
HAMIL.
Aira memelototi alat tes kehamilan dalam genggamannya. Seluruh tubuhnya terasa panas, dingin dan kebas pada waktu bersamaan. Aira mengerjap-ngerjap dan bersandar di tepi wastafel.
Aira tidak tau kapan tanda-tandanya muncul, namun tidak ada yang berlangsung normal pada minggu-minggu terakhir ini. Awalnya Aira pikir, ia hanya terbebani oleh rencana pernikahan kakak laki-lakinya.
Aira berusaha keras menyingkirkan suasana hatinya yang buruk, rasa sedihnya dan menunjukkan antusiasme terhadap persiapan pernikahan Airez tapi terkadang sia-sia. Ia sering merasa lelah dan tidak bersemangat hingga berpikir akan sakit.
Pagi ini ia marah-marah pada Erigo, lalu mulai muntah-muntah. Ingin rasanya mencari-cari alasan atau menyalahkan menstruasi, lalu Aira sadar, ia belum mendapat haidnya bulan ini. Aira teringat alat tes kehamilan yang belum jadi digunakannya disimpannya di nakas. Sekarang alat itu berada di tangannya dan menunjukkan tanda positif.
Jantung Aira melonjak karena girang. Ia baru membuka pintu kamar mandi ketika Erigo menghambur ke dalam kamar. Mata mereka bertemu.
"Aku hamil!" Cetus Aira hampir bersamaan dengan Erigo yang juga mengatakan hal yang serupa. "Kau hamil!"
Erigo tersenyum lebar dan melangkah cepat menarik Aira kedalam pelukannya.
Aira memperlihatkan alat tes kehamilan di tangannya. Erigo memperhatikan dua garis yang tertera pada alat itu. Tiba-tiba matanya terasa menyengat dan tenggorokannya tersekat. Ia mencium Aira begitu keras lalu melingkarkan tangannya ke bahu Aira dan memeluknya lagi.
Berbagai emosi melanda Erigo, tidak percaya, ragu, penuh harapan, dan akhirnya__ia merasa yakin.
Erigo merasakan kebahagiaan membuncah di dadanya. Kali ini ia merasa sangat yakin ada seorang bayi, atau dua, di dalam perut Aira. Anaknya. Anak-anaknya.
"Seorang bayi.. " Katanya. "Kita akan punya bayi."
Aira mengangguk. Ia tertawa melihat ekspresi Erigo yang benar-benar bahagia. "Ini sungguhan." Ucap Aira penuh kasih. "Aku hamil."
"Aira.. " Erigo menyebut namanya dengan lembut. "Jadi semua kesedihan, sikap uring-uringanmu akhir-akhir ini sebagian besar di sebabkan oleh kehamilan ini?" Seulas senyum menghiasi wajah Erigo.
"Ya, kurasa benar." Kata Aira dengan napas tersengal. "Begitu juga kenaikan berat badan, kurasa." Aira menggedikkan bahunya. "Lalu masalah nafsu makan. Pusing dan juga mual. Aku mendapat gejala-gejala itu karena hamil." Aira setengah tertawa, setengah tidak.
Erigo hanya memandangnya dalam diam membuat Aira sedikit cemas. "Apakah kau ingin mengatakan sesuatu?" Tanya Aira kemudian.
__ADS_1
"Aku terlalu sibuk bersyukur, sayang." Kata Erigo dengan suara serak lalu mencium Aira lagi dengan penuh semangat.
Pelukan Aira mengencang di sekeliling pinggang Erigo. "Aku benar-benar sangat senang, Erigo. Ini anak yang benar-benar istimewa."
"Tentu saja istimewa. Kau dan aku.. Kita menciptakan sihir terbaik, Aira. Kita akan menyayangi anak ini, atau anak-anak ini. Aku setengah berharap bahwa kau sedang hamil anak kembar." Mata Erigo tampak berseri-seri bahagia.
Kata-kata Erigo meresap kedalam hati Aira. 'Mereka akan menyayangi anak ini, atau anak-anak ini' itu benar. Air mata mulai mengaburkan pandangannya. Aira mengerjap untuk menghalau perasaan melankolis yang tiba-tiba datang.
"Oh aku menangis lagi." Ucapnya lalu tertawa.
Erigo menghapus sisa-sisa air mata di pipi Aira dan ikut tertawa. "Ini akan gila." Ucapnya.
