
Dunia Aira seakan jungkir balik. Devano dan Erigo benar-benar membuatnya hampir gila. Ini hari liburnya. Aira merasa harus menjernihkan pikirannya dengan menyibukkan diri membersihkan seluruh bagian rumah. Aku akan membuatnya berkilau, pikir Aira. Namun belum sempat kakinya melangkah, terdengar bunyi interkom.
Aira terdiam memandangi interkomnya, ia tidak sedang menunggu siapapun. Tetapi, orang itu sepertinya tidak sabar, karna benda itu kembali berbunyi. Aira menekan tombolnya dengan gemas.
"Ya." Tanyanya.
"Aira, ini aku. Ijinkan aku masuk" Itu Erigo.
Jantungnya melonjak. Sedang apa dia di sini dan untuk apa dia kemari. Aira sibuk dengan pikirannya sendiri sembari membukakan pintu untuk Erigo.
Erigo mengenakan sweater biru muda dengan celana jins panjang. Rambutnya masih setengah kering, tampaknya ia baru selesai mandi. Erigo terlihat sangat tampan. Ia menyunggingkan senyuman mematikan untuk Aira. Membuat Aira merasa gugup.
Ia mengangkat kedua tangannya yang dipenuhi kantong-kantong makanan. "Aku ingin mengajakmu makan siang" Ujarnya ringan. "Apa aku boleh masuk?" Tanyanya lagi.
Aira melangkah mundur memberi jalan "Tentu saja. Masuklah. Kau sendirian?" tanya Aira penasaran.
Erigo masuk dan langsung menuju dapur. Ini bukan pertama kalinya Erigo masuk ke apartemennya. Erigo berbalik menatap mata Aira. "Apa kau ingin aku membawa seseorang?" tuduhnya.
"Tidak" Ucapnya sok cuek. "Apa saja yang kau bawa?" Tanya Aira mengalihkan pembicaraan.
Erigo mengeluarkan semuanya dari kantong plastik. Seafood pedas, sayuran rebus, es buah dan potongan tart strawberry dihiasi krim vanilla. Semuanya berhasil menggugah selera makan Aira. Akhirnya senyum mengembang di wajahnya.
Mereka duduk bersimpuh dengan makanan tersaji di atas meja ruang tamu Aira. Erigo menatap gadis di depannya yang sedang menyantap makanan. Aira sangat berbeda dari selusin wanita yang pernah di kencaninya. Aira tidak malu-malu dan tidak palsu. Tangannya berlumuran saus, begitu juga sudut bibirnya. Erigo bertanya-tanya, bagaimana rasa bibir Aira jika ia menciumnya. Erigo tidak bisa menghentikan pikirannya tentang Aira. Aira sangat sederhana, apa adanya. Tidak berusaha tampil cantik dan elegan untuk menarik mata lelaki manapun. Erigo menyukainya.
"Kau sedang menilaiku" Ujar Aira menebak hanya dengan memperhatikan tatapan yang Erigo layangkan padanya.
Erigo tersenyum "Kau cerdas Aira. Aku harus berhati-hati di depanmu" ucap Erigo. "Apakah sangat jelas?" Tanyanya.
Aira mengangguk "Bagaimana menurutmu? Aku?" Tanya Aira sembari menyeka tanganya dengan tisyu basah.
"Aku ingin menciummu" Ucap Erigo terus terang.
Sejenak Aira diam. Lalu ia mulai tertawa. "Dengan saus yang berlumuran di mulutku?" ucapnya.
Membayangkannya saja sudah terasa konyol.
Mata Erigo berkilat-kilat "Aku bisa membersihkannya untukmu." Ucap Erigo seraya mencondongkan tubuhnya mendekati Aira.
Sekarang tawa Aira terhenti.
Keheningan merebak di antara mereka. Mata mereka bertemu. Erigo mengunci Aira dengan tatapannya.
'Bip bip bip bip' mereka mendengar seseorang menekan passcode rumah Aira.
__ADS_1
Keduanya mematung.
