Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 44


__ADS_3

Waktu cepat berlalu hingga sampai pada hari dimana acara amal ME Foundation dilaksanakan. Acara yang diselenggarakan setiap tahun ini di maksudkan untuk membantu orang-orang kurang mampu, anak-anak kurang beruntung dan sebagian untuk membantu penderita kanker dan penyakit parah lainnya.


Hiruk pikuk para tamu undangan, donatur dan pengisi acara memenuhi aula besar tempat acara di langsungkan diselingi dentingan piring dan gelas-gelas kristal. Aroma memabukkan parfum-parfum mahal merebak mengalahkan aroma bunga-bunga segar yang disusun berjejer dan melingkar sebagai dekorasi. Lampu kristal besar di tengah ruangan menambah kesan elegan.


Aira berkeliling kesana kemari untuk menyapa para tamu dan donatur serta menyempatkan memberi bisik-bisik instruksi pada staf penyelenggara acara. Gaun malamnya yang elegan berkibar-kibar saat ia melangkah. Keanggunan terpancar dari dalam dirinya hingga menarik perhatian beberapa pria lajang di sekitarnya.


Aira sempat menyapa ibunya yang sedang berbicara pada Ayah dan ibu Erigo di salah satu meja dan tinggal sebentar untuk bercakap-cakap sebelum menghampiri ayahnya yang sedang berbicara pada salah seorang tamu mereka yang dikenal sebagai mentri kebudayaan. Aira melingkarkan tangannya pada lengan ayahnya dan dengan sopan menyapa sang mentri lalu meminta izin untuk mengatakan pada ayahnya bahwa acara akan segera di mulai.


Segera setelah ayahnya mengangguk, Aira berpamitan dengan sopan. Tepat ketika ia melangkah agak jauh, seorang pria berdiri menghalangi jalannya dengan sengaja dan  membuat Aira berhenti mendadak nyaris menabrak tubuh pria tersebut. Aira terkejut dan berpikir bahwa siapapun orang di depannya pastilah tidak memiliki standar kesopanan yang setara dengan dirinya.


Pria itu setinggi Erigo. Ia mengenakan setelan formal berwarna abu tua yang tampak pas di tubuhnya memberikan kesan pria baik-baik. Pria itu tersenyum pada Aira, namun anehnya, senyum yang tersungging di wajahnya tampak congkak, tidak sesuai dengan kesan awal yang di tampilkannya. Pria tersebut menyapa. "Halo miss Aira." Ucapnya dengan nada seolah-olah sudah lama mengenal Aira.


Aira tidak mengenalnya namun sepertinya si pria mengenal siapa Aira. "Maafkan aku, apa aku mengenalmu?" Tanya Aira mencoba terdengar sopan. Sejujurnya ia tidak suka cara pria itu menghadangnya.


Dengan gerakan kepala yang aneh, pria itu menjawab. "Kau belum mengenalku, karna itu sekarang kita berkenalan. Aku Jimmi Young." Ucapnya menyodorkan tangannya. "Kau pasti sudah tau bahwa aku donatur tetap di sini." Lanjutnya membanggakan dirinya sendiri.


"Oh." Jawab Aira menyadari siapa yang mengajaknya bicara tanpa bisa mencegah satu alisnya terangkat menilai betapa sombongnya orang di depannya ini. Aira teringat cerita Erigo beberapa minggu lalu tentang teman sekolahnya, yang sekarang sedang berada di depan Aira.


Aira cepat-cepat mengubah ekspresinya. Bagaimanapun juga, orang ini adalah tamunya dan Aira adalah tuan rumahnya. Setidaknya ia bisa mengusahakan untuk bersikap sopan. Aira menyambut uluran tangan pria tersebut untuk berjabat tangan. "Kau baik sekali mau menjadi donatur, aku sangat berterimakasih mewakili ME Foundation." Aira menekuk bibirnya membentuk sesuatu yang bisa dikatakan sebagai senyuman.


Jimmi Young tertawa dengan bangga, menarik tangan Aira dan mencium punggung tangannya. "Tentu saja. Itu bukan masalah bagiku." Ucapnya mengawali kesombongan berikutnya. "Uangku terlalu banyak untuk ku pakai berfoya-foya, ku rasa tidak ada ruginya sedikit membantu anak-anak miskin." Ucapnya lagi.


