
Seorang perawat baru saja keluar setelah mendampingi Aira menyusui dua bayi sekaligus. Itu adalah pengalaman yang luar biasa. Sekarang bayi-bayi itu tidur karena kekenyangan.
Tak lama setelahnya, Jun datang bersama Toddy. Aira tersenyum cerah menyambut keduanya, tapi ia bisa merasakan bahwa suaminya menjadi waspada.
"Kalian datang bersama?" Tanya Erigo menyelidik.
"Kenapa memangnya?" Balas Jun ketus. Lalu segera menambahkan. "Aku bertemu dengannya di bawah." Cetusnya lalu cepat-cepat beralih pada keponakannya di dalam boks bayi.
Aira menyentuh tangan jun sekilas dan mengangkat alis meminta penjelasan, tapi Jun malah mengejeknya dengan jahil. Dengan begitu Aira bisa menyimpulkan bahwa keduanya memang datang bersama.
Disaat yang sama, Toddy menyeringai pada Erigo dan mengeluh. "Kenapa kau memandangku? Kata Jun, kami bertemu dibawah." Ulang Toddy sembari tertawa.
Erigo ikut tertawa meskipun tidak mempercayainya, dan ia tidak mau menyerah. "Kalian dekat sekarang?"
"Kenapa memangnya? Aku sangat tampan, jadi tidak akan mempermalukan Jun jika dia terlihat bersamaku." Cetus Toddy sambil lalu.
"Jangan memulai rumor. Kalian berdua." Ucapnya memperingatkan yang hanya di balas tertawa oleh Toddy. Sedangkan Jun tampaknya tidak mau repot-repot menanggapi adiknya.
Bukannya tanpa alasan, Erigo memperingatkan mereka karena sepertinya para wartawan sudah berkerumun untuk memburu Aira yang baru melahirkan.
"Sebenarnya, kami berdua bisa menjadi pengalihan yang bagus agar bayi-bayi ini tidak jadi buruan wartawan." Cetus Toddy. Jun melemparkan pandangan mematikan ke arah Toddy, jadi dia menggumam lagi, "Tapi mereka terlalu menakutkan, jadi kami akan berhati-hati."
Erigo membuka mulutnya berniat memaki Toddy namun Jun tiba-tiba menyelanya.
"Kalian sudah memberi mereka nama?" Tanya Jun sembari menggendong bayi perempuan.
"Ada beberapa nama yang bagus, tapi kami belum menentukannya." Ucap Aira. Lalu bayi laki-lakinya mulai menangis keras di dalam boks.
Jun menunduk ke arah boks bayi sambil menggendong bayi satunya dengan sebelah tangan. "Oh sayangku. Kau iri karena aunty cuma mengangkat adikmu, benar begitu?" Ucap Jun dengan nada lembut sembari menepuk-nepuk pelan keponakannya. "Sabar ya, tunggu giliranmu." Bujuknya lagi.
"Berikan satu pada Toddy. Biarkan dia menggendongnya." Cetus Aira.
Sejenak Aira mengira Toddy akan menghindari tugas menggendong bayi. Namun tiba-tiba ia menyetujuinya, "Kemarikan." Toddy langsung berdiri dan menghampiri Jun. "Aku akan mencoba menggendongnya, tunjukkan caranya."
Jun meletakkan bayi perempuan Aira dalam gendongan Toddy yang tampak percaya diri. "Sangga kepalanya." Ucap Jun, dan Toddy melakukannya.
__ADS_1
Aira memandangi keduanya dan tersenyum hingga memancing protes dari Erigo yang sedang duduk di samping Aira di atas ranjangnya. "Jangan tersenyum." Ucapnya berbisik. "Kenapa kau tersenyum?" Protesnya lagi.
Aira mendelik dengan sorot kesal. "Kenapa memangnya. Mereka terlihat cocok." Balasnya juga sambil berbisik.
"Tidak. Tidak boleh."
Aira memeluk pinggang Erigo, satu tangannya di letakkan di dada suaminya. "Biarkan saja. Dan bersikap manislah." Pinta Aira seraya mencium pipi Erigo.
Erigo menunduk dan berbisik di telinga Aira. "Suatu saat aku akan meninju Toddy."
Aira terkikik geli. "Kau konyol sekali." Ucapnya dan mendorong tubuh Erigo.
Toddy tampak memperhatikan bayi yang di gendongnya. Bayinya sangat cantik, dia menggemaskan. Pipinya merah dan kulitnya tampak tipis, juga hangat dan wangi. Namun aromanya__ Toddy tidak tau aroma apa yang sedang di hidunya.
"Bedak bayi. Itu aroma bedak bayi." Bisik Jun lembut disampingnya. "Dan kau tidak perlu memegangnya seperti itu." Ucapnya lagi.
"Seperti apa?" Tanya Toddy bingung.
"Seperti dia akan pecah. Dia tidak terbuat dari kaca." Ucap Jun lagi.