Aira yang lebih dulu bereaksi. Ia berdiri menyeret Erigo masuk ke kamarnya. Dalam kepanikan, Aira hanya terfikir untuk menyembunyikan Erigo di dalam lemari pakaian.
Ia mendorong Erigo yang kebingungan untuk masuk ke dalam lemarinya. Tanpa di duga, Erigo juga menarik tangan Aira masuk ke dalam lemari dan menutup pintu gesernya.
Aira ternganga. Ia meninju pelan dada Erigo. "Kenapa kau menarikku kesini?" Desis Aira berbisik. Ini bukan bagian dari rencananya.
"Seseorang membobol rumahmu." Erigo mengatakan hal konyol.
"Apa maksudmu 'membobol'?" Bisik Aira. "Yang masuk itu ibu ku" Desis Aira marah dan panik.
Giliran Erigo yang ternganga. Rahangnya hampir terlepas. Dia melotot pada Aira. Ia bertanya-tanya, apa yang di lakukannya di dalam lemari kalau begitu.
"Jika itu memang ibu mu, kenapa juga kau harus menyembunyikan ku di tempat sempit seperti ini?" Ucap Erigo lagi.
"Aku bisa menyapanya saja, itu lebih terkesan normal dan sopan" Erigo menyalahkan Aira.
"Lagi pula kita tidak melakukan kesalahan. Kita hanya sedang makan siang" Erigo masih mengomelinya.
"Ssssttt!!" Aira menyuruh Erigo diam agar ia bisa berkonsentrasi menguping.
Aira tidak memikirkannya. Ia sangat terkejut dan bertindak begitu saja. "Maafkan aku. Aku tak berfikir sampai ke situ" Ucapnya menyesal.
Aira menariknya kembali ke dalam lemari dan menutupnya. "Apa kau sudah gila? Tidak bisa begitu" Bisik Aira.
"Kenapa?" Tanya Erigo membelalak.
"Sudah terlambat. Kita terlanjur bersembunyi. Dan jika kita keluar dari kamarku sekarang, itu akan tampak sangat aneh.. sangat..salah." Bisik Aira menjelaskan.
Ibunya bisa saja pingsan melihat anak gadis satu-satunya keluar dari kamar bersama seorang pria di siang bolong. Lalu Aira akan di omeli habis-habisan dan di bawa kembali pulang ke rumahnya. Aira akan diberhentikan dari pekerjaannya, lalu mengucapkan selamat tinggal pada kemandirian yang bebas. Aira bahkan tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Bersamaan dengan itu, pintu kamar Aira terbuka.
Ibunya berjalan mondar mandir mengamati keadaan kamar Aira sambil mengomentari bagaimana Aira tidak membereskan sisa makanannya di ruang tamu. Aira meringis mendengarnya.
Tentu saja belum di bereskan, mengingat itu adalah menu makan siangnya. Bahkan Aira belum sempat mencicipi tart strawberry yang terlihat sangat cantik itu.
Aira memejamkan mata dan menahan nafasnya saat sang ibu mendekati lemari pakaian. Jantungnya terasa hampir terlepas dari tempatnya.
Sementara pria di depannya hampir mati menahan tawa mendengar ocehan ibu Aira tentang anaknya. Ditambah mentertawakan keadaan mereka berdua saat ini.
Aira melayangkan tatapan penuh makian pada Erigo yang entah di sadari oleh pria itu atau tidak.
__ADS_1
Untungnya, ibu Aira hanya meraba pintu lemarinya sekilas alih-alih membukanya dan memeriksa pakaian Aira. Aira mengutuk dirinya sendiri yang pernah berkata pada ibunya bahwa ia menyembunyikan pria di rumahnya. Aira ingin menggigit lidahnya. Waktu itu Aira hanya bercanda. Namun jika melihat kejadian hari ini, sepertinya Aira harus berhati-hati pada ucapannya.
Ibunya berlalu keluar dari kamarnya.
Erigo mencondongkan tubuhnya ke arah Aira. Berbicara sangat dekat di telinganya. "Bernafaslah Aira, atau kau akan segera mati di dalam lemari ini" Bisik Erigo menahan tawanya.