'Anak-anak miskin',  betapa menghina, pikir Aira kesal, namun dengan cepat di tepisnya sebelum mencapai wajahnya. "Tentu saja." Tukasnya cepat. "Kalau begitu aku permisi, acaranya akan segera di mulai mr. Jimmi. Semoga malammu menyenangkan." Ucap Aira seraya tersenyum. Aira tidak ingin berlama-lama mendengarkannya pamer kekayaan. Ada banyak hal lain yang harus Aira lakukan.


Ketika kakinya melangkah, ia sempat mendengar Jimmi berbicara lagi. "Aku akan menemuimu lagi nanti." Namun Aira berpura-pura tidak mendengarnya. Ia berharap tindakannya cukup jelas bagi Jimmi untuk tidak mendekatinya.


Niat baik pria itu tampaknya harus di pertanyakan. Aira merasa dia hanya sekedar ingin pamer kekayaan, alih-alih memikirkan nasib anak-anak kurang mampu. Atau dia hanya ingin kehidupan sosialnya berjalan di tengah orang-orang yang di anggapnya setara. Aira tidak tau yang mana. Dan sikapnya, sangat berlebihan.

__ADS_1


Acara berlangsung tanpa halangan berarti, Aira juga sempat menemui Airez dan Zora yang juga tampak serasi. Lalu menyapa Kei dan Winne yang juga turut hadir.


Mata Aira sedang mencari-cari keberadaan Erigo yang belum tampak batang hidungnya setelah grup Summer tampil ketika sosok Jimmi Young kembali kehadapannya.


Aira tercenung. Erigo sudah memberi tahunya kemungkinan bahwa Jimmi Young mungkin akan mendekatinya. Tapi Aira tidak menduga pria itu sangat gigih terlebih setelah Aira meninggalkannya begitu saja tadi.


"Hai, kita ketemu lagi." Ucap Jimmi seolah-olah tak sengaja menghampiri Aira. Aira hampir kelepasan menertawakan tingkah norak Jimmi di depannya. Dengan sikap sopan Aira tersenyum. "Mr.Jimmi kan? Ada yang bisa ku bantu?" Tanya Aira langsung tanpa basa-basi. Pria itu sudah jelas menginginkan sesuatu, karena itu dia terus mengganggu Aira.


"Tidak perlu." Jawabnya mengayunkan sebelah tangannya yang memegang gelas kristal. Sedangkan sebelah tangan lagi di selipkan di saku celana, kemungkinan besar agar terlihat lebih macho. Jimmi maju selangkah mendekati Aira. Aira sendiri merasa ingin mundur tetapi tidak di lakukannya. Ia tidak mau terlihat terintimidasi. "Aku akan langsung saja. Aku ingin menyumbang lebih banyak untuk yayasan ini." Ucapnya mengawali. "Tapi aku ingin kau melakukan sesuatu untukku." Jimmi memamerkan senyum playboynya ke arah Aira.


Aira bisa merasakan bahwa ia mungkin tak akan menyukai kelanjutan diskusi yang di paksakan ini. Aira diam sebentar mencari kata-kata sopan lain yang sangat sulit dikatakan mengingat lelaki di depannya agak tidak sopan. "Jika kau butuh sesuatu yang berkaitan dengan sumbangan, aku bisa mencarikan seseorang untuk membantumu." Ucap Aira berusaha tidak terlibat lebih jauh pada apapun yang di inginkan pria di depannya.


Pria itu menggeleng. "Aku tidak mau orang lain miss Aira." Ucap Jimmi mendesak. "Kau yang harus melakukannya." Seringaian aneh muncul di wajah Jimmi.


Ia ingin pembicaraan ini cepat selesai. Tidak ada gunanya berbasa basi disini dan dilihat orang. "Kalau begitu, kira-kira apa yang bisa ku lakukan untukmu?" Tanya Aira. 


Seseorang sedang mencoba berperan menjadi casanova, pikir Aira. Aira sudah tidak ingin tersenyum. Pria di depannya pasti sudah tau bahwa Aira berkencan dengan Erigo. Dia tidak tampak bodoh untuk mengetahuinya. Lalu untuk apa ajakan kencan yang tiba-tiba ini?. "Maafkan aku mr. Jimmi, ku rasa aku tidak bisa membantumu." Ucapnya tegas dagunya terangkat.


Jimmi nampaknya tidak mau menyerah. Ia tertawa mengejek. "Ku  pikir kau sangat mementingkan nasib orang-orang miskin yang di bantu yayasanmu" Ucapnya meremehkan. "Tapi sepertinya tidak begitu, karna jika kau menganggap mereka penting, kau tidak akan buru-buru menolakku miss Aira. Aku sudah bilang, aku bisa memberi sumbangan yang lebih banyak, berapapun yang kau minta. Syaratku hanya satu, kau cukup berkencan denganku. Satu malam saja. Ayolah." Ucapnya dengan cara yang paling memuakkan.


