Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 56


__ADS_3

Aira turun mengenakan celana jins pudar, kaus longgar berlengan panjang, dan rambutnya di ikat tinggi. Dengan riang menyapa para pengurus rumahnya yang sedang berada di dapur.


"Dimana meja yang kau siapkan kali ini Ellie?" Tanya Aira.


Ellie tersenyum. "Aku menyiapkan meja di teras depan nyonya, aku meletakkan satu buah vas di tengah dan mengisinya dengan bunga-bunga segar yang baru di petik paman Morti dari kebun pagi ini."


"Bagus sekali. Aku suka bunga." Aira melongok ke dalam panci di atas kompor. "Tampak lezat."


Polly menopangkan kedua tangannya di pinggang lalu menatap Aira dengan kepala yang di miringkan. "Anda menemukan sesuatu untuk di kerjakan hari ini nyonya?" Tanyanya.


Aira tersenyum ramah, Polly seperti ibunya yang selalu ingin tahu apa yang akan dilakukannya. "Aku pikir akan menyenangkan kalau aku bisa berkebun hari ini sementara Erigo akan sibuk membuat musik di ruang kerjanya." Ujar Aira.


"Mmm... Morti tak akan senang jika anda mengacaukan mahakaryanya nyonya. Baginya tanaman-tanaman itu seperti anak-anak yang di rawatnya sejak bayi." Ucap Polly. "Anaknya sendiri saja tak pernah ia rawat sebaik itu." Morti adalah suami Polly dan sekarang ia wanita paruh baya itu sedang mengeluhkannya.


Aira tertawa mendengar komentar pengurus rumahnya. "Aku janji tak akan mengganggu tanamannya." Ucap Aira.


Tak lama, Erigo turun mengenakan kaus putih kebesaran dan celana pendek. Pria itu tersenyum ramah menyapa para pengurus rumahnya. "Dimana kita sarapan sayang?" Tanyanya pada Aira.


"Di teras." Ucap Aira setengah berbisik dan langsung masuk ke pelukan Erigo. Mereka berjalan bergandengan tangan sementara para pekerjanya bergerak seperti kupu-kupu disekitar mereka. Sepertinya semua orang sudah terbiasa melihat mereka tampak mesra.


Aira melahap sarapan lengkap. Itulah makanan paling banyak yang ia makan selama berminggu-minggu. Ia benar-benar butuh energi yang banyak dari makanan sehat karena hari ini Aira berniat mengisi waktunya dengan bekerja menghasilkan keringat. Berada di udara luar yang segar akan sangat menyenangkan.


Setelah sarapan, Erigo mencium pipi Aira sekilas. "Aku akan berada di dalam studio. Panggil aku jika sudah waktunya makan siang, oke."


Aira mengangguk sembari mengenakan sarung tangan untuk berkebun. Setelah suaminya masuk ke rumah, Aira menghampiri Morti di dekat pagar. "Hai Morti, aku akan menjadi asistenmu hari ini." Ujar Aira tersenyum.


Morti menggeleng pelan. "Aduh nyonya, aku tidak terbiasa dengan situasi ini. Apa aku boleh memarahimu jika pekerjaanmu tidak bagus?" Katanya.


Alis Aira terangkat. "Boleh saja." Ucapnya mengangguk. "Tapi aku akan berusaha bekerja sebaik mungkin agar kau tidak perlu mengomel."

__ADS_1


Sementara Morti tertawa, Aira mengambil peralatan berkebun dan berjongkok. "Baiklah, kita mulai darimana?"


Morti segera memberi instruksi. "Mawar-mawar ini perlu dipindahkan ke tempat yang lebih besar nyonya. Aku akan mengambil sekantong tanah agak kita bisa mengisi pot-pot nya."


__________________________________


Aira menyudahi kegiatan berkebunnya saat hampir jam dua belas siang. Sinar matahari yang terik mulai membakar punggungnya. Ia tersenyum, merasa cukup bangga dan puas karena berhasil menyelesaikan pekerjaannya tanpa di omeli oleh Morti.


Sebelum pergi, Aira sempat meminta Morti untuk menyiapkan sebidang tanah di taman belakang untuk Aira agar ia bisa menanam beberapa jenis sayuran minggu depan.


Segera setelah menyelesaikan kegiatan bersih-bersih dan mandi, Aira cepat-cepat mengenakan pakaiannya, kaus polos biru tua dan rok jins dibawah lutut dengan belahan di depan. Aira melangkahkan kakinya ke dapur tempat para pengurus rumahnya yang sibuk menyiapkan menu makan siang.


"Aku mau membantu." Ucapnya. "Apa yang bisa ku lakukan?" Tanyanya pada Polly.


Polly memandangnya dengan heran. "Kami sungguh tidak terbiasa di bantu majikan." Katanya. "Anda nyonya rumahnya, sudah sepatutnya anda bersantai dan memberi perintah. Kenapa anda harus datang ke dapur dan memasak?" Protes wanita bertubuh gempal tersebut. Aira mulai terbiasa pada omelan-omelannya hingga ia hanya tertawa.


