Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 51


__ADS_3

Aira baru selesai mandi dan hanya mengenakan kaos kebesaran dan celana pendek ketika Erigo menelponnya. "Ayo kita pergi berkencan." Cetus Erigo. "Pakai saja pakaian biasa yang nyaman, celana, sepatu, jangan lupakan topi dan masker." Erigo memberi instruksi pada Aira.


Aira menggigit ujung ibujarinya dan terkikik. "Aku merasakan adrenalin. Kita mau berbaur di keramaian?" Tanyanya.


Erigo terkekeh. "Kau sangat cerdas, cepatlah turun, aku di taman. Kita akan berkencan seperti orang normal."


Aira keluar memakai kaos dan hoodie oversize untuk tubuh mungilnya, di padukan celana jeans ketat plus sepatu. Rambutnya di biarkan tergerai dan hanya mengenakan topi. Terakhir Aira memakai masker hitam dan kacamata hitam besar.


Erigo tersenyum melihat tunangannya. "Apa yang terjadi pada penampilanmu?" Tanyanya geli melihat Aira. Keanggunannya hilang sudah tak berbekas.


"Aku menyamar." Ucapnya sembari mengangguk-angguk yakin.


Sebaliknya Erigo malah terkekeh. "Apa kau bahkan bisa melihat sesuatu?" Tanyanya merujuk kacamata hitam pekat yang menutupi hampir seluruh wajah Aira. Erigo menjulurkan tangan dan menarik lepas kacamata konyol itu. "Kau tidak membutuhkannya sayang, kau bisa saja tersandung." Ucap Erigo lalu mengantonginya.


"Hati-hati itu mahal." Ucap Aira memprotes. Erigo hanya tertawa dan berkata dia akan membelikan yang baru.


Mereka bergandengan tangan memasuki taman hiburan berbaur dengan pengunjung lain dan juga turis-turis asing. Terdapat banyak kios-kios aksesoris lucu di sepanjang jalan masuk, booth makanan, restoran dan banyak orang yang berfoto di photobooth yang disediakan.


Lalu mereka menaiki bus safari untuk menelusuri bagian kebun binatang. Mereka juga dapat melihat satwa-satwa liar dari dalam bus. Aira ber-ohh dan ahh seperti anak kecil membuat Erigo terkekeh geli.


Memasuki zona berikutnya, kawasan restoran yang menawarkan suasana eropa melalui arsitekturnya. Di area tersebut terdapat taman bunga yang mempesona dan wahana rumah hantu yang menantang adrenalin.


"Aku ingin masuk." Ucap Aira sambil melompat-lompat. Erigo menggeleng. "Oh ayolah Erigo, aku penasaran." Ucapnya memohon.

__ADS_1


"Tidak mau. Kau akan kehabisan tenaga jika menjerit-jerit di dalam." Tegas Erigo.


Aira menyipitkan matanya. "Aku tidak akan menjerit, tidak tau jika itu kau." Ucapnya. "Kau takut kan?" Tuduh Aira.


Erigo tertawa. "Aku tidak takut Aira."


"Lalu apa masalahnya?" Ucap Aira. "Kita masuk, oke?" Aira kembali merengek dan melompat-lompat disamping Erigo.


"Oke.Oke. Baiklah. Hentikan itu. Jangan melompat." Ucapnya geli. Erigo akhirnya mengalah dan ikut masuk ke dalam wahana rumah hantu.


Baru saja memasuki pintu depan rumah hantu, didalamnya Aira dan Erigo langsung di sambut suasana gelap. Mereka melangkah lebih kedalam. Erigo melingkarkan lengannya di sisi tubuh Aira. "Aku akan melindungimu." Katanya. Tetapi ketika hantu pertama muncul, Aira lebih terkejut mendengar teriakan Erigo yang lantang daripada melihat hantu berpakaian lusuh dengan rambut acak-acakan yang melompat tiba-tiba ke arah mereka.


Mata Aira membelalak karena tidak menyangka di balik tampilan macho dan nakal Erigo, terdapat seorang anak kecil yang ketakutan setengah mati pada hantu-hantuan.


Beberapa kali Erigo tersandung dalam gelap membuat mereka jatuh terguling dan para hantu mendekat membuat Erigo semakin panik. Sedangkan Aira tertawa sejadi-jadinya meskipun Erigo menyeretnya. Aira masih bersyukur bahwa Erigo masih menariknya hingga berdiri dan menggandengnya, bukannya lari terbirit-birit menyelamatkan diri sendirian.


