
Suasana di rumah Aira dan Erigo tampak sepi. Anak-anak sedang dibawa bermain keluar oleh Jun dan orang tua Erigo sembari menginap bersama di kediaman Galleni, dan pekerja rumah mereka sudah menyelesaikan tugas dan pulang.
Aira duduk menatap makanan yang di tata di atas meja makan. Polly menyiapkan banyak menu sebelum pulang. Sedangkan Erigo sibuk memainkan ponselnya sambil sesekali menatap Aira yang terlihat bosan.
"Sepi sekali." Cetus Aira muram. Hari masih sore dan Jun membawa bayi kembarnya pulang. "Aku merindukan Aelius dan Aeliana." Ucap Aira lagi.
Erigo mematikan ponselnya dan mengangguk setuju. "Biasanya mereka sedang mandi pada waktu ini." Jawab Erigo. "Kau kesepian?" Tanyanya lagi.
Aira mengangguk. "Kosong sekali." Keluh Aira lagi.
Erigo menatap Aira. Aira balas menatap. Kilatan aneh terlihat di mata suaminya hingga Aira tertawa dan menggeleng. "Tidak. Tidak." Cetus Aira.
Erigo terbahak. "Kenapa memangnya? Kenapa kau bilang tidak?" Tanyanya. "Tidak ada siapa-siapa di rumah." Cetus Erigo lagi.
Aira baru saja akan membalas perkataan Erigo ketika tiba-tiba bel pintunya berbunyi. "Ahh.. Mereka sudah datang." Ucap Aira seraya berlari untuk membukakan pintu bagi tamunya.
Erigo merengut. "Mereka selalu tau kapan waktu yang telat untuk mengganggu." Cetusnya.
Teman-teman mereka berkunjung ke rumah. Winne, Kei, Devano dan Yansen. Tidak ada Toddy kali ini karena sepertinya dia sedang bersama Jun dan keluarganya.
"Sudah lama aku tidak kesini Maretha. Kau terlihat memerah, barusan kalian sedang apa?" Tanya Winne tanpa basa-basi.
"Aku baru akan merebusnya saat kau menekan bel." Jawab Erigo asal.
Aira hanya memutar bolamatanya. "Masuklah. Jangan hiraukan Erigo." Jawab Aira, kemudian memeluk Kei. "Aku senang kau datang Kei. Sibuk sekali sepertinya?"
Kei mengangguk riang. "Ada banyak panggung festival, Aira. Aku tidak bisa sering-sering datang. Maafkan aku." Ucap Kei sembari mengerutkan hidung.
Aira juga memeluk Devano dan Yansen yang tampak lesu. "Kalian tampak kehilangan seluruh energi. Kewalahan?" Tebak Aira. Tidak mudah memang untuk menangani dua wanita penuh energi yang sudah menghambur ke dapur tadi.
__ADS_1
"Aku ingin tidur. Apa ada kamar kosong agar aku bisa melarikan diri?" Tanya Yansen.
Winne meneriaki kekasihnya. "Kau tidak akan kemana-mana sayang. Bantu aku menyiapkan piring."
Aira hanya tertawa melihat Yansen mengangkat bahu dengan lesu.
Mereka akan segera memulai acara makan bersama setelah beberapa waktu mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
"Kau tampak lebih kurus Aira." Ucap Devano sembari tersenyum.
Aira sengaja memainkan rambutnya dan berkata dengan lembut. "Oh aku kehilangan selera. Aku tidak makan banyak belakangan ini." Ucapnya manis.
Erigo meliriknya dengan mata menyipit. "Lalu apa yang kulihat kemarin malam? Seseorang yang mirip denganmu duduk menghabiskan sekotak pizza di dapur. Apa rumah ini berhantu?" Ucapnya sinis.
Reaksi Erigo membuat orang-orang tertawa dan Aira hanya mencebik pada suaminya.
"Kau masih cemburu pada Devano-ku?" Cetus Kei sembari meletakkan dua kantong belanja di atas meja dan mengeluarkan isinya. "Aku membawa hadiah untuk kalian." Ucapnya lagi tanpa menunggu jawaban.
