Pria Pilihan Aira

Pria Pilihan Aira
Eps 65


__ADS_3

Keesokan paginya, Erigo sudah tampak rapi menggunakan sweater bergaris-garis hitam putih, dan celana jins panjang. Aira terbangun ketika indra penciumannya mengendus aroma segar khas suaminya.


"Kau rapi sekali. Ada kesibukan hari ini?" Tanya Aira.


Erigo berjalan menghampirinya dan mencium hidung Aira sekilas lalu turun ke perutnya. "Selamat pagi sayang, bangun dan besiaplah. Hari ini aku mengundang seseorang khusus untukmu, dan kami akan memasak sesuatu."


Aira mengernyit. "Kau mau memasak?" Tanyanya tidak percaya. Erigo tidak pintar memasak, dia cenderung ceroboh. Ide ini akan menimbulkan kekacauan dan Polly akan mengomel.


Erigo menyeringai. "Kenapa? Aku mendatangkan asisten terbaik hari ini. Jadi kau tidak perlu khawatir." Erigo menarik Aira hingga duduk. "Bersiaplah dan turun ke bawah. Oke."


"Tetap saja aku khawatir." ucap Aira malas. Tapi Erigo tetap menggiringnya masuk ke kamar mandi.


Tak lama setelah Aira turun dalam keadaan rapi, seseorang mengetuk pintu rumah mereka dan menyapa dengan ceria. "Selamat pagi..." Katanya lantang.


Aira melongok dari pintu ruang riasnya dan melihat Toddy datang menyeret dua kotak besar di belakangnya. Wah, rupanya Erigo membawa ahli masak memasak ke rumahnya khusus untuk Aira.


Erigo terdiam dan nyaris mengumpat melihat dua kotak besar yang dibawa Toddy. "Apa itu? Kenapa kau membawa banyak barang-barang?"


Toddy tertawa dan melambaikan tangan di depan wajahnya. "Apa maksudmu? Tidak, ini tidak banyak. Ini semua bahan-bahan yang dibutuhkan."


"Benarkah? Bukannya ini kekacauan?" Erigo menolak untuk percaya, tapi tetap mengangkatnya ke meja dapur.


Aira datang menyambut Toddy. "Hai Aira. Kau tampak cantik." Katanya. Lalu mengamati Aira lagi. "Pakaian itu cocok untukmu, sangat cantik."


Erigo memelototi Toddy. "Kenapa kau memujinya berulang-ulang? Cukup katakan dengan sederhana bahwa dia cantik." Cetusnya.


"Terserah aku. Aku hanya mengatakan apa yang ku lihat." Jawab Toddy tak acuh dan mengalihkan pandangannya ke arah Aira "Kau kelihatan segar."


"Benarkah? Aku tampak sangat besar dan sangat lamban."


Toddy melambaikan tangannya di depan wajah. "Tidak apa-apa. Semua orang yang sedang hamil seperti itu, dan tetap cantik."


Aira hanya tertawa. "Kau datang jauh-jauh. Apa kau tidak sibuk?" Tanya Aira.


"Aku sangat sibuk. Tapi suamimu merengek meminta bantuanku, apa boleh buat." Toddy terkekeh.


"Dia memintamu memasak ya? Apa yang kau bawa?" Tanya Aira penasaran dengan dua kotak yang dibawa Toddy.

__ADS_1


"Sesuatu yang kau sukai. Kau suka makanan laut bukan? Ada di dalam sini." Ucapnya mendemonstrasikan. "Lalu ada juga bahan makanan sehat untukmu. Sekarang, kurasa kau harus beristirahat dan membiarkan kami yang bekerja."


Aira tersenyum lagi. Erigo menariknya dan merangkul pinggang Aira. "Istirahatlah sebentar sementara kami memasak." Ucapnya kemudian mencium pipi Aira sekilas.


Aira duduk di meja makan dan mengamati kedua pria itu bekerja. Mereka saling mengomentari penampilan masing-masing dan menghabiskan waktu sekitar lima belas menit hanya untuk saling mencaci. Hingga akhirnya Erigo memandang Aira dan mengeluh. "Sayang, orang ini terlalu banyak bicara bukan? Astaga Toddy, aku sudah pusing bahkan sebelum kita mulai memasak." Cetus Erigo.


Aira dan Toddy serentak tertawa melihat reaksinya. Aira merasa sedikit kasihan pada Erigo, meskipun menarik untuk menonton mereka bertengkar.


Kedua pria itu akhirnya memakai celemek masak dan sarung tangan karet, lalu mereka bertengkar lagi saat melihat bahan-bahan di kulkas. Erigo ingin membuangnya, namun Toddy bilang sayang kalau di buang. Diskusi itu berakhir dengan omelan Toddy yang panjang dan lama hingga Erigo memandang istrinya lagi. "Aughh... Kurasa telingaku berdarah."


Aira terkikik geli melihat keduanya.


"Ayo kita memasak saja, Toddy, kumohon." Cetus Erigo.


"Baiklah." Ucap Toddy lalu memandang Aira. "Aira, aku ahli di bidang ini." ucapnya menyombong. "Kau percaya padaku kan? Aku akan mengajari suamimu memasak."


Aira mengangguk sembari tersenyum. "Ku titipkan dia padamu." Katanya. "Oh aku merasa sedang menonton sketsa komedi di televisi." cetusnya sambil tertawa.


Erigo menarik napas, belum apa-apa dia sudah stres karena Toddy.


