yang akan dia lakukan dan sudah menyusun kata-kata puitis yang ingin di sampaikannya pada Aira. Namun semua rencananya kacau balau karena ulah sepupunya.
Dan disinilah Erigo, melamar pujaan hatinya dengan tangan gemetar, jauh dari kata gagah dan kata-kata puitis itu sepertinya sudah menguap dari otaknya. Persetan dengan lamaran elegan. Ia tidak bisa menunggu lagi.
"Erigo." Aira terkesiap akan lamaran yang tiba-tiba tanpa persiapan. "Tenangkan dirimu." Ucapnya pelan.
Erigo masih gemetar. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan. Ia menatap mata Aira "Maukah kau menikah denganku? Tidak, bukan itu. Kumohon. Kumohon menikahlah denganku." Pinta Erigo dengan putus asa.
Aira tidak menjawab, hanya memandangi Erigo dengan bingung.
"Kau tidak mau?" Tanya Erigo dengan suara bergetar. Bola matanya goyah. Semuanya kacau, pikirnya.
"Erigo, ini sangat tiba-tiba." Ucap Aira masih dalam keadaan terkejut. "Apa yang terjadi padamu?" Aira menangkup wajah erigo dengan tangannya yang mungil.
Erigo memeluk pinggang Aira. "Bukan ini yang ku rencanakan." Ucapnya menggeleng. "Aku berencana melamarmu. Tadi. Dengan benar di depan semua orang, tapi gadis culas itu mengacaukannya." Erigo merasakan kemarahannya kembali datang dan tubuhnya menegang.
__ADS_1
"Aku mengacaukannya." Ucap Erigo dengan nada menyesal. Kemudian Erigo teringat sesuatu. Ia melepaskan Aira perlahan dan mengeluarkan sebuah kotak beludu dari dalam saku celananya. "Aku bahkan sudah menyiapkan cincin." Ucapnya sembari membuka kotak beludu di tangannya.
Ia menatap Aira lagi. "Kali ini izinkan aku melakukannya dengan benar." Ucapnya.
Erigo menjulurkan sebelah tangan ke arah Aira dan walaupun terkejut, Aira meraihnya. Erigo menatap mata Aira dengan sorot posesif. "Aira, sayang, menikahlah denganku." Pinta Erigo. Lebih tenang, lebih mantap dan yakin.
Aira menatap cincinnya sebentar terlihat menimbang-nimbang, lalu senyumannya merekah seraya memiringkan kepalanya menatap Erigo. Ia mengangguk tanda setuju. Erigo tersenyum lebar. Memasangkan cincin ke jari Aira kemudian merengkuh Aira dan menemukan bibir Aira dengan bibirnya.
Rencana lamaran yang elegan berubah menjadi lebih intim, lebih personal. Hanya Erigo dan Aira. Hanya itu yang di butuhkan tidak perduli sekacau apa keadaannya.
________________________________
Sebelumnya Aira terjaga dari tidurnya dan merasa ingin ke kamar mandi. Aira menyalahkan air putih dan teh yang di minumnya sebelum tidur. Ia bergerak pelan di bawah rengkuhan tangan Erigo yang berat, kemudian meloloskan diri ke kamar mandi.
Hanya dua menit berselang, Aira terkejut melihat Erigo berpakaian dan akan melangkah keluar. "Kau mau kemana?" Tanyanya yang di jawab Erigo dengan menceracau panik.
Aira mengeryit pening. Erigo membuatnya terkejut. Mereka baru saja bertengkar beberapa jam lalu dan Aira mengira masalahnya belum selesai, tetapi pria di depannya malah melamarnya tiba-tiba.
Aira verysaha menenangkan Erigo yang tampak kacau. Lalu setelah Erigo bisa mengendalikan diri, pria itu melamarnya sekali lagi kali ini dengan benar, tidak terburu-buru.
Aira mungkin ragu untuk sejenak karna masalah yang di sebabkan oleh Kathy. Namun ketika kotak cincinnya di buka, semua keraguan dan kekesalan Aira menguap menjadi tiada.
Aira segera menyadari betapa besarnya cinta Erigo pada dirinyanya karena cincin itu mengungkapkan lebih banyak melebihi kata-kata yang di ucapkan Erigo untuk melamarnya dan Aira mengangguk sebagai jawaban.
Cincin itu indah dengan hiasan batu Amethyst besar di tengah berwarna keunguan dan sesetitik warna merah serta berlian kecil-kecil berkilauan yang di susun mengelilingi batu Amethyst. Cincin itu kini terpasang di jari manis Aira.
Sekarang Aira memandangi cincin di jarinya sambil tersenyum. Erigo mencium pipinya sekilas dan bertanya "Kau tau artinya?"
__ADS_1
Aira mengangguk. Tentu saja ia tau. Amethyst merupakan batu kelahiran Aira, dan Berlian mewakili batu kelahiran Erigo. Erigo yang mengelilingi Aira dengan cintanya.
"Cincinnya sangat indah." Aira tersenyum.
"Maafkan aku sayang. Seharusnya aku melamarmu dengan benar di depan semua orang" Ucap Erigo menyesal.
Aira tersenyum manis. "Kurasa tidak bisa lebih baik dari ini sayang. Hanya kau dan aku." Ucapnya.
Tidak ada siapapun di antara mereka berdua yang ingin kembali tidur. Akhirnya mereka memutuskan untuk turun ke bawah dan mencari sesuatu untuk di makan sebagai pengganjal perut terutama Aira yang sudah memuntahkan semua makanan di perutnya sebelum tidur.
Setelahnya mereka duduk di ruang keluarga menonton televisi. Aira menyandarkan kepalanya di bahu Erigo, begitu pula Erigo yang menyandarkan kepalanya berhimpitan dengan kepala Aira.
Erigo menjalin jemarinya dengan jemari Aira dan mengusap cincinnya. "Sejenak ku pikir kau akan menolakku karna kau tampak ragu menerima lamaranku sebelumnya." Ucap Erigo.
Aira tersenyum. "Aku memang hampir menolakmu. Tapi cincin itu menyelamatkanmu. Saat aku melihatnya, aku bisa langsung tau bahwa kau mencurahkan seluruh perasaanmu di dalamnya. Aku tak tau kau memiliki sisi seromantis itu." Ucap Aira.
Erigo mencium puncak kepala Aira. "Aku bahagia Aira. Ini ulang tahun terbaik sepanjang hidupku." Ucapnya.
"Meskipun di warnai insiden tidak menyenangkan." Ucap Aira.
"Kita harus melupakannya sayang. Jangan sia-siakan energimu." Cetus Erigo.
Setelahnya mereka hanya terdiam dan perlahan-lahan jatuh tertidur.
Hingga pagi menjelang, mereka belum terbangun ketika ayah, ibu dan kakak Erigo, Jun, menemukan keduanya tertidur di ruang keluarga.
Ibu Erigo tersenyum, begitu pula ayahnya. Jun mengambil ponselnya dan mengabadikan momen mereka, lalu Jun menyadari cincin yang terpasang di jari Aira. Tampak baru karena semalam, cincin itu tidak ada disana.
__ADS_1
Jun memberi tahu ayah dan ibunya. Mereka tampak ikut berbahagia.