Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 2


__ADS_3

Aira lelah sekali hari ini, syuting berakhir jam 8 malam tadi dan Aira masih tetap tinggal untuk mengemas pakaian dan aksesoris yang digunakan sampai jam segini. Ia merasa lapar sekarang dan mampir di sebuah tempat makan. Aira menyelesaikan makannya dengan cepat agar dia bisa segera pulang. Aira membeli buah dan beberapa bahan untuk memasak. Ia melihat ibu2 penjual aksesoris kakilima dan membeli sebuah topi pet merah muda dengan gambar karakter lucu lalu memakainya. Aira sebenarnya anak orang kaya, hanya saja ia bukanlah orang yang suka menghamburkan uang. Terlebih uang Ayahnya. Aira suka barang mahal. Ia akan membelinya sesekali.


Aira pindah ke apartemen M hari ini di iringi omelan ayah dan ibunya yang tidak setuju anak gadisnya tinggal sendiri. Tapi Aira bersikeras ia ingin mandiri. Jadi disini lah ia menunggu lift terbuka. Aira terdorong ke dalam sebelum sempat menekan nomor lantai apartemennya, Aira meminta tolong pada pria di depannya.


"Maaf, Tolong ke lantai 7" Ucapnya sopan.


Pria tsb dengan sigap menekan angka 7. Aira memandang ke arah pria tsb untuk berterimakasih namun ia terkejut saat menyadari bahwa pria itu adalah Devano.


Aira sontak menunduk dan menekan topi pet nya lebih dalam. "Trimakasih" Ucapnya pelan sambil menunduk. Aira seakan menciut di sudut.


'Kenapa dia disini?' Pikir Aira. Sementara Devano sedang sibuk memainkan ponselnya. Ia hanya mengangguk tanpa melihat.


Beberapa orang sudah turun di lantai sebelumnya menyisakan Devano dan Aira. Devano bergeser sedikit memberi ruang pada gadis dibelakangnya dan melihat bahwa gadis ini menunduk hingga terlihat sangat mungil. Ia menenteng kantong belanjaan yang terlihat berat.


"Sepertinya belanjaanmu berat. Kau butuh bantuan membawanya?“ tanya Devano sopan. Gadis itu hanya menggeleng tanpa suara kemudian menunduk sedikit tanda terimakasih.


Tring...


Pintu lift terbuka. Aira langsung keluar karna mengira Devano masih naik ke lantai di atasnya. Aira berjalan ke arah lorong rumahnya dan menyadari Devano berjalan tak jauh dibelakangnya. 'Mau kemana dia sebenarnya?' Pikir Aira. Jantungnya hampir lepas sekarang.


Aira mempercepat langkahnya dan segera menemukan pintu rumahnya yg terdapat banyak barang terbungkus kardus bertumpuk tumpang tindih.


Sementara Aira memasukkan passcode, Devano berhenti di pintu seberang dan berkata "kau baru pindah kesini? Sebaiknya rapikan barang2mu agar tidak menutupi lorong dan pintu rumahku" Ucap Devano sambil menggeser sebuah kardus ke arah Aira.


Aira kesal sendiri. 'Entah dia memang kasar pada orang baru, atau aku yang sangat sensitif hari ini' pikir Aira. Ingin sekali membantahnya namun terlalu takut ketahuan. Aira membungkuk dalam2.


"Maafkan aku, aku yang salah" Ucapnya penuh cemooh dan segera menutup pintu melarikan diri.


Aira merosot dibalik pintu yg tertutup dibelakangnya. "Kenapa harus Devano Tuhan?" Ucap Aira sambil mengacak rambutnya.


Devano memperhatikan gadis itu. Gadis mungil dengan topi kekanakan itu mencemoohnya. 'Augghh... Tidak sopan sekali.. Aku sudah cukup kesal hari ini karena stylist mungil itu. Ditambah tetangga dengan barang2nya yang mengganggu. Inilah sebabnya aku tak suka orang baru' Pikir Devano, dan langsung masuk ke rumahnya.


Devano memiringkan kepalanya karna tetangga barunya terlihat familiar namun tidak ingat dimana. Devano dengan cepat melupakannya. Dia lelah dan ingin beristirahat.


