
Pagi ini Aira bangun dengan malas. Ia mandi dan berdandan dengan setengah hati lalu pergi menemui bayi-bayinya. Baru sebentar bermain dengan Aeliana, Aira sudah jatuh tertidur. Matanya terasa berat dan sangat mengantuk.
Ketika Erigo kembali kerumah, sudah pukul dua siang dan Aira masih tertidur nyenyak di kamar bayi. Erigo membangunkan Aira karena pengurus rumahnya mengatakan bahwa Aira belum makan sejak pagi.
"Sayang, Aira.. Bangunlah." Erigo mengguncang tubuh Aira dengan lembut untuk membuatnya terjaga. Namun sepertinya Aira merasa masih terlalu mengantuk. Matanya hanya terbuka sedikit sembari menggumamkan kata-kata yang tidak jelas.
Erigo ikut berbaring di sebelah Aira seraya memanggil. "Aira.. Kau sudah tidur sangat lama. Bangunlah." Ucapnya. Kali ini panggilannya berhasil menyadarkan Aira dari mimpinya.
"Kau sudah pulang?" Tanyanya mengantuk. Aira berjuang untuk duduk dan membuka matanya yang berkabut.
"Mmm.. Aku audah pulang." Ucap Erigo semberi merapikan sedikit rambut Aira. "Kau tidak enak badan? Kenapa tidur lama sekali?" Tanya Erigo khawatir.
Aira hanya tersenyum lemah. "Aku tidak apa-apa. Hanya mengantuk." Jawabnya lagi. "Kau sudah makan?" Tanya Aira.
"Belum." Erigo tersenyum. "Polly bilang kau juga belum makan. Ayo turun kebawah, kita makan sama-sama." Ajak Erigo yang disambut dengan anggukan oleh Aira.
Mereka turun ke bawah bersama-sama dan duduk di meja makan sembari menunggu makanan di hidangkan. Aira menatap malas pada menu makan siang mereka yang terlambat.
Sementara sang suami makan, Aira hanya menyuap sedikit, selebihnya ia hanya memain-mainkan makanan di piringnya.
"Kenapa tidak makan?" Tanya Erigo. Melihat Aira hanya diam, Erigo mengambil sendok dan menyuapi Aira, namun Aira menggeleng menolak makanan. "Ada apa Aira? Ini semua makanan kesukaanmu."
"Aku tidak berselera." Jawab Aira. Dia meletakkan sendoknya dan mendorong piringnya menjauh. "Perutku sakit. Aku tidak tau kenapa, dan aku agak mual." Aira memegang perutnya. Lalu tiba-tiba ia berdiri dan berlari ke arah bak cuci dapur dan muntah-muntah.
Erigo mengkhawatirkan Aira. Ia lalu mengantar Aira ke kamar untuk kembali tidur. Setelah melihat Aira tidur, Erigo pergi menuju rumah orangtuanya.
Sesampainya disana, Aira mengadu pada ibunya bahwa ia mencemaskan Aira. "Tidak biasanya dia banyak tertidur. Dia juga bilang bahwa perutnya sakit, lalu tadi dia muntah. Aku agak khawatir karena dia kurang sehat."
"Benarkah?" Ibunda Erigo tertawa senang sembari menepuk pundak Erigo. "Kau bilang dia banyak tidur, mual dan muntah? Bukankah itu sudah jelas? Apa istrimu hamil?"
Erigo ternganga mendengar ucapan ibunya. "Hamil? Benarkah?" Tanyanya.
"Tentu saja. Gejalanya sangat jelas. Bukankan dulu dia juga begitu saat hamil si kembar?" Ucap ibunya semangat.
Perlahan-lahan senyum Erigo mengembang. Ia tidak bisa tidak senang. Jika Aira hamil, bukankah itu hal yang bagus? Pikir Erigo.
"Jadi Aira tidak bisa makan?" Tanya ibunya lagi.
"Kurasa begitu." Jawab Erigo. Erigo sangat senang ketika Aira hamil anak kembar dulu. Dan ia sangat bersemangat ingin melihat si kembar punya adik.
"Kalau begitu, ibu akan buatkan makanan untuknya agar dia bisa makan. Pergilah bicara dengan mertuamu. Nanti ibu dan ayahmu yang akan mengantarkan makanan kerumah." Ucap ibunya dan langsung melesat ke dapur.