"Kita harus menemui dokter dan mendapatkan resep untuk mengatasi mual-mualmu."
Aira mengangguk setuju. "Aku juga harus membawa gaun periring pengantinku ke tukang jahit untuk merombaknya. Waktu yang tersisa tidak banyak." Ia tiba-tiba menangis lagi mengingat gaunnya yang tidak muat.
"Jangan menangis sayang. Aku yakin kau akan tampak luar biasa dengan gaun model apapun." Erigo berkata lembut sambil menatap mata Aira yang berkilauan. "Sekarang, sebelum kau menenggelamkan aku dalam air mata, aku mau menelpon dokter agar kita bisa memeriksakan kehamilanmu besok."
________________________________
Baik Aira dan Erigo masih belum memberitahukan berita kehamilan Aira pada orangtua dan kerabat dekat. Mereka sengaja menundanya sampai pernikahan Airez dan Zora selesai, agar perhatian tetap tercurah pada keduanya.
Besok pagi barulah mereka akan mengunjungi orang tua mereka. Kemudian mereka akan memberitahu kabar bahagia ini pada teman-teman dan orang terdekat.
Aira menatap suaminya lama-lama. Memperhatikan setiap gerakannya, mengekori Erigo kemanapun pria itu pergi. Bahkan sekarang saat Erigo sedang menggosok gigi.
Erigo berkumur dan membersihkan mulutnya. "Apa yang kau lakukan? Kau membuatku takut." Erigo beranjak keluar dari kamar mandi.
Erigo naik ke tempat tidur lalu menarik nafas panjang. Ketika Aira sudah berbaring di sampingnya, ia bertanya lagi, "Katakan ada apa Aira?"
Aira hanya mengangkat bahunya malas. "Bukan apa-apa." Katanya. "Tapi kau terlihat tampan sekali dan aku suka memandangimu."
__ADS_1
"Baiklah, pandangi aku sepuasmu, setelah itu cepat tidur." Erigo tidak mengerti pada sikap yang ditunjukkan Aira, namun ia berusaha memahami gejolak hormon yang kacau balau karena kehamilan istrinya ini.
"Kau sangat ramping." Aira terdengar sangat muram. Sedangkan Erigo nyaris tersedak.
"Kenapa tiba-tiba mengatakannya?"
"Tentu saja. Karena sebentar lagi aku tidak akan punya pinggang."
Erigo tertawa sekarang. "Pinggangmu akan tetap berada disana. Tidak akan pindah kemana-mana."
Aira melotot. "Memang tidak akan pindah, tapi kau tau maksudku." Aira bergerak gelisah. "Aku akan jadi gemuk."
"Kau tidak gemuk, kau montok. Ada bedanya." Erigo marah.
Aira menatap sekilas pada Erigo. "Aku akan sangat kegemukan."
"Dan menurutmu, kaum pria lebih suka membelai tubuh kurus kering, begitu?"
Aira berbaring telentang lalu termenung. "Kau suka anak laki-laki, atau anak perempuan?" Tanyanya. Karena kehamilannya masih sangat baru, jadi belum bisa melihat jenis kelamin sang jabang bayi.
Erigo menyerah pada perubahan topik yang tiba-tiba ini. Ia berbaring menyamping dan menopangkan kepalanya di satu tangan sementara tangan yang lain berada di perut Aira dan mengelusnya. "Aku tidak peduli yang mana, selama kalian sehat." Lalu erigo memeluk Aira.
"Aku ingin sepasang, laki-laki dan perempuan." Cetus Aira. Kemudian melanjutkan, "tapi yang mana saja boleh. Aku menyukai bayi-bayi mungil ini meskipun aku belum tau akan seperti apa mereka nanti." Aira tersenyum. "Kehamilan membuatmu terikat pada merela dengan ajaib."
Erigo terkekeh di telinga Aira. "Kurang dari delapan bulan lagi, kita bisa melihat mereka, sayang."
"Menurutmu, bagaimana reaksi keluarga kita nanti saat mereka diberi tahu?"
"Mereka akan senang pada awalnya karena kau hamil, lalu mereka akan menganga ketika kita bilang itu bayi kembar." Erigo tertawa. "Aku tidak sabar melihat reaksi Jun."
_________________________________
__ADS_1