"Ini lampu kerlap kerlip." Ucap Kei. Lampu itu berbentuk kristal setengah lingkaran. Jika di nyalakan, lampu kerlap-kerlip berbagai warna menari-nari menghiasi ruangan. "Cantik kan?" Tanyanya ceria.
Masing-masing orang bereaksi memuji. "Cantik sekali. Kau membelinya?" Tanya Aira.
"Iya. Aku membelinya dalam perjalanan kesini." Kei tersenyum. "Karena bayi-bayi sudah di ungsikan, jadi kita bisa karaoke di terangi lampu ini. Akan sangat cantik saat gelap dan lampu lain di matikan." Ucap Kei bersemangat. Ia mengeluarkan lagi dua buah mic Bluetooth dari dalam kantong yang di bawanya.
Aira tertawa. "Ahh.. Para penyanyi tampaknya sudah bersiap."
"Ohh.. Aku juga beli sesuatu." Winne menyambar kantong belanja lainnya dan mengeluarkan empat buah celemek masak bermotif. "Aku membeli empat, karena aku lupa Toddy tidak ikut." Ucapnya riang. "Ini kubelikan khusus untuk para pria." Winne membagikan masing-masing pada Erigo, Devano dan Yansen.
Para wanita seketika terbahak-bahak melihat motif celemek yang dibeli Winne. Salah satunya bermotif tubuh batman, lalu wonder women dan yang di pengang Erigo tampak lebih seksi karena berbentuk tubuh betty *****.
__ADS_1
Erigo mengumpat dan membanting miliknya. "Aku tidak akan memakainya." Ucapnya hingga semua orang tertawa melihat reaksinya.
Sementara itu Devano memegang jijik celemek miliknya dan Yansen tampak tidak tertarik, ia bahkan tidak mau menyentuhnya.
"Hari ini kalian para pria yang menyiapkan makanannya." Ucap Winne. "Berhubung Toddy tidak disini, jadi tidak ada orang yang akan mengomeli, dan kami ingin di manjakan."
Aira dan Kei mengangguk setuju.
"Kami akan ada di kolam renang." Cetus Aira sembari memberi kecupan singkat di pipi Erigo sebelum berlalu.
__________________________
Erigo mengamati Aira dari beranda. Melihat istrinya tertawa lepas bersama teman-temannya membuat ia merasa bangga. Ia bahagia melihat Aira.
"Hentikan itu!" Suara Devano mengagetkan Erigo. "Lihat, dia tersenyum seperti itu membuat wajahnya tampak bodoh." Ucap Devano mengadukannya pada Yansen yang tertawa keras.
"Sial kau Devano. Coba saja kau menikah. Kau akan tampak sama sepertiku." Cetus Erigo.
Yansen tertawa. "Kadang masih sulit ku percaya bahwa salah satu member sudah menikah dan punya anak." Ucapnya.
"Kenapa?" Tanya Erigo.
Yansen mengangkat bahu. "Rasanya aneh. Kurasa karena aku sudah mengenal kalian sejak remaja dan memulai pelatihan bersama. Ditambah dengan sikap kekanakan itu yang masih belum hilang. Kurasa aku masih mengingatmu sebagai anak kecil, bahkan setelah kau punya dua anak."
Devano tergelak. "Awalnya kupikir dia tidak cocok dengan kehidupan pernikahan. Bahkan ku rasa kalian terlalu terburu-buru. Tapi bisa ku lihat kau hidup sangat baik dan stabil. Membuatku agak menghormatimu."
Sebelah alis Erigo naik. "Agak menghormatiku? Dasar tak berguna. Kau harusnya sangat menghormatiku sekarang karena aku bisa dibilang lebih berpengalaman." Erigo tertawa.
"Augh menjijikkan tukang pamer!" Cetus Devano.
__ADS_1
Yansen ikut mengumpat sembari tertawa.
"Menikah dan punya anak tidak membuatmu menjadi orang dewasa." Cetus Yansen. "Cepatlah angkat makanan itu kesana sebelum pacarku mengomel." Ucapnya lagi.