Erigo kemudian berkendara lagi ke rumah mertuanya. Sepanjang perjalanan, Erigo merasa sangat senang. Di kediaman Zuma, ayah dan ibu mertuanya kebetulan sedang duduk-duduk di teras depan. Mereka menyambut Erigo dengan pelukan.
"Kau datang sendiri? Apa Aira baik-baik saja?" Tanya Frans Zuma kepada menantunya.
Erigo tersenyum dan mengangguk. "Aira baik-baik saja. Dia sedang tidur." Jawab Erigo.
Ayah mertuanya setengah terkejut dan tampak heran. "Dia masih tidur?" Tanyanya lagi.
"Kurasa.. Aira hamil." Ucap Erigo memberitahu mertuanyamertuanya dengan antusias.
__ADS_1
Frans Zuma bersandar di kursinya dan melipat tangannya. "Hamil?" Katanya. "Apa kau yakin?"
"Saat Aira hamil anak kbar kami, juga dia mengalami gejala yang sama." Ucap Erigo lagi.
Senyuman seketika mengembang di wajah ayah mertuanya. Frans Zuma merasa senang hingga bertepuk tangan, lalu menepuk punggung Erigo. "Kau dengar? Katanya Aira hamil." Ucap Frans pada istrinya.
Ibu mertuanya tampak agak cemas. Ia memukul bahu suaminya. "Kau harus memikirkan putrimu. Segala hal akan sulit baginya. Aelius dan Aeliana masih kecil, Erigo juga sering bepergian." Ucap Emma bijaksana.
Erigo mengangguk. "Benar juga, akhir-akhir ini aku sering pergi keluar negeri."
"Aku akan membantunya." Ucap Frans Zuma.
Sang istri kemudian tergelak mendengarnya. "Apa kau tidak akan bekerja? Kau hanya senang karena puttimu hamil." Ucapnya.
Sementara itu, dirumah Aira, ibu mertuanya datang membawakan banyak makanan. Setelahnya, mereka bermain dengan Aelius dan Aeliana. Aira sendiri masoh tertidur pulas di kamarnya.
____________________________________
Di tempat lain, Erigo dan mertuanya berkendara sembari membicarakan kehamilan Aira. "Aku senang Aelius dan Aeliana akan mempunyai adik. Meskipun mungkin mereka belum mengerti." Ucap Frans Zuma.
"Kau sangat senang?" Tanya ibu mertuanya sembari tertawa.
"Oh aku sangat senang." Jawab Frans. "Erigo, terimakasih sudah memberiku banyak cucu. Aku berharap kali ini perempuan lagi. Aku senang sekali." Ulangnya.
"Jadi, apa sekarang kau akan berbelanja?" Tanya Emma.
"Benar. Aku ingin berbelanja kebutuhan bayi." Frans Zuma tampak bersemangat sementara istrinya hanya tertawa.
Baik Erigo maupun Frans Zuma tampaknya sudah tidak sabar untuk membelanjakan uang mereka.
Erigo memilih dress bayi perempuan bermotif polkadot warna jingga dan sibuk mengaguminya. "Wah, ini sangat menggemaskan. Aku ingin membelinya."
Emma Zuma tertawa dan menjelaskan pada pramuniaga. "Kami datang kesini untuk membeli baju bayi yang bahkan belum lahir." Ucapnya. "Kedua pria itu melakukannya karena merela sangat senang."
Sang pramuniaga hanya tertawa melihat Erigo dan mertuanya memilih-milih pakaian.
Emma memilih masing-masing pakaian untuk Aelius dan Aeliana. Frans Zuma mendekatkan pilihannya pada istrinya dan berkata, "Aku beli satu lagi untuk adik mereka."
Mereka terkekeh. "Adik apanya. Aira bahkan belum mengatakan apa-apa." Ucap ibu mertuanya.
"Dia hanya tidak selera makan dan sering ke kamar mandi." Ucap Erigo. Dia sendiri tidak mengerti kenapa mereka meributkannya. Hanya saja, pemikiran bahwa Aira hamil lagi membuatnya senang.
Ayah mertuanya kelihatan senang sekali mendengar hal itu, dan Erigo ikut terbawa suasana.
Ketika mereka tiba di rumah Erigo, ibunya, Hellena Galleni sedang sibuk di ruang makan. Ia menyiapkan semuanya sendiri hingga menata meja makan untuk menantunya.
