Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 33


__ADS_3

Seminggu berlalu sejak Devano pulang kembali dengan memastikan bahwa Kei juga akan kembali. Tentu saja setelah menggelapkan lagi warna rambutnya. Dan kondisi Kei sekarang menjadi lebih baik. Dia kembali menjadi gadis yang ceria dan murah senyum.


Sedangkan Aira di sibukkan dengan beberapa pekerjaan yang melibatkan banyak dokumen yang bertumpuk. Ia menyempatkan diri menyambangi Airez di kantornya sebelum ia kembali. Kakaknya terlihat sangat mengagumkan seperti biasa.


"Kapan kau akan kembail?" Tanya Airez sembari membereskan beberapa file.


"Dua hari lagi, dan Kei sepertinya akan ikut pulang." Cetus Aira. Airez mengangkat alisnya. "Devano berhasil membujuknya." Ucap Aira memperjelas.


"Oh.. " Jawab Airez mengangguk.


"Oh? Hanya Oh?" Aira tertawa. "Apa yang terjadi padamu dan Zora?" Tanya Aira penasaran. Hubungan Airez dan Zora tampaknya memang sedikit agak rumit.


Airez menggeleng. "Jangan hiraukan aku. Aku akan mentraktirmu makan malam." Ucap Airez dan segera merangkul Aira keluar kantor dengan mengabaikan tatapan iri para karyawan wanita.


Dua hari kemudian Aira dan Kei benar-benar kembali pulang. Kei tidak berhenti tersenyum karna ia akan segera bertemu Devano lagi. Mereka sudah berubah menjadi pasangan yang di mabuk cinta.


"Kau sesenang itu?" tanya Aira sambil menatap Kei.


Kei mengangguk. "Tentu saja." ia terkikik.


Aira tertawa. "Syukurlah Kei. Aku ikut senang." Aira merasakan hawa berbunga-bunga dari Kei yang duduk di sampingnya.


________________________________


Aira baru selesai membasuh wajahnya ketika interkomnya berbunyi. Erigo berdiri disana mendesak ingin masuk karna kedinginan. Kantong-kantong belanjaan besar memenuhi tangan Erigo yang menghambur masuk ke apartemen Aira dan langsung melesat ke dapur.


Aira kebingungan saat mengintip ke dalam masing-masing kantong. Setelah membasuh tangannya Erigo kembali pada Aira lalu memeluk dan menghujaninya dengan ciuman.


Sudah hampir satu bulan lamanya Aira dan Erigo tidak bertemu. Karna pekerjaan Aira dan kesibukan Erigo yang tidak ada habisnya. Mereka nyaris tidak punya waktu untuk berkencan dan melewatkan hari kasih sayang dalam kesepian karena Erigo mengisi Acara. Namun Erigo tetap mengiriminya hadiah saat ulang tahunnya. Aira sekarang memahami bagaimana menyedihkannya menjalin hubungan dengan seorang artis yang luar biasa sibuk.

__ADS_1


Hari ini kebetulan Erigo sedang senggang dan memutuskan untuk memasak makanan untuk Aira.


Aira tertawa geli. Entah ide darimana hingga Erigo melakukan hal ini. "Apa yang akan kau lakukan dengan barang belanjaan sebanyak ini?" Tanya Aira sambil mengeluarkan barang bawan Erigo satu persatu dari kantong.


Erigo membeli banyak bahan makanan. Ayam, telur, tahu, mie kering, beberapa sayuran, lengkap dengan bumbu-bumbu kering. "Aku akan memasak untukmu." Ucapnya percaya diri.


Aira ternganga. "Oh tidak." Ucapnya.


Erigo tertawa. "Oh yeah.. Benar sekali." Cetusnya.


Aira mengerutkan kening. Ia memandang tidak percaya pada semua yang ada di depannya. Ini pasti bohong, omong kosong. Erigo tidak pintar memasak, pikir Aira. "Kalau kau Toddy, aku mungkin percaya. Tapi ini kau, Erigo." ucap Aira.


Aira tertawa geli. "Keluar dari dapurku. Kau akan membakarnya." Cetus Aira berusaha menarik Erigo keluar dari pantry.


Erigo masih tertawa. "Kenapa? Kenapa? Kenapa?" ucapnya cepat. "Kenapa memangnya? Aku juga bisa memasak jika mengikuti resep di internet. Kau hanya perlu duduk manis dan aku akan memasak untukmu."


Aira semakin geli. Ia menggeleng. "Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu mengacau di dapurku." Ucapnya dan mendorong Erigo ke ruang tamu. Namun Erigo berputar dan kembali ke dapur. Aira terkikik. "Apa yang kau lakukan?" Katanya.


Aira memegang kepalanya tertawa terbahak-bahak. "Tidak. Terimakasih. Kita makan mie instan saja." Ia lalu terkikik lagi. "Aku tak bisa mempercayaimu. Kau dan ide gila mu."


