Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 5


__ADS_3

Dua minggu berlalu, hari senin telah kembali. Aira memusatkan perhatiannya pada lagit yang cerah. Cahayanya akan bagus untuk pemotretan outdoor. Hari ini jadwal pemotretan grup untuk cover album ke 8 Summer.


Sejak terakhir kali, Aira hampir tidak pernah bertemu Devano saat keluar rumah maupun pulang karna Aira menghabiskan waktu liburnya di luar kota sambil berburu fashion unik untuk artistnya. Akhirnya mereka bertemu kembali di ruang makeup bersama para member dan staf lainnya.


Ada banyak sesi pemotretan dan ada beberapa konsep tentu saja dengan pakaian yang berbeda termasuk pakaian untuk pemotretan solo masing-masing member. Hal itu membuat Aira cukup sibuk dan kerepotan. Mereka juga harus naik sampai ke atap gedung.


Ditambah cuaca panas dan terik matahari yang menyengat puncak kepalanya membuat Aira pusing. Sebenarnya ia lelah dan kurang tidur. Ia baru kembali kerumah sekitar pukul 2 pagi setelah perjalanan panjang, dan sudah harus datang untuk bekerja pagi-pagi sekali.


Waktu berlalu dan saat ini langit sudah bermandikan cahaya matahari terbenam berwarna jingga. Aira merasa sudah kehabisan tenaga dan duduk di sudut ruangan. Kepalanya terasa sangat sakit. "Aku ingin pulang" Ucapnya pelan tanpa sadar menyuarakan pikirannya.


"Kau baik baik saja? Kau tampak seperti akan pingsan " Ucap Erigo yang telah duduk disampingnya.


"Ohh... Kau mengagetkan ku.. " Ucap Aira "aku baik baik saja, trimakasih" Aira mengangguk sedikit.


"Sepertinya tidak.. Wajahmu memerah.. Apa kau demam? " Tanya Erigo menempelkan telapak tangannya di dahi Aira.


Aira terkejut karna tangan Erigo terasa dingin sekali. "Sepertinya aku benar-benar sakit" Ucap Aira memaksakan senyum. "Sampai jam berapa kita?" Ucapnya lagi.


"Sebentar lagi.. Devano dapat giliran foto solo terakhir.. " Ucap erigo memandangi Aira. "Kau yakin tak akan tumbang? " Erigo mengernyit sedikit khawatir.


Aira mengangguk. "Aku baik-baik saja.. Aku akan bersiap untuk pulang" Ucap aira dan berlalu ke ruang makeup untuk mengambil barang-barang nya.


Aira hanya ingin segera sampai kerumah. Ia mengantuk, tubuhnya sakit, matanya terasa panas dan kepalanya terasa seperti akan pecah.


Aira berniat membereskan barang-barang Devano dan Erigo besok pagi. Ia butuh tidur sekarang. Ia bahkan tak punya tenaga untuk mampir di apotek untuk sekedar membeli obat. Ketika tiba dirumah, Aira hanya minum banyak air lalu beranjak tidur berharap akan membaik setelah bangun.


Sekitar pukul 11 malam Aira terbangun. Tubuhnya masih sakit, ia memeriksa suhu tubuhnya dengan thermometer. '38,6°c.. Kenapa demamku tidak turun? ' pikir Aira. Ia butuh obat. Ia memaksakan diri untuk keluar membeli obat di apotek terdekat.


__________________________________________


Sementara itu di rumah Devano, Erigo sedang bersantai di ruang tamu. Setelah makan malam, mereka berbincang tentang album, lalu sibuk sendiri dengan ponsel masing-masing.


"Sudah hampir tengah malam, aku akan pulang" Ucap Erigo tetapi masih membaringkan tubuhnya di sofa.

__ADS_1


"Lalu kenapa masih ada disini? Jangan menginap dirumahku" Ucap Devano tak acuh.


Erigo terkekeh. "Aku juga tak mau disini. Tapi aku malas berdiri."


Devano mengumpat dengan matanya. "Pergilah.. Aku mengusirmu.. Kau menghabiskan isi kulkasku" Ucap Devano tertawa.


Erigo ikut tertawa lalu bangkit. "Baiklah.. Sampai ketemu besok.. Aku pergi.. " Ucap Erigo sambil berjalan ke pintu keluar.


'Aku mengantuk.. ' pikir Erigo. Ia baru saja menutup pintu rumah Devano ketika melihat seorang gadis berjalan sempoyongan. Erigo memperhatikannya. Gadis itu memakai sweater kuning, celana pendek hitam, sandal, dengan rambut di gerai dan kacamata bulat.


Gadis itu berjalan menunduk terseok-seok sambil berpegangan ke dinding. Di satu sisi tangannya menenteng kantong plastik kecil. Ketika gadis itu berjalan semakin dekat, Erigo mengenalinya.


'Aira?? ’ pikirnya. 'Sedang apa dia disini??' Erigo bertanya dalam hati.


Langkah Aira semakin mendekat, Erigo dapat melihat bahwa Aira sangat sakit. Ia mendekatinya, tapi Aira yang berjalan menunduk tidak melihatnya. Gadis itu berusaha memasukkan passcode rumahnya dengan susah payah, tubuhnya tampak lemah, tangannya gemetar, dengan perlahan membuka pintu rumahnya namun kemudian Aira terjatuh.


Erigo dengan cepat menangkap tubuh mungil Aira sebelum jatuh ke lantai. "Aira... Aira.. " Panggil Erigo. Aira tidak menjawab, hanya menoleh sekilas lalu pingsan.