Mereka bertegur sapa. Kehamilan Aira membuat mereka berkumpul lagi. Para ayah sudah mengobrol dengan nyaman di ruang tamu sementata di dapur, para ibu berpelukan dengan bahagia.
"Kau sudah mendengar beritanya rupanya?" Tanya Hellena.
"Oh benar. Ini semua kau yang memasak? Pasti merepotkan sekali dengan kondisimu." Cetus Emma.
__ADS_1
Hellena menggeleng. "Tidak masalah. Aira tidak bisa makan, jadi aku memasak. Aku sangat senang Aira hamil." Ucapnya tersenyum.
Aira yang sudah terbangun, mendengar kehebohan yang terjadi di lantai bawah, jadi ia turun untuk melihat. Aira terkejut mendapati orangtua dan mertuanya datang. "Apa yang terjadi?" Tanya Aira.
"Ibu mertuamu sudah memasak banyak untukmu." Ucap ibunya. Mata Aira kemudian terarah ke meja makan yang penuh dengan hidangan.
"Oh.. Trimakasih ibu." Ucapnya tersenyum.
"Kau harus tidur lagi." Ucap ibu mertuanya.
Aira tertawa malu. "Tidak apa-apa. Tidurku cukup." Katanya. 'Aku sudah tidur seharian' pikir Aira malu.
"Tidurlah yang banyak." Kata ayahnya.
Aira tertawa. Ia lalu teringat mengapa ayah ibunya juga mertuanya datang. "Ayah dan ibu, apa ada perlu denganku? Apa mau memberiku sesuatu?" Tanya Aira polos.
Semua orang tampak saling berpandangan dan saling menyenggol siku masing-masing membuat Aira merasa heran. "Ada apa sebenarnya?" Tanyanya lagi.
Akhirnya sang ayah yang lebih dulu berbicara. "Aira, kami ingin mengucapkan selamat."
. . .
Aira benar-benar bingung. "Selamat untuk apa?" Tanyanya lagi. Aira tidak yakin tentang apapun yang perlu di beri selamat.
Semua orang menjadi heboh dan bicara bersamaan. "Kau hamil." Ucap ibu mertuanya.
"Hah? Hamil?" Tanya Aira terkejut. "Aku?" Katanya lagi. "Apa aku hamil?"
Kali ini semua orang terlihat bingung. Aira sendiri bahkan tidak tau dirinya hamil.
"Bukankah kau hamil?" Kata ayah mertuanya. "Karena itulah ibumu memasak banyak makanan." Ucapnya lagi.
"Kami juga membelikan baju." Ucap ayah Aira.
"Baju? Untukku?" Tanya Aira.
"Bukan. Untuk anak dalam kandunganmu." Ucap ibunya. "Karena kau hamil, ayahmu membelikannya."
Aira mengernyit mengambil kantong belanja yang di tunjuk ayahnya. "Ini bukan untukku?" Tanya Aira memastikan.
"Ayah membelikannya kerena Erigo bilang kau hamil." Cetus ayahnya.
Aira mengeluarkan satu set pakaian bayi perempuan dan tertawa geli. Sembari menggeleng, Aira berkata bahwa dirinya tidak hamil. "Aku tidak hamil." Ulangnya lagi.
"Kau sering tidur, dan perutmu sakit. Kau seperti itu waktu hamil Aelius dan Aeliana." Cetus Erigo.
Aira memiringkan kepalanya dan berusaha mengingat-ingat. "Benarkah? Apa aku begitu?" Aira bingung menatap semua orang. "Aku hamil dan aku tidak tau?" Aira menggeleng lagi. "Aku tidak hamil. Aku tidak mengalami gejala hamil." Ucapnya lagi menjelaskan.
Mendadak suasananya berubah muram. Semua orang tampaknya kecewa karena Aira ternyata tidak hamil. Lalu ayah Aira menatap Erigo. "Kenapa kau bilang Aira hamil? Kau yang menyebarkan rumornya."
Aira akhirnya hanya tertawa.
__ADS_1
Malam harinya Erigo memeluk Aira. "Kurasa aku terlalu bersemangat." Ucap nya. "Jadi ketika kau bilang bahwa kau tidak hamil, aku merasa kecewa."
Aira tersenyum. "Tidak apa-apa. Mungkin bulan depan?" Ucap Aira asal.