"Aku ingin membantu sebisaku. Beri saja aku pekerjaan yang ringan-ringan." Ucap Aira lagi.


"Kelihatannya anda sudah biasa menyiapkan makanan." Komentar Ellie setelah mereka bekerja beberapa waktu.


"Aku pernah tinggal sendiri selama beberapa waktu. Mencoba mandiri." Jawab Aira sambil mengangkat bahu. Aira mengambil bakul tempat tomat ceri dan mulai memotong tomat itu menjadi masing-masing dua bagian sebagai pendamping salad sayuran, sementara Ellie menyiapkan meja.


Polly mengangguk puas melihat pekerjaan Aira, wanita itu lalu mengambil alih dapur dan menyuruhnya mencuci tangan. "Nyonya harus pergi menemui tuan Erigo, katakan padanya makan siang akan siap sebentar lagi." Ucapnya. "Dan trimakasih sudah membantu." Polly tersenyum lembut.


Aira mengangguk. "Trimakasih juga sudah membiarkanku terlibat." Ucapnya sebelum menghilang ke arah tangga.


Aira melangkah pelan memasuki ruang kerja Erigo. Berusaha untuk tidak menimbulkan suara yang mengganggu suaminya dan mengintip sedikit. Aira menaikkan alisnya terkagum-kagum melihat ruang kontrol yang bagian depannya di tutupi kaca. Di depan sana, ada ruangan kecil dengan beberapa instrumen. Di dalamnya banyak peralatan mahal, nyaris sama persis dengan ruang rekaman di studio Mousent milik ayahnya. dan Erigo sedang duduk disana membelakangi pintu.


Musik berdentam di ruangan, Erigo sedikit mengangguk-angguk mengikuti irama dan sedang sangat fokus. Studio itu kedap suara dan tak berjendela, akibatnya tidak ada hal lain yang bisa mengalihkan perhatian Erigo dari apapun yang di kerjakannya. Namun wangi samar parfum beraroma bunga berpadu aroma strawberry menyelinap ke penciumannya dan terasa familiar.

__ADS_1


Kesadaran membuatnya menoleh sembari tersenyum ke arah Aira. Beberapa saat mereka berpandangan. Erigo menurunkan volume musik dan merentangkan tangan menyambut Aira.


Aira duduk di pangkuan Erigo. "Apa aku mengganggu?" Suaminya hanya tersenyum dan menggeleng. "Studio ini luar biasa." Ucapnya.


Erigo mengangguk. "Sangat mengagumkan. Ini investasi terbesarku. Aku mengerjakan musikku di sini."


"Aku juga menyukai irama itu, yang barusan." Ucap Aira lagi.


"Benarkah? Kau suka? Aku baru membuatnya. Belum menulis liriknya."


Aira memiringkan kepalanya. "Kau baru membuatnya? Baru saja?" Tanyanya.


"Kenapa kau terkejut?"


"Karena sepertinya aku baru tau sisi lain dari suamiku. Kupikir kau hanya menyanyi dan menulis lirik." Jawab Aira mengangkat bahu. "Berapa lama biasanya kau membuatnya?"


"Sekitar limabelas menit. Aku bersenandung dan membuatnya di kepalaku, datang tiba-tiba saja, lalu aku menyempurnakannya dengan instrumen ini."


Aira menganga. "Itu luar biasa. Kau jenius. Tadinya semua ini ada dimana?" Aira penasaran.


"Aku menyewa tempat untuk meletakkan semuanya dan membuat musik disana. Ketika aku memutuskan untuk membeli rumah ini, aku sudah berencana untuk menjadikan satu ruangan sebagai studio. Ini terbukti membuatku lebih nyaman dan lebih fokus." Erigo menjelaskannya dengan senyuman cerah.


"Kau pasti bangga atas semua yang kau capai sejauh ini. Sekarang kau terlihat seperti musisi sungguhan."


"Apa maksudmu? Aku memang musisi sungguhan, sayang." Erigo tertawa melirik jam di tangannya. "Kau kesini untuk mengingatkan makan siang?" Tanyanya.


"Ahh.. Benar juga. Polly sudah menyiapkan steik dan salad." Ucap Aira lagi. Beberapa saat ia teralihkan dari tujuannya menemui Erigo.


"Baiklah." Erigo melayangkan ciuman cepat di bibir Aira. "Jujur saja, sebenarnya aku merindukan makanan pedas dan berkuah." Ujar Erigo sementara membiarkan Aira berdiri.

__ADS_1


"Aku juga." Aira setuju. "Aku akan menyiapkannya untuk makan malam. Para pekerja bisa pulang dan beristirahat lebih cepat." Tambahnya. Mereka sudah cukup dijejalkan masakan barat sejak sarapan hingga ingin sesuatu yang berbeda untuk makan malam.


Mereka mendiskusikan menu makan malam sembari keluar dari studio Erigo.


__ADS_2