"Baiklah, apa yang kita lakukan sekarang?" Tanyanya.


"Devano?" Tanya Aira tertarik. Lalu Erigo mulai membukanya.


Didalam kotak itu, terdapat satu kantong berjaring-jaring hitam yang membungkus sesuatu. Dengan gagah berani Erigo menyingkap pembungkusnya, melongok sedikit, lalu mendadak dia mengumpat dan mundur dua langkah ke belakang. Bola matanya goyah, begitu pula keyakinannya akan kegiatan masak memasak ini.


Toddy tertawa melihat reaksinya, sedangkan Aira tampak penasaran pada apapun yang membuat suaminya tampak ngeri.


"Kenapa? Kenapa? Apa isinya?" Tanya Aira penasaran.


Erigo tercengang, ia memandang Toddy dengan tatapan tak percaya. "Apa ini? Kenapa kau melakukan ini padaku?" rengek Erigo tiba-tiba hingga Aira mulai tertawa.


"Kau bilang Aira suka makanan laut? Aku persembahkan, ini lah dia makanan laut." Ucap Toddy dengan nada seperti pembawa acara. Ia mengangkat gurita besar dari dalam kotak dan memindahkannya ke dalam mangkuk besar. Aira menganga. Ia bahkan tidak percaya pada apa yang dilihatnya.


"Tapi itu berlebihan." Ucap Erigo memprotes. "Aku tidak menyangka menunya akan seperti ini." Gurita seberat 15kg itu bukan lelucon.


Toddy melotot. "Kau yang meminta bantuanku." Ucapnya. "Kita akan membuat makanan enak dan semur yang sehat."

__ADS_1


Erigo tampak tidak perduli dan masih diam di tempatnya, menolak menyentuh gurita yang kepalanya nyaris sebesar wajahnya. Lalu Toddy menambahkan. "Ada yang bilang, dengan memakan semur ini, sapi yang roboh pun bisa berdiri kembali."


"Benarkah?" Tanya Erigo penuh minat. Setelah mengumpulkan keberanian, ia mulai bergerak. "Baiklah, ayo lakukan. Apa lagi yang harus dikerjakan?" Tanyanya mantap.


Toddy mengambil sekantong garam kasar. "Aku akan menaburkannya disini, kau hanya perlu menggosoknya untuk membersihkan guritanya."


"Apa?" Erigo membelalak.


Toddy kemudian memberi contoh. Sedangkan Aira harus menyembunyikan wajahnya karena hampir mati tertawa.


'Aku melakukannya demi Aira'. Erigo mengulang-ulang kata-kata itu di benaknya. Ia tertawa getir ketika mengingat betapa konyol idenya untuk memasak, apalagi meminta bantuan pada Toddy. Ia nyaris mengumpat ketika terserang sensasi geli saat menyentuh gurita besar itu.


Erigo mengerang frustasi ketika Toddy bilang, dia harus membersihkan guritanya sekali lagi dengan tepung. Ini lebih seperti hukuman.


Aira merasa semakin kasihan melihat suaminya seperti akan menangis. Tapi Aira sendiri tidak bisa berhenti tertawa.


Erigo bahkan meminta maaf pada gurita itu ketika akan memotong satu tentakelnya. Pada dasarnya gurita itu sebenarnya sudah mati.


"Kenapa kau tidak melakukan apapun?" Protes Erigo ketika Toddy hanya berdiri mengamati sambil memberi perintah.


Toddy beralasan. "Aku hanya mengajarimu. Agar kau bisa memberikan cinta dan usahamu." Ucapnya diplomatis sementara Erigo menggertakkan rahangnya demi membersihkan gurita.


Tangan Erigo tidak bisa beristirahat, dia harus memotong sayuran, bawang-bawangan yang membuatnya menangis, membersihkan udang, kerang, merebus dan melakukan banyak hal, namun mulut Toddy tidak berhenti menceramahinya, memberi petuah-petuah yang bahkan tidak masuk ke telinganya. Pandangannya tertuju pada Aira dengan tatapan memohon pertolongan. Aira hanya bisa tertawa dan meniupkan ciuman dari jauh. Senang rasanya bisa melihat suaminya dikerjai habis-habisan.


"Wah. Entah kenapa aku merasa seharusnya Jun ada disini." Ucap Aira.


"Benar juga. Dengan Jun, suasananya akan lebih asik." Ucap Toddy setuju.


Hanya Erigo yang menggeleng. "Kau dan Jun? Kurasa tidak. Kalian adalah kombinasi paling buruk." Ucapnya.


Aira tertawa terbahak-bahak.


Tiga hidangan disiapkan. Aira mengucapkan terimakasih dan memberikan pelukan hangat pada Erigo karena sudah bekerja keras. Mereka menikmati makan siang yang disiapkan dengan penuh perjuangan.


Malam harinya sebelum tidur, Aira berterimakasih lagi pada Erigo. "Besok, aku yang akan memasak untukmu." Ucap Aira.


"Tidak perlu, biarkan Polly yang menyiapkannya. Aku tidak mau kau kelelahan." Ucap Erigo. Ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh perut Aira. "Apa tidak terasa sakit lagi?"

__ADS_1


"Sesekali. Kurasa mereka sedang memberi tahu bahwa sebentar lagi mereka ingin keluar." Cetus Aira.


Erigo tersenyum. "Kita akan dengan senang hati menyambut mereka." Ucapnya dan mengecup puncak perut Aira.


__ADS_2