__________________________________________________________


Setelah mandi, Aira menelpon ibunya.


"Ibu, biarkan aku pindah. Tolong bicaralah pada ayah. aku janji tidak akan minta apapun lagi" Mohon Aira melalui sambungan telepon. Ia menggigiti ujung ibujarinya karna panik.


"Ayahmu bilang, kau boleh pindah.. Tapi ke rumah" Jawab ibunya di ujung sana.


"Tidak mau.. Aku ingin mandiri.. Biarkan aku pindah ke apartemen O.." Rengek Aira.


"Tidak boleh..itu terlalu jauh dari rumah..Bertahanlah disana atau pulang ke rumah, sayang. Kau tau ayahmu. Dia tak akan membiarkan putrinya berada jauh darinya. Sudah bagus dia mengizinkanmu disana kan? Tapi ibu lebih suka kau tinggal dirumah bersama kami" Kata ibu Aira.

__ADS_1


"Ibu ayolaaahhh... " Aira merengek.


"Jika kau merengek lagi, ibu akan menjemputmu" Ucap ibunya yang langsung membuat Aira diam.


'Aahhh... Kenapa jadi begini, Tuhan..' Keluh Aira setelah menutup telpon ibunya. 'Baiklah, aku akan bertahan, tanpa ketahuan. Yang harus aku lakukan hanyalah menghindari Devano. Aku harus keluar sebelum dia keluar, lalu pulang setelah dia pulang. Dan aku harus mencatat detail jadwalnya agar tidak bertemu dengannya di lingkungan rumah kami' pikir Aira.


____________________________________________________________


Pagi ini Aira berangkat lebih cepat karna takut berpapasan dgn Devano. Dia tak ingin berurusan dgn makhluk rewel itu. Dia sudah menyewa jasa bersih2 untuk datang dan membereskan apartemennya. Tentu saja dimulai dari pintu depan.


Mousent masih sepi, Aira punya banyak waktu untuk bersiap hari ini. Satu persatu rekan staf nya datang termasuk Winne. "kau datang pagi sekali" Winne duduk menghadap Aira.


"Iya, Aku yg membuka gerbang pagi ini" Jawab Aira asal.


"Hahaha.. Bagaimana rumah barumu? Ayah ibumu bilang apa? " Tanya Winne


Aira memonyongkan bibirnya, "mereka masih menyuruhku pulang, Tapi aku tak mau" Aira nyengir.


"Wahh.. Kau istimewa Aira" Winne tertawa. "aku iri sekali" ucap Winne.


Aira tertawa. "Ahh iya, sampai hari apa syutingnya? " Aira penasaran.


"Mmm.. Sampai hari jumat kalau tidak salah... Kau belum dapat jadwalnya? " Tanya winne.


"Mmm.. Oke.. Nanti akan kuberikan salinan lengkap jadwal grup Summer untuk 3 bulan kedepan. termasuk jadwal Toddy yang kau puja2 itu" Winne mengedipkan matanya yang di balas Aira dengan tanda love dijarinya.


'Aku butuh jadwal itu teman, dan Toddy adalah bonusnya' ucap aira dalam hati.


____________________________________________________________


Syuting hari ini lancar, namun Aira dan Devano masih terlihat tegang satu sama lain. Sementara Erigo yang jahil, butuh sedikit hiburan.


"Kalian berdua, apa kalian sudah saling menyapa sejak pagi?" Tanya Erigo.


"Aku tidak suka basa basi" Jawab Devano ketus.


Aira hanya diam dan melanjutkan pekerjaannya. Percuma membalas omongan Devano.


Aksesoris di pinggang Devano tersangkut satu sama lain karna gerakan dance yang mereka lakukan selama syuting. Aira masih berusaha melepaskannya sementara Devano mulai tak sabar. "Sampai kapan aku harus berdiri? Tak bisa kah kau menariknya saja? Tanya Devano kesal.


Aira menekan emosinya. Ia juga ingin menariknya sampai putus agar bisa menjauh dari Devano. "Duduklah kalau begitu. Aku tak bisa menariknya begitu saja karna ini dari sponsor dan harus dikembalikan" Jawab Aira sambil memberikan kursi untuk Devano duduk.