Aira mendongak ingin mengumpat ketika mata mereka bertemu. Tatapan Erigo membuat Aira salah tingkah.
Lemari Aira cukup besar. Itu sebabnya Erigo dengan postur yang tinggi dapat berdiri di dalamnya. Namun karena lemari ini penuh sesak oleh pakaiannya, jadi hanya menyisakan sedikit ruang bagi Aira dan Erigo. Membuat mereka berdiri dengan jarak yang sangat dekat. Aira sendiri hanya setinggi dada Erigo. Dari sini ia bisa mencium aroma kolonye dan sabun pria itu. Membuat jantungnya berdentum sampai ke telinga.
Sama hal nya dengan Erigo. Berada sedekat ini dengan Aira membuatnya dapat dengan mudah mencium aroma strawberry di rambut Aira. Ia berusaha keras mengendalikan dirinya agar tetap waras. Ia nyaris mencium Aira di dalam lemari. Pesona Aira membuatnya hampir gila.
Tidak menunggu waktu lama, ibu Aira terdengar keluar melalui pintu depan. Aira menggeser pintu lemari nya agar bisa keluar bersama Erigo. "Kurasa ibu ku sudah pulang" Ucap Aira melangkah ke pintu kamar.
Belum sempat Aira membuka pintu untuk keluar, Erigo tiba-tiba mengulurkan tangan dan menarik Aira ke arahnya dan memutar tubuhnya. Ia menahan Aira disana, menatap mata Aira yang berkilau.
"Aku sangat serius saat aku bilang ingin menciummu Aira" ucap Erigo.
Ia menunduk pelan dan mencium bibir Aira dengan sangat lembut.
Erigo menekankan bibirnya ke bibir Aira, menyesapnya perlahan, lagi..dan lagi.., dengan sabar menunggu bibir Aira terbuka untuknya. Mencicipi manisnya kemudian dengan lembut melepaskannya. Meninggalkan bunyi kecupan di akhirnya.
Erigo mengangkat sedikit kepalanya untuk mengamati wajah Aira, menunggu reaksinya.
Aira terhenyak di tempatnya. Erigo menariknya tiba-tiba, memutar tubuhnya menghadap pria itu lalu mencuri ciumannya. Ciuman pertama Aira.
Aira terkesiap saat bibir Erigo menyentuh bibirnya. Ciumannya terasa sangat lembut. Tangan Aira terangkat ke dada Erigo bermaksud ingin mendorongnya. Namun alih-alih menjauhkan pria itu, Aira malah berpegangan padanya. Ini sangat baru bagi Aira. Rasa yang tak di kenalinya.
Saat tautan bibir itu terlepas, Aira limbung, lututnya terasa lemas. Ia nyaris terjatuh jika saja tidak ada tangan Erigo yang menahan tubuhnya.
Jantung Aira berdentum menyakiti gendang telinganya sendiri. Darahnya terasa mengering. Ia berhasil menemukan kekuatanya dan melangkah mundur. "Apa yang kau lakukan?" Tanya Aira tanpa bisa mencegah tangannya terangkat ke bibirnya. Ia masih bisa merasakan manisnya bibir Erigo di sana.
Erigo terkejut melihat reaksi Aira. Ia berusaha tetap tenang menghadapi kepanikan gadis di depannya. Ia menjaga jarak tidak terlalu jauh, namun juga tidak terlalu dekat. Ia memberi ruang pada Aira untuk memahami kejadian yang baru di alaminya.
"Aira.." Panggilnya pelan "Kau baik-baik saja?" Tanyanya hati-hati.
Aira terdiam. Tidak merespon. Bola matanya bergetar tidak fokus. 'Dia syok' pikir Erigo.
"Aira.. " panggil Erigo lagi.
Aira berusaha mengumpulkan akal sehatnya. "Aku baik-baik saja" Ucapnya pelan.
"Boleh aku mendekat?" Tanya Erigo memastikan.
__ADS_1
Aira tidak menjawab namun Erigo tetap maju. Dengan tenang, ia meraih Aira ke dalam pelukannya. "Tidak apa-apa Aira."