Erigo terkekeh. "Lihat saja. Ini pasti enak." Ucapnya mendorong Aira dan mendudukkannya di kursi meja dapur.


Aira menggigit bibir sembari mengamati Erigo bekerja di dapur. Tidak ada yang bisa di lakukannya jika Erigo sudah bertekad, meskipun ia masih meragukan ide ini.


Erigo terlihat bingung. Ia merebus air di dalam panci, mungkin untuk mie. Beralih memotong-motong daun bawang dengan ukuran yang tidak sama, bawang bombai di iris sembarangan, terakhir ia memotong tahu menjadi compang camping. Ia teringat airnya, dengan wajah serius ia mengintip ke panci lalu dengan ceroboh memasukkan satu pak mie kedalam air yang mendidih.


Aira terkejut. "Kau buat berapa porsi?" Tanya Aira mendekat.


"Dua porsi, untukmu dan untukku." Jawabnya tersenyum.

__ADS_1


Aira memiringkan kepalanya dan kembali terkikik geli. "Kau bahkan tidak membaca kemasannya. Ini untuk 20 porsi." Aira tertawa keras. "Ini tidak akan berhasil sayang." Ucapnya di sela tawa yang tak ada habisnya.


Erigo terbahak-bahak. "Benarkah? Aku tidak tau disitu ada tulisannya. Oh, bagaimana ini?" ucapnya bingung.


"Oh astaga Erigo. Lalu apa yang akan kau lakukan dengan ini?" Aira mengangkat seekor ayam utuh.


"Aku mau buat sup. Tapi aku berubah pikiran. Aku ingin ayam goreng." Lalu ia terkekeh lagi. "Astaga Aira. Berhentilah tertawa." Ucapnya, tapi dia sendiri masih tertawa.


"Oh Tuhan, Aku tak bisa menghentikannya." Aira menghapus air matanya yang keluar karna terlalu banyak tertawa. Ini terlalu lucu baginya. "Bagaimana dengan adonannya jika kau ingin ayam goreng?" Tanyanya sesak nafas karna tertawa.


Erigo yang sedang memecahkan telur seketika mematung. "Apa itu perlu?" Tanyanya semakin bingung.


Tawa Aira meledak lagi. "Hentikan itu. Ini tak akan berhasil sayang. Kita hanya akan minum air putih kalau terus begini." Cetus Aira. "Menyerah saja. Kau tidak bisa memasak. Itu sudah takdir." Aira mencoba meyakinkan Erigo dengan tatapannya.


Erigo mengalihkan tatapan dan memindai sekitarnya. "Aku bisa merebus tahunya dan membumbuinya dengan acar tomat pedas, menggoreng telur__ow!!" Erigo terkejut ketika satu buah telur tergelincir dari tangannya, jatuh ke meja, pecah dan terciprat ke apron yang ia gunakan.


Aira tertawa lagi. Ia menutup matanya dengan tangan. "Astaga. Aku bisa gila. Kau mengacaukan dapurku." Aira mengambil alih dapurnya. Mendorong Erigo ke bak cuci untuk membersihkan tangannya.


Aira dengan cepat membersihkan sisa-sisa telur yang berserakan agar tidak bau amis.


Pada akhirnya Erigo mengalah, ia mematikan api kompor dan meninggalkan dapur yang sudah terlanjur berantakan. Namun Aira lega karna dapurnya selamat dari ledakan yang mungkin akan Erigo sebabkan.


"Ini konyol sekali sayang, tapi terimakasih karna sudah mencoba. Kau membuatku tertawa terus hingga perutku sakit." Ucap Aira terkikik mengingat tingkah Erigo dan berjinjit mencium rahang Erigo.


Erigo menghempaskan dirinya di sofa dan tertawa. "Ku rasa memasak bukanlah keahlianku. Itu tidak mudah di lakukan." Ucapnya.


"Syukurlah kau sadar lebih cepat. Kita pesan makanan saja." Aira tertawa. Ia menjatuhkan dirinya di samping Erigo. Menyelipkan tubuhnya di bawah lengan pria itu dan bergelung nyaman padanya."Jangan ada kegiatan masak-memasak lagi. Kau menari saja dan tampil sekeren mungkin." ucap Aira sambil mengelus pipi Erigo.


Erigo mengambil ponselnya dan menghubungi jasa pesan antar.

__ADS_1


Setelah Erigo selesai memesan makanan, ia meletakkan ponselnya di atas meja dan memeluk Aira. Mencium puncak kepalanya dan berbisik di telinganya "Aku sangat merindukanmu Aira." Ucapnya pelan.


Erigo mengangkat dagu Aira dengan jemarinya, lalu menunduk untuk menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang dalam dan mendamba.


__ADS_2