Aira tertawa terbahak-bahak ketika Erigo menceracau. Hawa panas tubuh pria itu menyebar di punggung Aira. Erigo sungguh berjuang setengah mati untuk sampai di pintu keluar, terengah-engah dan banyak berkeringat.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Aira ketika melihat Erigo berjuang menghirup udara kembali ke paru-parunya. "Maafkan aku, aku tak tau bahwa kau takut." ucap Aira kemudian memeluk dan menenangkan Erigo.


Perlahan Erigo mulai tertawa terbahak-bahak dan terguling di bangku taman terdekat. Beberepa orang memandangi mereka dengan heran, jadi Aira berusaha menutupi Erigo yang tertawa dan membelakangi pengunjung.


Aira terkikik dan memukul-mukul Erigo.. "Dasar kau penakut. Kau bilang akan melindungiku tapi kau membuatku terguling berkali-kali." Omel Aira sembari tertawa.

__ADS_1


Erigo bicara disela-sela tawanya. "Maafkan aku. Aku ketakutan begitu masuk. Maafkan aku sayang. Apa kau terluka?" Erigo duduk dan memeriksa Aira. Mereka dapat merasakan suara memotret dari kerumunan tak jauh dari tempat mereka duduk.


Keduanya baru menyadari bahwa mereka kehilangan masker di suatu tempat di dalam rumah hantu. Mereka tersenyum ke arah kerumunan. Erigo menggenggam tangan Aira lalu berdiri dan berbisik "Aku hitung sampai tiga, kita harus lari, mengerti?" Ketika Aira mengangguk, Erigo berkata "Tiga!"


Mereka berlari kencang meninggalkan kerumunan dan tertawa terbahak-bahak. Erigo merogoh tas kecilnya dan mengambil 2 masker lagi, untuk Aira dan dirinya sendiri. Mereka mengenakannya di sebalik pohon, lalu Erigo menyuruh Aira melepaskan hoodienya dan mengikatnya di sekeliling pinggang Aira. Erigo sendiri melepaskan kemeja flanelnya menyisakan kaos di tubuhnya lalu melakukan hal yang sama dengan Aira, mengikat kemejanya di pinggang. Mereka kembali berjalan-jalan dan membaur.


Area taman hiburannya sangat luas dan mereka harus mengantre untuk menaiki wahana permainan. Aira sesekali terkikik ketika mereka berada diantara kerumunan. "Kenapa kau terus tertawa?" Bisik Erigo.


Aira berjinjit sedikit untuk berbisik pada Erigo yang menunduk. "Karena aku merasa sedang menipu semua orang. Sebagian diriku takut ketahuan, tapi sebagain lagi aku merasa sangat senang." Aira tertawa lagi. Kali ini Erigo memeluk pinggangnya. Aira menengadah menyandarkan dagunya di dada Erigo. Hanya mata mereka yang tampak tersenyum sembari menunggu giliran menaiki bianglala.


Beberapa orang menoleh 2 kali ke arah mereka tetapi keduanya berusaha bersikap sewajar pasangan lainnya hingga orang-orang mengabaikan.


Menjelang sore, bianglala berputar pelan dan lampu-lampu mulai dinyalakan. "Pemandangan dari atas sana pasti lebih indah." Ucap Aira menunjuk.


Erigo mengangguk. "Sebentar lagi giliran kita." Ucapnya. Bianglala itu muat sekitar 4 sampai 6 orang, namun Erigo membeli tiketnya agar mereka bisa naik hanya berdua. Mereka butuh privasi meskipun memang berniat membaur.


Bianglala bergerak ke atas. Jika dari bawah hanya terlihat beberapa wahana, dari atas bianglala Aira mulai melihat keseluruhan kota. Lampu-lampu jalan dan lampu mobil mulai menyala di senja hari.


Mereka melepas masker dengan bebas tanpa dilihat orang lain lalu tertawa. "Ini indah sekali." Aira masih mengagumi pemandangan kota dari atas ketika Erigo membalikkan tubuhnya menghadap matahari terbenam. Semburat jingga menyelimuti langit senja.


"Wah. Erigo itu cantik sekali." Ucapnya terpesona. Erigo mengeluarkan ponselnya dan mengangkatnya untuk berfoto. Aira tersenyum ke arah kamera. Wajah mereka bersinar keemasan dan tampak bahagia.


Aira mengecup sekilas pipi Erigo. "Trimakasih karena mengajakku kesini. Aku sangat senang." Ucapnya. Erigo menarik pinggang Aira mendekat lalu menciumnya. "Trimakasih kembali tuan putri." Ucap Erigo di atas bibir Aira.

__ADS_1


__ADS_2