Aira sendiri berlutut disamping nya dan masih berusaha memisahkan aksesoris yang terbelit.


"Biar ku tarik" Ucap Devano kesal.

__ADS_1


"Tidak boleh, kecuali kau mengganti kerugiannya" Jawab Aira menatap Devano dan mengumpat lewat matanya.


"Kau meremehkan ku, benar? " Devano mengernyit. Ia punya banyak uang jika hanya untuk beberapa aksesoris. Hanya saja ia tak suka nada bicara Aira yang menurutnya tidak ramah.


Aira cemberut dan mengangkat bahunya. "Aku hanya mengatakannya, apa salahku?" ucapnya tak acuh.


Aira mulai lelah dan jarinya sakit. Ia kembali berkonsentrasi pada aksesoris menyebalkan itu.


Erigo yang sejak tadi mengamati mereka sambil tersenyum kemudian mengejek "kalian tau? Aku seperti melihat ayah dan ibuku bertengkar untuk hal sepele.. Ahh aku merindukan mereka.. Aku akan pulang duluan kalau begitu. Akurlah.. Kalau tidak, kalian akan pulang besok pagi" Ucap Erigo sambil tertawa dan berlalu.


Aira menghembuskan nafasnya dengan keras membuat Devano menatapnya jengkel.


Sementara Aira masih berkonsentrasi, Devano memperhatikan jari jemari Aira yang memerah di ujung2nya. 'Jemarinya indah' pikir Devano 'kulitnya putih sekali, apa dia kurang darah atau semacamnya?' Pikir devano konyol.


Devano teringat kata2 Erigo dan merasa harus membantu agar mereka bisa pulang. "Biar ku pegang bagian ini" Ucap Devano dengan nada normal.


"Trimakasih" Jawab Aira pelan. "Bagian ini membelit yang ini, bisakah kau tarik ini kesini?" Pinta Aira yang di turuti Devano.


"Ini seharusnya berada di bagian ini, bagaimana dia membelit kesana?" Tanya Vano


"Tidak, itu seharusnya memang disana, bagian ini yang salah" Ucap aira.


Mereka akhirnya berkomunikasi lebih banyak. Sementara aksesoris itu mulai terurai satu persatu dan menampakkan kaitan awal yang terbenam.


"Aku bisa melepaskannya sekarang, aku akan mengurai sisanya dirumah, kau bisa pulang setelah ganti baju" Ucap Aira sembari melepaskan kaitannya di celana Devano.


Tapi Devano tidak melepaskan tangannya dari aksesoris tsb membuat Aira mendongak "berikan padaku" Kata Aira.


"Jika kulepas, ini akan membelit lagi, kita selesaikan saja sedikit lagi. Aku akan membantumu" Ucap Devano.


Aira tidak membantah karna ia memang butuh bantuan dan mereka melerai satu persatu aksesoris itu sampai rapi.


"Trimakasih" Ucap Aira sambil tersenyum pada Devano. ia tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.


Devano tersenyum tipis. "Sama2" Ucap Devano yang tertegun melihat senyuman itu. Ini pertama kalinya mereka bersikap ramah satu sama lain.


Mereka terdiam saling bertatapan sampai akhirnya Aira mengerjap mencari kesadarannya.


"Aku mau pulang" Ucap aira sambil meletakkan semua perlengkapan sponsor ke dalam box.


Devano salah tingkah. "lain kali jangan gunakan aksesoris yang menyusahakan, ini melelahkan" Ucapnya ketus.


'Hah.. Mr. Cranky is back' ucap Aira dalam hati. Ia memutar bolamatanya sebelum berbalik menatap Devano, lalu membungkuk dalam2 "Maafkan aku, aku yang salah" Ucap Aira penuh cemooh, langsung mengambil tasnya dan berlalu pergi meninggalkan Devano yang kesal melihatnya.


Devano memiringkan kepalanya, 'gestur itu terlihat familiar' pikirnya. Tapi ia lupa melihatnya dimana.

__ADS_1


__ADS_2