Aira menggertakkan giginya, tangan mengepal di samping tubuhnya. Tidak satu orangpun yang boleh menilai integritas dan dedikasi Aira untuk orang-orang kurang mampu tersebut terutama orang seperti Jimmi yang jelas-jelas tidak tulus. Dan Aira tidak suka Jimmi menilainya seperti perempuan murahan yang mudah tergoda oleh harta yang di pamerkannya.


Aira gemetar karna marah. Mudah sekali menyiramkan segelas minuman ke wajah pria tidak tau malu di depannya, tetapi Aira masih menahannya. "Kenapa kau tertarik padaku mr. Jimmi? Sedangkan kita baru saja bertemu beberapa jam yang lalu." Ucap Aira.


Jimmi mengangkat bahu. "Anggap saja ada sesuatu yang membuatku tertarik padamu." Ucapnya tak acuh. Cengiran culas tercetak di wajahnya.


Dengan geram Aira akhirnya melepaskan tawa mengejek. "Maafkan aku mr. Jimmi. Kau boleh saja tertarik padaku, itu terserahmu. Tapi sekali lagi maafkan aku, aku tidak berkencan dengan sembarang orang." Tukas Aira pedas.

__ADS_1


Cengiran bodoh di wajah Jimmi memudar berganti kemarahan tertahan. Pria itu mendengus kesal. "Apa karna kau berpacaran dengan Erigo? Asal kau tau, dia hanya anak kampung miskin." Cecarnya.


Aira mengangkat bahu. "Anak kampung miskin itu membuatku tertarik." Cetus Aira.


Jimmi terlihat seperti akan meludah. "Dia hanya seorang playboy kampungan." Serangnya.


Oh betapa konyolnya laki-laki ini, pikir Aira. Aira tersenyum. "Apa aku mendengar setitik rasa rendah diri orang kota yang tersaingi oleh anak kampung mr. Jimmi?" Aira menaikkan sebelah alisnya. "Tolong jangan biarkan jiwamu terintimidasi." Ucapnya lagi.


Serangan balasan dari Aira sepertinya tepat sasaran karna Jimmi terdiam.


Pria itu tertawa parau. "Kau memang menarik miss Aira." Ucapnya. Pengakuan tulus tanpa mengejek ataupun menghina.


Tepat saat itu, Erigo datang entah dari kerumunan sebelah mana dengan senyum secerah mentari dan langsung menarik pinggang Aira dengan posesif. Pria itu mencium pipinya sekilas sebelum menyapa Jimmi.


"Hai Jimmi, ku lihat kau sedang berbicara pada tunanganku." cetus Erigo.


Satu sudut bibir Jimmi terangkat dan bergetar. "Tunanganmu?" Tanyanya. Matanya melebar tidak percaya. Kekalahan pahit menerpanya.


"Tunanganku." Ulang Erigo. "Akan segera di umumkan, jika kau bisa bertahan sebentar lagi." Ucap Erigo. Ia berpaling pada Aira dan tanpa menoleh mengucapkan selamat tinggal. "Semoga malammu menyenangkan Jimmi." Ucapnya sembari menarik Aira menuju meja depan tempat orang tua mereka duduk meninggalkan Jimmi yang mengumpat pelan.


Erigo menuntun Aira sembari menunduk dan berbisik di telinganya. "Apa saja yang kau bicarakan dengannya?" Tanya Erigo bingung.


Aira hanya tertawa pelan menaikkan sebelah bahunya. Kekesalannya menguap ketika Erigo menarik pinggangnya. "Hanya mengatakan beberapa__kenyataan." Ucapnya mengangguk dan terkikik pelan.


"Apa kau memancingnya terlalu jauh?" Tanya Erigo penasaran.


"Aku tidak memancing apa-apa. Aku hanya sedang menampar seseorang dengan kata-kata bijak." Tawa Aira membuat kepalanya tersentak ke belakang.

__ADS_1


Erigo ikut tertawa. "Aku sangat penasaran. Ceritakan padaku nanti." Ucapnya dan menarik kursi untuk Aira duduk. Setelah Erigo duduk di sampingnya, pria itu mencondongkan tubuhnya ke arah Aira dan tersenyum lembut. "Omong-omong, kau terlihat sangat cantik Aira." Ucapnya.


__ADS_2