Toddy tertawa cemas. "Mau bagaimana lagi? Aku tidak punya banyak pengalaman yang melibatkan bayi, kecuali bahwa dulu aku adalah seorang bayi. Dan tentu saja aku sudah tak ingat." Ucapnya konyol dan memancing gelak tawa semua orang.
"Benarkah?" Toddy memandang Erigo dengan sorot menuduh. "Lalu apa hak mu menertawakanku?" Katanyanya memprotes.
Erigo meringis. "Aku baru jadi ayah selama dua hari, apa yang kau harapkan?" Balas Erigo dan mereka kembali tertawa.
Tidak perduli suara-suara yang ada disekitarnya, bayi-bayi itu tetap pulas tidur dalam gendongan Jun dan Toddy yang nyaman.
"Jadi, katakan padaku. Apa saja pilihan nama-namanya?" Tanya Jun sembari melangkah duduk dengan satu tangan menggendong keponakannya.
Aira memperbaiki duduknya. "Kami memikirkan nama-nama cantik yang berarti matahari. Erigo menuliskan beberapa diantaranya. Kalian mau dengar?"
"Katakan. Aku akan memilihkan yang bagus." Cetus Toddy yang duduk disamping Jun, menatap dengan penuh minat pada bayi dalam gendongannya.
Erigo mengeluarkan ponselnya dan melangkah untuk duduk. Dengan wajah polos dia menempatkan bokongnya di antara Toddy dan Jun, membuat keduanya mau tidak mau harus bergeser dengan canggung.
__ADS_1
"Kau baru saja melakukan hal yang konyol." Jun membelalak padanya. Menyumpah dalam hati karena kelakuan Erigo yang kekanakan.
Erigo mengangkat bahu dengan tidak acuh. Ia tidak ingin kakaknya dekat-dekat dengan Toddy. "Kalian yang bilang akan memilihkan nama. Jadi aku duduk di tengah."
Aira memandang Erigo dan menarik nafas. Jelas ia dan Erigo harus bicara agar suaminya berhenti bertingkah konyol tentang hubungan Jun dan Toddy, apapun jenis hubungan itu.
Mereka mulai berbincang lagi. Erigo menunjukkan beberapa nama bayi. "Ada Cyrus dan Cyra, keduanya berarti matahari dalam bahasa persia."
"Oh, itu bagus." Cetus Toddy.
"Dengarkan dulu yang lain." Kata Erigo melanjutkan. "Ada lagi Aelius dan Aeliana. Nama-nama ini populer di Yunani. Bagus kan? Aku menyukai pilihan ini, meskipun aku tak mengerti kenapa aku harus mendiskusikannya pada kalian berdua." Cetusnya lagi kemudian tertawa ketika Jun memukulnya.
Toddy tertawa kecil. "Aku juga bingung kenapa aku harus terlibat dalam pemilihan nama anak orang lain, sedangkan aku sendiri belum memiliki anak."
"Menikahlah." Tandas Erigo.
Toddy menatapnya dengan jengkel. Meskipun kesal, mau tak mau Toddy tersenyum dongkol. "Aku hormat padamu." Ucapnya dan mengumpat melalui matanya.
Aira mengamati reaksi Jun, tapi tidak ada apa-apa di air muka kakak iparnya. "Jadi kalian suka yang mana?" Tanya Aira kemudian.
"Aku suka pilihan kedua. Tidak banyak orang yang ku kenal menggunakan nama Aelius ataupun Aeliana, dan artinya matahari. Aku suka." Ucap Jun. Jemarinya menelusuri kulit lembut pipi bayi dalam gendongannya. "Kau akan menjadi matahari bagi semua orang sayang." Bisiknya lembut.
Jun hanya tiga tahun lebih tua dari Erigo. Kakak iparnya tidak banyak membicarakan tentang dirinya atau keinginannya untuk menikah. Tapi melihat cara Jun menyayangi bayi-bayi Aira, kakak iparnya pasti memiliki keinginan untuk membangun rumah tangga dan memiliki anaknya sendiri.
Bayi dalam gendongan Jun menggeliat, wajahnya memerah, detik berikutnya dia menangis keras. Jun tertawa dan menatap Aira. "Sepertinya dia marah padaku."
Aira ikut tertawa. "Sesuatu pasti membuatnya merasa tidak nyaman." ucap Aira lembut. "Kemarikan, akan aku periksa, mungkin popoknya."
"Popok?" Tanya Toddy penuh minat. "Maksudmu popok yang bisa di cuci? Semacam popok ramah lingkungan?"
"Bukan" jawab Aira. "Suamiku tidak terlalu perduli pada nasib hutan lindung. Jadi kami membeli popok modern yang bisa kau jejalkan kedalam kantong plastik dan kau buang."
Erigo menertawakannya. "Kau terlalu tua, Toddy. Makanya aku menyuruhmu menikah."
Toddy tertawa atas kekonyolannya sendiri. "Astaga, sungguh memalukan, aku merasa ditinggalkan peradaban."
__ADS_1
Mereka semua terkikik perlahan karena khawatir akan mengganggu bayi-bayinya lagi.
________________________________