Tubuh aira yang berada dalam gendongannya terasa sangat panas. Ia mencoba memanggil seseorang di dalam rumah. "Permisi.. Hallo.. Ada seseorang didalam?" Panggil Erigo ke arah pintu yang setengah terbuka, namun tidak ada jawaban. Erigo mencoba sekali lagi, dan tetap tidak ada jawaban. Akhirnya ia memutuskan untuk masuk saja.


Erigo menelfon temannya yang seorang dokter untuk datang memeriksa kondisi Aira. Yodde datang 30 menit kemudian.


"Kenapa kau datang lama sekali?" Tanya Erigo


"Kau meminta ku datang pada tengah malam, kawan.. Kau harus bersikap baik" Ucap Yodde nyengir. "Siapa ini? Pacarmu?" Tanya Yodde.


"Temanku.. Dia demam dan sekarang pingsan.. Bisa kau memeriksanya?" Pinta Erigo


"Kau apakan dia barusan?" Tanya Yodde menggoda Erigo. Lalu mengeluarkan peralatan dokternya.


"Jaga bicaramu, kawan.. Aku ini pria baik-baik.." Jawab Erigo tertawa. "Dia salah satu staff agensi ku.. Kebetulan aku menemukannya pingsan saat membuka pintu itu" Jawab Erigo menunjuk pintu depan.


"Lalu apa yang kau lakukan di pintu depan itu sebenarnya? " Tanya Yodde menaikkan alisnya.

__ADS_1


"Devano tinggal di depannya" Jawab Erigo mengernyit.


'Sejak kapan mereka bertetangga? Apa karna hubungan ini Devano bersikap sangat dingin dan memusuhi Aira sejak awal? ' erigo bertanya-tanya dalam pikirannya.


"Sepertinya dia kelelahan, dan sedikit dehidrasi.. Aku sudah menyuntikkan obat penurun demam, nanti saat dia terbangun, berikan minum, dan suruh dia makan, lalu minum obat lagi berselang 4 jam dari sekarang. Dia akan baik-baik saja, tak perlu khawatir. Angkat dia ke kamar dan biarkan beristirahat. " Ucap Yodde. "Apa gadis ini tinggal sendiri?".


Erigo mengangguk "kurasa begitu" ucapnya.


Yodde melipat tangannya "Kalu begitu, kurasa kau harus berada diaini mengawasinya. Jika dia tidak bangun sampai besok pagi, kau harus membawanya ke rumah sakit terdekat. Aku khawatir dia dehidrasi parah." ucap Yodde memberikan instruksi.


Erigo mengangguk mengerti. "Trimakasih.. Aku akan mentransfer biayanya nanti.. Juga, tolong rahasiakan.. " Pinta Erigo.


"Hahaha baiklah.. Tapi kau harus mentraktirku kapan-kapan.. Dan berikan album mu.. Istriku sangat menyukai kalian" Jawab Yodde.


"Baiklah.. Aku akan menghubungimu dan memberikan albumku.. Sampaikan salamku pada istrimu" Ucap Erigo tersenyum lalu mengantar Yodde keluar.


Erigo kembali ke samping Aira, mengangkat tubuh Aira dan memindahkannya ke kamar. Ia mengukur suhu tubuh Aira dengan thermometer yang ditemukannya di meja samping tempat tidur Aira. Suhu tubuhnya masih tinggi. Setelah menyelimuti Aira, Erigo memutuskan untuk melihat isi dapur. Ia harus memasak sesuatu agar Aira bisa langsung makan sesuatu jika ia terbangun.


Erigo meletakkan segelas air putih, segelas teh manis dan obat di dalam nampan di atas meja disamping tempat tidur Aira. Sementara bubur buatannya diletakkan di atas kompor. Jika sewaktu waktu Aira sadar, ia hanya perlu menghangatkannya sebentar.


Erigo mengamati Aira. Gadis itu tampak semakin mengecil karena sakit. Sudah lebih dari pukul 1 pagi, Aira masih belum bangun. Namun suhu tubuhnya berangsur turun dan banyak berkeringat.


Erigo membersihkan bulir-bulir keringat yang muncul di sekitar wajah Aira.


Sebenarnya apa yang dilakukan gadis ini sampai pingsan? pikir Erigo.


Erigo lalu memutuskan untuk duduk di sofa yang ada di sudut kamar Aira sambil memainkan ponselnya. Tak lama setelahnya, Ia mengantuk dan jatuh tertidur.


Sekitar hampir pukul 3 pagi Erigo kembali terbangun berniat memeriksa keadaan Aira. Dengan kesadarannya yang belum sempurna, Erigo melihat seorang wanita dengan rambut panjang terurai duduk diam bersandar di tempat tidur, setengah menunduk, dalam cahaya yang minim, melotot menatapnya tanpa ekspresi.


Erigo terkejut sendiri "UwaaaaaSsstagaa..!!" Erigo berteriak karna kaget dan terlonjak dari tempatnya.


Kepalanya berdenyut. Jantungnya berdetak lebih cepat.

__ADS_1


Saat kesadarannya kembali, segera ia merasa konyol dan tentu saja rasa malu datang setelahnya. Amarahnya keluar begitu saja


"kau mengerikan Aira! Jangan menatapku seperti itu!" Sembur Erigo lantang sambil mengusap kasar wajah dan rambutnya. "Astaga Tuhan jantungku"


__ADS_2